Blogger Punya 1001 Topeng : #Staytruetoyourself

Selamat Siang Pemirsa MM!

#Stay true to yourself, sebuah kalimat penyemangat dari kaum blogger agar tetap menjadi dirinya sendiri saat menuliskan sebuah konten.

Ughhh… Jujur saja, terkadang saya sedikit melonggarkan pemahaman terhadap kata-kata ini saat memakai kostum “blogger”. Jadi blogger godaannya terlalu besar dan benar-benar sulit untuk diabaikan begitu saja.

Berada di belakang layar, seperti seorang dalang, memberikan sebuah “kebebasan” tersendiri bagi seseorang. Ia bisa menentukan menjadi seperti apapun yang tidak mau, setidaknya persis seperti tugas dalang, ia bisa menggiring pandangan orang sesuai yang dikehendakinya.

Mau terlihat sebagai orang sukses dan kaya bisa. Pingin terlihat sebagai orang jenius yang serba tahu juga bisa.

Bebas mau jadi apa saja.

Toh juga pembaca, selama tulisan bagus, biasanya juga terlalu malas untuk mencari tahu siapa “sebenarnya” penulis.

Apalagi kalau kemudian kita mengimbanginya dengan menebarkan citra yang kita mau di berbagai tempat lain di dunia maya. Tentunya hal-hal yang mendukung citra yang ingin diperlihatkan. Kalaupun coba dicari dan dikonfirmasipun, yang akan tampil di Google adalah tulisan-tulisan yang mendukung pencitraan yang sedang dilakukan.

Semua itu sangat dimungkinkan.

Tidak berapa lama sejak pertama kali ngeblog, saya menyadari “peluang” seperti ini. Blog memberikan persediaan 1001 topeng bagi bloggernya untuk digunakan.

Sebuah hal yang bisa membuat berat untuk menjadi “diri sendiri” sebagai blogger. Godaannya banyak banget.

Untungnya, saya terlalu tua untuk tidak menyadari “bahaya” dari keleluasaan yang diberikan sebuah blog.

Ketika saya memakai “kostum” guru terlalu lama saat menulis sebuah tutorial, dan terlalu mendalami peran sebagai guru, perlahan saya seperti “mensugesti” diri saya adalah seorang “guru”, meskipun sebenarnya bukan. Pada akhirnya, saya bisa keluar rel dan menjadi seorang yang sebenarnya bukan saya.

Itu adalah sebuah bahaya besar karena pada akhirnya saya akan menipu diri sendiri.

Tetapi…

Sayang juga kalau terlalu kaku berprinsip “be yourself” di dunia blogging. Pemahaman secara kaku justru menghambat kreativitas dan akan membosankan.

Sampai pada akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan untuk mengatasinya.

Saya memakai sudut pandang “blogger sebagai seorang penari topeng” yang tampil sebagai diri sendiri, tetapi juga “bukan” diri sendiri.

Penonton akan melihat diri si penari, tetapi ia tidak melihat “wajah”, “mimik”, dan “emosi” dari orang di belakangnya. Si penari akan tetap menjadi diri sendiri dengan “emosi”nya, penonton hanya perlu lihat apa yang ditarikannya, dirinya sebagai penari.

Bisa saja seorang penari topeng memakai topeng menyeramkan dan membuat takut penonton. Padahal sebenarnya ia sedang menangis karena ditinggal pacar atau karena bayarannya tidak cukup buat beli beras. Bukan tidak mungkin, si penari sedang tertawa ngakak melihat penontonnya menangis akibat melihat topeng dan gerakannya.

Yang terpenting, penonton terhibur.

Tapi, bisa juga ketika ia memakai topeng menangis memang si penarinya sendiri sedang menangis.

Bisa juga dianalogikan sebagai seorang dalang, penonton tidak melihat orangnya, tetapi mereka bisa merasakan “ciri khas” dan “kepribadian si dalangnya lewat wayang-wayangnya.

Penonton bahkan bisa menebak siapa yang memainkan wayang, meski tidak bertemu orangnya.

Lagipula, bukankah di dunia nyata manusia pun sering melakukan itu. Contohnya, saat bertemu dengan guru atau dosen, biasanya topeng “mahasiswa baik” yang dipasang. Topeng saat bertemu dengan pak bos pasti berbeda dengan topeng saat bertemu dengan bawahan. Mau bertemu pak Camat atau selebriti, kostum daster dan topeng “jelek” disimpan dulu.

Bisa sama? Bisa ya, bisa tidak. Topeng yang mana yang harus dikenakan akan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi.

That’s life. Kenyataannya, begitulah manusia. Mereka tidak terbiasa memakai hanya satu topeng dalam kehidupannya.

Berarti tidak menjadi diri sendiri dong? Tidak #Staytruetoyourself?

Nah, disinilah yang saya sebutkan menginterpretasikan secara lebih luas. Saya “menerjemahkannya” sebagai “bukan berarti harus begitu-begitu saja” dengan gaya yang itu-itu saja. Manusia selalu punya pilihan.

Seseorang bisa dan berhak memakai pakaian apapun yang dia mau, tetapi karena mungkin sering dipuji kalau pakai rok dan bergaya sporty dia terlihat cantik, maka terus-terusan, ia memakai rok. Padahal, dia sebenarnya bosan.

Bisa juga karena ia terbiasa memakai jeans, dia merasa tidak nyaman sekali memakai rok, karena ia merasa tidak menjadi dirinya sendiri. Padahal, sebenarnya bukan berubah, ia tetap dirinya, tetapi, ia tidak mau sisi dirinya yang lain tampil karena membuat dirinya tidak nyaman, dan akhirnya kikuk dan tidak disukai.

Manusia cenderung akan memilih yang nyaman dan enak bagi dirinya.

Tidak salah.

Tetapi, saya yang terbiasa “menentang”, melakukan yang seperti itu terasa kurang nyaman. Apalagi “berbagai topeng” yang lain seperti dibiarkan menganggur tidak terpakai. Kenapa topeng yang ditampilkan yang itu-itu saja.

Monoton sekali.

Penonton mungkin senang, tetapi sayanya bosan.

Hasil kompromi itulah yang kemudian saya terapkan pada kehidupan saya sebagai blogging.

Saya memilih sering berganti topeng dan tidak melulu hanya mengandalkan satu topeng saja.

Nah, topeng saya sebagai blogger apa?

Blog? Bukan, blog kalau diibaratkan adalah panggung, arena, ringnya.

Topeng saya adalah “gaya dan cara penulisan”.

Sebagai seorang mantan kutu buku, saya sadar sekali bahwa teks, tulisan pada awalnya “netral”, tetapi dengan sentuhan sedikit gaya hal itu bisa dipakai mengarahkan emosi pembaca. Itulah mengapa novel bisa menggiring pembacanya menangis, bergembira, terharu.

Bukan teksnya yang menghadirkan emosi, tetapi “emosi/ide” yang ditanamkan oleh penulisnya.

Apalagi sebagai mantan seorang internet ronin yang gemar berdebat, saya paham sekali bagaimana mengatur ritme berdiskusi untuk mendapatkan apa yang ingin didapat. Saya cukup paham cara memandang situasi dan kemudian mengambil keputusan harus bertindak seperti apa.

Tidak jarang, meski saya sepakat, saya akan memajukan muka yang berbeda demi satu tujuan.

Dan, itulah yang saya pergunakan dalam ngeblog. Tergantung dari situasi dan kondisi, jenis topeng yang dipergunakan bisa berganti (atau tidak).

  • pada saat saya berkunjung ke blog lain yang tidak saya kenal dan berniat meninggalkan komentar, biasanya saya memilih “topeng” adem alias netral. Tidak bagus kalau saya langsung pakai topeng “samurai” dan membuat tidak nyaman yang punya rumah
  • kalau yang punya blog ternyata senang bercanda yang bisa diamati dari caranya menulis artikel dan menjawab komentar, saya pakai topeng “ketawa” dan ikut menikmati suasana penuh canda, bersenang disana
  • di saat mau berkomentar atau membalas komentar dari blogger yang “berani” dan kelihatannya tahan mental, topeng “si ronin” keluar

Tapi, tidak berarti akan selalu begitu polanya, karena tergantung ide yang ada di kepala. Bisa saja, di saat tertentu dan blog tertentu, topeng yang keluar dipilih tidak sesuai pola yang biasa.

Seperti contoh, kalau di blog Mamak Reyne Raea, kalau tulisannya sedang “galau”, biasanya mayoritas yang berkunjung akan menghibur dan memberikan dukungan. Kalau sudah banyak yang begitu, saya memilih “peran” lain, kadang saya mengemas komentar dengan gaya menghentak, seperti, “Cengeng luh, kuat dikit nape”.

Karena saya pikir, terkadang sedikit sentakan akan membantu membangun kesadaran dan kadang menghibur itu justru menenggelamkan. Marah terkadang lebih baik daripada terus bersedih.

Tidak ada pola pasti, tetapi garis besarnya ada.

Begitupun saat menulis konten, saya berada di blog MM, “kostum” samurai lah yang biasa saya pakai, berbeda ketika masuk ke blog Si Anton atau yang lain.

Setiap blog masing-masing punya tujuan dan karakter yang berbeda, oleh karena itu biasanya sebelum saya berpindah dari satu blog ke blog lain, saya “mengheningkan cipta” dulu 10-15 menit mah. “Ganti kostum dan topeng” dalam diri saya.

Semua harus dilakukan, karena tidak bagus juga ketika topeng MM terbawa ke Si Anton karena suasana dan tujuannya berbeda. Blog MM memang sejak awal dibranding nakal, bengal, keras kepala, dan mau seenaknya, Si Anton itu berbeda.

Saya harus tetap bisa memisahkan.

Walaupun, setelah dipelajari dan diulik lagi, masing-masing gaya penulisan, emosi dan ide, bisa saling disisipkan sedikit dan dipertukarkan. Tetapi, harus tetap tanpa merubah karakter umum yang ditetapkan.

Contohnya, ucapan pembuka yang ditambahkan di setiap konten blog MM yang ditambahkan untuk mengurangi kesan “badass” (berandalan), walau sebenarnya intinya tidak banyak berubah dan gayanya tetap sama. Kadang di blog ini saya selipkan gaya “bercerita” khas Si Anton.

Itu adalah topeng saya pada saat ngeblog.

Bagaimana dengan intinya?

Intinya ya tidak berubah, tetap sama.

  • yang saya tuliskan adalah sudut pandang yang saya yakin dan percaya
  • topeng yang dipakai pun pada dasarnya memang ada dalam diri saya, bengal, ngeyel, keras kepala, kebapakan (karena memang sudah menjadi bapak), semua itu tetap sama, saya tidak memakai topeng orang lain
  • pengalaman yang ditulis, terutama di blog personal dan si MM ini, ya memang pengalaman dan pandangan sendiri, tidak minjem
  • kalau minjem atau dapat dari orang lain, maka topeng yang saya pakai adalah topeng netral

Saya tidak merubah inti, tetapi hanya merubah kemasannya saja, gaya penulisannya saja. Bukan intinya.

Penentuan topeng yang dipakai pun memperhitungkan karakter dari “lawannya”. Saya tidak akan memakai topeng samurai untuk Creameno, Lia the Dreamer, atau Mbul, Gustyanita Pratiwi, dan mayoritas blogger wanita lainnya. Saya cukup sadar juga ketidaknyamanan yang akan timbul.

Tapi, kalau menghadapi Phebie, dari Life Essentially, saya justru senang pakai kostum itu. Saya paham dia akan merespon, kadang menghindari, kadang “membalas”.

Kalau untuk tiga nama pertama, kostum yang sering saya pakai adalah kostum seorang bapak atau kakak. Jika pun harus menentang, maka yang keluar bukanlah hentakan, tetapi mirip seperti orang yang lebih tua memberikan pandangan.

Menghadapi Mas Wahid Priyono dari Tips Petani atau Mas Rahul Syarif, saya akan membebaskan si “ronin/samurai”. Keduanya pernah mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak masalah dengan berdebat sampai seperti apapun. Sesuatu yang saya terima dengan senang hati.

Beda lagi ketika saya berada di lingkaran Mas Satria, Mbah Agus Warteg, Mas Kal El, atau kang Jaey. Lingkaran yang penuh dengan tawa dan canda. Sesuatu yang berat saja kerap dijadikan candaan dan dibuat ringan. Mbak Mbul juga biasanya masuk dalam lingkaran ini.

Nah, saya juga tidak bisa memakai kostum kakak, samurai, atau netral. Suasana akan menjadi “kaku” dan “kikuk” kalau begitu. Maka, saya berganti kostum dulu dan menyesuaikan. Kayak badut, muka saya akan penuh “senyum” dan “tawa” dan biasanya memang saya terbawa situasi lingkaran ini yang selalu ceria.

Pernah salah memilih topeng?

Sering.

Penilaian karakter saya pun sering tidak tepat. Hal itu kadang membuat saya memakai topeng yang salah.

Kadang berujung ketidaknyamanan, tetapi itu adalah sebuah resiko yang harus diambil agar tidak monoton. Lagipula, kesalahan yang terjadi sering tidak mutlak dan bisa dikoreksi.

Toh, saya memang masih manusia dan pastinya sering bikin salah.

Kan bisa menimbulkan image negatif tuh? Apalagi saat pakai topeng “samurai”?

Badass. Berandalan. Nyebelin.

Sudah biasa.

Mamak Rey dan Mbak Creameno pernah bilang kalau sohibul, teman, atau pembaca blog lainnya pernah mengatakan kenapa komentar nyebelin seperti yang saya tinggalkan tidak dihapus atau dimoderasi saja.

Dalam kehidupan nyata pun, apapun yang dilakukan akan selalu ada resiko disukai atau tidak. Maka saya akan menyerahkan pada penilaian masing-masing saja.

Kadang, mereka yang membaca pun tidak sepenuhnya memahami interaksi yang terjadi.

Saya maklum kalau itu terjadi dan tidak menyalahkan karena memang resiko tersebut saya pahami.

Tetapi, apakah saya akan merubah, ya tidak juga.

Untuk apa? Saya tidak bisa menyenangkan semua orang, jadi saya jalan dengan “jalan” sendiri saja.

Bagaimana dengan emosi saya pada saat menulis, berkomentar, atau membalas komentar di manapun?

Contohnya,

Blogger Punya 1001 Topeng

Jawaban saya, “Monggo dinilai sendiri saja”.

Serunya akan berkurang kalau bagian ini diungkapkan. Walau sekali dua kali, saya akan menjelaskan, tetapi tidak akan selalu demikian.

Kalau saya begitu, maka hasilnya tidak ada bedanya seperti tukang sulap yang membuka rahasia sulapnya.

Mau diterjemahkan sebagai memang betul marah, monggo. Dipandang dari sisi lain, ya bukan sebuah masalah juga.

Masing-masing pembaca akan diberi keleluasaan untuk mengimajinasikan dan menginterpretasikan sesuai dengan kemauannya masing-masing.

Lagipula, kalau diungkapkan, topeng saya berkurang satu. Rugi bandar.

Dan, itulah cara pandang saya tentang menjadi seorang blogger.

Saya mungkin menjadi “bunglon” karena sering berganti warna. Tetapi, seekor bunglon akan tetap dikenal sebagai seekor bunglon dan tidak akan menjadi kadal, karena keduanya berbeda.

Saya akan tetap menjadi diri sendiri, tetapi dalam pakaian dan topeng berbeda.

Karena keleluasaan itu memang disediakan oleh blog yang saya kelola dan saya tidak mau membuatnya mubazir.

Catatan :

Special thanks buat Tong Dahlan Satriadi Saputra alias Satria Salju Haus Kasih Sayang yang sudah

  • membuatkan tulisan tentang Maniak Menulis dengan gaya yang mengocok perut dan bikin saya banyak tertawa
  • sudah memberikan ide karena Tong Satria banyak sekali menyebut blogger dan topeng, sebuah pengamatan yang tajam di balik tampilan tukang bercanda

Yuk Berbagi....

28 thoughts on “Blogger Punya 1001 Topeng : #Staytruetoyourself”

  1. Saya membaca tulisan ini kok “sambil senyum-senyum sendiri”, sampe si yayang nengok laptop saya. Dikira lagi selingkuh, chat atau lagi jatuh cinta sama seseorang…hahaha.

    Reply
  2. As usual, good post, mas 😍

    Stay true to ourselves itu maksudnya bukan selalu bersikap sama monoton setiap saat, tapi lebih ke apapun yang ingin kita tuliskan, kerjakan, lakukan, semua datangnya dari ‘dalam’ ~ from within istilahnya πŸ˜† Jadi kalau pun ada let say satu orang yang berubah-ubah, itu bukan berarti nggak stay true, tapi ya karena karakter satu orang itu ada buanyak (setiap orang kayaknya punya min. 10 karakter berbeda dalam dirinya) πŸ˜‚ Dan perubahan setiap karakter dari baik ke badass terus ke bijak, this and that, tentu terjadi karena kondisi lapangan dan siapa yang dihadapinya.

    Sama saja ketika kita bicara sama orang tua tentu cara bicaranya akan beda dengan saat kita bicara sama teman seumuran atau bahkan anak-anak bayik di sekitar kita 😁 Jadi stay true to ourselves menurut saya, adalah bisa menempatkan diri kita dengan baik pada setiap keadaan, dan bersikap sesuai dengan prinsip yang kita πŸ˜†

    Jadi nggak heran semisal cara komentar mas Anton berubah tergantung siapa lawan bicaranya. Karena semua nggak bisa dipukul rata πŸ˜‚ hahahaha. Kita perlu lihat siapa yang kita ajak bicara. Dari situ kita belajar bagaimana punya conversation yang baik satu sama lainnya. Kalau komentar mas Anton ke mba Rey dipakai ke saya, bisa jadi nggak match. Atau komentar mas Anton ke mas Wahyu dipakai ke Lia, yang ada mungkin Lianya berhenti blogging setahun lamanya 🀣 Karena yaitu, seperti yang mas bilang, setiap lawan bicara kita punya karakter beda πŸ˜†

    Hehehe. Kalau saya tipe moderate mas, semua interaksi di sosmed sama. Maksudnya saya bukan tipe yang berani badass ke teman-teman. Jadi komentar yang saya berikan ke teman pun mostly calm semua πŸ˜‚ hahahaha ~

    Reply
    • Hihihi… kebayang saja kalau saya pakai gaya si ronin ke Lia.. wadaaww… hahahahaha gusrak, repot dah.

      Saya sendiri sudah cukup paham “gaya” Eno, dan setelah dipikir ulang, saya memilih gaya itu saja sebagai yang terbaik untuk berinteraksi dengan dikau. Walau saya yakin Eno lebih mampu dan tahan menghadapi gaya terburuk yang saya punya, saya pikir garis tengah adalah yang paling cocok. Hahahahaha..

      Yupe.. memang saya pikir kata kata itu seharusnya diterjemahkan sedikit lebih luas dan bukan berarti harus yang itu itu saja.

      Makasih Eno sudah berkunjung kemari (lagi salah pake topeng) wkwkw

      Reply
      • *habis baca komentar di sana, langsung menelan ludah*

        Fix. Aku libur ngeblog 1 tahun kalau habis perang sama Kak Anton πŸ˜‚. Takuttt 😭
        Makanya ku tak suka komentar memancing amarah, lebih senang memberi komentar yang memancing gelak tawa 🀣

      • Hahahahaha…. nggak kok Lia, kalau sama Lia, saya seperti ngadepin adik dan kakak. Saya kan anak laki-laki satu-satunya, jadi saya tidak diperkenankan “keras” kepada kaum wanita. Makanya, biasanya gaya itu keluar ke kaum cowok. Kalau sama wanita sekeras apapun, bahasanya akan berbeda.

        Iyah, hayuk kita ketawa ketawa sajah

  3. uda baca sejak sore tadi

    baru buka ulang jam segini

    tetep terpekur ku mau ngomen apaan yak…abis baca komen kak eno aku langsung blank mas anton, ga bisa komen jadinya aaaaah komen kak eno mah bermutu bhahahhahaahahahaahahah

    auk ah pokoknya mas anton jangan jadi rounin di tempat mbul ya, ntar mbul pundung dan mutung hahhahahahah

    tapi aku malah mikirnya yang ngelurin istilah topeng topengmu duluan mas anton loh, eee ternyata si kang satria salju duluan ya hahahhaha

    mengenai topeng, pernah berada di posisi saat nulis mellow memang aslinya lagi nangis sesenggukan, pernah juga saat nulis gembira aslinya lagi nangis sesenggukan, pernah pula pas nulis gembira aslinya beneran lagi gembira…pas lagi marah emang lagi marah dan bete….pokoknya macem macem lah

    kalau pas bertandang di blog teman teman…ya begitulah aku dalami dulu karakternya seperti apa, yang serius aku imbangi serius, yang ga mau berakrab akrab ria atau pengennya menjaga jarak ya aku imbangi juga, yang mau becandaan lucu lucuan itu yang paling aku seneng dan happy terus buat mampirin…hihi..

    Reply
    • lHa ya kok bisa gitu Mbul.. cepet dicari itu jangan sampai blank begitu… cepet kejar dan temuin.. wkwkwkw piye toh Mbul. Terkesima sama Eno yah, wajar sih.. wkwkwkw #digetokEno

      Nggak lah si Ronin bakalan jarang keluar di blog Mbul, paling si Genderuwo ajah yang ditampilin.. πŸ˜›

      Pernah saya bahas soal topeng, cuma keinget kembali kemaren pas baca yang Kang Satria, jadi dibahas dari sisi yang lain.. Gitcu….

      Ya mau ga mau kan memang harus jaga jarak Mbul.. Masih pandemi gini, bisa dimarahin orang kalau nggak jaga jarak ..:-D

      Btw, yup, memang mengenal karakter itu perlu sebelum menentukan topeng atau karakter yang mau kita pakai..

      Reply
  4. Ccccckkkk!!! Luar biasa….Justru Ente kong yang punya 3 kali lipat pengamatan yang tajam, Bah sebuah Samurai Internet Ronin Waalkkaaaa!!! Jadi malu gw kong, Topeng, Dalang Dan 1001 cara apapun akan dilakukan seorang blogger demi menjadi sebuah tulisan…Baik blogger dengan photo asli maupun photo cuma gambar logo doang…Haaahaaa.🀣 🀣

    Postingan ini terbitpun saya sudah baca semuanya….Dan sempat bingung mau komentar apa karena semua sudah tertuang dari tulisan yang ente buat..😊😊 Nggak sia2 gw baca 13 blog yang belum lama gw jembrengin diblog gw..πŸ˜‚πŸ˜‚ Dan saya juga setuju apa yang mbak KAREEN Bilang ( Creameno )

    Kebayang nggak 13 blog yang ente punya, Gw yang kelola Haaadeehhh Nyeeraahh dah Gw punya topeng cuma 2 terkadang salah menempatkan.🀣 Meski bukan suatu masalah juga bagi saya..😊 Intinya baik blogger baru, Blogger lama pastinya tanpa mereka sadari ada sebuah topeng tersendiri yang mereka perankan.

    TERAKHIR.😊 Bersyukur saya masuk katagori seperti dibawah ini..πŸ‘‡πŸ‘‡
    Beda lagi ketika saya berada di lingkaran Mas Satria, Mbah Agus Warteg, Mas Kal El, atau kang Jaey. Lingkaran yang penuh dengan tawa dan canda. Sesuatu yang berat saja kerap dijadikan candaan dan dibuat ringan. Mbak Mbul juga biasanya masuk dalam lingkaran ini..😊

    Padahal Faktanya itulah topeng saya, Bahkan saya buat lebih tebal agar topeng yang saya gunakan benar2 orang yang hobi bercanda…Membuat orang tertawa terpingkal2kan. Karena saya orang yang jenaka.

    Sejujurnya aslinya saya itu orangnya pemarah, Ringan tangan, Nggak suka diremehkan….Mungkin kalau orang sudah tahu saya dari awal akan segan dekat dengan saya…Bahkan blogger Mwb yang pernah kopdar dengan saya pasti akan bilang dan ngecap saya Darting. Bahkan teman sekolah sampai teman kuliah tahun2 ini bilang ke saya “Tumben luh pediam dan sabar..Apa efek sering gonta-ganti pacar dulunya jadi blank”….Jawaban saya santai, “Terserah luh mau apa”..😊

    Satu lagi nih kong gw juga sebenarnya pengen komentar diblog Mbak Rey pake kata2 kaya ente, Keras dan berbeda…Contohnya “Rey luh jadi ibu goblok banget sih”…🀣 🀣. Bisa diblokir gw sama dia Haaahaa..🀣

    Reply
    • #sungkem sama suhu MWB…

      Hahahaha.. nggak penting Tong Dahlan seperti apa di masa lalu, kenyataannya, ntong sekarang adalah orang yang ceria. Toh manusia bisa berubah, dulu ringan tangan atau pemarah, sekarang jadi jenaka, kenapa tidak. Tidak ada yang abadi tong di dunia, begitu juga sifat dan karakter seseorang.. Masih sangat mungkin juga berubah.. Bener ga Tong. Dah bijak lum gue? wkwkwkw

      Soal topeng, yap, pada dasarnya manusia ga bisa lepas dari topeng. Yang jadi pertanyaan apakah dirinya yang mengendalikan topeng atau topengnya yang mengendalikan dia. Persis spt kata Tong Dahlan, banyak blogger yang gemar memakai topeng dan menjadi seseorang yang bukan dirinya demi ketenaran dan keberhasilan.

      Eno memang benar… dan pandangannya saya pikir sama dengan dikau juga kok Tong.

      Soal Rey.. boleh juga tuh tong sekali-kali begitu, paling elu digebukin penggemarnya. Gue kan bisa nongton ajah

      Reply
  5. Tapi intinya type wanita model kaya Rey gw udah kuasai perasaan hatinya jadi mending gw lebih ngademin dia atau bisa dikatakan membelanya dan mendengarkan curhatannya…Kan gw nguasain 1001 cara menaklukan cewek meski prakteknya lebih banyak diduta…..Tapi setidaknya sama.🀣 🀣 Didumay kan gw lebih banyak bergaya dengan topeng yang gw punyai.😊

    Tapi gw bersyukur kong jadi blogger bisa belajar meredam emosi, Meski terkadang yaa sering kelupaan juga Haahaaa namanya manusia…Sejak umur 34 gw coba redam emosi sampai sekarang usia hampir 41 tahun yaa alhamdullilah menurut gw…Nggak tahu faktanya para blogger menilai gw seperti apa….Terserah mereka dan gw nggak akan marah paling cuma tertawa haahaa..😊 Kalau di Mwb gw ribut melulu… Dulu Pernah sama blogger krawang perang berdebat SEO sampai gw kesel…Gw ajak ketemu dia kaga mau…Blogger Bekasi ngomporin gw….”Datengin ke kerawang gw tahu tempatnya”….Sampai tuh blogger berhenti ngeblog….Parah blogger MWB mah Haahaaaa!!..🀣 🀣 makanya gw diblogspot mending jadi orang Jenaka aja dah adem jadinya.😊

    Oiya sebenarnya gw suka dipanggil nama Dahlan sempat kesal…..Tetapi nggak lucu juga kalau gw marah ke Ente kong, Faktanya memang itu nama depan Gw….🀣 🀣 Bahkan gara2 itu si Agus malah ikut2tan bikin cerpen pake nama D…🀣 🀣 🀣 Mereka pada tahu kalau gw nggak suka dipanggil pake nama depan…Katanya biar lucu aja Suuueee..🀣 🀣 Justru ente lebih bikin gw kesel tapi jadi ketawa juga gara2 nyebut Tong Dahlan diblognya si Lia…. “Lia hati2 sama Tong dahlan”..🀣 🀣 🀣 Gw malah ketawa kaya orang gokil jadinya…Laa kali anak bau kencur gw rayu..🀣 🀣 🀣

    Eehh malah curhat gw nih Kong..🀣 🀣 🀣 Tapi gw tetap dengan gaya topeng gw yang jenaka, Kalau ente mau komentar diblog gw ngomel2 bodoh amat..Mau bilang Tong khe…Ting Khe..Bodooh amat paling gw cuma tertawa Haaahaaaa..🀣 🀣 🀣

    Udaah aahh kong jadi malu gw…Pulang aahh..πŸ˜ŠπŸšΆβ€β™€οΈπŸšΆβ€β™€οΈπŸšΆβ€β™€οΈ

    Reply
  6. Saya jadi inget kelas bahasa Inggris pas di pare, si tutor sering bilang beda kelas, mode saya harus berubah dulu biar anak2nya. Dan dia bilang mengubah mode itu nggak gmpng. Beda kelas beda mode, beda anak jg beda mood.

    Tapi karena begitu, dia yg sangar, sukanya garang, kalo murid ga paham ya bentak aja gt sama saya yg satu2nya murid yg udah nikah dan bawa anak ke kelas dia jadi lebih kalem dan nggak brni akrab. Saya sedih karena sbnrnya pengen akrab sama yg lainnya jg. Tp emang kamu sendiri jadinya.

    Tapi beneran, apa yg membuat mas anton mau utk mengubah mode utk masing2 blog atau org?

    End btw kalo menghadapi aku komennya gmna mas? Lebih netralnya denk ya kayaknya

    Reply
    • Iya Mbak Ghina. Pada dasarnya kita memang harus bersikap menyesuaikan dengan kondisi dan situasi, serta karakter. Jadi guru pasti tidak mudah karena setiap kelas punya karakter sendiri-sendiri dan memang dia harus menyesuaikan.

      Pasti lah mbak karena dia juga melihat situasi mbak. Justru saya pikir dia merubah cara karena menghormati mbak. Saya pikir saya juga akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisi dia.

      Beneran, saya memang tidak akan sama bersikap pada semua orang. Saya menyesuaikan dengan blog dan orangnya. Berdasarkan penilaian saya, maka saya memilih topeng yang dianggap paling pas. Pada dasarnya niatnya ya sama mau berteman dengan yang punya blog.

      Saya pernah menyamaratakan sikap, tetapi rasanya nggak pas. Kalau pake topeng saya yang bengal, kadang yang “lemah lembut” bakalan kabur. Pakai yang netral, sayanya bosen karena ga bisa ekspresif, jadi ya saya putuskan menyesuaikan sebagai cara yang terbaik. Kayaknya menurut saya hasilnya lebih baik dibandingkan pakai gaya yang sama terus menerus.

      Kalau sama Mbak Ghina, sikap saya mendekati netral, tapi saya pikir peluang untuk berbeda pendapat masih memungkinkan sekali karena wawasan Mbak Ghin. Juga sikap open dari mbak juga menjadi pertimbangan makanya kalau saya punya sudut pandang lain, ya saya akan utarakan.

      Cuma, gaya samurai nya ngga bisa dikeluarin karena penilaian saya kurang cocok.. hahahahahaah

      Reply
      • Kalau ada postingan dengan komentar berbeda itu selama ini kayanya baru mas anton deh. Haha.. Jadi malah bikin refleksi dan mikir jg, karena emang selalu ada sisi lain di setiap tindakan dan pemikiran kita, dan ga semua perlu di iyakan juga yaa.

      • O yah.. Tuh kan seperti saya bilang, cara menanggapi Mbak Ghina kan juga selalu ambil dari sisi positif dan tidak resisten.

        Kadang susah loh Mbak menerima pandangan orang lain secara positif. Saya contohnya kan suka banget ngeyelan.. hahahaha

  7. wkwkwkwkw, eh iya juga ya Pak!
    Saya juga baru sadar (baru ingat lagi tepatnya, dasar orang pikun wakakakak) kalau si Bapak itu lihai dalam mengganti karakter.

    Saya pikir dulunya, karena temanya yang bikin Pak Anton jadi membedakan cara nulisnya, tapi semakin ke sini jadi sadar, bener juga ya, bahkan gaya tulisannya berbeda loh, baik di blog ini, di Lovely Bogor atau personal blog.

    Kalau saya belum bisa Pak, gaya bahasa saya di kedua blog saya, bahkan di blog abal-abal saya juga sama.

    Kecuali di web yang lebih formal sih, kayak Kompasiana, Kumparan gitu, saya lebih milih menulis dengan formal, setidaknya nggak ada tulisan kacau balau nggak karuan kayak di blog saya πŸ˜€

    Tapi, lepas dari itu semua, jawabannya ya karena Pak Anton udah terlalu lama dalam dunia blog, udah berkelana ke banyaaaakkkk banget blog, udah tahu segala macam celah blogger, jadinya ya terbiasa switch topeng hahaha.

    Reply
    • Yah, kemana aja Rey…

      Hahaha.. nggak selalu perlu sih gonta ganti karakter seperti itu. Cuma saya pikir lebih enak begitu, jadi saya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Aku dah baca juga tulisanmu di blog yang lain dan memang rasanya masih rasa Rey.. hahaha.. kental banget itu gaya Rey nya. Cuma pindah kos-an saja kayaknya.

      Yang di Kompasiana belum, ntar kulihat ahh.. haahahaha pingin tau..

      Yah dikasih umur rada panjang Rey, kalau nggak dipake belajar mah sia-sia.. wakakakaka..

      Reply
  8. Eh iya juga yaa. Saya juga jadi ngeh kalau komentar Mas Anton ke beberapa teman blogger memang berbeda-beda, tapi nggak berarti Mas Anton punya kepribadian ganda ya wkwkwk

    Tanpa disadari saya juga melakukan hal yang sama sih. Yang paling mencolok itu kalau saya membalas komentar ke blogger yang gendernya sama dengan saya dan ke lawan jenis. Biasanya kalau ke yang perempuan, saya suka pake emoticons dan menggunakan “aku”, sementara kalau ke yang laki-laki minim emoticons dan menggunakan “saya”, contohnya seperti sekarang πŸ˜€

    Saya mah jujur aja di blog itu suka pencitraan kok 🀣 hanya orang-orang terdekat yang benar-benar tahu saya itu seperti apa. Tapi bukan berarti Jane ini fake yaa huahaha yang saya sampaikan di blog itu apa adanya semua, namun apa yang dibagikan tetap memasuki proses filter supaya nggak terlalu mengumbar banget hihi

    Insight yang menarik as always, Mas Anton!

    Reply
    • Bukan ganda Jane… berganda-ganda karena banyak banget wakakaka..

      Wajar Jane menurutku sih wajar karena interaksi di dumay juga kan dipengaruhi dunia nyata. Jadi kadang memang perlu dilakukan penyesuaian.

      Yah, sadar atau nggak sadar, semua orang melakukan pencitraan Jane. Jadi ya bukan berarti menjadi Jane Palsu dan bukan Jane From The Blog. Sayapun begitu karena dengan jumlah blog yang lebih dari satu saja, maka citranya harus berbeda-beda. Kalau sama, ya dijadikan satu saja.

      Aslinya saya kayak apa, mungkin nanti kalau ada kesempatan bertemu Blogger Bogor, baru masing-masing bisa mengenal sedikit aslinya.. hahaha sedikit sajah..

      Komentar yang menarik dan jujur Jane .. hahahahaha

      Reply
  9. Hehehehe …. Seruuuu baca tulisan dan semua komentar di atas. Iya, lho. Pada pagi yang hujan deras ini saya kebetulan punya waktu sedemikian luang. Alhamdulillah. Bisa terhibur, nambah wawasan perihal “topeng”, dan kagum pada energi Pak Anton mengelola banyak topeng, eh, blog, dengan beraneka rupa karakter.

    O, ya. Saya sejujurnya enggak gitu ngeh topeng apa yang saya pakai. Mungkin topeng keceriaan dan senyuman, ya? Seingat saya, saya memang selalu menghindari untuk bikin tulisan bernada keluhan. Lebih suka menampilkan sisi yang ceria saja. Takut pembaca bete baca keluhan saya. Namun, bukankah banyak blogger juga melakukan hal serupa? Ah, entahlah. Bingung. Hehehehe ….

    Atau jangan-jangan, saya justru pakai topeng transparan. Lah gimana? Kawan-kawan blogger/kompasianer Jogja malah menilai bahwa saya ini sama saja. Maksudnya karakter di dunia nyata dan di dunia tulisan (maya) enggak ada bedanya.

    Baiklah. Pada akhirnya, saya ucapkan terima kasih untuk tulisan ini. Bikin saya kembali teringat pada Musashi dan Eiji Yoshikawa juga. Betapa beberapa tahun lalu saya sukses menamatkan buku tebal itu di sela-sela mengurus bayi. Kalau tidak punya bayi, sepertinya saya malah masih nunda-nunda membacanya.Hahaha!

    Reply
    • Hujan ya mbak… di Bogor malah ga hujan.. hahahaha… Kebanyakan topeng malah wakakakakaka.. pusing sendiri saya kadang.

      Bukankah setiap blogger, sadar atau tidak, sedikit banyak akan punya topeng masing-masing. Cuma kadang ada yang mengakui atau tidak bahwa mereka sendiri melakukan pencitraan.

      Bisa jadi malah sebenarnya tidak pakai topeng sama sekali. Saya sendiri terkadang saat merasa capek memakai topeng, ya lepas dan jadi diri sendiri. Toh sebenarnya juga tidak diketahui kapan pakai topeng atau tidak.. hahahahaha

      Terima kasih kembali sudah berkunjung ke gubuk saya mbak.. sebuah kehormatan. Musashi? Baru baca mbak.. Buku yang bagus wat penggemar budaya itu buku… hahahaha

      Reply

Leave a Comment