Dimana Saya Sebelum Jadi Blogger? Internet Ronin!

Dimana saya sebelum jadi blogger - Internet Ronin

Pagi Kawan MM ? Stay safe ya dan jangan lupa pakai masker!

Sejak kemarin, saya pikir topik perjalanan atau awal mula cerita sebagai blogger menjadi ide yang banyak diolah yah. Sekali-kali, boleh saya ikutan? Nggak boleh juga nggak apa-apa sih, tetap saja saya bakalan tulis.

Cuma, daripada menceritakan perjalanan kehidupan blogging saya yang tidak ada spesialnya sama sekali, mungkin saya mau bercerita sedikit tentang masa “sebelum” label blogger tersemat.

Waktu itu saya dimana dan jadi apa? Tentunya di luar kehidupan sehari-hari. Yang itu sih lebih biasa lagi, meski yang mau dibahas juga tidak ada spesialnya. Pokoknya biasa saja. Toh memang saya cuma manusia biasa.

Nah, sebelum menjadi blogger itu, mungkin julukan yang tepat buat saya saat itu adalah Internet Ronin. Campuran kata dari bahasa umum dan bahasa Jepang.

Ronin adalah istilah yang dipakai pada masa dimana kasta Samurai berkuasa di negara tersebut (ratusan tahun). Istilah ini merujuk pada “samurai” yang tidak memiliki “Tuan” atau “klan”. Jadi, kalau dijelaskan secara singkat, samurai tak bertuan, yang sebenarnya bisa dianggap “aib” karena seperti kehilangan kehormatannya pada masa itu.

Samurai gelandangan yang tidak tahu arah tujuan.

Sebelum resmi memilih jadi blogger tahun 2014, rasanya memang saya menggelandang di internet.

Sejak awal tahun 2000-an, saya sudah aktif sekali di dunia maya. Bukan di Facebook karena waktu itu mungkin medsos ini baru tahap perencanaan. Waktu itu, milis (mailing list – Yahoo Groups) adalah tempat si internet ronin bernaung.

Milis/Forum Apakabar

Cukup banyak juga milis yang saya ikuti, tetapi ada satu yang paling berkesan, namanya Milis “Apakabar”. Iya, namanya begitu. Yang bikin orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Berbeda dengan namanya yang ramah dan santun, milis ini sebenarnya penuh dengan “perkelahian”. Benar-benar berkelahi, tetapi dalam pemikiran. Di dalamnya penuh dengan diskusi, perdebatan, banting-bantingan, sampai maki-makian.

Keras sekali. Temanya lebih kepada politik, pemerintahan, sosial budaya, sejarah.

Kalau tidak salah, di antara nama beberapa ekonom, politik, anggota partai yang sekarang banyak nongol di tipi, ada yang dulu pernah menjadi anggota milis ini.

Sebagai “ronin” yang tidak punya tujuan dan “tuan”, milis ini merupakan tempat yang menyenangkan. Bisa mengasah “katana”..eh otak, melihat sudut pandang lain, termasuk menyalurkan energi berlebih dengan “membanting” para samurai lain disana.

Semua yang ada disana tahu bahwa milis itu adalah “medan perang”, bukan warung kopi tempat beramah tamah. Apapun yang dilemparkan akan kembali dalam bentuk yang keras dan “menyakitkan”.

Milis ini kemudian berkembang menjadi forum dengan memakai Joomla. Masih dengan tema yang sama dan tetap menjadi ring tinju. Entah kemana forum ini sekarang, tetapi sedikit catatan dari “Enda Nasution” yang dijuluki Bapak Blogger Indonesia menunjukkan bahwa ia pernah bergabung disana (cuma nggak ketemu saya)

Beberapa kopdar melahirkan kegiatan lain yang lebih positif selain memuaskan ego berkelahi, bakti sosial.

Beberapa kali saya harus turun ke lapangan untuk melakukan survey ke lokasi Mengkonfirmasi dan mengklarifikasi apakah calon penerima bantuan memang benar-benar layak atau tidak.

Dalam perjalananannya, saya belajar untuk lebih banyak bersyukur akan apa yang sudah saya miliki. Banyak yang membuat hati saya trenyuh, seperti seorang kondisi anak kecil dengan penyakit bawaan yang membuatnya tidak bisa BAB dan harus mengeluarkannya dari perut.

Banyak hal saya dapat dari milis/forum ini. Dua muka yang berbeda. Yang satu terlihat sangar, kejam, keras, dan tanpa belas kasihan. Yang satunya sisi welas asih yang tidak pernah diketahui banyak orang.

Milis Aglaonema Indonesia

Selain itu, milis lain yang saya ikuti seperti berkebalikan, 180 derajat dibandingkan yang pertama, milis tanaman hias, Aglaonema Indonesia. Dari sana juga saya belajar merawat si Ratu Daun dan berbagai tanaman hias lain, menjadi penjual tanaman hias, panitia lomba tanaman hias tingkat nasional, dan admin situs lelang tanaman hias.

Saya juga belajar disini kalau booming tanaman hias seperti Anthurium, Aglaonema, dan banyak lagi lainnya, tidak terlepas dari “tangan-tangan” tak terlihat yang mengatrol harga pasar demi tujuan tertentu. Pola yang sama terjadi dalam beberapa jenis hobi lainnya, ikan KOI, batu akik, dan sebagainya.

Cuma, setelah saya melihat banyak intrik dan vested interest dari banyak anggotanya, saya kabur dan pilih bebas. Pelajaran yang membuat saya menyadari bahwa dalam setiap komunitas pasti ada tujuan tersembunyi, baik dari pengelolanya atau anggotanya.

Tidak terlihat, tidak terbukti, tetapi ada.

Saya tidak nyaman dan pilih kabur.

Saya ronin, si samurai gelandangan.

Detikforum

Entah apa alasannya, saya lupa, tetapi kemudian saya memutuskan berpindah hati. Mungkin karena sudah mulai bosan “berkelahi” dan tidak berhenti, saya pindah ke Detik Forum.

Lumayan juga lama disini, alias bertahun-tahun.

Forum tempat saya mangkal, Sosial Budaya. Meski kadang “flirting (lirak lirik)” ke berbagai forum lain, saya betah disini.

Mau tahu kenapa?

Saya bisa “berantem”, “berkelahi”, debat, diskusi, adu pandangan, jotos-jotosan.

Sama kasarnya juga dengan di Apakabar. Kayaknya cuma beda nama.

Sempat diminta jadi admin di forum Sosbud, saya menolak. Beban dan saya tidak mau terbebani. Saya pilih jadi samurai tak bertuan, yang bisa bebas ngeyel dan hantam sana sini, bahkan kadang admin pun diajak “berantem”.

Tentu, bukan secara fisik yah. Pemikiran, pengetahuan, logika, argumen adalah senjatanya.

Keras, tapi akrab. Saya mendapatkan banyak teman disana, yang sering pertama kali tidak diketahui wujudnya, tetapi lama kelamaan, apalagi setelah ada FB dan Insta, mulai saling menampakkan wajah.

Beberapa di antaranya masih menjadi teman, setidaknya di FB dan kadang masih suka ledek-ledekan.

Saya tidak pernah ikut dalam kopdar resmi karena “tidak nyaman” dengan pola itu. Hanya, setelah menjadi blogger, saya masih bertemu dan menjadi guide dengan rekan yang dulu sering saya recoki saat menjabat sebagai admin.

Si Ronin Menetap

Barulah tahun 2014, dipicu melihat tetangga yang “kerja” di rumah dan mengelola websitenya, ada pikiran baru yang hadir.

Kok yah enak dia yah, bekerja memakai kaus singlet, depan rumah sambil ngopi, uang datang sendiri. Begitu pikir saya.

Kemudian, saya belajar tentang blogging, membuat website sendiri dan sejenisnya.. Sampai akhirnya September 2014, sebuah blog bernama Bogor My Lovely Town hadir di dunia maya.

Itu blog pertama saya. Masih ada. Cuma nggak diisi lagi, karena hanya 3 bulan berselang, saya memutuskan memakai WordPress karena merasa terbatas di Blogspot. Saya belajar dari internet bagaimana membuat dan mengelolanya. Pungut sana pungut sini.

Tanggal 8 Januari 2015, Lovely Bogor hadir di dunia.

Sejak itu si Ronin menetap.

Tapi, bukan berarti sifat keras kepala, ndableg, ngeyel, dan senang “berantem”nya berhenti. Banyak tulisan di blog itu pun berisi “kritik” terhadap apa yang saya lihat di Bogor.

Setelah itu, kemudian berkembang lagi , bertambah lagi kemauan si ronin karena “energi berlebihnya” tidak lagi bisa dipakai berantem. Lahir kemudian beberapa blog lain, salah satunya ya Blog MM ini yang lahir sekitar 2016.

Idenya, membahas dunia tulis menulis, terutama dunia blogging yang saya pikir banyak terkontaminasi oleh pemikiran para internet marketing. Juga, dunia yang menurut saya juga banyak sekali mitos tidak jelas dan mengada-ada.

Blog MM lahir niatnya untuk melepaskan ide-ide liar si ronin untuk dipakai sebagai batu pengimbang bagi pemikiran-pemikiran yang sudah lebih dulu beredar. Sekaligus sebagai wahana menyalurkan sisi keras kepala, ndableg, ngeyel, dan seneng “berantem”.

Meski, tentunya dengan cara yang lebih “halus”. Bagaimanapun, saya tahu dunianya berbeda juga. Tidak ada lagi “duel” langsung, yang ada adalah “corong” untuk berorasi dan menyampaikan pendapat.

Tapi.. kadang kalau “urat jahil” nya kumat, si ronin itu akan iseng memakai “ilmu” yang didapat dari Apakabar dan Detikforumnya, yaitu “bikin orang marah”. Bisa dalam bentuk posting, bisa juga dalam bentuk komentar.

Bagaimanapun di kedua “medan perang” itu, saya belajar banyak, termasuk bagaimana menampilkan “wajah marah”, memainkan emosi, menahan agar emosi tidak terlibat, berpikir berimbang, tidak langsung menelan apa yang ada, dan masih banyak lainnya.

Semua ilmu itu, terkadang, masih saya pakai saat menulis di rumah sendiri. Tidak seratus persen, tetapi masih ada.

Si ronin sudah menetap. Situasi yang membuatnya menjadi “lebih kalem”, “lebih halus”, dan “lebih beradab”.

Mau baca pikiran awal si Ronin? Baca : Ngeblog Tentang Berbagi Bukan Menggurui

*****

Nah, itulah sekilas perjalanan si Ronin.. eh saya, sebelum menjadi blogger.

Bukan sesuatu yang spesial kan?

Nyesel kan bacanya?

Yuk Berbagi....

6 thoughts on “Dimana Saya Sebelum Jadi Blogger? Internet Ronin!”

  1. saya juga dulu aktif milis
    tapi missosology yang bahas kontes kecantikan zamannya Zivana letihsa heheh

    dulu milis bener bener asyik ya pak

    tapi klo ngeblog saya mayan aktif dulu di multiply gara gara ada PKM di kampus
    eh sekarang tutup itu portal

    iya detik forum itu bener bener all out kalau debat
    ya allah zaman zaman itu

    Reply
  2. Oooh.. pantesan komen-komennya Mas Anton di blognya temen-temen seperti itu, seolah kayak ngajak berantem, padahal sebenernya ada kebaikan di dalamnya. Karena saya juga mikirnya tujuan Mas Anton begitu pastinya bukan buat nyari musuh kan yah. Tapi kalo buat mereka yang gak kuat mental pasti langsung kabur ituh Mas. 😂

    Dulu waktu jaman kuliah, ada beberapa temen cowok yang udah gak mau ngobrol serius lagi sama saya Mas soalnya males saya debat, mereka lebih seneng becanda, ngakak aja kalo sama saya. 😂

    Tahun 2000 itu, saya baru mau belajar Internet dan buka usaha rental komputer jaman itu. Tapi lama banget Mas baru tahun 2014 mulai ngeblognya. Kalo saya mulai ngeblog dulu emang sekitar tahun 2004 karena sempet belajar design web sebentar, jadi mungkin lebih akrab, tapi isi blognya juga amburadul sebenernaya, jadi gak bisa dikategorikan sebagai seorang blogger juga waktu itu. 😂 Pernah juga dulu ikutan milis masakan indo, tapi cuma baca resep orang2 aja. Ternyata bisa jotos-jotosan juga disana yah, baru tau saya 😂😅

    Reply
    • Wakakakakaka…. Yah, masing-masing punya cara mbak. Saya mah kadang cuma mengajak berpikir lebih dalam saja. Caranya mungkin tidak seperti umumnya, yang mengelus dan membujuk. Saya berpandangan kadang menjadi penentang lebih baik karena mendorong orang untuk merespon yang artinya mereka mau berpikir.

      Kalau yang pilih kabur, ya itu pilihan mereka saja. Saya bisa mengerti kalau ada yang pilih menghindar karena tidak terbiasa. Jadi, saya mah nggak maksa. Kalau mau memandang saya sebagai musuh, juga nggak bisa dilarang.. wkwkwkwkwkw

      Nah kan mabk Rini juga merasakan…hahahaha

      Terlalu betah di dunia seperti itu mbak. Zona nyaman saya disitu. Barulah setelah merasa puas sekali, saya beralih. Bikin blog sendiri sekitar 2011-2012 di WP, cuma nggak saya terusin karena masih asyik di forum. Belum ada klik-nya mbak saat itu..

      Reply
  3. Nggak spesial dari Hongkong!! *ngegas* :p
    Justru cerita perjalanan kak Anton malah lebih menarik untuk dibaca karena penuh dengan action (re: adu jotos) huahaha.
    Kalau aku nggak baca tulisan ini, mungkin aku nggak tahu kehidupan sebelum adanya Blog seperti apa. Bisa dibilang Mailing List ini sebelum Blog terkenal kan, kak?
    Kalau sifat ndableknya ternyata emang udah dari lahir ya xD
    Karena ternyata dari jaman main mailing list emang udah begitu, malah semakin terasah ya huahaha.

    Reply
    • Emang di Hongkong ada Ronin juga Li..

      Yah, bawaan dari orok eta mah Li.. susah dihilangin. Sampe sekarang juga masih.

      Nggak terlalu merhatiin juga sih Li, blog sudah terkenal atau belum. Cuma, mayoritas di masa itu masih senang bermilis ria karena masuk ke email jadi tidak perlu buka browser. Praktis banget.

      Kalau soal berantem, ya memang begitu adanya. Makin terasah deh golok.. eh samurainya..lha tiap hari berantemnya.. hahahaha

      Reply

Leave a Comment