Sharing By Rey : Kejujuran, Keberanian, Kegalauan

Selamat Malam Kawan!

Jangan lupa katakan sayang kepada istri, anak, atau orang-orang tersayang Anda sebelum tidur. Biarkan mereka mengetahui betapa sayangnya Anda kepada mereka. Buat yang belum punya anak atau pasangan, jangan cium istri atau anak tetangga. Bisa jadi masalah besar.

Kawan MM, pernahkah kawan tahu blog mana yang paling sering saya “recoki” selama ini? Catatan, saya recoki dan bukan komentari yah.

Di blog ini, saya paling sering bertindak bengal, ndableg, dan kadang menentang dengan gaya ngajak berantem. Paling sering karakter si internet ronin keluar.

Kalau lihat judul pasti sudah tahu kan? Iya, nama blognya Sharing By Rey asuhan Reyne Raea.

Bukan sekali dua, saya menentang secara frontal pemikirannya. Bahkan, dalam satu tulisannya, beberapa kawan seperti selalu menanti “pertarungan” antara saya dan pemilik blognya.

Saya pun pernah membahas/mengkritik secara detail tentang pemikirannya soal DA (Domain Authority), Page Authority, atau Spam Score.

Mungkin, seringnya saya mengeluarkan karakter keras membuat saya dianggap oleh banyak kawan sebagai “musuh” atau lawan dari sang pemilik blog.

Padahal, kenyataannya jauh daripada itu.

Justru, saya berpikir bahwa saya menyukai blognya. Buktinya, saya terus mau berulangkali datang kesana untuk membaca tulisannya. Bukan hanya yang baru saja, tetapi juga bagian arsipnya yang lumayan panjang itu.

Kadang meninggalkan sedikit jejak, kadang jadi “jelangkung”, kadang ngajak berantem.

Tindakan-tindakan yang tidak akan saya lakukan kalau saya anggap blog itu menyebalkan. Sama sekali tidak. Kalau sebuah blog saya anggap tak berarti, saya cukup baca satu dua, langsung pergi bahkan tanpa meninggalkan jejak.

Berkomentar, seperti pernah saya sebutkan sebelumnya, bagi saya adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap penulisnya. Dan, itulah sebenarnya adanya.

Unpredictable

Apa yang bisa kamu harapkan ketika datang ke blog ini? Saya memilih datang dan mempersiapkan diri untuk kejutan.

Karena, memang saya tidak tahu topik apa yang akan diusung, meski ada jadwalnya, tetapi tetap sulit diprediksi.

Kadang muncul dengan posting yang mencerminkan karakter seorang wanita yang tegar dan berani menantang apapun.

Besoknya, tiba-tiba muncul dengan pembahasan blogging yang rinci sekali.

Lusanya, sponsored post, layaknya seorang salesman.

Besoknya lagi, curhatan galau dengan masalah rumah tangga yang memperlihatkan sisi lemah wanitanya.

Seperti menghadapi seseorang dengan belasan topeng. Saya tidak tahu yang mana yang akan muncul saat pergi kesana.

Jadi, setiap kesana, saya tidak bisa menduga akan menemukan apa.

Tidak bisa diprediksi.

Kejujuran

Gayanya bletak bletok banget. Ceplas ceplos. Bawel? Jelas banget. Kadang, saya bisa membayangkan beberapa pembaca akan merasa tidak nyaman dengan apa yang disampaikannya.

Cuma, disana saya menangkap kejujuran dan kepolosan dalam caranya menulis. Blogger asal Sidoarjo ini seperti melepaskan seluruh rasa yang ada di hati saat menulis, terutama di bagian Marriage.

Sesuatu yang kadang membuatnya terlalu terbuka bahkan dalam hal pribadi yang membuatnya bisa dipandang negatif oleh masyarakat.

Tetapi, saya pikir keterbukaannya itulah yang menjadi sebuah daya tarik tersendiri membaca tulisannya, yang kadang melebar ke kanan, ke kiri , ke depan, ke belakang dulu, baru ke tujuan.

Bagi saya pribadi, menyenangkan melihat seseorang menulis tanpa terbebani topeng “citra” yang banyak dipakai blogger.

Keberanian

Entahlah, pasti butuh sebuah keberanian luar biasa besar menulis tentang kemelut dalam kehidupannya, hubungan dengan pak suaminya.

Tetapi..

Dia lakukan.

Sampai cerita tidak punya uang untuk membayar ini dan itupun dia ceritakan.

Padahal, hal itu memungkinkan dirinya menjadi sasaran kecaman dan pandangan negatif karena bisa dianggap menceritakan keburukan rumah tangganya.

Geleng-geleng kepala saya kalau membaca menu “Marriage” di blog ini.

Banyak cerita yang membuat bahkan sinetron Suara Hati Istri, yang sering saya tonton demi menemani si Yayang, kalah seru.

Cuma, bedanya, yang saya baca adalah pengalaman pribadi yang nyata.

Tidak sedikit pelajaran yang saya dapatkan, bahkan bagi saya yang sudah menikah hampir 20 tahun sekalipun, tetap saja saya belajar banyak. Pernah, satu kali setelah membaca salah satu tulisannya, saya memeluk si Yayang sambil bilang “Luv U Say”.

Setidak romantis-romantisnya, saya tetap ingin wanita yang sudah setia menemani saya itu tahu, saya menyayanginya.

Itu karena kisah si Rey.

Kegalauan

Paradoks memang.

Satu saat tampil gagah, tegar, dan kuat.

Saat lain, tulisannya bisa berupa curhat tentang rasa gundah gulananya si blogger dari Sidoarjo ini.

Penuh dengan rasa galau.

Bahkan, saya sering membaca sambil membayangkan seorang wanita yang berusaha tampil tegar dan berbicara dengan terisak.

Wadaw.

Kadang rencana saya mau komentar jahil dan menentang saja jadi batal kalau sudah begini.

Menulis seperti bukan sekedar menulis baginya. Menulis seperti memiliki makna lebih bagi dirinya.

Menulis adalah pelariannya dari keruwetan kehidupan. The hideaway untuk jiwa yang galau. Cara untuk bisa survive dalam kehidupan.

Besar Hati

O yah.

Ini sesuatu yang harus saya akui. Benar-benar besar hati.

Pada, kisah ketika suaminya kecelakaan, ungkapan rasa terima kasihnya membuat saya “merinding”. Sulit tidak merasakan betapa ia merasa begitu berterimakasih terhadap apa pertolongan beberapa blogger bagi dirinya.

Begitu juga, ketika ia berkomentar tentang Mbak Eno/Creameno, disana saya menangkap ketulusan dan rasa yang memang ia rasakan. Saya menilai begitu, karena memang begitulah Rey dalam menyampaikan sesuatu, polos, jujur.

Dan, dia seberapapun saya tentang, saya jahili, saya “jitak”, tetap saja dia menulis bahwa justru dia menanti saya berkomentar karena tahu bahwa ada “value” (nilai) dalam “komentar ngajak berantem” yang disampaikan.

Caranya berkomentar di blog MM pun, saya appreciate sekali. Tetap polos dan blak-blakan, kadang nyablak, tapi ya itulah dirinya. Tidak terlihat dendam terhadap kebengalan yang sering saya lakukan di blognya.

Karena itu, Rey, meski saya cukup yakin kadang bete berat kepada saya, saya rasa tidak memandang saya sebagai musuh/lawan.

Satu hal lagi yang membuat saya angkat topi.

We Are friends

Terlepas dari eker-ekeran (berantem), saya tidak pernah memandangnya sebagai musuh. Sebaliknya, saya pikir, dia kawan saya.

Memang interaksinya berbeda dari yang umum.

Debat, diskusi, bantah-bantahan, keras-kerasan. Tapi, saya pikir pertemanan pun bisa dilakukan dengan cara itu.

Walau, saya tahu kadang yang seperti ini sulit dipahami dan dari luar kerap yang terlihat hanyalah dua orang “berantem”, tapi saya menganggapnya sebagai teman.

Apalagi, sebagai seseorang yang dibesarkan sebagai anak laki-laki satu-satunya dengan 3 saudara perempuan, saya merasa “relate” dengan kehidupannya.

Kerap hadir pertanyaan, bagaimana kalau adik atau kakak saya dalam kondisi demikian, apa yang saya lakukan?

*****

Sharing by Rey nama blognya.

Mungkin, saya hanya bisa menyarankan kalau mau berkunjung ke blog ini, sebaiknya bersiap menghadapi dunia penuh kejutan dan ketidakpastian.

Penuh dengan naik turun, belok ke kanan dan ke kiri. Bukan hanya kehidupannya, tetapi juga cara menulisnya. Bersiaplah seperti naik angkot, diajak ngebut, terus tiba-tiba berhenti, belok kanan kiri tanpa sein. Tidak akan membosankan, tetapi kadang pengen jitak supirnya.

Karena blog ini, meski memiliki banyak menu, berintikan pada kisah perjalanan kehidupan penuh liku-liku dan perjuangan seorang wanita.

Seorang wanita bernama Reyne Raea.

Yuk Berbagi....

23 thoughts on “Sharing By Rey : Kejujuran, Keberanian, Kegalauan”

  1. Sukaaaaa tulisan ini, mas 😍

    Saya sangat respect sama mba Rey karena dari mba Rey, saya bisa belajar banyak soal blogging, hidup, hubungan antar manusia, kesehatan, dan lain sebagainya. Hehehe. Menurut saya, blog mba Rey mirip Toserba (apa lu mau, gue ada) 😂 dan berhubung mba Rey update setiap hari, saya luangkan waktu khusus buat rapelan biar puas 😍 apalagi topiknya mba Rey suka sambung menyambung ke post-post jadulnya hehehe. Jadi paling enak dirapel biar klak klik sekalian 😆

    Ohya bicara mengenai mba Rey, di mata saya, mba Rey sosok yang kuat dan tegar. Sometimes saya berpikir kalau saya ada di posisi mba Rey akan bagaimana. Mungkin saya sudah nggak kuat. Jadi melihat ketegaran mba Rey menjalani hidup, membuat saya merasa salut dan berdoa semoga one day mba Rey bisa mendapatkan kebahagiaan yang diharapkan ~ 💕

    Seriously, she is too kind, selalu berbagi ilmu dan pengalaman yang dipunya, which is saya tau itu nggak mudah 😍 dan saya sudah anggap beliau seperti seorang kakak *sok muda banget saya* hahahaha, tapi pembawaan mba Rey memang lebih mature dari saya ~ 🙈

    Ohya saya kenal mas Anton dari blog mba Rey, lho. Hahahahaha. Jadi saya berterima kasih banyak sama mba Rey sudah buat saya kenal blog bagus seperti blog MM, cihuy! 😂 hehehe. Semoga mba Rey bisa terus semangat menulis ya, mas. Nggak kebayang kalau mba Rey yang biasa tiap hari update tau-tau nggak update sebulan. Bisa gempar dunia perblogan 😆

    Kalau mba Rey baca komen ini nanti, saya cuma mau bilang, terima kasih banyak sudah menjadi teman yang baik dan berbagi banyak cerita juga pengalaman. Jujur saya belajar banyak dari tulisan yang mba bagikan 😍 dan saya berdoa semoga mba Rey selalu diberkahi rizki sehat, bahagia dan hidup sejahtera. Plus kekuatan dalam menjalani kehidupan 😄 semangat terus, mba 💕 lavvvvvv ~

    Reply
    • Enooooo, huhuhu.
      Ikutan aja nabur bawang merah di sini sih!

      Mata saya bisa bengkak nih kalau nangis mulu huhuhuhu.

      Saya jadi ingat tulisan si bapak Anton mengenai Eno, saya yang baca aja terharu, kebayang gimana Eno bacanya.
      Dan saya merasakan hal yang sama hari ini.

      Waktu baca tulisan itu dulu, cukup bikin saya merasa si bapak ini memang melankolis yang blak-blakan.
      Tapi saya tahu, kebanyakan tipe lelaki yang (terlihat) keras itu, hatinya selembut sutra, kalau hatinya yang sutra itu keluar, jadilah tulisan-tulisan yang mengandung bawang huhuhu.

      Anyway, tengkiu so much Eno, Eno juga mah kagak bisa saya jabarkan isi hati saya gimana.

      Sungguh ya, kehadiran teman-teman blogger kayak Eno, Pak Anton, Kang ustadz Satria, dan lainnya itu bikin saya selalu bersyukur dan semangat menjalani kehidupan yang awalnya bikin saya sedih karena pengennya bekerja di luar rumah kayak dulu.

      Tapi beneran, ternyata sedikit demi sedikit Tuhan menunjukan, bahwa apa yang saya jalani sekarang adalah yang paling saya butuhkan.

      Saya jadi IRT, akhirnya malah ngeblog, dan itu membuat saya bertemu sahabat-sahabat yang membuat saya merasa selalu hidup, meski hanya dalam dunia maya.

      Makasih banyak yaaa :*
      Juga tulisan -tulisan Eno, sama kayak tulisan bapak Anton, selalu ditunggu-tunggu, karena kisahnya, gaya tulisannya dan pemikirannya yang membuat saya dapat banyak banget pelajaran dalam hidup 🙂

      Reply
  2. Gw bilangin luh ngegosipin Rey..Haahaaa.🤣 🤣

    Tapi kalau menurut gw mbak Rey punya pikiran lebih dewasa terhadap komentar atau gaya ente yang suka mengerecokinya. Dibilang ngajak berantem yaa nggak juga kayanya, Justru ia lebih mengnganggap dirimu pigur seorang ayah yang sedang membimbing sang anak. Atau saran terbaik yang mungkin bisa ia pertimbangkan. Yaa mungkin itu perasaanmu saja kong.🤣 🤣 Benar atau tidaknya tunggu orangnya datang saja.🤭 Syukur2 udah komen duluan..🤣 🤣

    Masalah tulisan beliau naik turun, Kiri, Kanan, Ngalor ngidul dan naik2 kepuncak gunung juga, Terus turun lagi.🤣 Mungkin suatu daya tarik bagi saya pribadi yang selalu ingin berkunjung ke Blognya. Dan bagi saya apa yang beliau tulis bukan satu keburukan. Justru hal yang luar biasa yang jarang terdapat pada blogger wanita lainnya.😊

    Mungkin Karena menulis sudah jadi bagian kesahariannya, Dengan segala jiwa kewanitaannya ia tuliskan semua, Meski itu yang menyangkut hal2 pribadi rumah tangganya. Yaa mungkin itu bawaan dari zodiak Leo juga yang berjiwa konsisten meski tidak semua wanita Leo seperti itu.😊😊

    Nahlooo!…Kaabooorr!.🏃🏃🏃🏃🏃

    Reply
    • Sono bilangin tong.. Siapa takut.. wkwkwkwkwkw

      Saya tidak bisa menyelami hati seseorang. Saya nggak bisa menduga bagaimana dia memandang segala komentar saya. Cuma dari sisi si engkong yang udah tua ini, tetap saya sadar bahwa komentar-komentar saya tidaklah umum. Sangat mungkin diartikan merecoki.

      Naik turun, ngalor ngidul, kiri kanan, saya juga nggak menganggapnya sebagai keburukan atau kesalahan. Bagi saya itu adalah ciri khas blog itu dan Rey. Trademarknya dia dan bukan sebuah masalah (bagi saya sih)

      Gitchu tong manusia salju.. 😀

      Reply
      • wakakakakakaka, tenang aja bapaaakkk…
        Sesungguhnya dibanding teman wanita lainnya, mengapa mental saya sedikit lebih kuat terhadap komentar yang blak-blakan, adalah..
        Karena seumur-umur saya sebenarnya nggak pernah punya teman akrab yang terus-terusan bareng dan seorang cewek.

        Justru saya lebih banyak berteman dengan cowok, pernah kerja di proyek pula, karenanya segala macam komentar a la para laki, di mana di depan terlihat jahat. tapi dalam hati peduli banget, udah sering saya alami.

        Jadi suer bapak, saya sama sekali nggak merasa kalau komentar pak Anton adalah sesuatu yang jahat, justru itulah sebenarnya komentar yang jujur, open minded dan peduli 😀

        11 12 deh ama si kang Ustadz Satria ini, bedanya si pak Anton a la senior, di mana blak-blakan a la seorang ayah.
        Nah si kang ustadz ini a la seorang sahabat, yang juga belajar banyak dari kisahnya di masa muda yang lumayan menantang tapi luas banget dalam pengalamannya 😀

        Btw, siapa tuh Leo yang beda hayooo!
        Jangan bilang mantannya loh ya, hahahaha

        Anyway, tengkiu juga kang ustadz atas semua komentarnya di hampir semua postingan saya.

        Salah dua komentar yang selalu saya nantikan sebenarnya dari pak Anton versi seorang ayah.
        dan si kang ustadz versi seorang sahabat 😀

  3. Ketika pertama kali berkunjung ke blognya mbak rey cukup menarik karena bisa konsisten dengan banyak tema untuk ditulis. Yang jadi salah satu masalah bagi blogger itu adalah konsistensi. Tapi Mbak Rey bisa melakukannya.

    Tulisan yang sering naik-turun,ngalor-ngidul mungkin juga sudah jadi karakter dari tulisan mbak rey. Kalau naik terus bakal capek, yaudah turun sebentar agar rileks. Kemudian diajak naik lagi biar makin seru. Dan secara pribadi aku sangat menarik baca tulisan kayak gini.

    Ceplas ceplos mungkin adalah jalan ninja orang jawa timur..hahahhaa

    Reply
    • Yes banget.. Jelas banget konsistensinya dalam hal ini mah. Padahal pasati berat banget, tapi dia bisa. Makanya saya kagum tuh

      Iyah.. kayak roller coaster buat saya mah.. Bumbunya banyak.. seru..

      Orang Jatim yang pernah merantau ke Sulawesi … memang jalan ninjanya berbeda.

      Makasih sudah meninggalkan jejak disini mas..

      Reply
      • hehehehe makasih ya udah baca tulisan saya 😀
        itu naik turun karena ada tema harian.

        Memang sih, kadang saya merasa, ini pembaca agak heran kali ya, seolah saya bisa dengan mudah men setting perasaan saya.
        hari ini super galau, eh besok udah haha hihi.
        Padahal, karena temanya gitu.
        selain itu, nggak semua cerita yang saya tulis di postingan curcol adalah live saya rasakan.
        Kebanyakan sih udah berlalu, saking saya belom bisa post, menanti hari dengan tema tersebut (bikin ribet diri sendiri ya gini, hahahaha)

  4. Sebenernya kalo saya membaca postingan2 nya Mba Rey, saya tuh suka gregetan mo komen tapi kadang gak enak kalo dibaca pengunjung lain, soalnya sebagian besar curhatannya Mba Rey itu setidaknya pernah saya lewati. Meskipun saya kadang gak tau isi tulisan Mba Rey itu sebenernya tujuannya untuk curhat atau sedang memetik himah dari pengalamannya sendiri untuk dijadikan pembelajaran bagi para pembaca blognya.

    Jadi kadang saya bingung antara mo ngasih saran atau Mba Rey ini sedang menceritakan pengalaman yang sudah lalu dan dia sudah memahami bagaimana cara bersikap jika masalah yang sedang dialaminya terulang lagi.

    😂 Namanya cewek mungkin yah, kadang perasaannya naik kadang down, tapi saya salutnya yah itu, keberaniannya menulis sesuatu yang kemungkinan tidak akan saya tulis di blog, cukuplah dulu pernah menulis curhatan seperti itu, lalu ada keluarga yang membaca, dan jeng jeng, saya yang udah jadi orangtua ini pun di bully oleh keluarga sendiri. Kalo saya mah gak kuat mental, salutlah saya sama Mba Rey 😁

    Reply
    • Wah Mbak Rini kenapa tidak “turun gunung”. Saya pikir justru itu akan bagus sekali terlepas dari tujuan Rey menuliskan pengalamannya.

      Saya sendiri pikir, tulisannya juga merupakan bentuk keluh kesah/curhatnya tentang pengalaman yang dialaminya. Komentar mbak Rini saya pikir akan memberikan opsi-opsi baru dan mungkin bisa dipertimbangkan sebagai jalan keluar. Selain itu rasanya akan menghadirkan perasaan disupport.

      Dalam beberapa komentarnya, saya pikir yang seperti itu dibutuhkan olehnya.

      Jangan ragu mbak, lagi pula banyak pembaca lain yang akan bisa menarik manfaat dari pengalaman seorang blogger yang “hampir sesenior” saya dalam hal usia (hahahahaha)

      Come on mbak, bebaskan diri.. Bagi pengetahuan bagi dunia

      Soal keberanian memang saya sendiri kagum karena saya sendiri belum tentu berani sampai sejauh itu

      Reply
      • Mba Riniiii…
        Seharusnya kagak perlu ragu, saya menghargai dan berterimakasih banget loh kalau ada yang komen, baik itu kritikan apalagi saran 😀

        Justru hal seperti itu yang bikin kita menulis merasa dihargai, karena memang benar-benar dipedulikan 😀

        Kalau mengenai apa yang saya tulis, kebanyakan memang udah berlalu Mba, meski ada juga yang live *eh 😀

        Dan ada juga yang udah berlalu, tapi belom tahu keputusannya, jadi biasanya gitu nggak ada tips atau hikmahnya *eaaaakk hahahahaha

        Ya mungkin karena masalah tema harian kali ya, jujur kadang udah nulis sesuatu, terus ada hal yang masih kurang, pengen nulis, tapi terbatas temanya, jadinya saya tunda sampai minggu depannya.

        Sisi baiknya, meski masih terbaca ‘vulgar’ atau berani, tapi sebenarnya itu udah sehalus mungkin, karena saya nulis saat perasaan saya udah tidak sekacau seperti yang saya ceritakan tersebut.

        Kadang saya juga berpikir, kalau saya ini memang orangnya tertutup, saya jarang mau cerita kalau lagi punya masalah, nanti udah lewat baru saya tulis, termasuk saat nulis di facebook.

        Saat saya sedang marah dan galau banget, saya nggak mau pegang hape, kalaupun pegang, palingan curhat sama kakak, meski jarang juga, soalnya malah kena marah hahahaha.

        Bahkan saat saya merasa sangat down dan pengen menyerah, saya nggak mau menghubungi siapapun, palingan yang bikin saya merasa lebih baik, jika teringat dengan tulisan-tulisan inspiratif dan penyemangat dari teman-teman, ingat bagaimana teman-teman menyemangati.

        Itu saja yang saya lakukan.

        Oh ya, Mba Rini ikutan dapat buku dari Eno nggak?
        di situ ada kisah yang belum pernah saya tuliskan di blog, kisah yang menceritakan, kalau saya lagi down, saya nggak mau nulis dan cerita, malah ditanggung sendiri hahahaha

  5. Bapaaaakkkkkk, saya spechless!
    Kagak tahu mau nulis apa hiks.

    Di awal-awal saya ngakak, sampai nggak sadar anak saya terheran-heran, dan kepo dengan hal yang bikin saya ngakak.

    Lalu makin ke bawah, saya mulai mewek.
    Ke bawah lagi saya bersimbah air mata, huhuhu.

    Saya nulis ini sepotong-sepotong tahu nggak Pak.

    Tulis 1 kalimat, naik lagi ke atas, pengen ulang baca lagi, abis itu malah saya buka WA, IG, FB, twitter buat disebarin di sana.

    Huwaaaa…
    I know, bapak itu berhati malaikat, tercermin dalam setiap cerita yang Pak Anton tulis, even itu di kolom komentar, maupun di blog ini.

    Membayangkan karakter pak Anton dari tulisannya, yang (terlihat) keras, tapi saya tahu hati bapak itu lembut, mungkin karena selalu dikelilingi wanita kali ya, di mana sodaranya perempuan semua.

    duh bingung mau nulis apa Bapaaakk, huhuhuhu.

    Saya jadi tahu gimana perasaan Eno waktu membaca tulisan tentang dia di sini.
    Si bapak pacarnya Candy-Candy ini memang penulis sejati, kadang tegas, kadang juga menulis dengan taburan bawang, bikin nangis hiks

    Dan tahu nggak Pak, apa yang bikin saya mewek banget?

    “Tidak sedikit pelajaran yang saya dapatkan, bahkan bagi saya yang sudah menikah hampir 20 tahun sekalipun, tetap saja saya belajar banyak. Pernah, satu kali setelah membaca salah satu tulisannya, saya memeluk si Yayang sambil bilang “Luv U Say”.

    Setidak romantis-romantisnya, saya tetap ingin wanita yang sudah setia menemani saya itu tahu, saya menyayanginya.

    Itu karena kisah si Rey.”

    Terimakasih banyak Bapak.
    Terimakasih sudah membuat saya jadi merasa berarti, dengan menuliskan curhatan saya.

    Terimakasih karena sudah bisa mengambil hal positif dari kisah (galau) saya 😀
    Karena sesungguhnya, itulah yang saya inginkan bapak.
    Diambil positifnya, dibuang negatifnya.

    Ibarat saya menggambarkan, saya loh lewat jalan itu, lalu begini perjuangan saya melewati jalan itu, sehingga begini keadaan saya sekarang.

    Saya ingin orang melihat dengan jelas perjalanan pilihan saya, meskipun mungkin berbeda juga, jika dilewati orang lain dalam jalan yang sama, akan tetapi setidaknya orang udah tahu dari cerita saya, bahwa pilihan ini nantinya bakal ada tantangan ini.

    Sesungguhnya, ada beberapa alasan penting mengapa saya menulis itu.
    Pertama, saya ingin terus bisa mengenang perjalanan hidup saya, entah itu bahagia, ataupun kesedihan.

    Kedua, saya ingin mengirim pesan kepada banyak wanita di luar sana.
    Memberi tahu bahwa mereka tidak sendiri.
    Bersedihlah, menangislah, tapi jangan menyerah.
    Karena sesungguhnya, semua orang pernah punya masa terendah dan tergalau dalam hidupnya, akan tetapi lihatlah, toh semua kesedihan atau kebahagiaan akan berlalu.

    Ah bentar, saya publish dulu, entar kagak bisa kepublish hehehe 😀

    Reply
    • Duh kan bingung mau nulis apa lagi ya? padahal begitu banyak hal di kepala saya yang ingin saya tuangkan, tapi beneran Pak, spechless! hiks

      Oh ya, bahas Unpredictable qiqiqiqiqi..

      Mungkin karena saya punya tema harian di blog, meski kadang saya bete sendiri, lagi pengen bahas ini eh nggak bisa karena temanya lain.

      Tapi semakin ke sini, saya rasa keputusan saya mengatur temanya naik turun gitu amat sangat membantu teman-teman yang berkunjung ke blog saya untuk nggak selalu terdistrak atau apalah namanya dengan cerita saya yang menurut banyak orang terlalu berani.

      Bukan sekali dua kali saya membaca komentar shock dari beberapa teman yang baru aja main ke blog saya, dan pas mainnya kok ya di tema marriage tayang, hahahaha.

      Langsung pada takut saya kenapa-kenapa 😀
      Terharu juga sebenarnya.
      Meskipun kalau bisa saya jawab, kebanyakan kisah yang saya tulis itu udah saya lalui, baru saya tulis.
      Jadi kejadiannya udah lewat sehari dua hari, apalagi kan karena dibatasi oleh tema.

      Itu juga yang bikin saya, punya batasan untuk nggak nulis curhat galaaauuu melulu hahahahahaha.

      Anyway bapak.
      Sekarang ngomongin bapak Anton aja deh.

      Jujur nih ya, bapak itu jadi kondang banget setiap kali abis komen panjang di blog saya, beberapa teman selalu chat saya di WA, menanyakan bapak itu siapa? kok ya komennya kayak gitu?
      terus kenapa saya nggak moderasi komen? biar komen yang kayak gitu nggak muncul?

      Qiqiqiqiqi.

      Sejujurnya ya, justru komen seperti itu tuh yang selalu saya nantikan.
      Iya memang, di awal baca mungkin ada sentakan, ibarat kita lagi ngobrol terus ada yang menyela,
      “Enggak, bukan kayak gitu!…”

      Tapi sejujurnya, semua komentar bapak Anton itu mencerminkan betapa pak Anton itu benar-benar bukan sekadar membaca kisah saya, tapi juga peduli banget, apalagi kalau bisa diambil hal positifnya yang jujur mungkin pak Anton jauh lebih berpengalaman dari saya, malah bisa tergerak hanya karena curhatan saya huhuhu.
      Mewek banget daahh, terharu.

      Dan jujur, mau masalah apapun, baik blogging yang mana saya seringnya ngeyelan, hahahahaha *maapkeun!
      Tapi jujur saya senang, setelah saya ngeyel Pak Anton menjelaskan dengan lebih detail, sehingga saya makin bertambah insightnya.

      Dan dari lubuk hati saya yang terdalam, saya sangat berterimakasih karena itu.

      Bagi saya, Pak Anton itu, bisa jadi kayak bapak, kayak kakak, kayak senior yang selalu saja peduli dan berani menunjukan hal-hal yang mungkin saya belum bisa sadari.
      Meskipun ya udah mendarah daging kali ya, saya itu ngeyeeelaaaannn banget wakakakakakak.

      Tapi percaya deh, saya selalu mendapatkan banyak hal dari komentar bapak, atau dari berbagai tulisan yang ada di blog ini 😀

      Apalagi ya, duhh tadi itu panjang yang mau ditulis, tapi blank.

      Yang jelas, makasih banyak bapak Antony pacarnya Candy-Candy.
      Makasih udah peduli dengan tulisan saya.
      Makasih udah selalu mau kasih masukan, meski kadang saya ngeyel hahaha.
      Makasih udah menuliskan tulisan mengandung bawang ini huhuhu.

      Dan semoga jangan pernah kapok baca curhatan saya dan kasih masukan ke saya ya Pak. *ngatur, wakakakakakakak

      Reply
      • 1. Hahaha.. iya pasti ada yang terkaget-kaget baca bagian marriage karena perbedaan cara pandang. Cuma, saya memilih memandangnya, seperti biasa dari sudut non umum, dan saya bisa melihat banyak hal disana

        2. Makasih diceritakan soal pendapat teman-temanmu via WA Rey, bisa dimengerti dan memang sudah diperhitungkan efek sampingnya. Saya tidak bisa mengharapkan semua suka terhadap hal itu, jadi sejak awal memang langkah itu sudah diperhitungakan.

        Efek baiknya, bukankah hal itu menunjukkan banyak yang peduli sama Rey.. hahaha bahkan ditentang dengan keras saja, mereka sudah memberikan dukungan seperti itu. Berbahagialah Rey, kamu punya teman teman yang baik baik

        You deserve it Rey.. dan saya hanya mengutarakan apa yang saya rasakan.

        Keep on writing and inspiring. Be strong. You are not alone.

    • Waduh, jangan berurai airmata dong Rey. Ntar saya dikira mengganggu istri orang, bisa ribet urusannya 😛

      Kedua… Nggak mau jadi Anthony… Mati mudaaaa.. ogah.. hahahahah

      Ketiga : speecless saja sampai dua bagian begini.. gimana nggak speecless

      Kalau saya dua-duanya dicatat, karena baik negatif atau positif akan memberikan pelajaran. Yang positif akan mendorong dan menggerakkan saya untuk maju, yang negatif adalah warning.

      Makasih banyak Rey sudah berbagi sekelumit kehidupannya. Saya cukup yakin, meski tidak semua orang bisa menerima gaya Rey (seperti banyak orang terhadap gaya Rey), akan selalu ada sebagian lain yang bisa menemukan manfaat dan terinspirasi untuk menjadi lebih baik dengan membacanya.

      Iya nggak sih. ? (#teryata saya bisa bijak juga yah, saya sampe kaget)

      Reply
  6. paragraf terakhirnya nemu aja nih pak anton, berasa kayak naik angkot, kadang ke kanan kiri, tanpa sein, tapi pingin jitak supirnya hahahaha,, astagaaa
    aku rasa mba rey ya blogger pemberani, berani segala galanya, berani menyampaikan masalah pribadinya yang mungkin bisa diambil hikmah sama temen temen yang lain dan belajar dari pengalaman hidup mba rey, strong woman dah
    aku aja yang baca kadang dibawa kayak naik roller coaster, diuntang anting hatiku #yaelahh, ada rasa haru, sedih, kadang yang baca ini juga berkaca kaca matanya.
    mba reyy where are you mbakk,

    Reply
    • Nah orangnya udah muncul tuh..

      Hahaha.. betul nun, saya salah milih jenis perbandingan. Kerenan naik roller coaster daripada angkot neh.. hadeuh..

      Tapi, saya rasa justru memberikan sentuhan tersendiri dengan naik turunya itu. Tidak statis, tetapi dinamis banget. Cuma kalau ga tahan, puyeng kayak naik ontang anting

      Reply

Leave a Comment