Kehilangan Cinta Pada Buku

Selamat Malam Kawan MM!

Tahukah Kawan MM seberapa tebal kacamata saya? Yah, kiri minus 7 1/4 kanan 7 1/2. Plusnya antara 2 1/2 sampai 3 (lupa tepatnya) ditambah dengan silinder 2 1/4.

Keren kan? Tidak juga sih sebenarnya karena tebal dan tidak menyenangkan kalau sedang berkeringat karena kacamata melorot terus. Di saat sedang makan mie atau sesuatu yang panas juga menyebalkan karena kacamata jadi berembun.

Semua itu saya dapatkan karena sejak kecil saya adalah pecinta buku, atau tepatnya pecinta membaca.

Apapun saya baca. Mulai dari komik, majalah, koran, buku, sampai kertas pembungkus ikan asin pun saya baca. Dimana ada teks, saya akan membaca. Kecintaan saya pada membaca inilah yang membuat performa mata menurun sejak kelas 2 SD dan semakin menjadi saat dewasa.

Apalagi ketika bapak dan ibu, yang sama-sama penggila membaca memanjakan kami dengan majalah, koran, dan berbagai buku. Saya terbentuk sebagai seorang pecinta buku yang fanatik.

Hal yang saya bawa sampai menjadi dewasa. Ketika saya mulai mendapatkan penghasilan sendiri secara rutin, 25-30% nya saya habiskan untuk membeli buku, baik baru atau bekas.

Buku jenis apapun saya baca, sastra, ekonomi, politik, budaya, fiksi, fantasi, humor, manajemen. Tidak ada batasan genre dalam kamus saya. Buku adalah buku.

Kesukaan saya adalah berburu buku bekas di Pasar Senen, Jakarta. Saya banyak sekali menemukan buku bagus dengan harga murah. Bagus dalam artian, isi dan kontennya, bukan sampulnya karena sampul tidak penting sama sekali. Tidak heran dalam koleksi buku saya banyak buku hanya bersampul karton atau kardus bekas yang dibeli dari loakan.

Itulah saya, sang pecinta buku, DULU.

Sekarang?

Sepertinya saya kehilangan cinta pada buku.

Saya sendiri sempat merasa heran sejak beberapa tahun belakangan ini. Berulangkali saya pergi ke toko buku, terutama kalau menemani si Kribo cilik mencari buku yang dia mau.

Dulu biasanya selalu ada perasaan “excited” muncul kalau masuk ke toko ini. Rasanya luar biasa sekali dan seperti menemukan harta karun.

Tapi, rasa itu sekarang tidak ada lagi.

Sekarang, saya hanya berkeliling, melihat ulasan singkat di sampul bagian belakang, membacanya, dan kemudian meletakkan buku kembali di raknya. Kalaupun menuju kasir, hampir pasti untuk membayar buku yang dipilih si Kribo saja.

Di rumah saat ini, ada puluhan buku koleksi si Kribo Cilik yang bahkan saya tidak menyentuhnya sama sekali.

Membuka lembaran pertama saja tidak.

Mulanya saya berpikir ini karena mata saya yang sudah terlalu capek. Dengan minus, plus, dan silinder digabung menjadi satu, memang agak kurang nyaman dalam membaca, tetapi, saya tetap membaca tulisan di internet tanpa masalah.

Pernah saya coba paksakan membaca buku yang ringan saja, punya si Kribo. Judulnya menarik sekali, tetapi saya hanya bertahan 1/4 buku saja. Langsung saya lepas dan tinggalkan. Dicoba lagi membaca buku serius, hasilnya pun sama. Tidak sampai 1/4 sudah saya tinggalkan.

Yang paling buruk sebenarnya, kalau ada tulisan tentang review atau ulasan buku di blog, saya hanya melakukan scanning dan skimming saja, setelah itu kalau perlu menuju bagian komentar. Kalau tidak, bablas sajah.

Saya benar-benar tidak tertarik pada yang namanya buku lagi.

Dan, jelas bukan karena “mata”. Saya menemukan, “kalau mau” saya bisa melepas kacamata dan membaca dengan lumayan nyaman. Tanpa gangguan.

Barulah, beberapa bulan yang lalu, saya berpikir, “Ada apa sih dengan saya?”. Mengapa bisa berubah begitu jauhnya? Dari seorang kutu buku, sampai menjadi sama sekali tidak tertarik untuk membaca buku.

Setelah dipikir, saya menemukan bahwa bukan mata penyebab hilangnya ketertarikan saya terhadap buku. Penyebabnya tidak tunggal dan ada beberapa, semua saling berkaitan. Hanya intinya ada pada kalimat :

Saya sudah tua

Pandangan saya berubah. Banyak sekali.

Mempertanyakan Output

Dulu saya berpandangan bahwa saya harus menyerap pengetahuan sebanyak mungkin, darimana saja, sebanyak-banyaknya. Saya ibarat spons yang terus menyerap.

Hanya saja, sejak beberapa tahun belakangan, saya bertanya, “Output apa yang sudah saya hasilkan dari semua ilmu pengetahuan yang saya serap tadi?”

Seberapa banyak yang sudah saya realisasikan dalam kehidupan nyata? Apa manfaat dari hasil membaca begitu banyak buku yang bisa saya kembalikan kepada masyarakat?

Kenapa saya bertanya demikian? Karena, kalau tidak ada, maka yang saya lakukan hanyalah untuk memberikan pemuasan pada diri sendiri saja.

Tidak salah sama sekali, tetapi tetap ada yang mengganjal karena artinya pengetahuan yang saya dapat sebenarnya, tidak berguna juga karena hanya tersimpan. Tidak ada outputnya sama sekali.

Mempertanyakan Sumber Inspirasi

Dulu saya sering merasa terinspirasi setelah membaca buku yang dikarang oleh seorang penulis terkenal.

Setelah absen bergelut dengan kegiatan membaca buku demi susu si Kribo, saya sering memperhatikan tingkah laku manusia dan banyak hal lain di kehidupan nyata.

Dan, saya menemukan bahwa banyak sekali tindakan manusia dalam keseharian yang sebenarnya tidak kalah memotivasi dan menginspirasi dari yang ditulis dalam buku.

Bedanya, mereka bukan orang “terkenal” dan sering melakukannya secara tidak sadar. Contohnya, seperti ketika almarhum pak RT di lingkungan kami yang meski dengan gaya premannya, mengumpulkan orang-orang yang tidak saling kenal dalam sebuah rapat warga, membahas rencana membangun lingkungan dan seterusnya.

Sekarang, pak RT baru, tanpa banyak omong terus berusaha berjuang membangun lingkungan, bahkan dengan mengeluarkan dana sendiri.

Mereka memberi saya inspirasi dan motivasi yang banyak dalam manajemen, berorganisasi, dan semangat membangun.

Bedanya, mereka bukan orang terkenal dan apa yang mereka lakukan tidak pernah dituliskan menjadi buku. Padahal, yang mereka lakukan sama saja.

Saya jadi mempertanyakan alasan untuk membeli dan membaca buku. Mengapa saya harus mencari inspirasi dari buku, sementara di hadapan saya banyak sekali inspirator yang saya lihat secara nyata dan riil?

Apakah karena penulis buku orang terkenal dan mereka bukan? Seharusnya tidak demikian, saya harus memegang teguh pepatah, “Mutiara meski keluar dari mulut anjing sekalipun, tetap mutiara”.

Inspirasi yang keluar dari orang biasa dan tidak terkenal sama saja nilainya dengan inspirasi dari Mario Teguh sekalipun. Tidak beda.

Menjadi terlalu realistis dan kaku

Di saat orang lain heboh dengan film Laskar Pelangi dan novelnya juga, saya malah nyengir.

Apa menariknya? Cukup baca resensi saja dan selesai.

Apalagi kehidupan di dunia nyata yang saya lihat sehari-hari jauh sekali dari apa yang digambarkan dalam film itu? Juga, apakah dunia di Indonesia akan berubah menjadi lebih baik setelah film itu ditayangkan? Apakah segala persatuan dan kesatuan bangsa menjadi lebih erat karena lagunya dinyanyikan?

Kenyataannya tidak.

Meskipun film itu diputar berulang-ulang dan lagunya dinyanyikan beribu kali, Indonesia tetap harus berjuang bahkan untuk menambal “keretakan” yang ada dalam jiwa bangsanya.

Romantisme kehidupan tidak lagi menarik buat saya, apalagi saya tahu, tujuan utamanya bagi pembuatnya adalah UANG dan KETENARAN.

Saya lebih suka melihat realitas yang ada dibandingkan membaca mimpi.

Itulah juga mengapa buku-buku terbitan baru karya John Grisham yang dulu saya koleksi tidak lagi menarik minat. Karena, untuk apa saya membaca sesuatu yang tidak real.

Semua adalah sudut pandang

Pernah saya berpikir bahwa apa yang ditulis dalam sebuah buku adalah “kebenaran”. Ditulis oleh orang terkenal, pastinya sudah didasari pada riset dan berbagai hal lainnya, dan kalaupun bukan merupakan kebenaran, setidaknya mendekati.

Oleh karena itu bisa dijadikan rujukan bagi pemikiran lainnya.

Mungkin karena saya semakin tua, saya semakin menyadari bahwa buku hanyalah sebuah sudut pandang saja. Bukan kebenaran.

Seberapapun terkenalnya pengarang sebuah buku, tetap saja isinya hanyalah sudut pandangnya pribadi atau tim saja. Tidak bisa dipandang mewakili semua orang.

Bedanya hanya ditulis orang yang terkenal atau dibuat menjadi terkenal.

Sebuah sudut pandang saja.

Internet, Blog

Kenapa saya harus membeli buku romans ketika saya bisa membaca kisah romantis dari belahan dunia lain lewat internet?

Kenapa saya harus mencari inspirasi ke buku sementara media sosial atau blog menyediakan jutaan kisah inspiratif?

Kenapa saya harus menjadikan buku sebagai satu-satunya sumber informasi, padahal setiap hari internet menyajikan tak terhingga informasi dari berbagai belahan dunia?

Kenapa saya harus membaca biografi orang terkenal saja di saat jutaan orang menuliskan biografinya sendiri lewat blog mereka?

Kenapa saya harus mencari pengetahuan hanya lewat buku, ketika lebih banyak yang bisa saya temukan di dunia maya daripada di buku?

♥♥♥♥♥

Itulah alasan saya kehilangan cinta pada buku.

Tapi, bukan pada membaca yah karena saya tetap membaca dalam jumlah lumayan banyak.

Masalahnya bukan terletak pada “MATA”, tetapi lebih dalam lagi, ke dalam jiwa sendiri.

Saya sudah tua.

Cara pandang saya sudah berubah banyak dan tidak lagi sama.

Tapi, bukan berarti saya kehilangan 100% cinta kepada buku. Ketika rumah kebanjiran pun, saya akan berjuang habis-habisan menyelamatkan buku supaya tidak terendam ata berusaha mengeringkannya.

Saya tahu betapa berharganya buku itu.

Saya juga tetap akan membelikan buku yang si Kribo inginkan, karena saya tahu betapa bahagianya bisa membaca buku pada usianya. Saya akan tetap mendorongnya untuk menjadi seorang pembaca buku dan menyerap pengetahuan sebanyaknya dari sana.

Rasa cinta itu masih ada, meski tidak lagi seperti dulu.

Saya sudah tua.

30 thoughts on “Kehilangan Cinta Pada Buku”

  1. Kak, aku sedang berada di masa dimana ingin menyerap sebanyak-banyaknya dari buku, seperti Si Kribo 😁. Buku bacaanku belum terlalu beragam seperti Kak Anton saat menjadi Kutu Buku, sih 😂
    Sekarang aku sedang lebih banyak mengkonsumsi fiksi. Ketika aku membaca buku, rasanya seperti ada di dunia lain, dan buku menjadi salah satu pengisi waktu luangku serta hiburan untukku sekarang. Nggak menampik, aku pernah ada dalam fase tidak berminat menyentuh buku sama sekali selain buku pelajaran dan itupun karena terpaksa 😂. Lalu, saat kembali masuk ke dunia buku, rasanya aku ingin melahap semua buku fiksi yang ada tapi waktuku terbatas dan mataku cuma 2 😂. Tidak tahu hal ini akn bertahan sampai kapan, semoga bisa bertahan cukup lama.
    Aku percaya sumber pengetahuan bukan hanya dari buku. Jadi, nggak masalah jika tidak suka membaca buku, sebab membaca bisa dalam bentuk apa saja dan pengetahuan bisa ada dimana saja, seperti kata Kak Anton dan aku setuju akan hal itu 😁.
    Oiya. Jangan baca saat gelap-gelap, Kak. Agar minus-nya nggak bertambah lagi 😂

    Reply
    • Enjoy Lia.. hahaha saya paham sekali masa-masa seperti itu. Jadi, jalani saja dan nikmati. Tidak usah berpikir kapan akan berakhir. Mungkin suatu waktu Lia akan masuk fase yang sama dengan saya, mungkin tidak. Bukan sebuah hal yang harus dijadikan beban pemikiran.

      Cuma saya bagikan saja pengalaman saya ketika berada di fase dimana banyak hal yang lebih menarik daripada membaca buku.

      Ogah sekarang mah boro-boro mikir baca buku gelap-gelapan.. hahahahahahaa

      Reply
  2. Mas Anton beberapa kali menyebut ‘saya sudah tua” di sini, tapi yang dipikirin Mas Anton menurut saya cukup beda sama ‘orang-orang tua’ kebanyakan. Di mana kebanyakan ‘orang-orang tua’ ngeluh kalau lihat anak-anak muda lihat ke hape/internetan terus hehehe.

    Saya juga berpendapat sama kayak Mas Anton, dapat ilmu, pengetahuan dan cerita menginspirasi enggak selalu dari buku. Jaman sekarang bisa dapet banyak banget hal-hal seperti itu dari internet (blog, sosial media apapun).

    Kadang kebanyakan orang terlalu kaku menganggap apa-apa harus dari sumber yang sama seperti yang mereka maksud 😄

    Reply
    • Ya.. kalau saya nyebut muda lagi malah aneh Eya. Saya sudah 50 tahun dan memang sudah tua.

      Nggak Eya, saya mikir zaman berubah dan saya tahu persis bahwa pengetahuan sekarang bukan hanya bisa diakses dari buku. Banyak cara lain. Si Kribo sendiri selain gemar baca buku dia juga tukang kelayapan di internet.

      Saya pikir dunia terlalu luas untuk bisa dibatasi harus begini dan harus begitu.

      Yah, mungkin karena saya sudah tua yah.. wakakakakakka #fakta

      Reply
  3. Sebagai mantan sekutubuku can relate dg tulisan ini. Saya juga mengalami proses evolusi dalam hal buku 😅 pernah
    dituangkan juga dalam tulisan di blog berjudul “Buku-buku tersayang…” (numpang promosi dot com)🤣
    Tentu saja setiap org berbeda-beda perjalanannya. Hanya bisa bilang, eranya sudah beda, mas. Internet sudah jadi sebuah perpustakaan raksasa. Bedanya kebanyakan di luar sana hadir tanpa sensor tanpa editor. Yg menyensor hanya kita dengan segala pikiran kritis dan segala nilai2 yg ditanam. Namun karena sifatnya tidak terbatas energi kita tdk cukup untuk itu. Buku masih lebih menyenangkan.

    Sekarang saya juga lebih membatasi baca fiksi..lebih banyakan non fiksi. 🙄

    Reply
    • Meluncurrrr.. tar ubek ubek yang itu ahh..

      Betul sekali, tanpa editor, dan mungkin itu yang justru lebih menarik buat saya.. hahaha bisa melihat wajah asli dan bukan yang sudah dipoles..

      Yah, it depends sih menurut saya Pheb… saya pikir tidak berarti kita harus melanglang buana tanpa arah, kalau pemakaian kata kunci tepat, saya pikir bisa membawa ke penjuru dunia yang menarik…

      Hihi.. enjoy Pheb… maybe suatu waktu saya kembali, tetapi sekarang sih kayaknya milih berkelana dulu

      Reply
  4. Alhamdulillah aku belum pakai kacamata, semoga saja tidak sih karena ribet apalagi saya suka makan mie, kalo kacamata berembun rasanya ngga enak.

    Waktu kecil aku juga suka baca tapi kebanyakan hanya novel fiksi seperti Wiro sableng atau komik Doraemon. Ngga tertarik dengan buku non fiksi karena ngga asyik menurutku.

    Memang kalo baca buku fiksi kebanyakan bikin angan melambung apalagi buku Doraemon, padahal ngga realistis ya, mana ada mesin waktu atau pintu kemana saja. Kalo ada pintu itu beneran enak kali, bisa masuk kerja tanpa perlu macet-macetan.

    Tapi si kribo tetap suka baca kan pak? 😀

    Reply
    • Kribo dah jadi kembaran saya kalau soal baca Mas.. mau buku mau internet semua dibaca.

      Hahahaha.. iya mas, saya juga dulu seperti itu berkhayal kemana-mana. Mungkin karena daya khayal saya berkurang seiring bertambahnya usia. Jadi, saya sudah tidak tertarik lagi baca yang seperti itu

      Reply
      • Sama sih, sekarang aku juga kurang suka baca yang fiksi, lihat novel Wiro sableng sudah kehilangan minat baca, padahal dulu pernah baca sampai larut malam, baru tidur setelah orang tua marah.😂

        Sekarang lebih realistis, mungkin sama seperti pak Anton, faktor umur bahwa hidup tidak seindah fiksi.

      • Dulu saya bisa baca Khoo Ping Hoo sampe subuh, mirip lah sama mas.. cuma sekarang nengok aja kagak.. wakakak.. malessiaa…

        Saya pikir memang ada unsur kesana mas, realistis dan udah terlalu banyak lihat fakta di lapangan.. jadi males

  5. Aku msih blm di tahap bosan ato kehilangan cinta untuk buku mas :D. Saat ini malah semakin panaaas dan hoooowt hahahahaha. Aku msh rutin beli buku2 baru ato bekas dr langgananku, masih rutin membaca tiap hari dan bikin summary nya di IG, masih secinta itu Ama buku sampe aku rela nyimpen buku2 pemberian mantan hanya karena itu adalah buku :D. Cm buku yg bakal tetep aku simpen , ga peduli pemberian dari musuh sekalipun.

    Aku berharap sih ga akan kehilangan minat thd buku. Pengennya begitu :D. Tapi ga tau juga apa yg akan terjadi nanti saat aku tua :D. Minimal koleksi buku2ku yg skr bisa dinikmati Ama anak2. Mereka udah mulai aku racuni utk mencintai buku 🙂

    Reply
    • Nikmati dan jalani Fan… saya rasa itu bagus sekali.

      Mudah-mudahan terus bertahan dan nggak kayak saya Fan. Hahahaha… sepertinya saya butuh journey baru

      Ehmm… tapi saya paham sekali soal nyimpen buku, saya juga masih kok.. hahahaha cuma malas bacanya saja

      Reply
  6. Setuju banget pengetahuan bisa didapat dimana saja salah satunya bisa didapat dari posting ini yaitu soal kalau saat makan mie kaca mata jadi berembun, dll, kurasa hal2 semacam ini tidak kita temukan dibuku. 😆

    Saya hampir tidak pernah membaca buku yang isinya serius, kalau wiro sableng sih sering makanya ini gayanya agak keikut gendeng, hihi.. tapi seingatku hanya pernah sekali baca buku serius setebal kira2 1 Cm, habis baca itu aku berfikir apa yang kudapatkan dari membaca ini, aku tak ingat samasekali apa isi bukunya. Rasanya percuma juga kan membaca kalau tidak ingat apa isinya mending ga usah membaca 🤣

    Reply
    • Coba aje sendiri suhu Ajay… makan deh indomie panas panas, terus pake kacamata, yang ada repot.. wakakakaka

      Hahaha.. bener juga sih baca tapi ga inget apa isinya..mending ga baca.. minimal hemat waktu yah

      Reply
  7. Kalau saya sampai sekarang masih suka baca buku, mas. Cuma genrenya yang berubah dari masa ke masa 😂

    Dulu waktu kecil, paling suka buku komik, masuk usia remaja mulai suka novel sejenis teenlit, dan saat sudah agak besar jadi suka novel sejenis metropop dan buku pengembangan diri Chicken Soup hahahaha. Kalau sekarang 90% bacaannya non-fiksi nggak jauh-jauh dari biografi atau financial and business. Entah besok apa lagi 😆

    Eniho, saya setuju sama mas Anton, bacaan bisa didapat dari mana saja, even dari blog sekalipun. Sohibul saya tuh contohnya, nggak suka baca buku mereka, mas 😂 Tapi rajin banget buka blog saya hahahahaha. Mungkin karena era sudah berubah, segala sesuatu ada di internet dan dapat dicari dengan mudah. Hanya saja saya yakin, yang suka buku akan tetap suka, dan yang nggak suka akan cari bacaan lainnya.

    As usual, thanks for the insight, mas 😍

    Reply
    • Masama Eno..

      Bersyukur lah masih tetap setia pada buku.. waakakakak saya ternyata orang yang nggak setia.

      Betul, saya mengalami hal ini, bukan berarti orang lain akan mengalaminya juga. Saya pikir itu kembali ke diri masing-masing. Yang masih demen baca buku nggak akan berkurang.

      Reply
  8. Eehh! Lupa komentar saya padahal bacanya sudah kapan tahu..🤣 🤣 Maklumlah kong si anu minta dikelonin terus..🤣 🤣

    Apa kehilangan cinta pada buku? 😳😳 Batal dong pernikahan pada buku…Padahal undangan sudah disebar luaskan koong!..🤣 🤣 Lalu siapa yang kau cintai koong! Jujurlah, Apa kau mencintai Tabloid atau majalah..🥴 🙄 🤣 Tega2nya dirimu kong, Buku sudah tulus ikhlas mencintaimu kong.🤪

    Yaa Hilang minat baca terhadap buku, Dikarnakan sudah tua, Lagian yang bilang ente ABG siapa? Anak kecil juga tahu kong.🤣 🤣 … Orang tua atau anak muda sekalipun tidak ada larangan untuk jadi kutu buku.😊

    Mungkin sederhananya seperti ini buku ada yang tebal ada yang tipis, Jika kita tak kuat membaca semuanya yaa kurangi saja, Atau bacanya separuhnya. Bosan cari media lain atau bacaan lain seperti dari internet. Dan lingkungan meski itu tidak berbentuk buku, Tetapi kalau dibukukan bukan tidak mungkin jadi sesuatu yang menarik.

    Saya setuju sama yang dirimu katakan kong… Lingkungan sehari-hari kalau dibukukan tentunya bisa setara dengan buku yang dikarang oleh orang terkenal….Masalahnya hal keseharian itu jarang ada yang minat untuk dibukukan bahkan jauh untuk berpikir kesana. Karena bukan Figur yang terkenal.😊

    Saya minat membaca buku sudah hilang sejak tahun 2008 dan berganti bacaan lain seperti dari internet atau sejenisnya. Tetapi jika ada kesempatan membaca buku meski tidak banyak atau rutin kenapa tidak.😊

    Intinya minat membaca tetap tinggi kan kong. Kan masih ada solusi lain selain buku. Karena semua yang ada dibuku terkadang fakta dari dunia nyata…Terkecuali Novel atau komik tidak semuanya real dan nyata.😊

    Gitu kali yee…Tahu dah..🤪

    Reply
    • Nah elu pikun.. baca dah lama, baru sekarang komentar.

      Ye kira-kira gitu Tong, sepertinya melihat realita kehidupan lebih menarik sekarang bagi saya dibandingkan buku.

      Kalau soal baca sih tetap, cuma sepertinya tidak lagi terfokus pada buku. Gue mau ganti pasangan.. wakakakakaka

      Reply
  9. waduhh judulnya mengingatkan sama aku sendiri hahaha

    aku bukan kehilangan cinta sepertinya, tapi kehilangan semangat. aku rasa seperti itu. tiap ke toko buku masih muncul keinginan pengen beli buku ini itu. Kadang mau beli jadi mikir lagi, waktunya ada ga ya, sempet ga ya, males ga ya.
    sepaket buku trinity yang episode baru, sampe sekarang belum terbaca separuhnya, padahal bukunya dipegang, dibolak balik.Tapi kok ga kelar kelar hahaha

    biasanya kalau udah niat, maunya seharian waktunya free gitu buat fokus ke buku.

    ini aja ada buku yang pengen aku beli tapi belum dicheck out juga 😀

    Reply
    • Hahahaha… mudah-mudahan cepat kembali semangatnya Inun. Enak loh membaca buku.. biar saya seperti sudah kehilangan cinta sama buku, saya mah akan terus menyarankan siapapun untuk terus membaca buku.

      Nanti kalau sudah seusian saya, barulah boleh berpikir kehilangan cinta sama buku .. wakakakak #curang.. tapi selama memang masih ada kesempatan, hayuk baca buku…:-D

      Reply
      • hahahaha bisa jadi nanti kalau aku udah seusiaan pak anton, milih rebahan aja ya, saking kenyangnya baca buku dari muda. Masalahnya masa depan nggak bisa aku terawang hehehe

        iya ya selagi masih ada kesempatan, sekarang ini aku usahakan baca baca juga pak anton, biar keliatan smart dikit gitu hahaha

      • No way.. kayaknya kalau Ainun seumuran saya, Ainun akan menjadi blogger yang lebih aktif lagi.. Seseorang yang terbiasa berkarya di masa muda, sulit untuk hanya sekedar rebahan di masa tua… Percayalah.

        Baca buku yang banyak Nun. Kalau saya pikir Ainun bukan “keliatan” smart, tetapi memang smart. Sulit untuk tidak mengatakan itu pada para pembaca buku… Ainun saja yang tidak menyadari

  10. Bapaaakkk!!! kalau bapak merasa sudah tuwah, masa saya juga kudu merasa sudah tuwah juga? huhuhu.

    FYI, membaca tulisan ini, kok jadi berasa Pak Anton rumpiin saya ya?
    Karena absolutely mirip Paakkk, yaaa.. selain kacamata tebalnya sih!

    Tapi saya juga pernah tulis, betapa saya jadi berkaca mata ya gegara membaca, dan betul sekali…

    Kalau Pak Anton baca kertas bungkus ikan asin, saya baca kertas bungkus pisang goreng Pak, karena di Buton, ikan asin ditusuk gitu, kagak dibungkus kertas (dijelasin! hahahaha)

    Saya juga sedemikian doyannya dulu membaca, apapun kertas yang ada teksnya saya baca, bahkan buku pelajaran, saya baca berulang kali, makanya dulu nilai saya bagus-bagus.

    Tapi seiring waktu, selera saya tergeser Pak, dari yang waktu SD suka baca apa saja, SMP cuman suka novel atau segala buku yang ada dialognya.

    STM mulai suka nonton, dan sekarang, masih suka baca sih, tapi lebih suka nonton film, dan believe or not, sebagus apapun buku, sebagus apapun film, tau nggak apa yang saya rasakan selepas membaca atau menonton semuanya?

    Yaaa… gitu aja? hahahaha.

    Gawat banget, saya merasa kehilangan sebuah esensi atau apalah namanya, maksudnya, saya merindukan hal-hal seperti yang saya rasakan ketika kecil dulu, saat saya begitu terinspirasi dan bertahan lama, ketika habis membaca sebuah buku.

    Saya belum pernah baca lengkap buku laskar pelangi, tapi udah nonton filmnya, dan yup, B ajah hahahaha.

    Dan bener ya Pak, dari semua yang saya baca, outputnya apa? mengendap di otak dan kemudian menghilang karena pikunnya saya, itulah mengapa sekarang saya rajin nulis apa yang saya liat, baca, alami, biarpun saya mungkin lupa, minimal saya simpan memorinya dalam bentuk tulisan.

    Dan satu lagi, sekarang saya bahkan sulit untuk mengidolakan seseorang sampai buta mata hati gitu, apa memang itu normal kali ya buat seorang dewasa, tapi kayak teman-teman lain, amsih punya hobi misal nonton drakor atau baca buku, saya mungkin nonton, tapi setelah itu, ya udah, seolah mau bilang.
    “Ya gitu tok?” hahahaha

    Entahlah ini komen nyambung atau enggak, tapi baca semua tulisan di atas, saya jadi engen curcol gini wakakakakak

    Reply
    • Pertama : tidak dilarang merasa tua kalau memang mau. Saya mah memang sudah tua Rey, bukan merasa lagi, kenyataannya begitu.. 😛

      Kedua : ya ampuunn dah.. udah jelas saya bahas diri sendiri, ini kok dianggap ngerumpiin dikau sehh… hahahahaha.. jelas ini pembaca yang kurang baik.. wakakakakaka

      Saya pernah melewati semua fase itu Rey. Pergeseran dari tulisan ringan di komik sampai yang berat. Dan, memang belakangan yang paling utama, memang yang paling saya rasakan itu masalah “output” nya. Kalau memang saya tidak bisa memberikan output, lalu untuk apa saya membaca buku?

      Itu sebuah pertanyaan besar sih Rey wat saya. Cuma saya akan tetap mendorong banyak orang membaca buku karena memang tahu perannya dalam kehidupan. Mungkin suatu waktu mereka akan menemukan pertanyaan yang sama, mungkin juga tidak.

      Di sini mah, mau nyambung atawa kagak bebas bebas saja… dengan senang hati diterima..

      Makasih Mamak Rey atas kunjungannya

      Reply
  11. waaah, kacamatanya cukup tebal yaa pak. sampe minus 7. Saya, minus 4. Udah sangat risih. Saat itu udah ganti kacamata lagi, jadi minus 5. Tapi ketika dipake malah jadi pusing. Jd, tetap setia sama ini minus 4

    Reply
    • Waduh hahahaha.. iya juga sih terkadang karena “kebiasaan” beralih seperti itu berat.

      Memang sebenarnya risih, cuma karena kebutuhan, apa mau dikata, ya nikmati saja.. enjoy hahaha.. walau kalau makan mie repot

      Reply
      • Nah iyaaa… mengenai kacamata ini.
        Saya lupa minus berapa ya, masih tergolong kecil sih, itu aja udah nggak nyaman banget, sebal kalau ngeliat sesuatu kudu mengernyit, mana saya kagak suka pake kacamata 😁

Leave a Comment