Sisi Buruk Plugin WordPress (Self Hosted)

Hola Kawan MM? Sedang santai kan? Bisa ganggu sebentar?

Ada cerita sedikit tentang pengalaman saya mengelola blog berbasis WordPress Self Hosted, terutama berkaitan dengan yang namanya “plugin”, terutama terkait dengan sisi buruknya.

Salah satu daya tarik WP Self Hosted salah satunya adalah keberadaan yang fitur yang satu ini.

Plugin sendiri pada dasarnya adalah “tool” tambahan yang bisa meningkatkan kemampuan dari sebuah website.

Misalkan, seorang blogger ingin tulisannya SEO Friendly atau ramah mesin pencari, ia hanya perlu memasang plugin Yoast SEO yang akan mengukur tingkat ke-SEO-an sebuah tulisan. Dengan begitu saat menulis dia bisa melakukan koreksi agar artikel yang dihasilkan bisa disukai oleh Google.

Mau merubah desain, tidak perlu memanggil web desainer, tetapi cukup memasang Elementor dan kemudian membuat desain webnya sendiri. Mau setiap halaman berbeda tampilan pun bisa.

Pokoknya, dalam dunia WordPress, bisa dikata apapun keperluan perangkat tambahan supaya website menjadi powerful dan bertenaga dalam bersaing ada. Bahkan sekedar hal kecil sekalipun seperti memasang kode Google Analytics juga banyak yang menyediakan.

Ada yang berbayar tapi tidak terhitung yang gratis. Cara memasangnya juga mudah, tidak perlu belepotan dengan coding sama sekali. Cukup arahkan mouse dan kemudian klik sana sini, selesai.

Di WordPress.com pun ada, tetapi plugin baru bisa dipasang ketika memilih paket tertentu.

Plugin adalah dunia tersendiri yang memperbesar potensi sebuah website dalam bidang apapun. Jujur saja, kalau ada yang bertanya “Kenapa sih orang berduyun-duyun ke WordPress?” Saya bisa menjawabnya, plugin adalah salah satu alasannya.

Sulit dibayangkan bagi yang belum pernah mengalami langsung. Tapi, bayangkan saja jika Anda suka memasak, kemudian masuk ke toko peralatan masak yang besar sekali. Kira-kira begitu rasanya.

Mungkin, banyak nama terkenal di dunia penerbitan, seperti CNN,NBC, dan beberapa media ternama Indonesia, juga memanfaatkan kelebihan dari plugin WordPress.

Plugin memang membuat potensi sebuah website menjadi hampir tidak terbatas.

Tapi……

Inventory plugin di dashboard wordpress 2
dashboard WP/Inventory plugin

Tetap saja, pepatah “Tiada gading yang tak retak” alias tidak ada yang sempurna di dunia.

Tetap ada kelemahan dari sistem ini. Plugin juga punya kelemahan. Ada yang langsung berkaitan dengan alatnya, atau efek samping yang mungkin terjadi pada sebuah website akibat plugin.

Beberapa hal yang saya ketahui adalah

  • Jumlahnya terlalu banyak, jadi benar-benar sulit untuk menentukan mana plugin yang terbaik untuk dipasang
  • Mengingat sifatnya open source atau semua bisa berkontribusi dan memanfaatkan, sulit untuk menentukan pembuat plugin yang berkualitas
  • Plugin yang tidak terkode dengan baik bisa menimbulkan konflik dengan sistem WordPressnya sendiri
  • Plugin yang tidak dirawat pembuatnya bisa menimbulkan celah keamanan yang bisa disusupi
  • Plugin yang tidak diupdate pembuatnya dan tidak lagi sesuai dengan sistem WordPress yang terus menerus diupdate
  • Plugin juga memakai daya dan melakukan proses yang juga memakan waktu dan mempengaruhi waktu loading sebuah website
  • Plugin yang buruk membutuhkan proses yang bahkan memperlama waktu loading
  • Plugin yang berupa paket kerap tidak maksimal dimanfaatkan

Banyak masalah yang timbul karena hal-hal tersebut di atas. Pada awal saya menekuni WordPress, beberapa kesalahan pernah saya lakukan.

Beberapa di antaranya adalah

  • Kesalahan terfatal yang pernah saya lakukan adalah menggunakan terlalu banyak plugin dan tidak menyadari bahwa setiap plugin pada dasarnya akan melakukan proses, memakan memory dan menggunakan daya prosesor.
  • Kesalahan kedua adalah sering memasang plugin dalam bentuk paket, tetapi kemudian hanya menggunakan satu atau dua fiturnya saja. Selebihnya mubazir.
  • Kesalahan ketiga, salah memilih plugin yang menimbulkan konflik dengan sebagian sistem WordPress yang menyebabkannya tidak berfungsi.

Oleh karena itu, bagi Kawan MM yang hendak bermigrasi ke WP (kalau ada yah!), ada beberapa hal yang saya sarankan

  1. Jangan serakah, pasang plugin sesuai keperluan saja
  2. Pilih plugin yang melakukan satu tugas secara spesifik dan hindari pemakaian plugin yang menawarkan terlalu banyak fitur
  3. Pilih plugin yang diberi tanda “compatible with your version of WordPress”
  4. Pilih yang sudah dipakai banyak orang, semakin banyak semakin baik karena berarti sudah terbukti
  5. Baca review dan ulasan dari pengguna
  6. Baca penjelasan tentang guna plugin sebelum menginstal
  7. Lakukan uji coba dan perhatikan kecepatan website setelah plugin itu terpasang, kenali kemungkinan masalah dengan loading akibat pemasangan plugin
  8. Jangan ragu berkunjung ke forum plugin di wordpress.org untuk membaca perkembangan
  9. Jangan ragu mengganti plugin kalau sudah tidak diupdate pembuatnya

Seteliti mungkin. Jangan asal-asalan karena bisa mempengaruhi performa blog Kawan. Jangan hanya menuruti keinginan saja.

Plugin memang memperluas kemungkinan dan potensi sebuah blog, tetapi sama halnya dengan segala sesuatu di dunia, kalau berlebihan menjadi tidak baik.

Belajar dari pengalaman itulah sekarang saya tidak terlalu mengandalkan plugin untuk mengelola semua blog.

Contohnya, Maniak Menulis yang hanya menggunakan 7 saja, satu bawaan dari template dan 6 untuk melakukan tugas spesifik.

Saya sudah tidak memakai plugin SEO lagi sejak lama, tepatnya ketika saya memutuskan tidak mau memikirkan SEO saat menulis.

Jadi, berhati-hati ya Kawan saat berniat menggunakan plugin. Jangan lupa segala sesuatu tetap ada sisi buruknya.

Yuk Berbagi....

6 thoughts on “Sisi Buruk Plugin WordPress (Self Hosted)”

    • Phebie

      Tidak ada yang wajib .. Itu pilihan saja.

      Saya tidak pernah pake jetpack, walau itu buatan WP. Di dalamnya banyak sekali fitur, seperti keamanan, backup, dan bahkan SEO.

      Alasannya.

      1. Saya tidak butuh backup rutin terus menerus karena server saya melakukan backup otomatis setiap 3 hari atau berapa hari sesuai yang saya mau, jadi fiturnya tidak terpakai. Kalau saya pakai redundan karena satu pekerjaan dikerjakan dua sisi

      2. SEO saya tidak pakai karena saya tidak mau lagi menulis dengan memikirkan SEO. Dulu saya pakai Yoast, tetapi sekarang itupun sudah saya buang, jadi kalau pakai Jetpack, fitur ini akan mubazir

      3. Fitur keamanan, server saya sudah menanganinya, lalu untuk apa saya harus memasang security lagi mereka punya bot protection plugin yang tersinkronisasi dengan server mereka

      4. Untuk memantau downtime, dashboard server saya punya sistem monitoring dan saya bisa memantau kapanpun bahkan tanpa harus memasuki website saya

      5. Lazy load, karena situs ini tidak memakai image ukuran besar, fitur akan terbuang percuma kalau jetpack dipasang. Di blog lain dimana saya perlu lazy load, cukup memasang a3 lazy load yang khusus untuk itu

      6. angka statistik, cukup Google Analytics saja, tidak perlu tambah lagi karena keakuratan data disana menurut saya sudah lebih dari cukup dan hanya perlu pasang satu set kode saja

      7. Untuk iklan saya hanya memakai adsense saja, dan cukup memasang satu kode setelah itu auto ads saja yang mengurus

      8. Caching saya pakai breeze yang buatan si provider dan tersinkronisasi dengan server yang mereka gunakan

      9. dan masih banyak fitur lain yang saya tidak perlukan

      Jadi, saya tidak pernah memakainya meski katanya “wajib”. Selama ini Alhamdulillah, semua berjalan baik kok.

      Ini salah satu yang saya maksud dengan plugin paket dimana sebenarnya kita hanya perlu satu dua fitur saja, tetapi hasilnya harus memasang semua dan sebagian fitur akan mubazir.

      Apakah Phebie membutuhkan? Sebaiknya analisa dulu kebutuhannya dan apakah Jetpack akan bisa dimanfaatkan secara maksimum atau tidak.

      Jangan memasang plugin hanya karena orang lain menganjurkan atau menyarankannya atau menyebutnya wajib. Kebutuhan setiap website berbeda.

      Keputusan di tangan webmasternya yang pasti tahu yang terbaik untuk websitenya.

      Reply
  1. Wuih, lengkap dan komprehensif sekali penjelasannya. 😀makasih mas Anton atas insightnya!

    Saya nggak pakai banyak plugin cuma jetpack masih pakai. Walau sudah ada wanti-wanti juga. Namun saya pakai alasan yg tepat mungkin…karena masih gagal move on dari wordpress.com🤣

    Jetpack memberi kemudahan interaksi dengan kawan2 sesama WP sebab bisa terpadu dengan fitur wordpress.com yg saya sudah terlanjur suka dan nyaman banget. 🤣

    Sebagai contoh :

    -Fungsi notifikasi (walau bisa diakali dgn notif email ya)

    -Reader jadi satu dengan akun wordpress.com

    -Reply antar WP (fitur kolom reply di reader tidak “mati” alias harus keluar dari reader dulu)

    -Sesama WP masih banyak yang membaca via reader di aplikasi WP. Kita tidak perlu pusing masalah loading karena tampilan yang muncul di reader sudah super mobile friendly.

    Karena ada perbedaan signifikan jumlah reply saat sebelum dan sesudah pakai. Pembaca WP ada yang bilang reply jadi lebih gampang.

    Kepenginnya sih bisa pilih-pilih fitur mana yang kita butuh dan tidak di jetpack ya? Bukan sistem borongan begitu 😂 cuma jetpacknya yang enggak mau.😅😅

    Akhirnya saya mengorbankan plugin2 lain yang tidak perlu. Di deactive. Paling kalau butuh saja dinyalakan lalu dimatikan lagi 😆

    Reply
    • Nah kan berarti Jetpack melakukan fungsi penting bagi blog Mbak Phebie. Bisa dimengerti kok tujuannya. Dan, saya pikir mbak kan sudah mengambil langkah antisipasi dengan mengurangi plug in yang lain.

      Jetpack kan memang sistem marketingnya mengedepankan “all in one” solution, jadi mana mau mereka merubah image. Buktinya kan berhasil lebih dari 5 juta website yang menggunakannya.

      Kalau boleh saran , plugin yang hanya dimatikan tetapi tidak didelete mengganggu kesehatan web loh. Coba lihat di dashboard bagian site health, disana akan terlihat. Sebaiknya sih, hilangkan saja, nanti kalau butuh instal lagi saja.

      Reply

Leave a Comment