Ada 2 Jenis WordPress, Tahu kah?

Dua Jenis WordPress

Terus terang tulisan ini saya buat karena menyadari sebuah kesalahan. Selama ini saya beranggapan bahwa “semua” blogger pasti sudah tahu, jadi kadang seenak udelnya saja saya memakai istilah WordPress Self Hosted dalam berbagai tulisan.

Baru malam ini, setelah sebuah email diterima, saya menyadari bahwa di kalangan blogger sendiri, masih ada yang belum menyadari bahwa ada dua jenis WordPress.

Masih banyak yang mengasosiasikan kata WordPress atau Wordpres Self Hosted dengan blog yang menjadi subdomain WordPress.com, seperti contoh : blogsaya.wordpress.com.

Tulisan singkat ini saya harap bisa memberikan penjelasan singkat bahwa ada perbedaan antara WordPress sebagai platform blogging dan sebagai CMS saja.

Singkatnya, seperti di bawah

WordPress.com

WordPress jenis ini pada dasarnya adalah sebuah penyedia platform blogging. Pesaing Blogger atau Blogspotnya Google.

Versi WordPress yang satu ini tidak berbeda dengan Blogspot. Mereka menyediakan service berupa server tak berbayar dan bisa dipergunakan oleh siapapun dengan cara mendaftar.

Blog yang dibuat disini, yang versi gratis akan menjadi subdomain dari WordPress.com. Oleh karena itu di belakang nama blognya akan ada tambahan nama induknya.

Contoh

  • Nama blog : domainku
  • Url : domainku.wordpress.com

Versi gratis ini memiliki kemampuan terbatas. Tidak beda dengan di Blogspot, misalkan tidak bisa memakai plugin. Tidak bisa utak atik template dan hanya bisa memilih saja.

Versi berbayarnya (ada beberapa paket) akan memakai domain TLD (Top Level Domain).

  • Gratis : domainku.wordpress.com
  • Berbayar : domainku.com

Sama seperti di Blogspot (Google). Yang tidak berbayar akan menjadi subdomain dari Blogspot dan diberi buntut blogspot.com.

Veris berbayar WP jenis ini ada beberapa paket dan semakin tinggi paketnya, fitur yang diberikan semakin lengkap, contohnya kebebasan untuk memasang plugin atau fitur tambahan.

WordPress.org

Yang satu lagi, sebenarnya masih berasal dari perusahaan yang didirikan tahun 2003 oleh Matt Wullenweg dan Mike Little.

Bedanya, versi yang ini sebutan yang sebenarnya untuk CMS (Content Management System) saja. WordPress tidak menyediakan server bagi pemakainya. Mereka hanya memberikan CMSnya untuk dipakai.

Untuk server (hosting) dan lain-lain, pemakainya harus mencari sendiri. Mereka harus menyewa server, menginstalasi sendiri, dan mengurus sendiri.

Itulah kenapa disebut WordPress Self-Hosted yang kalau diterjemahkan (versi suka-suka saya) “di rumah sendiri atau diurus sendiri.

Memang untuk segala sesuatu masih terkoneksi dengan server WordPress, tetapi blog yang memakainya tidak dihosting disana. Segala sesuatu diurus sendiri oleh yang punya blog/website.

Fitur yang tersedia bisa dikata sama dengan fitur kalau memakai paket tertinggi di WordPress.com. Memasang plugin, mengutak atik theme dan segala sesuatunya bisa dilakukan dengan memakai CMS ini.

Domainnya adalah TLD (Top Level Domain) dan tidak merupakan subdomain dari WordPress.com. Contohnya, seperti Maniak Menulis, ya tetap maniakmenulis.com tanpa embel-embel wordpress.com.

Karena sifatnya open source, WordPress membuka peluang semua bisa terlibat. Banyak pihak ketiga yang kemudian berkontribusi sebagai kreator pembuat plugin, page builder, theme, atau perangkat lainnya. Ada yang gratis dan ada yang berbayar tentunya.

Theme/Template yang digunakan blog MM berasal dari pihak ketiga dan bukan dari WordPress.

Mudah-mudahan penjelasan singkat ini bisa memberikan gambaran sedikit tentang perbedaan kedua jenis WordPress ini.

Itulah mengapa saya selalu menambahkan Self Hosted atau SH (walau pasti ada lupanya mencantumkan ini).

Yuk Berbagi....

4 thoughts on “Ada 2 Jenis WordPress, Tahu kah?”

  1. Saya mau nanya ini sudah dari lama tapi ngga pernah ada kesempatan. Kalu misalnya kita pakai wordpress self hosted, pada suatu waktu kita tidak memperpanjang masa aktif domain atau hosting, cara kita mengakses dasbor wordpressnya seperti apa? Kalau sudah tidak bisa diakses, apakah akan hilang begitu saja?

    Reply
    • Pertama..

      1. Kalau pake WordPress self hosted, kita tidak masuk ke dashboard wordpress. Kita masuk ke dashboard website kita sendiri, cuma halaman loginnya saja yang pake laman dengan logo wordpress, padahal mah eta website kita sendiri

      2. Karena sistemnya self hosted, maka kalau kita tidak perpanjang doman dan hosting, bisa dikata websitenya tidak ada. Alias kita tidak bisa masuk kemana-mana lagi. Websitenya hilang.

      Datanya? Belum tentu. Biasanya kita punya backup filenya yang bisa didownload dan kalau memang kita sudah tidak mau perpanjang domain dan hosting kita, data itu bisa dipakai untuk dipindahkan ke blog baru, misalkan wordpress.com atau blogspot. Jadi, tetap bisa pindah juga, kita bisa boyongan kemana mana.. hahaha.. yang penting ada data dan backupnya

      Reply

Leave a Comment