Begitulah pemikiran saya saat ini.
Dengan hadirnya AI, dalam berbagai nama dan bentuk, mudah sekali mencari informasi terperinci, step by step tutorial, atau edukasi tentang berbagai hal.
Semuanya bahkan sangat rinci dan kalau diperlukan bisa sampai instruksi step-by step, langkah per langkah yang bahkan lebih terperinci dari blog manapun.
Tidak lagi perlu untuk seseorang memasukkan kata kunci ke kolom pencarian mesin pencari dan kemudian memilih dari link yang ditampilkan. Cukup masukkan instruksi yang sederhana, maka yang diperlukan akan tersaji dalam beberapa detik.
Hasilnya, bahkan bisa lebih akurat dibandingkan blogger tutorial yang ternama sekalipun (asalkan instruksinya jelas dan baik).
Dengan begitu, saya memprediksi kebutuhan masyarakat terhadap sumber bacaan bersifat tutorial atau edukasi akan menurun terus.
Peran para penulis, blogger di bidang ini sudah sangat bisa digantikan oleh AI. Mengingat perkembangan si Gemini cs ini sangat pesat, hanya akan butuh 2-3 tahun lagi kemampuan mereka akan sudah melebih para blogger, di bidang ini.
Hasil diskusi dengan si Gemini pun memang menjelaskan bahwa AI mampu lebih cepat, lebih akurat, dan terperinci dalam menyajikan sesuatu yang bersifat “umum”.
Dan, saya sependapat dengan itu karena sudah membandingkan sendiri tulisan dari blogger tutorial dengan yang dihasilkan AI.
Yang justru sangat mungkin bertahan di masa datang, adalah blogger personal.
Mereka yang membahas hal-hal seperti, atau review buku, atau blog makanan, beauty, lifestyle, dan lain-lain, memiliki peluang untuk menonjol.
Semua itu karena mereka memiliki sesuatu yang akan sangat sulit ditiru oleh AI, yaitu diri mereka sendiri.
Blogger-blogger jenis ini akan menulis dari sudut pandang orang pertama, berdasarkan pengalaman sendiri.
Mereka juga tidak akan memiliki pesaing karena setiap orang akan mendapatkan pengalaman yang berbeda, meskipun pergi ke tempat, atau membuat kue resep yang sama.
Masing-masing akan memiliki karakter uniknya sendiri, yang sulit ditiru, bukan hanya oleh orang lain, tetapi juga oleh AI.
Berbeda dengan blogger tutorial, atau sejenisnya, seberapapun usaha mereka membuat dirinya berbeda, konten yang dihasilkan akan menyeret tulisan ke arah umum.
Tidak akan ada karakter unik dan hal itu bisa dengan mudah ditiru, oleh si AI.
Jadi, saya pikir, kalau mau menonjol, berbeda, dan tidak bisa ditiru si AI adalah dengan menjadi diri sendiri. Tulisan dibuat dari perspektif orang pertama, yang mengalaminya sendiri.
Dengan kata lain, si blogger harus kembali menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu meniru cara orang lain, yang membuatnya kehilangan karakter uniknya.
Karena, pada dasarnya, semua manusia berbeda. Masing-masing memiliki karakter uniknya masing-masing.
Itulah ide awal dari lahirnya blog atau weblog yang berisi catatan personal, bukan edukasi atau tutorial yang bersifat umum.
Kehadiran AI sepertinya menyuruh para blogger untuk back to basic, kembali ke asal dan menjadi dirinya sendiri.
Itu pendapat saya.
Setuju 😁
Yang ga akan bisa ditiru ai adalah personality, jadii ya udaah keluarin aja yang kita lakukan dan kita suka 😆
Saya optimis sih nanti akan ada saatnya orang juga lelah dengan AI dan kembali mencari otentisitas dari manusia. Sepinter-pinternya AI manusia tetap butuh koneksi antar manusia
Tos. Saya pikir kehadiran AI justru bagus karena mendorong para blogger untuk menjadi diri sendiri dan tidak lagi sekedar meniru.
Baru-baru ini saya beli buku di bazar buku di stasiun. Saya ga kenal penulisnya dan penerbitnya, tapi saya suka judulnya, tentang inspirasi. Saya buka bukunya sambil menunggu kereta, sayangnya saya ngga sanggup menghabiskannya. Saya biasa baca paper dan buku akademik, tapi untuk satu buku tipis ini saya ngga berhasil baca, bahkan saya ngerasa ga dapat inspirasi plus terasa hampa. Kenapa bisa begitu, karena isinya bisa ditebak ditulis dengan AI, tanpa banyak usaha untuk bikin isinya jadi hidup, saya banyak “hilang” di tengah baca, “eh, barusan apa”, akhirnya saya berikan buku itu ke teman yang bersedia menampung.
Menurut saya, adakalanya orang perlu info cepat, adakalanya orang perlu info disampaikan dengan rasa “relate” atau “koneksi”. Saat menulis komentar ini saya berada di Kyoto. Baru-baru ini ketika ban sepeda saya kempes, saya mencari cara paling cepat buat mompa tanpa harus ke bengkel. Ketika saya ingin berkunjung ke museum atau spot-spot kunjungan, saya lebih suka mencari pengalaman orang untuk mengetahui kesan mereka, keberhasilan (menemukan spot yang hidden gem), dan “kegagalan” mereka (misal rencana mau menikmati suasana pemandangan di jendela kereta ternyata dempet-dempetan sambil bawa koper, oh mestinya saya titip koper aja di stasiun), membaca yang terasa hidup.
Jadi, saya sepakat AI bisa mempermudah hidup blogger, tapi jika hanya langsung dicopas info-infonya, tanpa diberi “hidup” dan sentuhan personal sebagaimana manusia yang tidak sempurna, tulisan yang dibuat terlalu sempurna malah bisa terasa kosong, sehingga saya tak begitu yakin akan ada orang real (bukan bot) yang sanggup membacanya.
Ya betul sekali Kang. Tidak ada nuansa dan rasa. Cocok untuk kebanyakan pencar informasi dan mereka yang tidak terbiasa membaca. Kalau yang biasa, tetap akan terasa bedanya. Sentuhan manusia masih sangat diperlukan dalam sebuah tulisan.
Betul sekali analoginya, terasa kosong, dan itu bisa jadi masalah untuk banyak jenis pembaca.
Makanya saya di sini tetap akan menulis sendiri karena saya ingin memberikan sentuhan manusia yang tidak sempurna.
Wuiiih jalan jalan ke Tokyo nih.. enjoy your trip
Saya lupa menambahkan, saya bisa “belajar” juga dari Jepang, di sini internet cepat, orang bisa cari informasi dengan mudah. Tapi sekadar kemudahan memperoleh informasi, knowledge, ilmu saja ngga cukup, maka dibikinlah maskot dan logo2 yang lucu2, imut2, mungkin kadang bikin heran ini kenapa hal yang serius dibikin logo yang kartun gitu. Ternyata harapannya bikin orang jadi terkoneksi secara personal, agar kehidupan (yang kadang terasa sepi karena penduduknya berkurang ini) terasa lebih hangat dengan sentuhan human.
Saya lihat blog-blog personal ternyata hidup di sini, tapi sifatnya terkoneksi ala medsos jadi postingan orang bisa muncul di beranda halaman loginnya. Kalo saya lihat isinya banyak juga yang sekadar cerita pengalaman-pengalaman pribadi semisal kehidupan sekolah anak, menanam pohon, dan sebagainya.
Jadi saya lihat pasar untuk orang yang suka tulisan personal itu sebenarnya selalu ada, karena ada orang yang memang ingin personal touch, apalagi kalo topiknya bisa relate dengan kehidupan sehari2. Tapi tantangannya gimana untuk bisa muncul dan memang sepertinya akan semakin sulit ya dibanding jaman dulu, unless kita nulis blognya di lingkungan terkoneksi ala medium, hatenablog, dan sebagainya.
Terima kasih atas sharing pengetahuannya yang berharga.
Saya pikir ada perbedaan yang cukup jauh antara Jepang dan Indonesia. Masyarakat di sana adalah hobi baca oleh karena itu blog masih laku dan bisa berkembang. Di Indonesia hal itu adalah masalah sendiri karena masyarakatnya kurang suka baca dan sangat gemar ikut trend. Oleh karena itu blog menghadapai tantangan yang luar biasa besar untuk bertahan.
Saya hanya bisa berharap, suatu waktu masyarakat Indonesia pun semakin sadar literasi dengan begitu blog dengan sentuhan personal mendapat tempat. Walau entahlah apakah akan bisa terjadi begitu, karena saya tidak yakin masyarakat Indonesia bisa berubah ke arah sana.
Tapi who knows yah.. Stay safe ya bro