Hadeeuhh. Itulah keluh kesah yang keluar dari mulut, ketika saya menyadari perubahan dari beberapa WordPress single site menjadi satu multi site ternyata membawa dampak kurang baik.
Broken link alias tautan yang terputus/rusak.
Kali ini terjadi pada internal link atau tautan internal, yaitu tautan yang kita buat untuk mengarahkan pembaca ke tulisan lain di dalam blog.
Awalnya, saya tidak menyadari itu terjadi dan berpikir bahwa semua link akan secara otomatis tidak akan mengalami masalah.
Sayangnya tidak demikian.
Semua tautan internal di LB Fotografi, LB Biz, LB Lingkungan, ternyata semua mengarah ke Maniak Menulis. Tautan-tautan itu menjadi https://maniakmenulis/fotografi/*nama artikel*.
Jelas saja hasilnya kalau link tersebut diklik, maka yang tampil bukan artikel yang dimaksud melainkan halaman 404 atau pesan kesalahan ‘Halaman tidak ditemukan’.
Perbaikannya tidak sulit.
Yang membuatnya mengesalkan adalah secara total jumlah artikel di 3 blog tersebut mencapai 600-700 buah. Banyak.
Perbaikannya tidak bisa dilakukan secara otomatis dan harus dilakukan secara manual, alias membuka artikel dan kemudian memperbaiki satu persatu.
Sangat makan waktu dan membosankan.
Sayangnya, tidak ada pilihan lain. Perbaikan harus dilakukan karena akan menyulitkan pembaca kalau mereka mengklik tautan rusak itu.
Hasilnya adalah, supaya pekerjaan tidak terasa berat dan rasa bosan tidak hadir, saya membuat jadwal. Tujuannya agar perbaikan semua link tersebut dilakukan secara bertahap atau sedikit demi sedikit.
Setiap hari beberapa atau beberapa puluh artikel akan dicek dan link rusaknya diperbaiki. Kalau rasa bosan sudah hadir, maka saya berhenti dan melanjutkan di lain waktu.
Lumayan juga karena sejauh ini LB Biz dan LB Lingkungan (sekitar 300-an artikel) sudah selesai dicek dan direvisi. Sisanya, hampir 400 di LB Fotografi pun sedang dikerjakan.
Targetnya dalam waktu paling lama 1 minggu, perbaikan broken link akan kelar.
Dan, saya mendapatkan pengetahuan baru terkait perubahan dari single site ke multisite. Next time, kalau ada lagi, saya akan berpikir tentang masalah broken link ini di awal.
Dulu, saya malas banget buat internal link. Alasannya sederhana pada waktu itu, khawatir salah satu permalink artikel bakal di utak atik. 🙂
Semangat menulis, ya Pak. Tenang, saya rajin bacanya, kok 🙂
Hola… dulu mah rajin, sekarang males.. benerinnya wkwkwkwkwkw…
Iya dong, perlahan saya mulai kembali bisa menulis terus, kayak dulu lagi
Eh broken link itu termasuk yg di komen box teman2 kan ya mas? Kan biasanya masukin nama, email dan url blog sendiri tuh kalau berkomen.
Nah dulu, aku juga ribet bersihinnya 🤣🤣🤣. Yg di area komen itu banyak banget. Rata2 blognya udah ga kepake lah, jadi domain exp dll.
Walaupun aku ga yakin apa itu termasuk broken link? Cuma tetep aku bersihin. Sekarang udh bersih, tp semua komen aku moderasi kan. Dan sebelum aku posting, url / link website aku hapus dulu.
Kenapa ga sekalian aja tutup url nya, aku ga mau, Krn nanti aku ga bisa BW balik ke blog si komentator 😄. Iya kalau udh hapal blognya, tp kadang banyak juga blogger baru yg komen.
Krn biar gimana aku masih suka BW balik ke blog temen2, tp aku ga pengen save url nya lagi drpd suatu saat jadi broken link.
Iyap betul itu juga salah satu broken link. Betul juga, saya nggak mau menonaktifkan URL di komentar juga karena terkadang butuh link yang bis alangsung diklik supaya ke blog pemberi komentar.. Maklum orang malas.
Cuma kasusku adalah link internal – link antar artikel yang broken karena perubahan yang aku lakukan. Buanyak sekali hahahaha sampai sekarang juga lum selesai karena masih terkendala keterbatasan waktu. Jadi, dicicil saja deh, yang penting tetap diusahakan ke arah sana. Walau repot kupikir layak untuk dilakukan