Seorang kawan, teman ngobrol di dunia nyata, pernah bertanya, “Kok elu bisa beda sih kalau ngobrol. Sama bapak-bapak sini, kesannya keras banget dan kesannya menyebalkan, tapi sama anak-anak muda, kok kamu bisa begitu luwes dan berubah menjadi teman?“
Yah, karena saya paham dengan diri sendiri. Saya adalah “bunglon” dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana berada.
Menghadapi bapak-bapak yang seharusnya sudah pengalaman dan pinter-pinter, saya tidak harus mencoba menjadi pengasuh mereka. Para bapak seharusnya dan diharapkan paham tentang banyak hal.
Jadi, saya tidak akan tedeng aling-aling alias njeplak saja sesuai faktanya. Kalau mereka tidak bisa menerima dan mengimbangi, itu masalah mereka, bukan saya. Mereka saya pandang sebagai lawan tanding seumuran dan tidak perlu perlakuan spesial.
Kalau bodoh, ya saya katakan bodoh. Tidak perlu diperhalus.
Berbeda dengan ketika berhadapan dengan anak-anak muda. Seberapapun pandainya, mereka tetap masih minim pengalaman kehidupan.
Dan, tidak mungkin saya menuntut mereka untuk menyesuaikan dengan saya. Keterbatasan pengalaman hidup akan menjadi hambatan terbesar. Jadi, saya lah yang harus menyesuaikan dan mengikuti pemikiran mereka. Bukan sebaliknya.
Bagaimana ketika menulis di blog?
Di dunia para blogger, agak sulit sebenarnya karena data tentang karakter, usia, dan kebiasaan biasanya tidak pernah terbuka. Semua orang memakai topengnya masing-masing.
Jadi, yang biasa saya lakukan adalah mencari pola karakter di sana, seperti cara menulis, gaya pemikiran, dan banyak hal lainnya dari apa yang mereka tulis.
Berdasarkan itulah, saya kemudian mencoba beradaptasi dalam berinteraksi, seperti komentar yang ditinggalkan, menjawab komentar, dan terkadang kala menulis.
Saat menulis, saya menyesuaikan dengan tema dan topik. Kalau memang yang ditarget pembaca umum, ya saya sebisa mungkin santai dengan bumbu informatif dan edukatif.
Kalau pasarnya, orang ngeyelan kayak para internet marketer, ya si Ronin lah yang dimajukan. Kayak di blog MM ini yang tujuan awalnya menentang pemikiran para blogger tutorial dan internet marketer yang gemar menyebut jalannya yang paling benar.
Oleh karena itu, saya bisa dan terus belajar menulis dengan gaya berbeda di tiap blog. Semua punya tujuan karena saya tidak bisa hanya memakai satu gaya saja.
Saya mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang ada alias memakai topeng berdasarkan situasi. Tindakan didasarkan pada tipe atau gaya mana yang cocok dengan sasaran.
Tidak mudah sih, dan kadang melelahkan, tetapi saya merasa hal itu perlu dilakukan.
Bagaimanapun, bersosialisasi dimanapun memerlukan adaptasi, agar kita bisa bersikap sesuai dengan lingkungan kita berada. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
Namun, catatannya adalah prinsip dasar atau karakter aslinya tetap harus dijaga.
Tidak beda dengan bunglon, dia tetap tinggal di pohon, tetap makan serangga atau tumbuhan atau buah. Dalam berinteraksi, saya tetap akan memegang prinsip dasar yang saya yakini, hanya kemasannya saja yang dibedakan.
Nah, blog MM sekarang mungkin akan diarahkan ke warna asli dari si bunglon. Tanpa adanya kemasan atau bungkus. Begitu juga blog Si Anton.
Gayanya sekarang hampir mirip karena keduanya memang sedang diarahkan kembali ke back to basic, alias menjadi blog personal. Namun, di beberapa blog lainnya yang tersisa, saya memakai gaya yang berbeda, belum tentu sama dengan kedua blog ini.
Semua itu karena saya, masih bunglon.. eh manusia yang perlu beradaptasi dengan lingkungannya berada. Dan, saya masuk banyak lingkungan yang berbeda, jadi masih ada hal yang harus disesuaikan dengan lingkungan yang dimasuki..
Bedanya hanya, saya bukan lagi si Ronin dalam konsep baru yang ada.
Sekali bunglon, ya akan tetap bunglon sih.
Cerita “bunglon” di tulisan ini bikin aku senyum sendiri, karena jadi teringat fase ketika aku mencoba bertahan di banyak ruang digital sekaligus!
Ada ruang yang isinya orang kritis, ada yang santai, ada yang sok-sok serius, ada pula yang sensitif terhadap tiap kata.
Akhirnya, tanpa sadar, aku mulai beradaptasi: menakar kata, mengatur intonasi tulisan, menentukan seberapa banyak humor yang boleh keluar!
Awalnya sih terasa melelahkan, tapi lama-lama justru terasa sebagai perjalanan memahami manusia!
Yang paling ngena dari tulisan ini adalah bagian tentang bagaimana kita membedakan pendekatan tergantung siapa yang diajak bicara.
Bukan untuk memanipulasi, tapi untuk menghargai proses belajar orang lain!
Anak muda yang baru meraba dunia tentu tidak bisa diberi tonjokan verbal seperti para bapak-bapak yang sudah kenyang pengalaman hidup.
Dan sebaliknya, kita pun tak bisa bersikap seolah-olah sedang mengajar murid saat di hadapan orang-orang yang sejatinya hanya butuh obrolan to the point.
Aku rasa itulah seni bersosialisasi yang perlahan hilang di dunia digital: kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan landasan asli.
Menarik sekali membaca rencana blog Mas Anton ini, untuk kembali ke warna dasar!
Rasanya seperti melihat seseorang pulang dari perjalanan panjang, membawa banyak cerita, lalu memutuskan untuk menjadi versi dirinya yang paling jujur.
Aku padamu, Mas Anton!
Hola Mbak Anna.. Apa kabarnya? Lama tak bersua.. Semoga tetap sehat ya. Maaf belum sempat berkunjung ke rumah Mbak.
Iya mbak, saya memang sedang dalam perjalanan pulang. Doakan lancar ya, karena saya pikir, sudah saatnya untuk melakukan itu.
Insya Allah, saya akan segera berkunjung dan menyapa semua kawan lagi, seperti dulu.
Terima kasih atas komentarnya dan senang sekali saya membacanya.
Aku padamu juga ya Mbak Anna