Akhirnya, kasus Mbak Anita, yang kehilangan tumbler TUKU, suaminya dan Mas Argi, Passenger Service Commuter Line yang “dipecat”, mendapatkan penyelesaian.
- Seperti biasa, saling memaafkan antar semua pihak
- Mas Argi mendapatkan “kembali” pekerjaannya
- Pasangan tumbler, eh Anita dan Alvin membuat video permintaan maaf kepada masyarakat
Klise memang, tetap setiap cerita butuh ending dan tidak melulu harus dramatis. Klise pun tidak masalah.
Kasus sudah selesai, setidaknya dari pihak PT KAI/KCI, dan begitu juga pihak yang terlibat.
Namun, betulkah sudah selesai sehingga perhatian bisa dialihkan ke isu lain? Tidak melulu demikian.
Masih banyak netizen yang mempermasalahkan
- Celah pada sistem Loss & Found PT KAI
- Mengapa pemecatan terjadi hanya karena reaksi dari masyarakat?
- Siapakah pencuri tumbler TUKU sebenarnya?
Masih terdapat banyak pro dan kontra di dunia maya terkait kasus ini.
Artinya, masih ada yang belum mau menutup kasus ini.
Dan, saya sendiri berpikir memang, walau sudah dianggap selesai, cerita ini sebenarnya “masih berlanjut”, meski di balik layar.
Tidak percaya, coba saja bayangkan
- Bagaimana Anita dan suami menghadapi pandangan masyarakat di keseharian (karena mereka harus tetap hidup kan?) mengingat kasusnya yang menghebohkan Indonesia dan bukan sekedar kalangan pengguna Commuter Line saja?
- Bagaimana nasib Anita, si wanita yang kehilangan tumbler, karena kalau benar, ia diberhentikan dari pekerjaannya? Pastinya akan mengganggu kehidupan mereka
- Bagaimana nantinya pandangan si anak terhadap ibunya kalau ia diledek oleh temannya bahwa ibu dan bapaknya rese karena tumbler 300 ribu saja diributin?
Kerusakan dalam kehidupan, bukan hanya Mas Argi saja yang mengalami, tetapi juga bagi pasangan tersebut. Bahkan, bisa dibilang, kerusakan besar justru harus dialami oleh pasangan Anita dan Alvin.
Argi mendapatkan kembali pekerjaannya dan bisa terus mencari nafkah. Namun, Anita selain tidak bisa menemukan kembali tumblernya, juga akan menghadapi banyak tantangan kalau mau mencari pekerjaan, mengingat namanya sudah terlalu beredar dalam artian buruk.
Penutupan kasus sebenarnya tidak menutup kerusakan atau luka yang disebabkan. Pelukan, rangkulan, saling bersalaman, atau video permintaan maaf, hanya sebagai simbol penghentian sebuah kasus.
Luka dan kerusakan akan harus terus dialami oleh yang terlibat.
Oleh karena itulah, saya berpikir kasus ini sebenarnya masih akan terus “berjalan”, dalam artian orang-orang yang terlibat di dalamnya harus menanggung dampak dari yang terjadi.
Beban itu akan selalu ada dalam hati dan ingatan mereka.
Untuk itulah, mari jaga jempol kita karena sekecil apapun, kerusakan yang dihasilkannya bisa beratus kali lipat dan mempengaruhi kehidupan kita.
Iya nggak sih?
Buat apa buang – buang tenaga dan waktu hanya untuk mencari yg mengambil botol tsb. : ) Cari saja di shopee : )
Wakakakaka.. bener sih. Tokopedia juga banyak loh daripada ribut dan malah bikin banyak kerusakan ya Kang
Pingin curhat di medsos, dikira dapat dukungan, justru hujatan, capek dan ribet sendiri jadinya, bener sih, jaga ketikan jempol, hidup udah rumit di cari-cari sendiri
Nah itu.. Ga perlu cari masalah, masalah akan datang dengan sendirinya hahahahaha
Saya juga bingung ngapain juga harus sampe segitunya. Tidak sebanding dengan harga si Tumblernya sendiri