Ngeri. Serem.
Sungguh, benar-benar sulit untuk tidak merasa ngeri membaca ratusan utas di linimasa Threads kemarin dan hari ini, (26-27 Nopember 2025). Isinya terfokus pada kasus “Tumbler TUKU hilang, petugas KAI dipecat”.
Bukan apa-apa. Saya membayangkan berada di posisi si pembuat utas awal, yang sedianya hendak memviralkan kekesalan karena tumbler Kopi Tuku seharga 100-300 ribu (entah mana yang benar, belum pernah beli soalnya) hilang dan menuduh petugas keamanan KAI lalai, berujung pada hujatan dan cacian kepada dirinya dan suaminya.
Masalahnya, memang sebenarnya salah si pembuat utas sendiri, yang lalai dan ketinggalan barang di Commuter Line. Barang tersebut kembali, salah satunya alat pumping susu, tetapi tumbler TUKU-nya hilang.
Saat proses sedang berjalan, entah ada setan apa di kepala mereka. Dugaannya setan pengen viral muncul. Ia memviralkan di akun Threads mereka.
Ujungnya, akibat dari viralnya di medsos, PT KAI melakukan PHk terhadap petugas yang bersangkutan, meskipun si petugas bahkan bersedia mengganti tumbler tersebut.
Netizen pun bergolak.

Ini seperti berharap mendapatkan dukungan, tetapi akhirnya yang datang adalah air bah hujatan. Tidak heran kalau si pembuat utas dan suaminya akhirnya mem-private akunnya.
Sekuat apapun, gelombang hujatan sebesar itu pasti akan berpengaruh pada mental mereka.
Bukan itu saja, tempat bekerja suaminya pun terkena getah karena banyak netizen mampir, tapi bukan di cafe-nya, tetapi ke akun mereka di Google Business. Hasilnya, reviews-nya, yang tadinya bagus menjadi jelek sekali karena banyak yang memberi bintang 1.
Bukan hanya mereka saja yang kena getahnya, akun-akun yang mencoba memberikan sudut pandang lain pun kena dan mendapat semprotan dari netizen.
Netizen pun bahkan ada yang menghubungi Dirut KAI untuk meminta perhatiannya. Ada yang meminta alamat untuk mengirimkan tumbler. Ada yang sedang memesan karangan bunga untuk dikirim ke stasiun Rawa Buntu dan Kanotr Pusat PT KAI.
Jadi kayak melihat kobaran api merambah kemana-mana.
Entahlah. Saya tidak bisa menduga hasil akhirnya karena kisahnya masih terus berlanjut. “Kobaran apinya” terlihat masih sangat besar dan melalap semuanya.
Namun, yang paling membuat ngeri adalah tentang perasaan anak si pembuat utas. Entahlah, bagaimana perasaan mereka ketika suatu waktu mereka mendengar ayah ibunya dipanggil “Bu dan Pak Tumbler” di kemudian hari.
Buat saya, kasus ini mengingatkan tentang perlunya kehati-hatian menjaga jempol.
Dan, saya memilih untuk tidak ikutan, meski dalam hati memang agak geram juga melihat ceritanya. Dari sisi lain, ini sebenarnya kesempatan juga untuk mendapatkan trafik dengan membuat utas bertopik ini.
Tetapi, saya sadar sekali, bahwa saya tidak tahu banyak tentang alur cerita lengkapnya, jadi saya memutuskan untuk mengamati saja dengan rasa ngeri.
Karena, saya bermain Threads untuk senang-senang bukan untuk mencari popularitas.
Dari kejadian itu, saya Yakin Allah sedang mengajari kita untuk belajar ; Ikhlas, sabar dan memaafkan .
Semoga saja barang tsb diganti oleh Allah melalui jalur rezeki lain dan semoga rekan kita yang diberhentikan tsb segera tolong oleh Allah.
Dan kita semua mendapatkan hikmah dan pelajaran dari perestiwa tsb.
Hanya bisa berkata aamiin.. semoga yang terbaik untuk semuanya yah Kang
Iya.Betul sekali, Pak : )
Kalau di Jepang barang – barang sulit hilang, ya Pak 🙂
Barang hilang mah ada lah.. hahaha cuma emang integritas pegawai transum di sana terkenal luar biasa.