Pada posting sebelumnya – silakan cari sendiri karena saya malas membuat internal link – saya pernah mengatakan bahwa AI akan sangat membantu dalam pembuatan artikel atau posting di blog.
Namun, saya tidak heran kalau ada yang menentang karena tentu saja dalam diri seorang blogger biasanya ada idealisme bahwa postingan tersebut adalah hasil karyanya sendiri, bukan AI atau dibantu AI.
Sebenarnya dalam hal ini, saya sepakat tidak sepakat. Bila blog tersebut adalah blog personal, yang mengandalkan pengalaman pribadi atau bercerita tentang diri sendiri, sebaiknya memang posting ditulis sendiri.
Bukan karena tidak boleh, tetapi lebih karena “ciri khas” dari gaya tulis seseorang pada blog personal akan sulit dan hampir tidak mungkin ditiru AI.
Tetapi..
Untuk blog yang bersifat tutorial, informatif, dan edukatif, dimana peran ciri khas mengecil, saya rasa justru pemanfaatan AI, yang manapun akan lebih bermanfaat dibandingkan mengerjakan sendiri.
Toh, tetap saja inti dasarnya adalah si blogger sendiri yang akan memasukkan ide, topik, gaya bahasa, dan seterusnya. Tidak akan 100% hasil AI.
Kenapa tidak? Pemakaian AI sudah lazim dan umum.
Tetangga saya membuat laporan ke bos-nya dengan mengandalkan AI. Begitu juga skripsi dan hal lainnya. Tidak heran juga pembuatan buku atau skripsi pun sekarang dibantu atau bahkan dilakukan oleh AI.
Apalagi di dunia para influencer, seperti di Instagram, Facebook, dan sejenisnya, pemanfaatan si Kecerdasan Buatan sudah menjadi hal yang umum.
Tidak percaya, coba lihat channel Youtube di bawah ini
Sudah jelas memakai si AI.
Terlihat sederhana, tetapi yang satu ini akan sangat luar biasa bermanfaat bagi para guru sejarah. Mereka tidak rasanya tidak perlu berbusa-busa lagi menceritakan sesuatu karena secara visual “film” karya AI ini jelas lebih menarik ditonton.
Transfer pengetahuan pun dapat dilakukan dengan cara yang tidak membosankan.
Jadi, kenapa harus mengharamkan pemakaian AI dalam pembuatan konten?
Yang jelas, AI akan sangat membantu sekali dalam hal produktivitas pembuatan artikel, yang ujungnya akan membantu konsistensi penerbitan posting di blog.
Masalah bahasa yang dipergunakan terlalu artificial atau kaku atau bla bla bla seharusnya bukan masalah. Pencari informasi sekarang tidak terlalu peduli dengan gaya bahasa.
Yang terpenting bagi mereka adalah informasi yang dibutuhkan bisa didapat.
Hal ini berbeda dengan para blogger, terutama personal blogger yang datang atau membaca dengan harapan ada “sentuhan personal” di dalam tulisan yang dibacanya. Di kasus ini, sentuhan AI malah akan mengganggu.
Jadi, tinggal lihat saja, “Apakah blog kita personal atau tidak?” Kalau tidak personal dan isinya tutorial atau informasi, serahkan produksi artikel pada AI, dan Anda hanya fokus pada ide tulisan saja.
Pembaca pun sering tidak peduli.
Tidak percaya? Coba saja lihat gaya bahasa di Detik. Enak dibaca? Tidak kan, tetapi pencari informasi dan berita banyak ke sana karena mereka banyak menemukan hal baru dan mereka tidak membutuhkan sentuhan personal.
Iya kan?
(Kalau blog MM sendiri karena sejak dulu termasuk personal blog dan tidak berfokus pada tutorial, ya tidak akan memakai AI. Semua harus ditulis sendiri karena saya pernah mencoba dan AI tidak bisa meniru gaya saya di sini. Hasilnya kacau)
Saya pribadi, karena sudah beberapa tahun ini bertekad untuk menjalani gaya hidup yang lebih mindful, penggunaan AI juga jadi ikutan kena dampaknya. Di saat penggunaan AI tidak bisa dibendung, dalam hal lingkungan, ledakan AI dan infrastruktur terkaitnya juga memiliki sisi negatif, menurut sejumlah penelitian yang terus berkembang. Pusat data yang menaungi server AI menghasilkan limbah elektronik. Server AI juga mengonsumsi air bersih dalam jumlah besar, yang semakin menimbulkan kelangkaan air bersih di banyak tempat. Sekarang saya lebih sering menggunakan AI lebih untuk bikin modul belajar mandiri, diskusi, bukan sebagai teman yang sedikit-sedikit jadi tempat curhat seperti sebelumnya LOL
Yap, memang AI juga punya konsekuensi atau dampak negatif karena dibutuhkan sumber daya (listrik) yang sangat besar dan air untuk pendinginan. Mau tidak mau pasti dampaknya pada lingkungan tidak sedikit.
Saya sendiri memang tidak terbiasa menggunakan sesuatu untuk sekedar main main, jadi ga pernah curhat sama AI. Sebaik baiknya AI, saya masih lebih suka berbicara dengan manusia. Saya hanya menggunakan AI untuk keperluan produktif atau mencari informasi. Tidak terbayang untuk curhat kepada mesin, walau saya tahu lebih aman dibandingkan kepada manusia.
Cuma kebetulan saya jarang curhat sih.. hahahaha