Yak, entah ada angin apa, saya mulai membaca buku lagi. Padahal, sudah lewat puluhan tahun saya tidak pernah lagi membaca buku cetak.
Bukan berarti saya tidak membaca. Masih lah! Hanya yang saya baca kebanyakan adalah blog, website, dan medsos. Selama belasan tahun terakhir saya hanya menamatkan 1 , iya benar, satu buku saja. Itupun karena dihadiahkan oleh kawan blogger.
Saya merasa bahwa output yang dihasilkan dari membaca buku tidak sebanding dengan waktu dan enerji yang dipakai untuk menamatkan satu buku.
Juga, saya percaya bahwa pengetahuan bukan hanya bisa didapatkan dari buku cetakan saja.
Tapi…
Sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya dalam dua minggu terakhir, saya “mulai” membaca buku lagi.
Judul bukunya “How to Win Friends & Influence People) in Digital Age“.
Jujur saja. Saya sendiri tidak paham alasan yang mendorong hal itu dilakukan.
Buku itu dibaca bukan karena resensi atau apapun. Kebetulan, buku itu ada di meja kerja yang hendak dirapikan setelah kantor LB Digital pindah ke lantai atas.
Karena saya mau mulai ngeblog lagi, meja tersebut harus dibereskan. Dan, buku itu terlihat saat mengelap meja.
Buka selembar dua lembar. Ujungnya perlahan timbul pemikiran di kepala, “Kenapa tidak membaca buku lagi?”
Pertanyaan yang menghadirkan perdebatan di dalam kepala tentang input dan output, atau adanya media lain. Persis seperti yang pernah saya tulis di blog MM.
Namun, akhirnya saya mengambil keputusan. Kenapa tidak? Toh tidak ada salahnya melakukannya. Kebetulan, saya juga sedang butuh “refreshing” tetapi sangat malas untuk keluar rumah.
Saya memang memerlukan sesuatu yang baru untuk mengusir kebosanan dan kepenatan rutinitas sehari-hari.
Mungkin, saya berpikir kalau membaca bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
Akhirnya saya mulai membaca buku cetak kembali. Selain tentunya media online yang memang merupakan santapan sehari-hari.
Kali ini, saya memutuskan untuk tidak lagi memusingkan tentang output dari membaca buku ini. Juga, saya tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat atau mendapatkan pengetahuan atau informasi darinya.
Saya menanamkan kepada diri sendiri, “Saya membaca sekedar untuk membaca saja“
Tidak ada tujuan lain.
Juga saya tidak memaksakan diri untuk membaca sekaligus. Bahkan, tidak satu bab perhari. Saya hanya membaca beberapa halaman saja. Setelah itu, saya tutup bukunya untuk dilanjutkan keesokan harinya.
Itupun kalau sempat.
Hasilnya, buku tersebut belum selesai juga setelah hampir dua minggu, tetapi saya tetap membaca hampir setiap hari.
Cukup menyenangkan juga ternyata dan memberi warna baru dalam kehidupan saya. Setidaknya kebosanan yang ada agak berkurang.
Mudah-mudahan saja saya bisa membaca buku ini hingga akhir.
Setidaknya itu harapan saya.
naah membaca dengan cara ini memang lebih santai dan ga ada pressure ya mas :D.. aku sendiri , makin ke sini, membaca buku fisik makiiiin jarang… bukan krn ga suka, tp toh membaca tiap hari pasti aku lakuin , tp kebanyakan online.. Blog temen2 tiap hari pasti ada 10-15 Blogs, portal berita online… itupun pasti ada banyak informasi yg kita dapat kan.. ga harus dari buku
cuma terkadang kangen sih baca buku fisik, apalagi mengingat kebiasaan ku beli buku, bacanya ntah kapan hahahahahah… makanya 2026 aku bikin challenge diri sendiri utk baca 50 buku setahun… biar berkurang itu tumpukan buku ;p. so far masih on track… semoga sampai akhir tahun 😀
Holaaa Fanny apa kabar?
Iya, saya pikir melepas berbagai teori tentang membaca buku itu membantu membuat relaks. Jadi, lebih nyantai dan enjoy saja. Kayaknya justru ini yang bisa saya merasa nyaman dan bebas terus melakukannya. Tidak ada beban
Wowww hebat euy 50 buku tahun 2026… semangat Fan, semoga bisa terealisasi. Saya baru 4 saja bulan ini.. Hhahahaha kemalasannya masih tinggi nih. Tapi tak apalah, yang penting enjoy (#menyenangkan diri sendiri)