Grup Facebook Tidak Lagi Pasar Yang Baik Tuk Pemasaran

Dulu, di saat saya memulai ngeblog , tepatnya sekitar tahun 2014-2017, ada dua lokasi digital yang bagus sekali untuk pemasaran blog atau konten blog.

Keduanya adalah Google Plus dan Grup Facebook.

Kalau kita share link konten di sana, bisa dipastikan dalam waktu sebentar beberapa gelintir member di sana akan berkunjung ke blog. Kalau topiknya pas dengan minat komunitas di sana, bisa puluhan bahkan ratusan.

Dua-duanya sangat membantu perkembangan Lovely Bogor hingga menjadi seperti sekarang, termasuk Blog MM.

Sayangnya, tidak lama berselang, Google memutuskan untuk menutup layanan Google Plus. Dugaannya karena media sosial ini tidak bisa menyaingi Facebook.

Satu pasar konten potensial menghilang.

Dan, sekarang sepertinya, Grup FB pun akan segera menghilang dari daftar “pasar yang bagus” untuk promosi blog dan kontennya.

Penyebabnya sih bisa diduga dan salah satunya adalah hasil dari para blogger sendiri. Mayoritas blogger “hanya” menggunakannya sebagai tempat menebar link, tanpa mau terlibat dalam komunitas itu.

Ujungnya, grup FB banyak yang berubah menjadi tempat sampah link. Apalagi sekarang link bukan hanya berasal dari blog, tetapi juga dari Youtube, Instagram, dan Tiktok.

Banyak member yang sepertinya malas karena di sana tidak ada interaksi dan komunikasi. Mereka banyak yang ujungnya tidak mau lagi datang dan membuka grup karena tahu pasti bahwa yang dilihat hanyalah orang promosi saja.

Sebagai hasilnya ada dua, dan dua-duanya ujungnya mematikan pasar bagi para blogger, yaitu

  • Grupnya tidak aktif : karena tidak ada member yang mau hanya disuguhi link saja tanpa interaksi antar member, mereka tidak mau lagi berkunjung ke sana. Akhirnya grup meski membernya terlihat puluhan ribu, tidak ada aktivitas sama sekali
  • Admin grup menjadi sangat ketat dan melarang anggotanya menebar link, baik sebagian atau seluruhnya

Hasilnya sama. Tidak ada yang datang ke blog.

Di grup yang sudah menjadi zombie, meski link ditebar berulangkali, tidak ada yang berkunjung ke blog. Analoginya, seperti menyebar brosur ke rumah kosong, tanpa penghuni. Berapapun banyaknya, brosurnya tidak ada yang baca.

Yang adminnya keras, mirip seperti rumah dengan tembok tinggi dengan di depannya ada papan peringatan, “Pengamen dilarang masuk”.

Dan, fenomena ini banyak terjadi di Facebook sekarang.

Dunia sudah berubah.

Lalu apa yang harus dilakukan? Ya, selamat berpikir.

Yang jelas kita tidak akan bisa lagi mengembalikan masa itu. Jangan pernah berharap lagi untuk bisa gampang mendapatkan pembaca dari saluran Grup Facebook.

Meskipun diberi tips supaya tidak sembrono tebar link, Grup Facebooknya sudah berubah dan tidak akan bisa dikembalikan ke kondisi masa lalu.

Yang harus dilakukan adalah mencari solusi lain untuk promosi dan pemasaran.

Masih banyak kok yang tersedia, meskipun saat ini, semua tidak semudah saat itu, tetapi potensi itu tetap ada.

Kita lah yang harus mencari dan menemukannya.

Leave a Comment