Karena saya memang tidak terbiasa curhat dan juga seorang blogger, saya akan, kalaupun terpaksa, memilih BLOG. Jelas itu. Tidak ada jawaban lain.
Mengapa?
Karena saya pikir, blog adalah rumah sendiri yang sifatnya lebih privat dibandingkan media sosial dimana seseorang sebenarnya seperti berada di lapangan umum dengan kerumunan orang.
Di blog, tidak ada jaminan seseorang akan membaca curhatan kita, meski sama dengan di rumah sendiri, terkadang ada kemungkinan dibaca. Namun, di media sosial, setidaknya, para follower akan disuguhi curhatan kita oleh sistem. Hampir pasti ada yang baca.
Jeleknya, netijen, termasuk para follower seringkali tidak siap menjadi pendengar yang baik. Mereka juga mau pendapatnya didengar dan sering memposisikan diri sebagai hakim, yang siap menjatuhkan vonis.
Padahal, yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berkeluh kesah adalah mereka yang mau mendengarkan. Bukan hakim.
Oleh karena itu, dari sisi pandang saya, salah satu alasan mengapa tidak mau curhat di media sosial adalah faktor resikonya lebih besar dibandingkan dengan kalau di blog.
Resiko tersebut akan sulit ditanggung karena para netijen cenderung tidak punya ‘saringan” karena mereka tidak mengenal kita. Banyak juga dari mereka yang memandang hal ini seperti sebuah kesempatan menyalurkan stress dan tekanan yang sedang mereka hadapi.
Istilahnya, utas yang kita sampaikan akan menjadi sasana tinju dimana mereka bisa memukuli samsak sebebas-bebasnya.
Sesuatu yang pasti tidak diinginkan seseorang yang sedang mengungkapkan keresahan di hatinya. Situasinya seperti orang yang sedang kehilangan dompet dan kemudian dimaki sebagai bodoh tidak bisa menjaga barang miliknya.
Dan, saya pikir, pada akhirnya resikonya lebih besar kalau di media sosial dibandingkan di blog yang jaringannya lebih terbatas dan ibaratnya kita berada di ‘rumah sendiri’.
Resiko kehujat di rumah sendiri akan lebih kecil.
Namun, saya pada akhirnya tidak memilih keduanya. Saya memilih yang tanpa resiko sama sekali.
Saya memilih jalan untuk tidak curhat atau mengeluhkan masalah pribadi di blog. Itu cara teraman.
Kalaupun mau mengungkapkan kekesalan, kecemasan, atau curhat, ya masih ada yang lebih aman, yaitu menulis diary atau jurnal saja dengan tangan dan di atas kertas.
Blog sendiri difungsikan lebih sebagai media penyaluran pemikiran, ide, dan untuk menghabiskan waktu luang saja, selain menggali potensi mencari rejeki.
Bagaimana dengan Anda, kawan? Pilih yang mana di anta medsos vs blog? Dimana Anda curcol?
Setelah dari blog si Anton kita komen disini saja.🤣😁
Naah ini menarik nih.😆 Meski saya dulu anti curhat dimedsos atau blog, tapi kalau dipikir2 untuk sekarang ini lebih enak curhat diblog.
Alesannya Curhat diblog atau hal keseharian masalah hidup kita bagi saya, sangat mudah tanpa perlu mikir mau tulis tentang apa. Karena semuanya sudah ada dikepala, tinggal kita tulis atau salurkan keblog. 😁
Meski nggak selalu sering nulis juga karena sibuk mengurus 2 Kanjeng Ratu yang selalu ingin begitu dan begini.🤣🤣🤣
Tapi setidaknya kalau ada waktu untuk menulis saya sudah tidak perlu mikir lagi mau nulis apa. Tinggal tulis saya masalah keseharian hidup ini apapun bentuknya.😂😆
Karena kalau saya kilas balik beberapa tahun lalu ada juga tulisan saya diblog tentang curhat atau masalah pribadi dan keseharian. Karena lebih mudah dan simple yaa saya akan coba lagi mulai saat ini.🤣🤣🤣😆
Yang mana saja Tong, makasih dah dikunjungi lagi.. Hahahahaha
Rasain ngurus 2 kanjeng ratu.. mumet mumet dah luh. Iya lah, tulis saja. Setidaknya bisa membuat hati sendiri lega pan. Memang saya mah kebiasaan, jadi agak sulit nulis curhatan secara terbuka, maksudnya yang tentang kehidupan pribadi. Kalau soal yang lain, seperti keluhan jadi blogger sih malah ditulis.
Gimana rasanya punya dua kanjeng ratu? Bagi dong ceritanya