Setelah melakukan perubahan besar-besaran pada blog MM dan blog Si Anton, ada satu kebiasaan baru.
Saya mulai sering membuka kedua blog tersebut, bukan dari dashboard, tetapi dari front-end yang biasa dilihat pembaca. Kemudian membaca isinya, dan mengamati tampilannya. Kadang saya tersenyum dan merasa senang.
Karena isinya bagus kah? Karena layoutnya kah?
Salah satu rasa senangnya adalah karena saya merasa seperti kembali ke masa jadul, masa yang tidak ruwet.
Layout yang sederhana dan tidak neko-neko. Tulisan yang tidak panjang.
Belum lagi, di blog Si Anton, fotonya sekarang banyak yang hitam putih.
Kesan kunonya lebih terasa dibandingkan blog ini.
Saat membuka blog, lumayan banyak artikel juga yang dibaca. Rasa senang juga hadir karena tulisan tersebut.
Saya sempat berpikir dan mempertanyakan, “Apakah saya sudah mencapai tingkat narsis, yang senang mengagumi diri sendiri?” Karena tidak bisa dibantah saya menyukai blog-blog itu, blog yang saya buat dan isi sendiri.
Namun, setelah dicermati dan dipikirkan lagi, tidak loh saya tidak narsis.
Saya hanyalah seorang blogger yang sedang merasa senang ketika hasil karyanya sesuai dengan yang diinginkannya.
Ide dan konsep yang ada di kepalanya ternyata bisa diwujudkan dengan “sempurna” (entah kata orang lain).
Di situ ada rasa puas dan gembira karena sudah mencapai sesuatu. Blog yang sederhana, tidak neko-neko, semrawut merupakan hal yang ingin saya wujudkan.
Apalagi, perubahan ini dilakukan bukan karena menargetkan pembaca, tetapi full demi kepuasan diri sendiri.
Saya yang orang jadul bin kuno, ingin agar blog-blognya merepresentasikan dirinya.
Jadi, ketika hal itu tercapai, rasa puas, gembira, dan senang pasti akan hadir. Kemudian, diwujudkan dalam bentuk tindakan sering “berkunjung” ke blog sendiri.
Bukan karena saya narsis dan gemar mengagumi diri sendiri. Yang terjadi hanyalah sebuah proses alami karena saya masih manusia.
Pada saatnya nanti, rasa itu akan perlahan hilang dan menjadi biasa saja.
Lagi pula, blog-blog sendiri, kenapa tidak boleh? Mau dilihat 1 juta kali pun saya tidak memerlukan validasi orang. Terutama karena setidaknya dua blog ini memang akan ditujukan untuk saya mencari kesenangan dan kegembiraan.
Kalau memandangi, kemudian menjadi pembaca setia bagi tulisannya sendiri bisa menghadirkan kesenangan itu, ya kenapa tidak?
Toh, siapa tahu, dengan dorongan itu, saya bisa makin rajin dan kembali konsisten ngeblog lagi.
Jadi tak ada ruginya. Dikatain narsis juga tidak rugi karena saya tidak butuh validasi dari orang lain untuk urusan ini.