Blak-Blakan: Bisakah Dipakai Untuk Review Blog?

Saya terus terang sebenarnya sedang sering berkunjung ke berbagai blog belakangan ini.

Blogwalking ? Entahlah, apa memang bisa dimasukkan ke dalam kategori ini karena saya punya tujuan lain, dan bukan untuk membangun jaringan.

Saya ingin kembali mengulas tentang blog-blog, terutama di Indonesia. Salah satu tema yang akan dipertahankan, atau bahkan dikembangkan di blog ini.

Untuk itu, saya memang harus banyak kelayapan ke berbagai blog yang ada, atau masih tersisa di dunia internet Indonesia yang dipenuhi para medsos-ers (entah istilah mungut dari mana ini).

Nah, masalahnya adalah, saya cukup banyak, atau bahkan menemukan banyak sekali blog, yang menurut saya jauh dari kata menarik, atau bahkan TIDAK LAYAK BACA. Jelek sekali.

Blak-blakan yah? Ya, begitulah saya. Memang pasti tidak enak didengar.

Namun, begitulah adanya.

Kalau saya menulis dengan gaya lugas dan tedeng aling-aling, efeknya mungkin akan berpengaruh pada blog itu sendiri. Pasti yang baca tidak akan mau bermain ke blog tersebut.

Yah, bisa dimaklum karena siapa sih yang mau buang waktu untuk pergi ke blog yang jelek dan mendapat ulasan negatif.

Dan, saya tidak mau hal itu terjadi. Jelek atau bagus seharusnya ditentukan oleh pembacanya, bukan saya. Review negatif saya “menghilangkan kesempatan itu”.

Tidak salah sih secara hukum, tetapi idealisme saya agak menghambat dalam hal ini.

Namun, kalau saya tidak mengatakan apa adanya, berarti saya membiarkan orang lain, pembaca blog MM menghabiskan waktu secara sia-sia.

Juga, kalau saya tidak menjelaskan opini secara blak blakan, saya berarti tidak fair dan menutupi sesuatu yang tidak disukai.

Situasinya jadi seperti buah simalakama.

Jalan yang mana yang harus dipilih. Tetap blak-blakan dan jujur tentang yang dirasakan, atau kah memolesnya agar pembaca menilai sendiri, tetapi berarti tidak jujur.

Salah satu hal yang masih belum 100% terpecahkan, tetapi saya sudah mulai menemukan jalan keluarnya.

Tapi, belum sekarang.

Saya masih harus banyak berkelana dan merumuskan banyak hal sebelum memulai kategori Ulasan atau Review blog yang baru. Namanya sekarang adalah JEJAK TULIS di blog ini.

Apalagi saya masih disibukkan dengan persiapan pembukaan TANABUMBU COFFEE & KITCHEN. Jadi, belum bisa 100% fokus balik ngurusin blog.

So, ditunggu saja yah.

10 thoughts on “Blak-Blakan: Bisakah Dipakai Untuk Review Blog?”

  1. Mantap gan. Ditunggu review blog orang lain yang memang cocok direview. Soalnya banyak nih yang asal nulis, apalagi pada pake AI buat bikin artikel

    Reply
  2. Ditunggu ya Pak ulasan blog – blognya. 🙂

    Saya masih penasaran gimana sih perjalanan Gank LB dalam menggarap Tanabumbu C & K . Bisikin dong, Pak 🙂

    Reply
    • Sebenarnya ga banyak sih

      1. Menarik wat saya ==> kalau ga menarik biasanya saya skip
      2. masih hidup, alias rutin diisi, karena percuma saja kalau tidak lagi dikelola. Blog zombie wat saya tidak bagus. Kecuali, kalau memang luar biasa sekali isinya
      3. Tulisannya enak dibaca ==> subyektif yah selama saya tertarik dan suka, saya akan review
      4. Lay outnya ==> ini poin spesial karena saya berpikir kalau layout sebuah blog berperan dalam membuat saya tertarik
      5. Foto ==> namanya saya juga fotografer, jadi selalu tertarik memperhatiman hasil jepretan seseorang

      dah itu saja..Soal isi dan detail lainnya akan saya masukkan ke dalam poin poin di atas

      Reply
  3. Adanya berbagai blog yang “tidak layak dibaca”, karena memang blog itu difokuskan untuk “dibaca” search engine, bukan manusia. Maka di era AI ini, blog semacam itu yang paling merasakan dampaknya, sudahlah orang kesulitan menikmati membacanya, search engine juga belum tentu berminat.

    Saya salut dengan para bloger perempuan, atau ibu/ibu, emak2, apa pun sebutannya, karena ketika memonetisasi blognya masih tetap mempertahankan personalitasnya, jadi enak dibaca, sepertinya memang blog yang dibuat untuk berekspresi, berbagi, di samping monetisasi. Saat saya memerlukan jasa backlink, biasanya yang saya pilih blog yang dibuat mereka.

    Reply
    • Sebenarnya tidak jelas bagi saya, merujuk pada blog dengan isi yang tidak jelas, penulisan yang acak-acakan, topik tidak jelas, tampilan amburadul.

      Artikel yang ditulis dengan AI tidak selalu masuk di dalamnya. Terkadang walau saya tahu tulisan dibuat AI, ada juga yang enak dibaca loh.

      Kalau blog perempuan, ya termasuk blog personal yang menarik wat saya. Tetapi tidak semua sih, kalau yang terlalu lebay, saya malas juga bacanya

      Reply
  4. Memang seharusnya, review itu apa adanya (blak-blakan) tanpa ada yang harus ditutupi. Kalau ada yang ditutupi atau dibagus-bagusin biasanya ada udang di balik bakwan. Iya apa iya.

    Sebagai kelinci, coba pak Anton review blog saya.. wkwkwk

    Reply
    • Tantangan diterima.. saya akan buat reviewnya mas.. saya akan bahas blog mas kalau gitu.

      Saya coba dengan gaya blak blakan yah. Tunggu saja, setelah ngurus cafe dan waktu agak longgar saya akan buat itu

      Reply

Leave a Comment