Apa Yang Harus Ditulis di Blog?

Saya rasa, bukan cuma saya saja yang mempertanyakan hal seperti itu. Apalagi, situasi di blogosfer sudah berubah dibandingkan dengan di kala blog masih menjadi raja.

Persaingan dengan AI. media sosial dan banyak media lainnya sudah begitu ketat dan membuat tingkat kesulitan untuk mendapatkan pembaca semakin sulit.

Pada akhirnya, sikon demikian menghadirkan tantangan tersendiri bagi para blogger untuk bisa terus menyajikan konten atau artikel yang menarik.

Berdasarkan pengalaman dan analisa terhadap situasi, dari seorang blogger yang ingin tetap menjadi blogger, ada dua kunci yang kalau dibuat pertanyaan hasilnya akan seperti ini

  1. Apakah saya menulis untuk pembaca? atau untuk menarik pembaca?
  2. Apakah saya menulis untuk diri sendiri?

Keduanya merupakan perwujudan dari “target” dan “tujuan” ngeblog itu sendiri.Yang manakah yang hendak dijadikan sasaran?

Keduanya menentukan strategi dan rencana pengembangan blog, termasuk di dalamnya adalah isi dari blog itu sendiri.

Yang pertama berarti sang blogger harus memperlakukan blognya sebagai bisnis. Dia harus paham tentang segmen pasar, cara menjangkau segmen pasar tersebut, dan kemudian rencana lain lainnya yang disesuakan dengan target dan tujuan.

Yang kedua, pada dasarnya seperti mengembalikan peran blog bagi seseorang kembali seperti awal mulainya, yaitu sebagai catatan online, alias weblog saja. Tidak perlu target, tidak perlu rencana, sama persis seperti sedang mengelola diary secara daring saja.

Yang kedua lebih sederhana. Beban yang harus ditanggung juga lebih ringan. Seorang blogger bisa lebih bebas karena dia bisa menyingkirkan pemikiran segmen pasar, pembaca, dan sisi bisnisnya.

Yang harus ditulis pun lebih sederhana, karena seorang blogger bisa bebas menuangkan apapun, yang ia mau untuk tulis, ke dalam blog. Tidak ada lagi keharusan untuk berpikir tentang pembaca, tidak ada kewajiban untuk melakukan branding, tidak juga perlu mempromosikan tulisannya.

Ia bebas menulis apapun, dengan cara apapun, dan kapanpun.

Tidak ada lagi kebingungan atau kepusingan, “Apakah tulisan saya akan ada yang baca?”

Dan, pada akhirnya setelah merenungkan banyak hal, saya memutuskan mengambil jalan yang kedua.

Saya ingin menulis demi diri sendiri saja. Toh sejak awal, sebenarnya blog memang diniatkan bukan sebagai bisnis, meski dalam perjalanannya sempat berubah menjadi 50% bisnis.

Namun, setelah mengamati perkembangan, baik dunia blog dan juga diri sendiri, saya lebih merasa nyaman dan cocok ketika blog berperan sebagai tempat saya menulis saja. Tanpa embel-embel lain.

Itulah alasan mengapa pada akhirnya saya mematikan banyak blog (yang sadar tidak sadar dimotivasi oleh sisi bisnis) dan hanya menyisakan blog-blog yang saya anggap memberi ruang bagi pemikiran saya.

Saya memutuskan untuk meninggalkan berbagai hal yang dan membuat saya susah melupakan pertanyaan, “Apa yang harus ditulis di blog?”

Sejauh ini tidak ada lagi kepusingan tentang hal yang harus diterbitkan di blog dan hal itu membebaskan, setidaknya sebagian masalah dari saya.

Belum semua.

Karena kalau sudah semua masalah bebas, saya sudah bisa kembali menjadi blogger. Padahal, saat ini jelas belum. Saya belum bisa kembali menjadi blogger.

Karena masih ada masalah lain, yaitu waktu. Saya belum bisa menyediakan waktu cukup untuk mengelola blog kembali. Masih terlalu banyak hal di dunia offline yang membutuhkan perhatian saya.

Semoga saja dalam waktu dekat hal itu terpecahkan karena tanda tandanya mulai terlihat membaik.

Leave a Comment