AI Membantu Visualisasi Sejarah

Salah satu kegiatan yang saya lakukan di sela-sela kesibukan mengelola LB Digital dan Tanabumbu Coffee & Kitchen adalah “menonton sejarah”.

Iya, betul. Anda tidak salah membaca. Saya memang menonton sejarah. Bukan membaca sejarah yang selama ini merupakan cara umum untuk mendapatkan informasi terkait sejarah kehidupan manusia.

Semua itu bisa terjadi karena belakangan ini, banyak sekali content creater di Youtube atau Youtuber yang menjadikan sejarah sebagai basis konten.

Sejarah dari berbagai masa, termasuk bahkan dari zaman sebelum Masehi dijadikan konten di sana.

Hal ini terus terang sangat menarik dan membantu sekali orang untuk tertarik melongok kehidupan manusia di masa lalu.

Bila sebelumnya, banyak orang yang tidak menyukai sejarah karena mereka sulit membayangkan masa tersebut, dengan adanya konten-konten berbau sejarah di Youtube, sekarang sepertinya tidak lagi.

Mereka hanya seperti diajak menonton sebuah film yang disertai narasi menjelaskan proses sebuah peristiwa di masa lalu. Khalayak tidak lagi perlu memeras otaknya untuk berimajinasi yang terkadang sulit dilakukan oleh banyak orang.

Tidak heran bahwa jenis konten ini sekarang menjadi salah satu primadona di Youtube.

Contohnya video di bawah ini, yang sudah ditonton lebih dari 6,5 juta kali (salah satunya adalah saya)

Dan, untuk itu, kita harus mengucapkan terima kasih kepada AI karena dengan kehadirannya, Youtube dan banyak sekali media sosial lainnya, bisa diisi oleh banyak konten yang lebih variatif.

AI menghadirkan solusi bagi banyak masalah, seperti video sejarah yang jelas tidak akan mengundang banyak penonton dan tidak memberikan banyak keuntungan materi.

Namun, sekarang dengan adanya AI, biaya bisa ditekan sampai sangat minimal, bahkan bisa dianggap nol (kalau kreatifitas, waktu dan tenaga yang dicurahkan para creator tidak dihitung).

Dengan begitu, kisah sejarah yang selama ini hanya berbentuk teks dan hanya bisa dibaca, sekarang bisa divisualisasi dan ditonton, sehingga menjadi lebih menarik.

Dan, saya termasuk salah satu orang yang menyukai perkembangan yang terjadi di Youtube belakangan ini.

Sampai terkadang menghadirkan rasa malas dalam diri untuk menulis artikel baru di sini. Karena, tentunya lebih asyik selonjoran sambil memandang TV dan menonton cerita dibandingkan menghasilkan karya sendiri, yang belum tentu ada yang mau baca.

Leave a Comment