Turun Kelas : Belajar Menulis Tanpa Memakai Keyword

logo maniak menulis

Ada satu hal yang sudah dilakukan dan akan terus saya lakukan dalam hal ngeblog. Saya sedang berusaha “turun kelas”. Usaha ini sudah saya lakukan selama beberapa tahun, tepatnya kurang begitu tahu, tetapi sampai sekarang titik tujuan yang hendak dicapai masih belum tersentuh. Saya masih terhambat oleh satu hal “kecil” untuk bisa menembus garis finish.

Istilah turun kelas merujuk pada usaha saya untuk tidak menulis menggunakan teknik SEO (Search Engine Optimization), setidaknya untuk blog MM dan satu dua blog lainnya. Bagian terakhir yang masih menjadi penghambat besar adalah kebiasaan untuk terus menulis menggunakan keyword atau kata kunci.

Kenapa “turun kelas”?

Yah karena di dunianya para blogger, entah sudah berapa banyak yang mengemukakan pandangan bahwa belajar SEO berarti mereka sudah “naik kelas”. Tidak sedikit tulisan yang saya baca terkait hal ini yang menunjukkan bahwa penggunaan berbagai teknik optimasi mesin pencari membuat penggunanya merasa berada di level yang lebih baik daripada yang tidak.

Sementara saya justru berniat meninggalkan yang seperti ini.

Saya sempat belajar lumayan jauh tentang teknik SEO, tentunya secara otodidak. Bukan hanya belajar, tetapi bisa disebut praktisi dan menggunakannya untuk beberapa blog.

Hasil praktek penerapan SEO dalam menulis di blog juga sudah dirasakan. Pengunjung banyak datang dari mesin pencari dan bahkan tanpa promosi lewat medsos atau blogwalking sekalipun, saya tidak khawatir pengunjung tidak datang. Saya cukup yakin dengan kemampuan sendiri dalam hal ini dan buktinya memang ada di depan mata. Trafik organik tetap datang dari berbagai tulisan yang sudah dioptimasi.

Sayangnya, setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa pepatah “tidak ada makan siang gratis” itu tidak lahir begitu saja. Pepatah ini mencerminkan apa yang terjadi di dunia nyata. Konsekuensi dari sebuah tindakan akan selalu ada dan tidak ada yang bebas darinya.

Konsekuensi dari bergelut dengan berbagai teknik SEO dan bergelut dengan plugin Yoast SEO di WordPress Self Hosted ternyata meninggalkan bekas yang sekarang menjadi “penghambat”.

Teknik SEO mengharuskan pemakainya untuk menempatkan kata kunci pada paragraf awal atau 100 kata pertama, selain memasang frase keyword tersebut di sub heading dan lainnya.

Hasilnya, dan karena cukup lama menggunakannya, pola pikir saya menjadi “terikat” dengan sistem tersebut. Bahkan, dulu saat menggunakannya, saya punya kebiasaan melihat “lampu sinyal” plugin Yoast untuk melihat apakah tulisan sudah SEO Friendly atau belum, bahkan saat menulis.

Kebiasaan yang terasa sekali sangat mengganggu karena saya “tidak bebas” dan “terikat” dalam menulis. Aliran pemikiran seperti terkungkung oleh batasan-batasan untuk mendapatkan atensi dari mesin pencari. Pemakaian kata juga menjadi tidak luwes karena penulisan didasari keinginan untuk mendatangkan trafik.

Semua itu membuat saya sering sebal kalau membaca banyak tulisan saya yang terdahulu *yang sekarang juga banyak*. Memang, tulisan tersebut biasanya tidak gagal mendatangkan pembaca, tetapi tetap saja, saya merasa tidak nyaman.

Idealisme saya adalah saya ingin sebebas mungkin dalam menulis. Singkat katanya, saya ingin agar “hati” saya ada di tulisan tersebut. Begitulah nilai ideal yang ingin saya capai karena dari semua yang saya ketahui, hal itulah yang membuat sebuah tulisan menjadi sesuatu yang nyaman dan enak dibaca.

Menyebalkannya, pengetahuan tentang teknik SEO yang saya punya berabel “barang yang sudah dibeli, tidak bisa dikembalikan”. Berbagai informasi, tips dan trik yang pernah dipelajari terus menempel dan bahkan tidak terasa “menjiwai” tulisan dan jenis tulisan yang lahir.

Nadanya sama, kaku, alurnya begitu begitu saja, dan bagi penulisnya tidak nyaman dibaca.

Oleh karena itulah, sejak beberapa tahun saya berusaha untuk “turun kelas”. Saya ingin meninggalkan cara menulis seperti itu.

Saya tidak mau menulis dengan beban pikiran berapa jumlah frase kata kunci yang harus diulang. Tidak ingin juga pusing memikirkan harus berapa kata sebuah judul. Tidak mau berpikir juga apakah harus memakai sub heading atau tidak.

Saya mau menulis dengan lepas dan bebas.

Sejauh ini sudah lumayan berhasil. Saya bisa menghilangkan kebiasaan itu, setidaknya saat berada di beberapa blog, seperti blog MM atau si Anton.

Judul dibuat seenaknya saja dan jelas tidak memakai kata kunci karena terkadang cuma satu kata saja. Tidak bernada tutorial dan lebih ke bercerita. Tidak lagi menjadi guru, tetapi lebih sebagai teman.

Namun, belum semua bisa beres karena di beberapa blog yang lain, kebiasaan lama “budak SEO” itu tetap hadir, terutama di blog yang berbau tutorial.

Dorongan untuk menulis dengan keyword dan konco-konco SEO nya masih besar. Kadang berhasil ditepis, kadang tidak. Sering secara tidak sadar saya sudah memasukkan kata kunci di paragraf awal.

Itulah hambatan terakhir yang masih saya harus pecahkan dan masih akan terus diupayakan agar pada akhirnya, saya benar-benar bisa setidaknya “turun kelas”. Kalau bisa di semua blog.

Saya ingin bisa menulis dengan bebas lepas.

Bodoh? Mungkin sekali saya memang bodoh, sudah menguasai sesuatu tetapi justru mau membuangnya. Meskipun demikian, saya berpikir hal itu berkaitan dengan sesuatu yang lebih penting lagi.

Saya ingin bertahan sebagai blogger lebih lama lagi dari yang sudah dilalui. Sayangnya, hal itu akan berbenturan dengan kungkungan yang dilahirkan dari pemakaian teknik SEO tadi. Saya mulai merasakan hambatan dalam diri sendiri karena merasa terbatas dalam jenis tulisan, cara penyampaian, dan juga banyak hal lain.

Semua itu adalah salah satu imbas dari terbentuknya jiwa budak SEO di masa lalu.

Jika saya tidak bisa mengatasinya, maka tidak akan lama lagi saya akan berhenti karena bosan dan merasa tidak berkembang. Ini lah yang saya ingin hindari karena rasanya blogging, ngeblog, atau menjadi narablog adalah “jalan ninja” yang saya pilih.

Dengan “turun kelas” dan menjadi bebas lepas, saya harapkan bisa membantu perkembangan di masa depan dan pada akhirnya membuat saya bertahan lebih lama lagi di dunia blog.

Mungkin terlalu idealis kalau saya ingin menghapus semua memori tentang SEO. Rasanya hal itu tidak mungkin dilakukan. Selain karena memang ada label “tidak bisa dikembalikan”, saya juga masih tetap blogger manusia yang punya keingnan untuk mendatangkan trafik. Tidak bisa lagi saya 100% bebas dari semua itu.

Jadi, di masa depan saya mungkin harus menemukan kompromi di “kelas berapa” saya perlu bertahan. Entah itu di kelas berapa, tetapi yang jelas, saya memang sedang berusaha “turun kelas” dan bukan naik kelas.

Saya lebih suka disebut sebagai blogger medioker atau rendahan dibandingkan harus menjadi blogger level atas tetapi menulis terbatas oleh SEO.

Itulah jalan yang saya pilih dan saya sedang terus belajar ke arah sana.

Ada yang mau ikut “turun kelas”?

22 thoughts on “Turun Kelas : Belajar Menulis Tanpa Memakai Keyword”

  1. Saya ingat pernah ditertawakan pakar saat bilang nggak mungkin bisa gambar kalau nggak begini atau begitu. Gambar ya gambar aja. Bukan berarti harus bagus atau pakai aturan. Itu gambar dalam kaidah art therapy. Mungkin beda cerita kalau temanya gambar dlm rangka kuliah, kerja, atau pedagogi. Perlu teori, teknis, dan kaidah baku.

    Nulis saya yakin juga sama. Kalau butuh nulis sebagai ekspresi healing ya lepasin saja. 😁

    Reply
    • Bener banget Pheb, terkadang kita sebenarnya terkekang oleh keinginan sendiri. Saya sempat berada pada fase itu, tetapi sekarang justru saya sadar banget yang kayak gini justru menjadi penghalang besar.

      Kalau buat healing sih apalagi.. kalau pakai teori malah ga sembuh sembuh kayaknya..

      Reply
  2. wadidaw, saya mah naik kelas aja belum, masa iya turun kelas (lagi). jangan sampai yah 🤣

    sekarang saya juga masih belajar cara nulis supaya memenuhi kaidah SEO, tapi seperti kata mas Anton, kalau nulis ngikut SEO tuh rasanya malah kaku… jadinya ya nggak maksa, seenaknya saya nulis aja, kalo masuk ya syukur, kalo enggak ya udah.

    Fokus utama cuma nulis rutin aja dulu, diiringi dengan keyakinan, nanti juga muncul sendiri ciri khas blognya 😅 😂 Ngandelin word of mouth dan marketing manual banget nih alias blogwalking mandiri aja.

    Mungkin nanti mau melebar ke sosmed, tapi masih malu he he.

    Reply
    • Halah… hahahaha… kalau dipikir, sebenarnya kan dunia blogging itu ga punya kelas Mega, jadi suka-suka saja menyebut diri sendiri.. wakakaka.. mau kelas bawah, kelas menengah atau apapun, monggo sajah.. wkwkwkwk Kalau saya malah mau turun kelas terus sampai level terbawah dan mentok, serta ga bisa turun lagi. kayaknya justru menyenangkan di posisi seperti itu.

      Saya pikir sih, ga usah dipaksa. Kalau memang hati kita ga menyukainya, tidak perlu memforsir hati mengikutinya. Kalau melihat tulisan Mega justru saya pikir sih lebih baik tidak dirusak dengan SEO.. wakakakaka.. ntar malah puyeng dan ga ngalir sama sekali.

      Hayo atuh nulis rutin.. Betul, pada akhirnya nanti akan keluar sendiri ciri khasnya karena bagaimanapun menulis adalah mencerminkan penulisnya sendiri.

      Reply
      • hahahaha… semacam paham sih kenapa istilahnya “dirusak” SEO. soalnya pakem-pakem SEO itu emang hasilnya suka kaku banget.

        Tapi saya justru sekarang lagi sering eksplor juga sih, gimana nulis yang bau-bau SEO gituuu (apa sih bau seo, bau badan kalikk) tapi tetep memunculkan karakter saya sendiri.

        Strategi SEO sendiri terus berkembang ya mas, apa yang sudah jadi pakem dulu belum tentu applicable di masa kini….

      • Sikap yang bagus Meg.. kalau memang mau eksplor juga ga masalah.Siapa tahu malah bisa menggabungkan antara keduanya. Hanya harus bersiap dengan resiko juga karena untuk jalan kembali agak berat karena berkaitan dengan perubahan sikap mental dan pola pikir.

        Tapi.. Jalaniii.. semangat terus saja… resiko sering harus diambil..

        Yap, SEO bukan sesuatu yang statis karena manusia manusia di belakangnya juga berubah. Yang menjadi pakem hari ini, bisa berubah di kemudian hari karena bagaimanapun Google dan para pembuat mesin pencari juga ingin berkembang

  3. Mungkin karena saya belajar SEO nya tidak terlalu dalam, jadi penerapannya pun juga ngga terasa. Saya bahkan baru tahu kalo kata kunci sebaiknya dimasukkan di paragraf pertama menurut SEO, hehe.

    Reply
  4. Saya melakukan keduanya, ada blog yang SEOnya saya optimasi termasuk pas nulis juga makai kaidah SEO. Blog lain hampir nggak saya urusin SEOnya dan nulis senyamannya. Karena blog untuk cari duit/trafik dan untuk berkarya/have fun saya pisahin.

    Pas nulis pakai kaidah SEO saya jadinya nggak merasa terbebani. Karena saya sadar emang SEO diperlukan di blog itu. Waktu nulis pun saya suka lepas nggak mikirin SEO, nggak ngecek tanda hijau di SEO plugin, saya fokus ngutamain kualitas dan value buat pembaca. Kualitas juga termasuk salah satu ranking factor terpenting.

    Baru setelah tulisan selesai saya masukkan kaidah SEO. Itupun nggak maksa, kalau keyword utama nggak bisa masuk di paragraf awal ya saya masukin di paragraf-paragraf berikutnya. Pengulangannya pun 1-3x doang udah cukup bagi saya. Bahkan seandainya keyword nggak bisa masuk pun saya gpp yang penting search intent terpenuhi.

    Reply
    • Hihi..Sebenarnya, saya justru sudah sampai pada level dimana saya sadar bahwa ada banyak jalan menuju Roma. Mengejar duit pun bisa dilakukan tanpa SEO kok. Makanya itu menjadi idealisme saya sekarang.

      Dan sekarang justru saya berpikir bahwa SEO itu menjadi penghambat. Apalagi dengan semakin membaiknya algoritma Google yang tidak lagi menekankan pada segala pernak pernik yang disebut SEO. Jadi, saya memilih jalan untuk melepas SEO semaksimal mungkin, untuk semua blog yang saya miliki. Karena saya pikir, ke depannya, situasi akan berubah dengan cepat.

      Jangka panjangnya adalah dengan melepas SEO, saya justru semakin bisa menikmati perjalanan sebagai blogger dan bisa lebih betah berada di sini dalam jangka waktu yang lama..

      Reply
      • Betul mas, make money blogging nggak harus pakai SEO. Yang penting ada trafik/pasar ya berpeluang bisa diduitin. Blog saya yang SEOnya nggak diurusin malah menyumbang penghasilan paling besar.

        Kalau saya dulu jengah dan malas melakukan SEO karena Google seperti anak umur 5 tahun yang harus ditipu/dimanipulasi supaya ngasih reward ke kita berupa trafik. Karena dia susah bedain mana yang berkualitas mana yang enggak. Maka teknik SEO didominasi oleh keyword stuffing, spam backlinks, nyolong konten, optimasi on page yang berlebihan dan hal-hal berbau kuantitas dan nggak manusiawi lainnya. Untungnya, sekarang teknik-teknik itu sudah usang tapi parahnya masih banyak yang setia melakukannya bahkan dijual sebagai jasa.

        SEO jaman sekarang, dan ke depan, bagi saya malah lebih membebaskan karena yang berkualitas yang dapat reward. SEO jadi semakin sulit bagi yang suka nyepam, tapi jadi makin mudah bagi yang mengutamakan kualitas.

        Google udah dewasa sekarang nggak gampang ditipu malah balik menghajar mereka yang macem-macem dengannya. Meski hal-hal mendasar untuk tingkat kompetisi tertentu masih perlu dilakukan seperti riset keyword, website yang sehat, konten, dan link building kalau perlu.

        Jadi saya pribadi berpikir bukannya Google sudah nggak lagi menekankan SEO, tapi sekarang sudah berubah, Google lebih human dan quality oriented dan strategi SEO pun harus mengikutinya kalau nggak ngikutin ya SEO is dead.

      • Google karena sifat bisnisnya pada dasarnya tidak akan bisa lepas dari algoritma mereka mas. Mereka hanya akan terus berupaya mengubahnya agar menyesuaikan dengan perkembangan dunia dan pasar mereka. Sulit untuk berpikir kalau mereka bisa lepas dari itu.

        Hanya saja, kalau saya berpikir bahwa, dunia maya bukanlah sekedar “Google” saja. Mengapa saya harus terfokus pada satu sisi saja, padahal, dunia itu luas. Banyak sekali kemungkinan untuk melakukan monetisasi dan tidak hanya harus selalu terfokus pada mereka saja.

        Oleh karena itu, saya pikir SEO atau tidak, peluang kesuksesan (tergantung tujuan masing-masing) masih tetap bisa terealisasi. Tidak memakai SEO tidak berarti peluang itu mengecil. Masih banyak cara lain untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

  5. Baru kali ini saya membaca ulasan tentang “seo” bisa membebani pikiran seorang blogger untuk menulis secara alami.
    Dari dulu saya tidak konsen tentang seo. Kalau ada ide ya posting aja. Kalau tidak ada ya bisa berbulan-bulan tidak posting.
    Barangkali saya bukan hanya “turun kelas” tapi di “kelas bawah”.

    Reply
    • Jangan heran kalau masuk sini Mas Tikno. Hahahaha.. di sini bloggernya bisa disebut masuk “ngawur” karena saya bukan orang yang suka sekedar mengikuti arus umum.

      Itu memang hasil pemikiran dan penilaian saya terhadap diri sendiri. Hambatan itu justru yang terbesar datang dari apa yang dulu pernah penting bagi saya.

      Justru saya ingin kembali ikut seperti mas Tikno.. blogger level bawah. Saya pikir dunia itu justru akan sangat membantu saya berkembang dan bertahan di dunia blog.

      Reply
  6. SEO uh… mahluk apakah itu?

    saya dulu awal ngeblog gak pake SEO, pas di tengah mulai belajar si SEO.

    betul kata pak Anton, jadi kurang bebas, berkalimat, karena mesti ikut aturan melulu.

    Sekarang bebasin aja Pak, bukan turun kelas sebetulnya tapi lebih ke kualitas kelas yang berbeda. Bebas tanpa di atur sama SEO.. ha..ha..ha..

    Reply
    • Entah, saya cuma tahu namanya saja SEO… hahaha kemana ajah mas kok baru nongol lagi.

      Iya mas. Saya sekarang berpandangan bahwa “kelas” itu tidak penting dalam ngeblog. Mau disebut apapun, tidak jadi masalah karena saya fokus pada tujuan dan apa yang saya lakukan. Nggak masalah juga kalau terus turun kelas.. wkwkwkw

      Soal kualitas, bukan saya yang menilai. Itu hak pembaca yang tidak akan saya rampas dengan melakukan klaim.. 😀

      Reply
  7. Kalo aku kayaknya ngga turun kelas soalnya ngga naik-naik.😂

    Dulu aku pernah tanya seseorang di Facebook yang dianggap master SEO, kenapa sih kalo menuruti SEO kok sepertinya artikelnya kurang enak dibacanya, katanya ya memang karena untuk mesin pencari jadinya gitu.

    Terus saran dia ya kalo merasa tidak nyaman, nulis biasa saja tidak usah mikirin SEO, yang penting dinikmati.

    Lha, ternyata ketemu lagi sekarang sarannya di blog pak Anton.😀

    Reply
    • Bagus dong.. nanti saya turun terus dan melewati Mas Agus ah.. saat turun melewati mas, saya akan melambai.. siapa tahu saja mas Agus mau ikut.

      Iyah kalau saya sih tetap menekankan pada sisi kenyamanan dalam menulis. Kalau tidak nyaman dan tidak membawa rasa senang, yah kenapa dipaksakan

      Reply
  8. Dari awal aku memang ga naik kelas kok mas kalo menyangkut SEO hahahahahaha. Pemahamanku ttg ini jujurnya cetek banget. Teorinya masih dangkal, praktek apalagi. Ikut2an doang, tanpa tau itu udh bener ato ga. Tp yg aku paham cuma, content is the king. So, aku cuma mau nulis sesuai hati aja, ga peduli itu udh SEO ato ga :D. Bisa saling komen Ama temen2 begini, buatku udh seneng banget.

    Anggab aja, SEO itu buat temen2 yg memang cari rezekinya dari blog. Kalo ga, Yo wislah lupain aja :p. Yg penting nulis …

    Reply
    • Saya malah mendukung cara seperti ini kok… Bebas dari SEO justru mengeluarkan kemampuan terbaik saya dalam menulis. Mengekangnnya malah bikin saya tertekan.

      Makanya, saya pingin turun kelas.. biar bisa mengeluarkan semua yang saya bisa.

      Reply
  9. Enggak pernah peduli bakal naik kelas atau turun kelas sebagai bloger. Yang penting mah tarif menulis harus selalu naik. Haha. Ya Tuhan, masih aja diam-diam berharap bisa dapat uang dari jalur ini. XD

    Terlepas naik atau turun kelas, satu hal yang saya yakini sejak belajar menulis: saya ingin tulisan saya terus membaik seiring waktu bergeser, sehingga bikin pembaca betah menamatkannya.

    Saya betul-betul udah lama enggak memikirkan trafik, sih. Sejak dulu kebiasaan biar blog ramai jelas main-main ke blog orang lain dan meninggalkan komentar (walau akhir-akhir ini seringnya memilih bisu) atau promosi di platform khusus semacam forum bloger. Intinya mah bukan dari SEO itu.

    Apalagi sejak saya menekuni fiksi. Jauh bangetlah itu dengan kata kunci. Haha. Beberapa orang bilang lebih sulit membuka tulisan atau cerita yang memikat dan bikin pembaca penasaran ketimbang menyisipkan kata kunci rumus SEO di seratus kata pertama. Saya sesungguhnya tak tahu soal itu, karena yang saya tahu menulis memang tak pernah gampang.

    Reply
    • Hahahaha… Karena memang tidak ada kelas dalam blogging ya Mas Yoga.. Ga salah juga kok kalau memang berharap demikian. Wajar dan sangat manusiawi sekali kalau kita punya skill dan berharap bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan uang.

      Jangan pernah berpindah ke lain hati ya mas Yoga.. Saya malah suka membaca tulisan yang tidak memikirkan SEO. Mengalir dan lebih mengena.

      Yang manapun pasti punya kesulitan sendiri-sendiri mas karena tergantung target dan keinginan tulisan apa yang hendak dihasilkan. Saya sudah cukup lama merasa kurang nyaman kalau membaca tulisan sendiri dan karena itu ingin 100% hijrah ke dunia yang “satu itu”. Terasa lebih sesuai dengan hati dan panggilan diri, meski sudah terjerat dengan SEO tadi membuat agak susah untuk kembali ke asal.

      Reply

Leave a Reply to Tikno Cancel reply