Gutenberg Editor : Dari Benci Jadi Cinta

Kata orang, “Jangan membenci karena sangat mungkin nanti berbalik menjadi cinta”.

Guyonan yang pasti akan ditanggapi dengan rasa sebal yang luar biasa oleh yang menerimanya. Namun, kalau boleh, saya akan mengatakan hal itu sangat mungkin terjadi.

Saya mengalaminya dalam perjalanan sebagai blogger.

Ketika Gutenberg Editor, atau yang disebut juga dengan “block editor” lahir ke dunianya WordPress, tepatnya di versi ke 5.0, saya merasa sebal dan bete sekali.

Kehadirannya menghadirkan kesulitan yang luar biasa banyak. Tidak terhitung fitur dan plugin yang tidak bisa berjalan dengan baik dengan editor yang memakai nama penemu mesin cetak itu. Belum lagi versi awalnya justru membuat menulis terasa lamban sekali.

Sampai sampai, saya mencari plugin anti si Gutenberg, yaitu “Classic Editor”. Dengan begitu si editor baru tidak berfungsi dan menjadi pengganggu.

Namun, setelah satu tahun berselang, saya mencoba lagi memakai editor di WP ini sekedar ingin mencoba. Lagi pula, lumayan heboh juga dunia kaum pengguna WordPress karena bisa dipergunakan mendesain tampilan blog/website tanpa harus menambah plugin.

Tak dinyana, saya langsung jatuh cinta.

Sebelum itu, saya menggunakan beberapa plugin tambahan untuk membuat layout blog, seperti Elementor atau Bakery Page Builder. Namun, setelah mencobanya, saya menemukan bahwa Gutenberg Editor memiliki beberapa fitur dasar yang dipakai oleh Page Builder yang berguna untuk membuat layout.

Keunggulannya adalah saya bisa membuat desain tampilan berbeda untuk setiap posting (kalau mau). Sistem blok yang dipakai mempermudahnya. Berbeda dengan editor terdahulu yang kalau mau membuat tampilan berbeda terkadang harus membuat coding baru, kali ini saya hanya perlu melakukan drag and drop, serta mengatur menu saja.

Mudah. Meski saat itu masih ada beberapa kekurangan, tetapi masalah gangguan saat menulis sudah tidak ada.

Jadilah kemudian, saya memutuskan beralih hati dari istri pertama, si Classic Editor ke si Gutenberg.

Tidak berapa berselang, berbagai plugin pendukung si Gutenberg hadir dan melengkapinya, kekuatan si editor baru ini bertambah.

Tim WP pun terus menyempurnakan sehingga berbagai fitur baru dihadirkan dan memberi ruang kebebasan bagi seorang webmaster.

Banyak template baru yang dibangun dengan berdasar pada si Gutenberg ini, salah satunya yang sekarang dipakai blog MM, si Generatepress (GP).

Hasil akhirnya, saya benar-benar menyukai dan jatuh cinta pada si Gutenberg Editor. Mayoritas website/blog yang saya buat memakai kombinasi si GP dan si Guten saja. Tidak ada tambahan lain, kecuali blog MM yang sekarang ditambahkan Elementor sekedar untuk membuat halaman beranda saja.

Keuntungannya adalah saya bisa memberikan banyak variasi pada halaman posting dan menjadikannya tidak monoton (kalau memang mau) tanpa harus mengurangi loading laman karena pemakaian plugin berkurang.

Saya bahkan bisa mengatur tampilan di perangkat mobile, seperti smartphone atau tablet.

Jadilah saya bucin pada kombinasi Gutenberg dan GP.

Meski, saya tahu banyak blogger/webmaster tetap merasa nyaman dengan si Classic, sudah tidak ada sekilas pun niatan untuk ber-CLBK ria.

Apalagi saya menyadari bahwa block editor yang dipakai si Guten ini merupakan masa depan dari WP di masa datang yang memasukkan unsur Page Builder ke dalam CMSnya dan membuat mendesain layout website lebih ramah pengguna. Hampir pasti si block editor akan terus dikembangkan dan disempurnakan oleh tim WP.

Jadi, kenapa saya harus menengok cinta lama, ketika ada cinta baru.

Posting ini hanya menunjukkan apa yang saya jelaskan di atas dan memiliki layout yang berbeda dengan posting standar blog MM. Rencananya, mulai hari, saya akan mencoba untuk menghadirkan setiap posting dalam layout yang berbeda.

Ada yang memakainya saat ini atau tetap mengandalkan si Classic?

4 thoughts on “Gutenberg Editor : Dari Benci Jadi Cinta”

  1. Pakai Gutenberg Editor karena terpaksa. Mulai terbiasa, tapi kalau dibilang cinta…gimana ya masih belum tuh. 😂😅
    Soalnya loadingnya mintilihir..suka lama.

    Reply
  2. kadang pembaharuan membuat yang kita cintai jadi benci
    tapi lama-lama karena kepo dan ingin mencoba, maka benci itu jadi cinta
    aku belum fasih mengotak-atik WP, jadi belum bisa merasakan cintanya
    halah… wkwkw

    Reply

Leave a Comment