Mentalitas Anak Bawang : Dewasakah Anda Bermedia Sosial? Wall Facebook Bukan Ruang Privat

Pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini saat berinteraksi di Facebook?

  • “Wall-wall saya, saya mau nulis apa saja bebas dong. Kalau tidak suka tidak usah berkomentar di sini”
  • “”Wall FB itu ibarat rumah di dunia maya”
  • “Tidak usah sok bijaksana deh berkomentar di status orang lain. Lebih baik tulis saja status di wall sendiri daripada bikin ngerecokin status orang lain”
  • “Saya menulis di wall saya sekedar untuk curhat, melepaskan uneg-uneg saja kok. Bukan berharap untuk dikomentari dan butuh nasehat. Tidak perlu sok sempurna dalam kehidupan. Saya cuma butuh dukungan, virtual hug, support saja. Tidak butuh dinasehati”

Saya sudah pernah menemukan yang seperti itu dari berbagai sumber, termasuk kawan di lingkungan blogger yang saya kenal.

Salah satu dari pernyataan tersebut di ataslah yang mendorong tulisan ini diterbitkan, meski tulisan aslinya sudah dibuang ke tempat sampah karena ditulis dengan sangat keras. Setelah pertimbangan lebih mendalam, saya memutuskan untuk memperhalusnya “sedikit” tanpa mengurangi intinya.

Mentalitas Anak Bawang

Tahukan istilah “anak bawang”? Istilah ini mengacu pada sebuah perlakuan istimewa terhadap seorang anak kecil dalam sebuah permainan.

Pengistimewaan ini diberikan biasanya karena anak tersebut dianggap masih kecil dan belum mampu mengikuti permainan dengan pola yang biasa. Pemain yang lain memaklumi dan kemudian memberikan ruang agar ia ikut bermain dengan caranya karena tidak ingin ia menangis dan merajuk.

Contoh seorang anak bawang dalam permainan sepakbola adalah ketika ia dibebaskan untuk membawa bola dan pemain lain tidak akan mencoba menghadang, menjegal, atau merebut bola darinyanya. Pemain yang lain tidak ingin ia menangis dan mengadu kepada orangtuanya.

Ia menjadi terlihat hebat karena sebenarnya semua orang memakluminya dan memberi jalan. Mereka menghindari kerepotan yang mungkin timbul kalau si anak mewek. Anak bawang akan selalu mendapatkan yang “enak-enak”, dia tidak akan mengalami yang “susah-susah”.

Mentalitas anak bawang sendiri, bagi saya, terlihat pada mereka-mereka yang hanya mau enaknya saja, tetapi tidak mau menerima situasi umum atau normal yang berlaku umum. Seorang pemilik mentalitas ini melihat dunia harus patuh kepada kemauannya meski hal itu bertentangan dengan norma yang berlaku umum.

Contoh mentalitas anak bawang di dunia medsos

Pelakunya biasanya artis atau selebriti.

Ketika posting “sesuatu”, terutama terkait kehidupan pribadi, mereka tidak pernah bermasalah ketika dikomentari dengan pujian dan tumpukan like. Mereka senang sekali dan bahkan bangga.

Sayangnya, ketika postingan mereka dijulidi netizen, biasanya para selebriti ini berkata, “Jangan julid dong”, “Jangan campuri kehidupan pribadi kami dong“, “Leave me alone“.

Mereka menerima pujian, tetapi tidak menerima ketika orang lain tidak menyukai apa yang dilakukannya dan menngkritik mereka. Kilah andalannya, “Ini kan akun / wall saya, jadi jangan direcoki dan kalau nggak suka tidak perlu baca atau komentar“.

Lucu sekali tingkah para “anak bawang” ini.

Kadang, saya ingin ikutan dan bilang, “BODOH BANGET SIH ELU”. Namun, karena saya tidak melihat faedahnya, saya tidak lakukan.

Belakangan ini, banyak blogger juga terkena sindrom anak bawang seperti itu juga. Entah karena merasa dirinya orang tenar dan selebritas, beberapa kawan di lingkaran pertemanan saya melakukannya di medsos mereka.

Bahkan, ada yang bisa dikat, memaki pemberi komentar lewat status Facebook kalau curhatnya yang “memelas” dibalas dengan nasehat dan bukan #puk puk atau elusan di kepala menghibur atau kata-kata bernada simpati.

Ironis!

Kenapa ironis?

Ya ironis. Para anak bawang ini sebenarnya sudah dewasa dan bahkan tua, tetapi mereka memilih terbenam dalam hal yang seharusnya sudah jelas sekali. Pandangan mereka lah yang tidak sesuai dengan “peraturan” dan “norma” yang ada dalam bermedsos.

Saya bisa sebutkan di bawah ini. Setidaknya agar saya tidak dipandang menuliskan opini tanpa logika dan dasar yang jelas.

Wall Facebook/Medsos bukan ruang privat

Banyak yang menganggap akun Facebook dan wall/beranda mereka adalah ruang privat, miliknya. Oleh karena itu, ada pernyataan bahwa wall itu adalah rumah mereka untuk berekspresi dengan bebas.

Pandangan yang sebenarnya salah banget banget.

Coba lihat Terms & Service Facebook. Juga, perhatikan bagaimana Facebook membahasakan dirinya sebagai “komunitas”. Komunitas sendiri bukanlah individu, yaitu sekelompok orang yang memiliki kesamaan dalam satu dua hal.

Dalam sebuah komunitas, setiap anggotanya diharapkan untuk berinteraksi satu dengan yang lain, bersosialisasi. Dengan ide seperti itulah Facebook dibangun, yaitu untuk sosialisasi antar manusia di dunia maya. Oleh karena itulah, setiap membuat akun Facebook, seseorang akan disuguhi beberapa nama untuk dijadikan teman.

Berpikir bahwa Mark Zuckerberg membangun FB seperti kompleks perumahan atau apartemen dimana orang punya rumah sendiri-sendiri, baik membeli atau ngontrak menunjukkan ada yang salah di kepala. Si Mark membangun kafe atau tempat komunitas dimana orang bisa bertemu. Polanya sama dengan Kafe MM.

Orang akan terus didorong untuk meninggalkan ruang privat dan bergaul dengan orang lain. Untuk itulah setiap sebuah akun FB dibuat, si pembuat akan ditawarkan nama-nama orang yang mungkin bisa dijadikan teman.

Bisa sih akun FB dibuat menjadi privat. Cara yang harus dilakukan adalah dengan membuat jumlah “friends” (teman) menjadi 0. Maka wallnya pun akan menjadi semi privat, tetapi tidak 10% karena kalau pemilik FB menganggap tindakan itu tidak menguntungkan mereka, ya akun itu bisa dihapus.

Dengan sifat akun yang ditujukan untuk bersosialisasi, maka apa yang ditulis di wall FB, otomatis akan dibaca mereka yang terhubung. Tulisan itu tidak lagi milik sendiri, tetapi sudah menjadi milik publik dan boleh dikomentari orang lain. Kecuali temannya nol, maka wall FB bukanlah ruang privat, wall FB adalah ruang publik dimana setiap orang boleh berkomentar.

Bukankah itu alasan disediakan kolom komentar? Kalau Anda tidak mau dikomentari matikan saja, kalau memang bisa. Saya berulangkali mencarinya dan belum menemukan cara agar kolom komentar bisa ditutup, kecuali saya menyetting “only me” alias cuma saya doang yang bisa melihat posting.

Mau tahu kenapa begitu? Karena kalau kolom itu ditutup, hal itu tidak sesuai dengan tujuan FB agar pengguna saling berinteraksi.

Masih berpikir bahwa wall Facebook ruang privat seperti rumah?

Paradoks

Haduh, kehidupan keluarga saya mah kembang kempis. Cari makan saja susah. Beli baju anak-anak saja nggak setahun sekali. Setiap makan cuma ikan asin doang”.

Curhat model-model seperti ini banyak bersliweran di Facebook.

Banyak simpati akan diterima. Wajar saja kalau banyak simpati akan diterima karena mayoritas orang punya simpati dan empati. Sayangnya, secara sadar atau tidak status seperti ini merendahkan si penulis status sendiri.

Ia menempatkan dirinya sebagai orang yang rendah kemampuannya dalam segi materi. Rendah kemampuannya menemukan solusia bagi hidupnya sendiri. Itu efek dari celotehan yang merendahkan dirinya sendiri.

Tentunya, harapannya orang akan bersimpati. Tidak sedikti yang bersedia membantu dalam bentuk materi. Semuanya akan diterima dengan senang hati dan dibalas dengan “Terima kasih, atas bantuannya dan dukungannya. Semoga amal ibadahnya dibalas oleh Tuhan. Bla bla bla”.

Sayangnya, kalau seseorang mengungkapkan pandangan dari sudut lain , seperti, “Ya kalau mau hidup enak, kerja lebih keras dong. Cari sampingan kek supaya keluarga hidup berkecukupan”.

Salah pandangan itu? Ya tidak. Setiap manusia harus mengupayakan untuk bisa hidup sejahtera. Kalau hidupnya tidak sejahtera, berarti di sana ada “kesalahan” yang dilakukan dalam mengelola kehidupannya. Statusnya bisa dipandang mencerminkan ketidakmauannya untuk bekerja lebih keras dan hanya meminta, mirip pengemis juga yang mengandalkan pada narasi sedih.

Namun, reaksi dari penulis status biasanya negatif. Mereka akan meradang dan merasa tersinggung karena merasa direndahkan.

Sesuatu yang lucu sebenarnya, karena merekalah yang merendahkan dan membuka kelemahan diri sendiri, tetapi dia tidak mau direndahkan. Paradoks. Mereka yang menyampaikan pesan merendahkan diri tetapi mereka yang tersinggung ketika yang membaca menerima dengan sempurna pesannya.

Kebaikan dan Keburukan

Ketika kita membuka pintu rumah setiap pagi, harapan kita selalu yang datang melewati pintu itu adalah orang baik yang menyenangkan. Sayangnya, kehidupan punya jalan sendiri karena terkadang yang melewati pintu itu adalah orang yang tidak sesuai kemauan, seperti penagih hutang, tetangga nyinyir, atau orang yang nyebelin.

Kebaikan dan keburukan adalah dua sisi mata uang yang biasa datang bersamaan. Kalau kita tidak mau keburukan datang, tutup saja pintunya dan mereka tidak akan bisa masuk. Sayangnya, kebaikan pun tidak akan bisa masuk juga.

Hidup penuh dengan resiko dan seberapapun usaha kita mencegah keburukan datang, tetap saja, kadang ia akan menemukan jalannya untuk datang.

Cuma anak kecil saja yang tidak menyadari hal itu, apalagi anak bawang.

Hipokrit

Seorang blogger umumnya tahu bahwa medsos, seperti Facebook bermanfaat untuk melakukan branding atau penanaman citra. Oleh karena itu banyak kawan-kawan blogger yang memanfaatkannya untuk membentuk citra dirinya di mata masyarakat.

Dengan kata lain, ia yang sadar bahwa branding adalah tentang menarik perhatian.

Lalu ketika dia mengatakan bahwa ia hanya mengungkapkan uneg-uneg saja, bisakah diterima logika kalau hal itu benar adanya?

Tidak menurut logika saya.

Ketika seseorang dengan sadar melakukan branding via media sosialnya, maka sejak awal ia sudah menentukan bahwa ia memang hendak menarik perhatian demi tujuan tertentu. Alasan sekedar curhat tidak bisa diterima lagi dan kalau hal itu dilakukan, maka ia adalah seorang hipokrit. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya.

Di satu sisi mau mencitrakan dirinya demi keuntungan sendiri, di sisi lain, mengatakan tidak berniat apa-apa.

Apalagi, kalau dia kemudian menyatakan menerima simpati, #pukpuk menghibur, kata-kata manis, maka posisinya sudah jelas. Ia memang bertujuan menarik simpati dan membentuk citra dirinya sejak awal.

Sebuah hipokrisi kalau kemudian dia berkoar koar mengatakan dirinya hanya sekedar curhat dan melepaskan uneg-uneg. Ditambah dengan merendahkan pemberi komentar yang memberikan nasehat kepadanya.

Di satu saat dengan gembira dengan penuh puja puji kepada yang memberikan penghiburan dan simpati, di saat lain menendang mereka yang sebenarnya berniat baik, tetapi melakukannya lewat cara yang berbeda. Berniat melakukan branding, tetapi bilang hanya sekedar curhat saja.

Buat saya mah, hipokrit yang seperti ini.

♦

Tulisan ini adalah opini dan pandangan saya saja terhadap beberapa kebiasaan di dunia medsos hasil berkecimpung lebih aktif di sana.

Salah sebuah apdetan status seorang kawan blogger, minggu yang lalu, membuat saya berkerenyit. Sang kawan terbiasa curcol (curhat colongan) di Facebook tentang kehidupannya, kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dan masalah-masalahnya. Hanya saja, seminggu yang lalu, ia mengatakan secara tersamar tapi jelas lagi bahwa ia hanya menerima support, dukungan, simpati, dan kata-kata manis saja. Ia tidak menerima nasehat.

Yang bikin saya terdorong menulis adalah ketika ia juga “menjelekkan” para pemberi nasehat.

Saya tidak peduli kalau seseorang mau berpikir apakah FB adalah rumahnya. Saya juga tidak peduli kalau dia mau menceritakan kehidupan pribadinya di wall FBnya. Tidak peduli juga kalau memang niatan untuk menarik simpati dan melakukan branding. Itu urusan masing-masing dan cara masing masing.

Hanya saja, entah kenapa saya selalu merasa bete melihat orang menjelekkan orang lain, apalagi kalau ternyata logika yang dipakainya sebenarnya lumayan ngawur. Jiwa ronin bin julid saya terusik.

Untuk itulah tulisan ini dikeluarkan. Bahkan, tanpa melalui proses editing karena saya khawatir berubah pikiran lagi.

Saya ingin memperlihatkan satu sudut pandang yang bertentangan dengan sesuatu yang dipandang umum. Dengan begitu Kawan MM bisa mendapatkan masukan agar bisa bermedia sosial dengan baik.

Tentu saja, saya menyadari bahwa tulisan ini tidak akan selalu disepakati 100%. Ada yang akan merasa marah dan tersinggung (apalagi kawan blogger yang merasa statusnya yang dijadikan bahan tulisan). Ada juga yang akan menyebut saya julid dan kepo dan suka ngurusin orang. Ada juga yang mungkin sepakat.

Silakan saja.

Saya terlalu sadar bahwa tulisan apapun yang saya terbitkan di dunia maya adalah terbuka untuk beragam interpretasi. Siapapun berhak untuk memberi komentar sesuai sudut pandangnya, baik yang menyenangkan atau tidak. Jadi, saya tidak akan menutup kolom komentar atau mengatakan kepada pemberi komentar untuk pergi dan mengurus urusannya sendiri.

Yang paling mungkin terjadi adalah si pemberi komentar akan diajak “berantem” a la Ronin seperti biasa, bertukar pikiran dan pandangan.

Tulisan ini diterbitkan, karena saya percaya bahwa Kawan MM sebagai blogger bukan lagi “anak bawang” dan bisa menerima perbedaan pandangan, sekeras apapun perbedaannya.

Meski saja, ada kemungkinan saya “salah” menilai. Bagaimanapun saya hanya manusia saja.

(Catatan : tulisan ini terbit di luar jadwal, yaitu setiap 7 hari sekali dan pukul 07.00 pagi karena penulisnya khawatir berubah pikiran lagi. Draft tulisan sebelum ini dibuang ke tong sampah karena si ronin merasa cara penyampaian terlalu keras)

26 thoughts on “Mentalitas Anak Bawang : Dewasakah Anda Bermedia Sosial? Wall Facebook Bukan Ruang Privat”

  1. Wah, akhirnya saya sempat berkunjung ke sini. Alhamdulillah.
    Kita juga pernah berbeda pandangan ya Pak beberapa waktu yang lalu (di blog saya). Hehe. Tapi tak mengapa, justru itu bisa jadi bahan diskusi (tapi sayangnya saya tak pandai berdiskusi 😁).

    Mengenai tulisan ini, saya juga setuju bahwa wall FB itu sebenarnya bukan milik privat, tapi saya cenderung cuek, sih. Kalau enggak suka sama status seorang kawan, ya sudah skip-skip saja, enggak perlu dibaca. Hehe.. sesederhana itu 😁

    Reply
    • Wahh akhirnya ketemu di sini padahal saya masih sering main ke sana loh. Hahah cuma ga ninggalin komentar sajah.. wkwkwkw

      Kasus bahasa baku dan intelek ya Mbak Diah.. wwkwkwkw.. Selamat berkenalan dengan si Ronin Mbakyu. Saya bersyukur ternyata Mbak termasuk dewasa dalam menyikapi perbedaan. Hahahahaha Buat saya wajar saja sih berbeda pendapat. Masalah cara yah setiap orang berbeda, kebetulan saja saya senang banget bikin “rusuh” di sana sini.. wkwkwkwk

      Kalau soal cuek sih justru menunjukkan kedewasaan, tetapi kalau sudah “memaki” karena hanya mau dikomentari yang baik baik saja mah, namanya curang. Hahahaha kayak anak kecil sajah… Cara mbak malah bener banget, cuek saja.. Komentar buruk ya diskip saja daripada bikin panas.. wkwkwkwkw Mungkin gitu ya mbak kalau komentar saya masuk.. wkwkwkwk

      Reply
      • Beda kasus Pak kalau komentarnya buat saya, haha.. ya akan saya tanggapi sebaik mungkin sebisa saya 😁
        Kalau status FB/tweet/blogpost dll orang lain, nah… bisa dicuekin kalau bikin panas mata dan telinga πŸ˜‚

      • Berarti memang dewasa kalau bisa menanggapi dengan sebaik mungkin bahkan terhadap komentar yang nyebelin. Ini lebih baik lagi. Cuek saja sebenarnya sudah bagus sekali, tetapi kalau memang bisa menanggapi saya dengan baik, saya pikir itu yang terbaik.

        Yah kalau blogpost atau di posting orang lain mah sebenarnya bisa dicuekin. Cuma kadang sayang kalau terlalu dicuekin karena sebenarnya bisa dijadikan bahan tulisan.. wkwkwkwk

  2. Itu sebabnya selalu mikir beribu kali mau nulis atau curhat di medsos. Berdampak buat saya atau orang lain nggak. Karena sejatinya medsos memang bukan ruang pribadi, karena semua orang bisa baca, bisa lihat, harusnya juga boleh komen πŸ˜‚

    Kalau ngga siap mental dg komen yg akan muncul, saya memilih ngga posting, karena ga siap dibully atau dikomen yg ga sesuai ekspektasi saya🀣.

    Reply
    • Hahahaha.. bener banget mbak, kalau memang tidak siap menerima komentar buruk, atau jenis apapun sebaiknya tidak dikeluarkan.

      Memaki dan menyalahkan yang berkomentar itu justru menunjukkan ketidakdewasaan dalam bersikap dan bertindak. Kayak anak kecil saja

      Reply
  3. Aku sepemikiran dengan Kak Maya di atas wkwk.
    Makanya sampai sekarang, aku punya ketakutan sendiri untuk curhat atau mengutarakan opini di medsos karena nggak siap mental kalau digoreng massa 🀣 soalnya aku bisa kepikiran berhari-hari kalau digoreng Kak 🀣🀣. Dari semenjak keluar dari masa-masa puber di medsos dulu, aku udah mulai menyaring apa yang akan aku ungkap di medsos dan apa yang tidak. Kalau masa puber dulu kan dikit-dikit dishare di medsos yak, mau makan aja ditweet dulu 🀣
    Kalau sekarang, kadang kalau gatel pengin komentar akan isu terterntu, jadinya malah ngajak si Prikitiew tukar pikiran dengan isu yang aku ingin komentari itu, begini jadi lebih enak buatku hahaha.

    Reply
    • Berarti Lia semakin dewasa dalam hal ini. Melemparkan apapun ke dunia maya akan punya resiko, baik itu sekedar opini atau menceritakan kehidupan pribadi. Jangan pernah berpikir tanpa resiko. Hal-hal yang kita pandang biasa bisa menjadi sumber masalah.

      Memang lebih aman berdiskusi dengan Prikitiew daripada mengumbar di medsos Lia.

      Itu menunjukkan Lia semakin dewasa dalam menyikapi hal ini

      Reply
      • Aish, jadi GR nih dibilang dewasa 🀣
        Tapi benar, Kak. Bahkan cerita sehari-hari yang fun aja, masih ada perasaan takut untuk membuka ke internet. Baiknya memang harus ada proses pemilahan dulu, nggak perlu semua dishare di medsos πŸ˜‚
        Sesekali boleh nggak ajak Kak Anton diskusi lewat email? Wkwk

      • Mau dibilang sudah tua? wkwkwkwkwkw

        Yup. Segala sesuatu ada resikonya Lia. Seberapa jauh dikau siap menanggung, seberapa jauh kamu bisa memanage resiko, seberapa jauh kamu bisa mengarahkan tulisan/sharing untuk memperkcil dampak negatig.. semua harus dipertimbangkan.

        Dasarrr.. Pake nanya.. Tinggal ngirim email doang, pake basa basi nanya.. wkwkwkwkwkwkw

  4. Anak Bawang….

    Mmm….Jadi ingat dengan Sinetron Bawang merah dan Bawang Putih, yang mana bawang putih selalu terintimidasi oleh si Bawang Merah dan Bawng putih menjadi pihak yang tidak diistimewakan.

    Ohy Pak, blog yang satunya, masak artikel ” Nican ” mulu yang muncul…. πŸ™‚ bosan tauk…!!!

    Reply
  5. Baru pulang me-Ronin dari FB mas Anton?🀣 Berapa yang sudah di bumi hanguskan wkwk.

    Ya itulah manusia mas. Bukan ilmu pasti yang saklek. Perilakunya pasti banyak yang lucu-lucu. Anggap saja hiburan. Who knows perilaku kita semua disini juga hiburan bagi banyak yang baca.

    Reply
    • Wakakakakakak.. ga ada malah. Makanya kabur ke sini. Kalau di sana saya jaga sikap banget dan jadi anak manis.. hahahaha

      Yup, teramat sangat disadari. Memang pada dasarnya kita adalah hiburan bagi yang lain kok. Manusia kan salah satu sifat dasarnya begitu. Makanya kalau di sini saya memainkan peran antagonis.

      Btw, gue ga bisa ninggalin komentar di blogmu Pheb. Si WordPress bikin bete banget dah.. hahahaha

      Reply
  6. Bersosial media itu pada dasarnya memang dua sisi, yang update status dan yang mengomentarinya. Saya rasa keduanya memiliki hak masing-masing. Di satu sisi, seperti yang Pak Anton bilang, orang yang membuat status harus siap untuk menerima komentar apapun. Di sisi lain, yang pembuat komentar memang ada juga yang kebangetan.

    Jadi nih, saya punya teman, kali ini media sosial yang digunakan adalah WhatsApp. Ceritanya dia selalu update status memamerkan barang jualannya. Namanya juga jualan, jadi saya maklum aja sih. Eh, tahunya ada yang protes karena dia selalu apdate status berisi barang jualan, katanya mengganggu.

    Padahal, menurut saya yang jarang lihat status orang lain, kalo ngga suka ngapain dilihat. Padahal untuk melihat atau tidak adalah pilihan sendiri. Di sini, saya berada di sisi orang yang update status tersebut. Status punya dia, ngapain orang lain sewot.

    Tapi kalo dipikir lagi. Biarin aja orang lain sewot, itu juga haknya dia untuk sewot. Namanya juga jualan, kadang ada yang ngga suka. Ngga cuma itu aja sih, segala sesuatu pasti ada pro dan kontra. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

    Reply
    • Hahaha.. kalau di WA mah saya jarang liat status euy. Di FB saja juga sebenarnya jarang kecuali lagi iseng.

      Yang memasang status ga salah, yang berkomentar juga tidak salah. Wajar-wajar saja dan mereka memanfaatkan hak mereka masing-masing. Masalah kebangetan ukurannya subyektif dan tidak bisa disamakan setiap orang, jadi sulit untuk menentukan sebuah komentar sebagai kelewatan atau tidak secara pasti.

      Kalau saya memilih untuk melihat dimana status itu terpasang dan kondisinya. Kalau di Facebook berpikir bahwa masang status seperti di WA, ya ga pas. FB fungsinya berbeda. Yang jadi masalah adalah kalau si pemasang status misuh-misuh dikomentari yang nggak disukainya. Dia lupa tempatnya dimana dan aturan yang berlaku di sana.

      Juga di sana ada kesalahan berlogika bahwa ia bebas ngomong apa saja dan berharap semua orang mau mengerti dirinya, padahal dunia tidak pernah begitu.. hahahaha

      Tapi lucu juga yah temanmu yang di WA itu.. But, seperti yang Nisa bilang, memang begitulah dunia maya. Kadang banyak orang yang sepertinya ahli bermedsos, sebenarnya menunjukkan kalau dirinya gagap dalam hal itu.. wkwkwk

      Reply
  7. ((Ronin bin julid)) hahahahah, emang harus siap mental kalo dihajar Ama mas Anton :D.

    Pernah ada masa aku suka curhat di status medsos, tapi bukan FB sih. Daaaaaaan, aku diomelin mas Ama suami, katanya bikin malu :D. Sampaikan langsung aja kalo aku ada uneg2 ke dia ato siapapun. Ga usahlah disebar kemana2 ato pake acara nyindir di status :p

    Kekmanalah yaaa, sebagai istri Sholeha, aku lgs patuh saat itu juga hahahahah. Daripada durhaka Ama suami. Sejak itu, aku ga pernah bikin status aneh2 lagi di medsos :D. Kalopun pengen bikin, tp aku setting ONLY ME ajalah :p. Biar ga kebaca Ama yg lain.

    Cm jujurnya, aku tipe cuek sih mas. Ga peduli kalo temen2ku ada yg model suka curhat. Ya sudahlah yaaaa, biarkan saja. Selagi buatku curhatnya ga menjurus ke arah provokasi, ato rasisme, aku msh bisa tahan. Tapi kalo udh menjurus ke arah2 toxic aku block orangnya πŸ™‚

    Reply
    • Fakta karena bagi sebagian orang, saya memang julid.. wkwkwk dan saya terima dengan senang hati lah.

      Nah, itu dia. Kalau istri saya begitu juga saya bakalan ngamuk.wkwkwkwkw… bukankah guna istri atau suami itu untuk begitu, maksudnya untuk bertukar pikiran dan menyelesaikan masalah. Lha ya kenapa harus ditulis di media sosial yang dibaca banyak orang. Itu kayak ada masalah di rumah, terus teriak teriak di teras biar tetangga semua denger.. wkwkwkw

      Dah, bener itu setting ke ONLY ME karena kan ga dibaca orang lain , mirip dengan buku diary.. πŸ˜› Dan, berarti kamu sudah jadi istri sholeha.. wkwkwkw

      Saya sendiri ga kepoan juga sama status orang lain. Kadang saya mampir tuk berinteraksi saja dan menghindari posting-posting curhat. Bodo amirr lah. Cuma yang ini, kok ya aneh.. makanya julidnya keluar dah.. hahaha Sebenernya, saya sudah sempit hendak berkomentar panjang lebar di wallnya, cuma setelah mikir ulang, saya pindahkan ke sini saja. Saya pingin jadi anak manis di FB .. wkwkwkw

      Reply
  8. Sudah lama enggak pernah buka Facebook. Alasan malas buka, dulu saya berisik banget buat status ketika masih remaja (khususnya masa SMK). Ketika 2-3 tahunan lalu iseng buka, ternyata Facebook ini suka mengingatkan hal-hal yang telah berlalu lewat notifikasinya. Ada status maupun komentar lawas yang memicu rasa marah terhadap diri sendiri. Betapa mengerikannya jari manusia yang asal ketik tanpa berpikir dampaknya ke sekitar. Saya malu, kenapa dulu segoblok itu. Jadi saya pun memilih buat menghindarinya, daripada teringat terus mendadak sedih. Haha.

    Ternyata masih banyak juga ya orang yang ngeluh keseharian di status begitu? Kalau di Twitter sih saya enggak kaget karena aktifnya di situ. Keributannya pun saya tebak sama parahnya. XD

    Hm, saya kira memang banyak bloger yang enggak siap dengan konsekuensi atas apa yang mereka tampilkan. Contoh paling simpel tuh enggak terima kritikan ataupun opini yang berbeda. Maunya yang pujian-pujian doang, yang sepakat dengan si penulisnya. Persis yang ditulis dan dirasakan Pak Anton, saya heran kenapa ada yang jadi menjelek-jelekkan orang yang berseberangan, ya? Tak jarang, mereka juga memanggil komplotan dan jadinya keroyokan. Itulah kenapa kadang saya malas komentar dan perlu lihat-lihat lagi watak si bloger. Apakah kalimat-kalimat saya nanti bisa memancing keributan dan ujungnya merugikan saya? Apakah penyampaiannya sudah tepat dan enggak bikin salah paham? Saya tanamkan pemikiran itu setiap kali mau menulis, seolah-olah ada filter atau sensor diri.

    Saya akui, saya sendiri pasti sempat termasuk ke golongan itu. Pada masanya, saya doyan cari keributan karena sifat sinis dalam diri suka menggebu-gebu. Hal konyol lain yang saya alami tentu soal pencurian foto (pernah dipakai orang lain buat aneh-aneh). Saya kala itu berpikir, saya punya salah dan pernah berbuat jahat apa, sih, sama orang lain? Kok sampai diperlakukan begini? Baguslah dalam perenungan itu saya sadar, bahwa kesalahan saya jelas membagikan foto-foto itu ke dunia maya. Kita perlu berhati-hati di internet. Berhubung udah telanjur kesebar, ya enggak ada cara lain selain mempertahankannya buat bukti kalau saya si pemilik foto maupun wajah asli. Sejak itu Instagram pun langsung saya proteksi biar meminimalisir pencurian foto.

    Intinya, semakin bertambahnya umur, saya mulai pikir-pikir lagi dengan segala hal yang akan saya publikasi.

    Reply
    • Semua orang pernah menjadi “bodoh” Yog. Hahaha, saya pun pernah ada di masa-masa itu ketika tidak berpikir panjang. Untungnya pada masa saya FB belum ada, jadi rekam jejak “kebodohan” saya tidak ditampilkan, meski ada juga sih sisa-sisa itu di medsos, cuma nda banyak saja.

      Pasti Yog, ketika usia bertambah, “biasanya” kita menjadi sedikit lebih “wise” atau tepatnya berhitung lebih baik karena pengalaman sudah menempa. Tidak perlu geram dengan apa “kebodohan” yang sudah kita lakukan, bagaimanapun “kebodohan” itu yang membawa kita menjadi lebih pintar dan bijak sedikit sekarang. Tanpa itu, kita mungkin masih tetap bodoh sampai sekarang.

      Reply
  9. dulu pas masih ada Path, kalau mau julid dan males dikometari ya lewat Path
    sekarang mikir lagi
    tapi aku memang dasarnya bodo amat ya paling2 kalo udah dikomen ya tak kasih emo ketawa hahahahah

    klo yang suka curhat ya mau gak mau curhatan mereka muncul terus Pak
    makanya aku habis posting di FB ya tak tinggal
    di IG juga lebih sering nongkrong di Twitter karena menurutku orangnya engga baperan, buat becandaan aja hahaha

    Reply
    • Hahahahaha.. trik yang bagus tuh mas. Abis posting ditinggal. Hahahaha..Tapi sebenarnya sih, saya egp saja kalau memang ada yang mau curhat di FB, tetapi ya mbok sadar juga resikonya bahwa curhat itu pun beresiko. Jangan mau menang sendiri, orang lain disuruh dengar curhatan dia, tetapi pas dikomentari, kok malah misuh misuh sendiri.

      Hahaha

      Reply
  10. Draft sebelumnya udah dibuang ke tong sampah, karena dinilai terlalu keras. Jadi penasaran postingan sebelumnya kaya gimana Pan Anton 🀣🀣

    Aku setuju sih kalau wall sosmed itu bukan ruang pribadi. Ga bisa juga kita mendikte orng akan memberikan simpati, yg ada bs jadi malah jd bahan omongan di belakang betapa miris hidupnya kan..

    Aku sampe skrng masih bersosmed sih, blm sekuat Lia sampai udah ga punya ig. Hehehe.. Tp aku berusaha buat ga dikit2 upload setiap ngapain n lg dimana, on daily basis. Semata2 krna aku ga mau dinilai hanya dr postingan. Trus aku jg khawatir, dlm bbrapa tahun ke depan, aku nengok postingan lama, malah malu sendiri πŸ˜†πŸ˜… Itu jg yg bikin aku ga banyak cerita hal pribadi di blog, takut suatu saat pas udah tua (berasa muda klo skrng) malu sendiri bacanya πŸ˜†πŸ˜†
    Tp bukan berarti aku ga setuju jg sama orng yg dikit2 update n ngeluh di sosmed. Asal dia paham sama konsekuensinya, ya udah biarkan. Kalau ujung2nya ga paham, dan berakhir makin ngomel2, biasanya auto aku unfollow atau hide post akun itu. Thanks to facebook skrng ada pilihan hide post, jd ga perlu ngeunfriend 🀣

    Reply
    • Ga usah penasaran, hahaha.. saya sendiri pas baca ulang, kok yah mikir.. wadduhhh gaswat.. wkwkwkw

      Nda masalah kok kalau ada yang mau curhat. Itu hak hak mereka tentang cara memanfaatkan medsos. Cuma ra mueng saja kalau mereka tidak mau menerima resiko dari curhatan mereka. Memaksakan orang lain agar berkomentar sesuai kemauan dirinya saja mah yah namanya anak bawang.

      Itupun ga salah juga kalau mereka memang mau, cuma biasanya orang males maen sama anak bawang karena mereka akan selalu dipaksa harus mengalah dan mengerti saja. Padahal, interaksi antar manusia tidak bisa dilakukan dengan cara seperti itu terus menerus.

      Thessa saya pikir sudah bukan anak bawang dalam berinteraksi. Dan, mayoritas kawan blogger biasanya sudah paham sekali. Makanya agak heran saja kok ada blogger yang tidak menjadi semakin dewasa dalam berinteraksi di dunia maya.

      Reply

Leave a Comment