Bagaimana Rasanya Ngeblog di Facebook?

Fun.

Tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa saya akan begitu aktif di Facebook. Hampir setiap hari saya rutin melakukan update status di media sosial tersebut, lebih rutin dari update blog MM. Padahal, akun saya di medsos tersebut sudah lumayan lama tidak aktif.

Tidak pernah disangka juga saya menyukainya. Oleh karena itulah, pada awal tulisan ini saya memasukkan satu kata “fun” alias menyenangkan. Berbeda sekali dengan pandangan dari beberapa kawan dan media yang menyebutkan bahwa media sosial, termasuk FB, berbahaya bagi kesehatan jiwa. Bahkan, ada yang merasa harus melakukan detox medsos dan sampai menonaktifkan akun mereka.

Yah, terus terang saya tidak meraskan hal seperti itu.

Memang sih, saya tidak “bermedsos” dengan pola dan cara yang umum, yaitu update status “kehidupan” pribadi. Saya bisa dikata “ngeblog” di Facebook.

Akun pribadi saya bukan diisi dengan status yang bercerita tentang diri sendiri, tetapi diubah dan diarahkan untuk berbagi tip dan informasi tentang fotografi atau cara memotret. Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada kendala dan hambatan yang besar. Tidak ada juga masalah perdebatan panjang lebar yang tidak jelas karena saling baper antara yang update status dan pembacanya.

Justru, akun tersebut sekarang memiliki lumayan banyak “follower” juga yang rutin menunggu update terbaru. Pembaca status saya sekarang justru rajin berkomentar, bertanya, dan meminta pendapat. Beberapa mulai berani membagikan posting atau meminta izin memakai foto saya untuk melengkapi karya mereka, seperti puisi. Ada yang bahkan menyarankan untuk mengikuti update-an saya kepada teman lainnya.

Saya pikir, interaksi yang terjadi tidak seburuk yang banyak diceritakan dan bahkan sebaliknya, justru saya “merasa” berhasil membangun beberapa pertemanan dengan orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Candaan antara saya dan pembaca juga sudah semakin sering terjadi.

Tidak ada baperan. Tidak ada eyel-eyelan. Dan, menurut saya interaksi terjadi jauh sekali dari yang namanya bersifat toxic (entah apa definisinya).

Hasil tiga minggu lebih beraksi di Facebook pun sepertinya sudah berhasil membangun sedikit kredibilitas saya di mata “friends” dan “followers” sebagai seorang fotografer, branding yang memang saya inginkan tanamkan sejak awal.

Jadi, kalau ditanyakan, bagaimana rasanya ngeblog di Facebook? Jawaban saya sudah disebutkan di awal dalam satu kata “fun”, menyenangkan.

Apakah akan diteruskan? Tentu saja, ngeblog di Facebook itu adalah bagian dari strategi pengembangan blog yang sedang dijalankan. Apalagi, hasil selama beberapa minggu ini sudah menunjukkan hasil yang positif tanpa kendala. Tidak ada alasan untuk berhenti.

Kok bisa begitu? Yah, seperti sudah sering saya katakan, Facebook dan berbagai media sosial lainnya hanyalah alat. Facebook tidak berbeda dengan pisau yang bisa dipakai untuk membunuh orang lain atau memasak makanan yang enak. Pilihan ada di tangan kita.

Berlandaskan pemikiran seperti itulah, saya ngeblog di Facebook . Cara yang saya pilih adalah dengan

  • memilih satu topik yang netral, karena memotret/fotografi bukanlah topik beresiko
  • membuat sebagian besar lingkaran pertemanan berasal dari kalangan blogger atau penulis, meski pada akhirnya banyak friend request dari lingkaran lain, sebagian besar berasal dari kalangan tersebut
  • tidak sibuk curhat atau pamer tentang diri sendiri (baik kehebatan atau keluh kesah), tetapi memilih jalan untuk berbagi pengetahuan saja dan tidak membahas sesuatu yang personal, baik tentang diri sendiri atau orang lain
  • memberikan setidaknya “manfaat”, meski tidak banyak kepada orang lain dan saya pikir hal ini lebih baik daripada sekedar misuh-misuh tidak jelas
  • saya berinteraksi dengan sopan, bahkan dalam menghadapi satu dua pandangan yang tidak sesuai dengan pandangan saya
  • membuka diri untuk menjalin pertemanan dengan siapapun dengan cara membalas komentar yang masuk, memberi like pada posting orang lain, meninggalkan komentar di posting “friends”

Dengan cara seperti ini, saya menghasilkan sebuah lingkungan yang nyaman bagi diri sendiri untuk bermedsos. Lingkaran pertemanan tidak menjadi penuh racun dan orang baper. Jadi, saya tidak perlu menjadi ronin di sana.

Tentu saja, tetap ada satu dua orang yang kurang menyenangkan. Meskipun demikian, dimanapun kita berada hal itu pasti ada. Tidak mungkin untuk dihindari 100%. Di dunia nyata sekalipun yang seperti ini akan selalu ada.

Hasl dari ngeblog selama beberapa minggu di FB, menunjukkan kesesuaian dengan apa yang saya yakini bahwa segala sesuatu tergantung pada diri kita sendiri. Sebuah lingkungan yang “beracun” sangat bisa jadi bukan disebabkan oleh orang lain, tetapi oleh diri kita sendiri yang gagal mengelolanya dan terlalu terfokus pada diri sendiri. Bagaimanapun, bermedsos pada dasarnya tidak berbeda dengan bersosialisasi di dunia nyata.

Oleh karena itu, saya “merasa” berhasil, setidaknya sejauh ini dalam bermedia sosial. Saya mendapatkan banyak kesenangan dan kegembiraan.

Entah esok atau lusa karena saya tahu sulit meramalkan masa depan, tetapi saya cukup yakin bahwa situasi ini akan terus berlanjut.Alasannya, karena setidaknya saya bermedsos dengan kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi di sana akan tergantung bagaimana kita menyikapi dan mengelolanya.

Iya nggak?

16 thoughts on “Bagaimana Rasanya Ngeblog di Facebook?”

  1. Setujuu. Memang medsos itu hanya alat, jadi toxic atau nggak-nya tergantung kita sendiri. Aku merasa ketika kita bisa lebih mengakurasi daftar orang-orang yang diikuti, kita nggak akan merasakan medsos sebagai toxic kok. Dan setelah aku off medsos beberapa lama ini, aku sadar ternyata aku lebih ke arah kewalahan melihat informasi yang bergerak terlalu cepat+banyak, Kak, wkwkwk.
    Kak Anton sejauh ini pernah merasa demikian nggak?

    Reply
    • Hola si Peri Kecil nongol lagee… Pakabar Lia..

      Kewalahan melihat informasi begitu cepat? Well, ada untungnya menjadi manusia tua Lia.

      Saya bukan lagi penelan teori dan memandang diri sendiri lebih sebagai pembuat teori. Jadi, saya memiliki saringan otomatis yang memilah dan membatasi informasi yang masuk dan diperlukan. Saya hanya akan mencari informasi kalau memang yang benar-benar perlu dan berkaitan. Saya tidak menceburkan diri dalam aliran informasi, sebaliknya saya berada di pinggir dan kemudian memilih informasi yang diperlukan saja (sesuai dengan teori kehidupan yang saya jalani).

      Saya akan memilih informasi sesuai dengan cara dan waktu saya saja. Bukan mengikuti aliran informasi.

      Jadi, tidaklah, saya tidak kewalahan. πŸ˜€ #sombong

      Reply
      • Alhamdulillah sehat Peri…

        Ya mau ga mau kan harus tetap jadi follower bagi beberapa akun (seperti akun temen) wkwkwkw.. cuma ga pernah dilihat atau diikuti bener-bener. Kalau sempet scroll bentar terus tutup.. hahaha.. I am not a good follower…Jadi istilahnya, saya follower boongan Peri… Ga bener-bener ngikutin akun yang saya follow… Saya melihat kalau memang lagi mau, kalau nggak yo wis.. Polanya sama seperti di blog sebenarnya, saya ga terikat

        Kalau akun orang tenar mah, saya malah ga ngikutin hahahaha…. bodo amat dah

        Ya gue lebarin kalau kesempitan mah.. wkwkwkwkwkw

  2. Nggak mau nyoba ke tiktok pak.? Wkwkw 🀣🀣

    Fb emang seru ya.. tapi udah lama ini nggak aktif. Paling cuma ngaitin akun game karena lumayan bonusnya banyak. Ahha

    Kalau saya, Medsos cuma aktif di Instagram doang. Btw mau cerita sedikit deh Pak. Pak Anton tahu kan ya, akun ig saya isinya cuma seputar keseharian dan mostly tentang gambar2 yg saya buat.

    Akhir-akhir ini udah 4 kali saya dapat request message dari orang yg nggak dikenal isinya ttg ajaran Agama..
    Mereka direct message saya dengan potongan Hadis kalau nggak salah..
    Isinya “Sungguh pedih azab mereka bagi orang-orang tukang gambar” udah itu tok, nggak ada kalimat pembuka seperti salam atau apa..

    Saya baca, tapi nggak saya ladenin sambil mikir ini orang siapa si?? Maksudnya gimana..? Saya bukan ahli agama dan begitu mendapat pesan itu langsung tak cari dan ternyata memang ada hadisnya. Tapi saya rasa konteks tukang gambar dlu sama skrang sudah berbeda tujuannya.

    Lagipun yg saya lakukan pure kesenangan saya.. apa ya salah? Kenapa orang2 itu menyamaratakan saya sudah seperti orang yg gila zina, suka ngebunuh orang, suka mencuri yg jelas2 merugikan.. agak kesal sebenernya. Tapi ya nggak mau ambil pusing juga..

    Reply
    • Ga ada waktu Bay… itu aja dah mayan nyita. Juga bukan orang yang gemar tampil di muka umum, kayak Tiktok atau Youtube. Ada yang minta buat aja channel youtube ngajarin fotografi, akunya males..hahaha ribet.. dan ga mau keliatan batang idungnya.. hahahah

      Ga usah dipikirin Bay. Zaman berubah dan banyak hal yang dulu tidak ada jadi ada. Kalau urusan gambar dan hadist, saya juga tahu. Cuma kalau hadist itu dilakukan secara saklek, maka seharusnya tidak boleh ada Tipi, Facebook, Instagram, dan seperti itu. Dunia kembali ke zaman batu…

      Lucu juga dia yah, memakai hadist untuk orang lain, tetapi dia pakai Instagram juga. Hipokrit..

      Kupikir yang kayak gitu sih abaikan saja… Untung ga ke gue ngomongnya, coba kalau ngomong ke aku, gue gebukin sekalian… wkwkwkw

      Reply
  3. Sepertinya saya belum berteman dg Pak Anton di Facebook πŸ˜…. Facebook saya memang hampir setiap hari dibuka, tapi cuma buat scroling dan baca doang. Sekarang sudah Ngga suka update status, hampir ngga pernah komentar juga. Ngasih like aja jarang banget. Apalagi ngeblog di Facebook, jangan harap deh. Blog yg ada aja jarang diisi, hehe.

    Tapi kalo Pak Anton sih saya percaya. Idenya banyak, semangat nulisnya tinggi. Bisa menulis dimana aja. 😊

    Reply
    • Hayo berteman atuh Nisa… Hahahaha… Dah saya minta pertemanan ke Nisa. Diterima yah.. hahahahah

      Terus terang Nisa kalau tidak dengan tujuan menambah network dan melakukan branding, saya sendiri sudah vakum lama dari dunia medsos. Hanya saja karena mau tidak mau saya harus mulai bergerak dan memasarkan “diri” lebih luas saya kembali ke sana.

      Saya juga belakangan agak vakum dari dunia blog karena berbagai hal di duta Namun, si FB membantu saya tetap menjaga ritme menulis.

      Hahahaha makasih Nisa sudah begitu percaya kepada saya. Memang betul sih, saya pikir, dimanapun selama saya bisa menulis, ya saya akan lakukan. Bahkan kalau perlu di kertas bekas sekalipun.. wkwkwkwk sudah kecanduan sebenarnya

      Reply
  4. Aku sukaaaa loh tulisan2 mas Anton yg ttg fotography di FB :D. Ada juga yg aku share, tp sbnrnya hanya utk aku pribadi jd settingan ttp Only Me. Yg aku pikir bisa utk dicoba sewaktu2.

    Jujurnya aku udh lama ga latihan motret pake kamera. Itu kamera sampe nganggur lamaaaa mas. Trakhir aku pake pas ke Korut 2019 wkwkwkwkkw. Aku rasa jamuran jangan2 -_-

    Tapi jadi semangat lagi pas mulai baca tulisan mas Anton ttg tips dan cara motret. Jadi pengen dipraktekkan, walo aku tahu skr msh males sejak di rumah aja :D. Aku kemarin dulu sampe kepikiran apa ini kamera dihibahkan aja ke orang yg memang butuh yaa. Mubazir kayaknya di aku, toh ga kepake samasekali. LBH srg pake kamera hp Krn alasan praktis.

    Eh btw mas, agak out of topic nih, kalo mau bersihin lensa kamera, mas Anton biasa di mana? Aku mau bersihin di service centernya Nikon, tp gila ya harganya wkwkwkwkkw. Kalo mau cari tempat umum, cm kata temen harus hati2, takutnya dipreteli kalo tukangnya ga jujur. Kalo ada referensi tempat terpercaya, boleh dong mas…

    Reply
    • Waaa… hayo atuh Fan semangat motretnya. Iya sih kalau di rumah terus memang suasanany boring banget dan ga ada obyek yang “menarik” karena sudah terbiasa. Tapi, daripada bengong loh.. wkwkwkw…

      Sebenarnya asal nyimpennya bagus sih ga akan jamuran wkwkwkwkwk… kudu tetap dipraktekkin Fan karena kan memotret itu skill juga. Kalau kelamaan nanti bakalan kaku tangannya dna feelingnya ga jalan. Makanya sebaiknya sekali kali tetap memotret dengan obyek yang ada, supaya skill setidaknya tetap terjaga. Jadi, nanti pas kesempatan jalan-jalan sudah dibuka lagi, skillnya bisa langsung digunakan… Hayo atuh..

      Tapi kalau kamera mau dihibahkan … sini saya nampung deh.. wkwkwkwkwkw

      Ga punya Fan. Hahahaha.. saya membersihkannya di salah satu mall di Bogor saja, di mall BTM ada satu toko pembersih kamera. Tapi ga selalu di situ. Yah mau ga mau berdasarkan asas percaya saja.. hahaha.. Memang benar kalau di service center resmi harganya akan mahal.

      Hayo hayo motret lagi..

      Reply
  5. aku yang baca postingannya juga merasa dapat ilmu dari di sana. Penjelasan yang singkat, padat dan ngena. Aku jadi belajar juga dunia fotografi
    dulu pengenku mau ngebentuk branding blogger di FB, karena temennya kok ada circle kantor, mendadak malas wkwkwkwk
    jadinya isinya post wajib “jualan” kantor aja

    Reply

Leave a Comment