Analisa Tulisan Sendiri Demi Perkembangan

Selamat Malam Kawan MM!

Menganalisa tulisan orang lain dan kemudian mengkritiknya merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan banyak orang. Mudah sekali melakukannya. Namun, pernahkah Kawan MM mencoba membuat analisa tulisan sendiri alias tulisan yang merupakan hasil karya sendiri?

Saya beberapa kali mengatakan bahwa hal itu sering saya lakukan. Bukan sekedar membaca ulang yah, tetapi mencoba melihat dan menelaah hasil karya yang pernah kita terbitkan.

Hasil dari membedah berbagai artikel yang pernah saya posting di berbagai blog menunjukkan kepada saya beberapa hal, seperti

  • pemakaian diksi yang “terbatas” dalam artian kata-kata yang dipilih untuk dipergunakan dalam artikel tidak terlalu banyak dan cenderung memakai kata-kata yang sederhana saja
  • jarang memakai diksi yang populer, sedang ngetren, keren, puitis
  • kurang efisien dalam merangkai kalimat karena seringkali terjadi pengulangan yang sebenarnya tidak perlu
  • tulisan cenderung “straight to the point” dan tidak banyak menggunakan kembang-kembang bahasa untuk berbasa basi
  • kerap menerobos aturan tata bahasa yang baik, seperti dalam penggunaan kata “tetapi” yang tidak pada tempatnya
  • cenderung suka menggunakan “anak kalimat” atau klausa, terutama yang menggunakan kata hubung “Yang”
  • jarang membuat paragraf yang terdiri dari 4 kalimat dan acap kali membuat paragraf yang terdiri dari satu kalimat pendek untuk penekanan saja
  • ceroboh karena banyak kalimat yang sebenarnya kurang tersambung dengan kalimat sebelumnya dan kerap membuat alur tulisan terganggu
  • masih banyak melakukan pengulangan kata yang mencerminkan sisa kebiasaan menulis berbasis teori SEO Friendly
  • banyak kalimat yang sebenarnya tidak memiliki subyek-predikat-obyek yang merupakan ciri khas umum mayoritas blogger karena berpegang pada prinsip “berbicara dalam bentuk tulisan”
  • masih ada tulisan yang terlalu ngalor ngidul tidak perlu, tidak efisien
  • bagian penutup yang cenderung biasa-biasa saja dan kurang memberi kesan
  • tidak ekspresif karena semua kalimat dibuat sedatar mungkin tanpa menonjolkan emosi si penulis
  • dan masih banyak lagi hal lainnya yang saya temukan saat menganalisa tulisan sendiri

Baik atau buruk kah semua yang disebutkan di atas? Bukan itu intinya, meski di antara hasil analisa itu memang ada hal yang saya anggap “kelemahan” dan harus diperbaiki. Hasil analisa itu biasanya saya pergunakan untuk melakukan pengembangan kemampuan menulis.

Sebagai contoh dari apa yang disebut sebagai pengembangan di atas adalah

  • untuk blog yang dibuat mirip media online, gaya singkat dan efektif memang tepat, tetapi bagi blog personal, seperti Si Anton, gaya tersebut tidak cocok. Di blog personal itu, saya terkadang mencoba membiarkan diri ngalor ngidul memenuhi tulisan dengan tambahan “kembang-kembang” yang sebenarnya kalau dosen saya lihat, ia bisa langsung pingsan karena jantungan melihat hasil tulisan tersebut
  • kebiasaan menulis dengan anak kalimat, saya pandang harus diperbaiki karena memperpanjang kalimat dan menyusahkan pembaca. Saya berusaha mempersingkatnya agar lebih efektif dan efisien, terutama untuk blog-blog non personal
  • pemakaian diksi “terbatas” dan “sesederhana mungkin” sedang terus diperbaiki karena bisa menjadikan tulisan terasa membosankan. Salah satu usahanya sekarang adalah dengan mencoba menyelipkan pemakaian istilah-istilah yang “tidak biasa”
  • berusaha memperhalus alur penulisan dan tidak terlalu saklek agar tidak terkesan terlalu frontal, nantang berantem, dan garang. Apalagi karena saya sedang berusaha mengubah image menjadi lebih friendly
  • kebiasaan mengulang kata kunci sepertinya harus terus coba dihilangkan karena berdasarkan hasil analisa cenderung membuat tulisan jadi terasa aneh

Untuk apa repot menganalisa dan kemudian mengembangkan diri? Kan cuma ngeblog ini dan bukankah saya tidak berminat menjadi penulis buku? Untuk pembaca?

Entahlah.

Pembaca memang menjadi salah satu bahan pertimbangan, tetapi kalau ditilik lebih dalam lagi, bukan faktor utama. Ada beberapa faktor lain di atas itu, yaitu

  • saya peternak blog dengan karakter yang berbeda-beda, jadi saya harus memiliki opsi gaya menulis yang lebih dari satu. Menganalisa tulisan sendiri bisa menjadi dasar agar saya bisa menguasai beberapa gaya penulisan yang berbeda
  • yang lebih penting lagi, saya adalah pembosan. Bayangkan seorang pembosan yang harus menulis dengan cara yang itu itu saja, hasilnya adalah saya berhadapan pada rutinitas yang sangat membosankan. Bisa teruskan sendiri kalau itu terjadi?

Namun, yang paling utama dari semua tindakan ini adalah karena saya berprinsip, “Manusia itu harus berkembang dan berkembang. Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini”.

Saya harus berkembang, sampai waktunya habis nanti karena itu kodrat saya sebagai manusia.

Perwujudan dari apa yang diyakini ini saya terjemahkan salah satunya dalam kegiatan ngeblog yang saya lakukan.

Sebagai blogger saya harus terus berkembang dan memperbaiki diri. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diri sendiri. Jika saya stagnan dan hanya bisa begitu-begitu saja, lalu apa gunanya saya ngeblog. Kenapa tidak fokus saja pada bekerja di kantor ?

Bila dari usaha menyenangkan diri sendiri itu ada pihak lain yang ikut senang, yaitu pembaca, berarti bagus. Ada yang bisa mendapatkan manfaatnya, tetapi kalau tidak ada, bukan sebuah masalah juga.

Lagi pula, kata para ahli, mengajak otak terus berpikir bisa membantu mencegah datangnya pikun. Otak yang terus diasah cenderung lebih tahan mencegah “penyakit” ini datang.

Dan, saya tidak mau pikun sampai akhir hayat nanti karena orang pikun cenderung menyusahkan manusia lainnya. Padahal, saya tidak ingin menjadi sumber kerepotan si Kribo dan keluarganya nanti.

Mungkin, untuk itulah saya akan terus memaksa otak saya terus bekerja agar tidak karatan. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diri sendiri.

Karena saya tidak mau jadi orang pikun, yang menyusahkan orang lain.

17 thoughts on “Analisa Tulisan Sendiri Demi Perkembangan”

  1. Aku sering malu kalo baca tulisan2 lama, apalagi yaa kalo inget tulisan zaman di blognya Friendster dulu wkwkwkwkwk. Ya Allah aku bersyukur itu sudah ‘mati’ :p. Nulis kebanyakan curhat, marah2 ga jelas Ama seseorang, yg begitu2 lah.

    Untuk memperluas diksi, biasanya aku suka baca tulisan temen2 blogger yg penyuka sastra, kayak tulisan Yoga Akbar. Walo tulisanny cendrung dark, tapi enak aja dibaca. Apalagi diksinya dia kaya :). Membaca novel juga membantu sih. Tapi itu karena aku suka membaca, dan biasanya ga aku terapin juga ke tulisanku di blog :D.

    Akupun ga mau cepet jadi pikun mas. Mungkin Krn itu aku spare waktu untuk banyak membaca. Tapi skr, lagi seneng2nya cari buku yg mengasah otak, kayak sudoku, word puzzle, nonogram, itu seru sih. Dan membantu buat otak trus berfikir supaya ga pikun dan selalu fokus :D.

    Reply
    • Waahh justru saya pingin baca tuh tulisan kayak gitu. Kayaknya akan membuat dunia lebih berwarna karena ada misuh-misuhnya.. hahahaha.. seru tuh kayaknya..

      Yup. Beberapa kawan memang pandai sekali dalam menggunakan diksi. Karakter mereka sebagai penyuka sastra dan agak sentimentil/melankolis sangat membantu dalam pemilihan diksi. Sayangnya, sifat dan karakter yang saya miliki bertentangan sekali. Saya penganut paham “Kalau kamu tidak bisa menjelaskan secara sederhana, berarti kamu tidak paham apa yang kamu tulis”. Karakter to the point mendorong saya untuk tidak luwes dan selalu berusaha menyederhanakan sesuatu.

      Posisi sebagai pihak ketiga, pengamat, menambah lagi hadirnya kebiasaan hanya membahas inti. Ujungnya saya selalu berusaha menyederhanakan apa yang ditulis.

      Haahh.. Tidak luwes itu masalahnya, padahal kalau soal perbendaharaan kata sih tidak masalah. Toh, saya juga seorang tukang baca. Cuma saat dihadapkan pada pemilihan kata, otak selalu terdorong memilih yang paling sederhana dan biasa dipakai saja.

      Hahaha.. perlu di-tweak sedikit lagi kayaknya.

      Iyah, cuma sejak dulu saya tidak gemar yang seperti itu. Tidak menantang karena cuma sekedar utak atik doang.. wkwkwkwkw.. Mungkin sesuatu yang berkaitan dengan teka teki realita dan kehidupan lebih menarik dari sudut pandang saya.. hahaha Makanya blog dijadikan ajang untuk mengasah otak ..

      Reply
    • Malu sebetulnya kalau dibilang diksinya kaya, karena jika saya melihat ulang dari kacamata pembaca, saya merasa perbendaharaan katanya juga itu-itu aja. Mungkin efek dari belajar menulis puisi, suatu metode bagi saya dalam menyampaikan sesuatu hal atau makna dengan bersembunyi, sehingga membuat–bahkan memaksa–saya untuk mencari kata yang bunyinya indah. Tapi akhir-akhir ini lebih sering membaca maupun menulis puisi prosa, dan otomatis kata-katanya terdengar lebih umum.

      Perkara ceritanya cenderung dark, saya selalu ingin menulis dengan variasi lain, khususnya nada riang, tapi dalam prosesnya sering gagal, dan tiba-tiba berkelok ke sendu lagi.

      Sebagaimana yang kita tahu, emosi negatif itu lebih kuat, dan entah disadari atau enggak, saya lebih gampang menumpahkan perasaan pada momen-momen nestapa itu. Namun, saya pernah menyampaikan ini di blog, bahwa diri saya perlu lebih tenang atau berhasil melewati kesedihan itu terlebih dahulu supaya bisa lebih jernih sewaktu mengedit unek-unek yang ditumpahkan dalam keadaan suram. Sementara itu, ketika lagi bahagia, biasanya mah cuma pengin menikmatinya. Jangankan ingat sama menulis, sekadar pamer di medsos juga terhitung langka banget. Barangkali saya tipe orang yang karakter tulisannya terasa lebih kuat di tema-tema gelap, sedih, atau negatif itu. Walau itu baru kesimpulan asal. Saya belum tahu gimana ke depannya.

      Reply
      • Kenyataannya memang begitu Yog.. Kalau baca tulisanmu memang diksinya variatif sekali.

        Kalau soal suram.. hemm.. buatku sih bukan dark yah. Menurutku sisi sentimentil bin melankolis dikau kuat sekali dan sepertinya segala sesuatu dipandang oleh “hati”. Hahahaha… Kalaupun dipandang sebagai dark menurut saya juga ga masalah karena masing-masing punya karakter.

        Justru kalau saya pikir mah, Yoga coba menjadi ceria dan riang akan membuat karakternya tidak keluar.

        Bisa kah berubah, ya bisa saja sih, hahahaha.. namanya manusia. Cuma kenapa harus diubah? Hahaha

  2. Duh saya lihat tulisan saya yang lama di blog remaja cantik.com kok saya justru takut sendiri takut dibullying netizen dan takut juga tulisannya dibaca sama Mak alay kampung tempat tinggal saya . Ya, makhlumlah tulisan saya dulu banyak curhat pribadi dan puisi cinta hingga akhirnya saya diserang netizen dengan bulying pedasnya.

    Reply
    • Kok bisa begitu…? hahaha sadis banget ya itu netizen kalau sampe puisi cinta saja dibully..

      Saya rasa mah ga perlu takut Tari. Kalaupun dikomentari pedes mah yah anggap saja angin lalu.. wkwkwkw itu sih gaya saya

      Reply
  3. Aku kadang-kadang iseng rapiin tulisin lama. Dibaca ulang terus dibenerin kalimat-kalimatnya. Suka malu sendiri kalo baca ulang tulisan lamaa hahaha
    Tapi bener sih, dengan direview ulang, jadi memperbaiki kesalahan masa lalu gituuu biar tulisannya lebih baik lagi ke depannya ya mas Anton.

    Reply
    • Kira kira begitu Friska, tetapi sebenarnya kita bisa lebih mengembangkan atau membuat lebih baik apa yang sudah ada. Bukan cuma kesalahan karena apa yang pernah kita tulis, kalau direview ulang seringkali ternyata bisa dikembangkan lebih jauh lagi.

      Reply
  4. Setuju sama Mba Fanny dan Mba Fris..
    Aku pun kalau melihat tulisan terdahulu juga kadang merinding 🀣🀣
    Tapi bisa melihat perbedaannya sih antara dulu dan sekarang. Bisa lihat perkembangannya meskipun masih jauh dan harus bisa lebih baik lagi.. haha.

    Jujur, pengen bisa nulis kaya Pak Anton. Sistematika sama bahasanya asikk buat di baca.. tapi pernah nyoba buat nulis kaya gini. Tapi malah jadinya sepaneng sndiri mikirin kalimat dan katanya. πŸ˜… karena diksiku belum banyak..

    Reply
    • Hahahaha.. merinding kayak lihat hantu gitu? Segitunyaaa… wakakakak tapi memang selalu mengejutkan untuk melihat tulisan kita yang lalu karena pasti mencerminkan kita di masa itu. Dari sana juga terlihat perubahan yang kita alami tanpa terasa..

      Wooiii jangannnn… tiru yang lebih baik saja. Jangan jadi ronin, nanti ada dua dan saya punya saingan.. wkwkwkwk Temukan jalan dan gaya menulismu sendiri Bay… hahahaha… Tidak usah pake teori ATM (Amati Tiru Modifikasi). Nanti malah ga nyaman menulisnya

      Reply
  5. Saya sering baca tulisan lama saya di blog, biasanya kalau ada komentar yang deep gitu, saya kan lupa apa yang saya tulis, jadi sebelum balas, biasanya saya baca ulang.

    Dan seringnya, saya takjub sendiri dengan tulisan saya di sekitar tahun 2018 dan 2019.
    Rata-rata, soooo Rey banget gayanya, namun tetap ada faedahnya biarpun hanya bercerita hal yang biasa banget dan dilihat dari pola pikir a la saya.

    Berbanding sekarang, ya ampooonnnn, kayaknya saya memang terlalu lelah, jadinya tulisannya udah semakin menurun, nulis aja gitu, jadi kek ngerumpi wakakakakak.

    Tapi kalau gaya bahasa, sejujurnya saya memang nggak mau ubah Pak, karena saya ingin punya gaya bahasa tulisan sendiri.
    Meskipun kadang juga pengen gitu belajar nulis yang serius dan pengambilan kata-katanya ga boros karena diulang-ulang.

    Kalau nulis gitu, biasanya saya pakai di media web lainnya kayak Kompasiana atau Kumparan πŸ˜€

    Reply
    • Intinya mah saya bukan mau berubah… Saya mau nambah, maklum orang serakah. Saya mau bisa beberapa gaya penulisan dan pengennya lancar saat harus beralih menulis dari gaya yang satu ke gaya yang lain. Maklum ternak blog banyak, jadi butuh banget.

      Hambatannya sekarang, peralihan itu masih kerapa terasa bermasalah, makanya saya masih akan terus mencoba mengembangkan diri dengan berbagai varian dan gaya penulisan..

      Intinya mah yah akan tetap sama.. hahahah.. serakah banget nih gue

      Reply
  6. Berhubung saya banyak waktu luangnya, ada masanya saya gemar baca tulisan-tulisan lawas buat evaluasi. Dulu ternyata sering banget menempatkan titik, yang menurut saya lebih pas jika pakai koma.

    Terus dalam satu paragraf tulisan saya hanya ada 1-2 kalimat, hingga suatu hari pernah ditegur sama seorang editor majalah. Dia menganjurkan 4-5 kalimat biar ideal.

    Saat itu saya tampaknya mengamini ajaran Hemingway, untuk menggunakan kalimat-kalimat pendek serta minimalis, tapi dengan dengan cara yang keliru. Bisa dibilang salah penerapan.

    Seiring waktu bergeser, saya lumayan sering baca kalimat-kalimat panjang, seperti dalam satu kalimat punya banyak anak, bahkan mungkin cocok disebut cucu, sebagaimana yang sedang saya terapkan ini, dan rupanya sah-sah aja selama bisa disampaikan dengan baik. Yang penting mah enggak keseringan aja, sebab bisa jadi pembaca akan kelelahan.

    Lalu, yang saya pelajari, sih, menulis juga ada iramanya begitu. Jadi, si penulis itulah yang tahu kapan harus menggunakan kalimat pendek maupun panjang, sesuai kebutuhan dia.

    Jika Pak Anton bermasalah dengan kata kunci gara-gara praktik SEO, beberapa tahun lalu saya justru pernah mau nangis karena gagal tes jadi penulis konten yang mengharuskan saya menempatkan kata-kata pilihan (kayaknya ada sekitar 8-10 kata kunci) yang mesti diulang-ulang itu menjadi artikel 500 kata. Dulu doyannya curhat aja, jadi enggak terbiasa dengan kata kunci, sekalinya disuruh praktik, malah tulisannya enggak nyambung blas. Haha.

    Reply
    • Masuk akal banget Yog… Saya sendiri sepertinya terpola dengan pemiiran bahwa untuk menulis di internet, sebaiknya kalimat dibuat singkat. Memang tidak salah karena berdasarkan pengalaman, tulisan-tulisan pendek dengan 1-2 kalimat perparagraf itu efektif dalam menyampaikan informasi.

      Cuma, kalau menurut saya, tidak berlaku umum. Bagi blog yang memakai pola media, cara itu efektif, tetapi begitu masuk ke blog lain yang seharunya “bercerita”, kebiasaan berpendek ria seperti itu menjadi sebuah masalah. Alur penulisan terasa terputus-putus dan tidak mengalir.

      Sayangnya, saya punya banyak blog yang butuh penanganan dan gaya menulis yang berbeda. Makanya saya harus mencoba menguasai dua gaya penulisan yang berbeda. Hambatan utamanya di situ. Dan, penjelesan Yoga memang disadari merupakan kelemahan saya di satu sisi.

      Justru saya mau meninggalkan pola tersebut sebanyak mungkin. Terus terang ga suka sebenarnya. Cuma apa mau dikata karena saat pertama kali ngeblog saya belajar banyak banget soal beginian, akhirnya bekasnya malah susah hilang.. hahahahaha

      Memang memakai teknik SEO itu bagus, tapi menghasilkan kelemahan juga dan bikin repot belakangan ini

      Disebut gaya begitu salah ya tidak juga. Sah sah saja mau pakai cara apapun untuk menulis di blog mah, cuma ada keinginan yang tidak bisa terealisasi.. Makanya saya masih terus berusaha memperbaiki diri. Kerennya mah berusaha menyeimbangkan antara kedua gaya itu

      Reply
  7. Ih, aku juga masih banyak kesalahan dalam menulis artikel. Penempatan tanda baca dsbg. Pkoknya harus banyak belajar lagi… dan, ini butuh waktu..

    Jujur saja, aku malah tak sanggup membaca ulang artikel2 sendiri yg sudah diposting…
    Satu waktu pas ada sempat, aku baca beberapa artikelku, dan benar saja, ada rasa malu…

    Ada rencana, jika punya wkt, pasti akan diperbaiki, spy kalau ada yg baca, gak jadi pusing 7 kelilingπŸ˜…

    Aku sering belajar dari beberapa blog teman. Salah satunya adalah pak bos MM ini.

    Dan, aku paling suka baca tulisan2 Nendra Rengganis. Ini pavorit ku. Aku gak pernah kapok, datang dan baca semua tulisan2nya. Banyak blajar dari tulisannya… keren bangeeeeeetttt…

    Mong ngomong, aku mau ngucap mt Idul Fitri nih pak bos, masih boleh? Dah telat banget ni…
    Biarin ajah iya,.. mt Idul Fitribpak bos. Mohon maaf lahir batinπŸ™

    Kuenya masih ada gak iya?

    Reply
    • Kuenya abiss.. wakakkaka Sama-sama ya Ike.. Mohon maaf lahir batin juga

      Kupikir memang seharusnya begitu Ike seorang blogger. Tidak berhenti belajar dan terus mengembangkan diri.

      Malu itu pertanda baik karena berarti sistem penilaian dalam diri kita bekerja dengan baik. Tinggal kan kemudian kita coba perbaiki yang membuat kita malu agar di masa depan, momen itu tidak terulang lagi..

      Iya ga sih?

      Reply

Leave a Comment