Rasanya, Menjadi Juri Akan Membuat Saya Lebih Baik

Selamat Malam Maniakers!

Sebuah fakta bahwa seorang manusia pada dasarnya adalah seorang penilai. Setiap saat dan setiap waktu ia akan melakukan penilaian, entah terhadap orang lain, sebuah peristiwa, atau banyak hal lain.

Kemampuan itu lah yang membuatnya bisa bertahan hidup. Tidak dimilikinya hal yang satu ini akan mengurangi kemampuannya untuk bisa survive atau bertahan hidup.

Dengan kemampuan itu, secara teori, bukanlah sesuatu hal yang sulit bagi manusia menjadi seorang penilai, atau seorang juri. Toh, ia memang melakukannya setiap saat.

Secara teori.

Dan, saya tahu sekali kalau seringkali pada kenyataannya, antara teori dan melakukan sendiri secara langsung itu seringkali tidak sama, berbeda. Teori memang selalu dibuat mudah supaya mudah dipahami dan tidak selalu mencerminkan fakta di lapangan.

Oleh karena itulah, saya ragu.

♦♦♦

Pertanyaan-Pertanyaan

Rasa itu memang ada di hati saya saat membaca sebuah e-mail dari Eno, the Creameno, seorang blogger yang kepopulerannya terus melesat.

Melalui surat elektronik itu, ia meminta bantuan saya untuk menjadi salah seorang penilai bagi ajang CR Challenge #1 yang diadakannya. Ia menanyakan apakah saya bersedia menjadi pembaca bagi tulisan semua peserta dan memberi nilai, seorang juri.

Sulit untuk tidak ragu. Saya tidak memiliki pengalaman sedikitpun dalam bidang nilai menilai dalam sebuah lomba. Bahkan, sekedar menjadi juri lomba makan kerupuk atau balap karung ajang 17 Agustus-an saja tidak pernah.

Ikut lomba saja malas, apalagi jadi juri.

Logika standar saya mengatakan, dengan nol pengalaman dan nol pengetahuan dalam bidang menilai tulisan, langkah paling baik adalah “menolak”. Tentunya, secara halus. Toh banyak sekali alasan bagus yang seketika berkelebatan di kepala.

Sulit untuk tidak merasa ragu karena saya sadar

  • saya tidak tahu cara untuk menilai dan sistem yang dipakai (mengingat penyelenggara event membebaskan jurinya untuk menilai)
  • saya tidak tahu apa yang harus dinilai dari sebuah tulisan
  • saya tidak punya standar nilai bagi sebuah tulisan

Tetapi, yang paling membuat ragu adalah pertanyaan, “Apakah saya bisa menilai secara adil?“. Prediksi saya mengatakan kalau para peserta yang ikut dalam lomba itu sudah saya “kenal”. Hampir semua tulisan mereka sudah pernah saya baca.

Saya sudah punya “penilaian” sendiri tentang siapa yang tulisannya terasa enak dibaca, bagus, dan berkesan.

Mampukah saya untuk memberikan penilaian tanpa terpengaruh pandangan yang sudah ada? Bisakah saya membatasi diri untuk menghilangkan “kesan/citra” yang sudah ada dari setiap peserta dan menilai hanya satu tulisan saja?

Bisakah saya jujur dan adil dalam menilai?

Saya tidak yakin.

Jeleknya, di sisi lain, saya merasa “excited” atau bersemangat, tertarik sekali. Sifat buruk dari seorang yang menyukai tantangan dan hal-hal baru karena di sana pasti ada banyak pengetahuan baru yang bisa dipelajari.

Lebih buruknya lagi, dalam sebuah pertarungan yang singkat dan tidak imbang, rasa tertarik itulah yang menang. Hanya butuh kurang dari 10 menit berpikir saja, jari langsung mengetuk keyboard bertuliskan, “Horee… Mau, dengan senang hati kalau dipercaya saya bersedia menerima tugasnya“.

Roda di kepala segera berputar karena ada banyak pertanyaan yang butuh dijawab segera.

Kalau saya mau menjadi juri yang baik dan tidak mengecewakan yang meminta bantuan.

♦♦♦

Jawaban-Jawaban

Berbeda dari biasanya, kali ini saya memutuskan untuk tidak mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu di dunia maya. Rasanya tidak akan banyak berguna, meskipun saya yakin pasti ada “teori” atau tutorial “cara melakukan penilaian”.

Tulisan seorang blogger adalah sudut pandang subyektif dari seseorang, jadi karya tulis yang dibuatnya pasti subyektif juga. Otomatis penilaian terhadap sesuatu yang subyektif akan subyektif juga. Tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya.

Lalu, mengapa saya harus mengikuti cara penilaian orang lain? Padahal, belum tentu sesuai dengan sudut pandang saya. Lagi pula, kenapa saya harus menealan teori penilaian orang lain kalau saya bisa membuat teori sendiri?

Akhirnya, saya memutuskan untuk berpaling ke diri sendiri. Bagaimanapun, saya, sebagai manusia adalah seorang “penilai” dan pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu.

Toh juga saya sebenarnya sering “menilai” tulisan kawan-kawan blogger tanpa disadari oleh mereka, atau diri saya sendiri. Saya hanya perlu menggali diri sendiri untuk menemukan apa yang saya mau.

Langkah pertama yang saya butuhkan adalah “Bagaimana saya mau menilai?“. pikir punya pikir, ada 2 opsi tentang hal ini yang muncul, yaitu

  • Pertama : bergantung sepenuhnya kepada intuisi dan perasaan saat menilai dan kemudian memberi angka pada “kesan” yang timbul
  • Kedua : meniru sedikit cara ahli forensik, mencari data dan fakta, dari tulisan yang dibaca (meski ujungnya tetap subyektif, tetapi setidaknya ada “fakta dan data” yang mendukung)

Saya memutuskan memakai cara yang kedua. Sedikit lebih ribet dan berbau teknis, tetapi saya pikir itu lebih pas. Cara ini juga akan menghambat pengaruh “pertemanan” masuk ke dalam penilaian. Sesuatu yang saya perlukan untuk menilai secara adil.

Selesai memutuskan cara, langkah selanjutnya adalah menemukan jawaban terhadap pertanyaan, “Apa yang mau saya nilai?

Banyak ide yang muncul, tetapi satu demi satu saya singkirkan karena mayoritas tidak bersifat teknis. Saya memutuskan untuk menitikberatkan pada masalah teknis.

Kesimpulan akhir, saya menetapkan 5 hal yang akan dinilai dari setiap tulisan, yaitu

  • Kesesuaian tema : mengingat ini sebuah “lomba” dengan tema yang ditetapkan, maka kesesuaian tema merupakan keharusan. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Tidak terpenuhinya poin yang satu ini menunjukkan peserta tidak membaca batasan yang sudah ditetapkan
  • Komposisi : sebuah tulisan yang baik, biasanya akan terdiri dari tiga unsur utama, pembuka, isi (pembahasan), dan penutup. Setidaknya itu yang saya yakini. Pengalaman saya menunjukkan sebuah tulisan yang baik akan terdiri dari 3 unsur ini dan rasionya “seimbang” (walau saya tahu bukan berarti semua bagian harus sama banyaknya)
  • Alur : sebuah tulisan adalah kesinambungan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain, satu paragraf dengan paragraf yang lain. Kalimat dan paragraf tidak berdiri sendiri-sendiri. Mereka harus menjadi satu kesatuan. Tulisan yang baik biasanya menyebabkan pembaca tidak merasakan “loncatan” antar kalimat dan antar paragraf. Oleh karena itu, alur penulisan saya rasa perlu dinilai karena tulisan yang enak dibaca biasanya karena alur penulisannya terasa mengalir dan bukan meloncat-loncat
  • Keterbacaan : tulisan yang enak dibaca adalah yang mudah dibaca dan dimengerti. Kalimat dan paragraf yang obesitas itu bikin kepala pusing untuk menemukan inti yang disampaikan. Pemakaian bahasa asing dan istilah yang sulit dimengerti mendatangkan kesulitan sendiri bagi pembaca karena perbedaan level pendidikan dan kemampuan.
  • Kesan : tulisan yang “baik” biasanya diberi label “baik” pada dasarnya karena tulisan itu menghadirkan kesan “tertentu” dalam diri si pembaca. Kesan yang biasanya akan diingat dan tertinggal dalam hati setelah membaca. Jadi, unsur yang satu ini tetap perlu dinilai, meski tidak lagi 100% dibandingkan cara pertama, hanya 20% saja dari keseluruhan

Tata bahasa, PUEBI dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah hal penting, tetapi karena ini di dunia blogger dan bukan ruang kelas atau perkuliahan, saya putuskan untuk diabaikan.

Penilaian terhadap tata bahasa dan tetek bengeknya berlawanan dengan yang saya yakini bahwa dunia blog adalah dunia bebas, dimana setiap orang bebas berekspresi dengan caranya.

Berdasarkan pemikiran inilah, saya membuat lembar penilaian sederhana dengan Excel, seperti di bawah ini.

Setiap unsur yang dinilai akan mendapat angka maksimum 20, nilai tertinggi.

Nilai terendah yang saya tetapkan adalah 10, bukan nol (0). Kenapa? Karena saya memandang, seorang blogger yang sudah menulis dan mengikuti lomba sudah menunjukkan semua hal yang dibutuhkan seorang blogger, kemauan menulis dan keberanian. Dengan memiliki kedua hal itu, seorang blogger sudah memiliki 50% hal yang dibutuhkan.

Total nilai adalah akumulasi penilaian semua unsur.

Dengan selesainya tabel penilaian ini, saya sudah memiliki perangkat sederhana untuk melakukan penilaian. Langkah yang akan dilakukan sudah cukup jelas, meski belum 100 persen.

♦♦♦

Proses/prosedur

Apakah saya langsung menilai? Tidak juga. Saya masih memiliki sebuah pertanyaan, “Bagaimana saya bisa menilai secara adil dan jujur?

Pengalaman saya mengatakan

  • Kesan pertama begitu menggoda” adalah benar adanya. Belajar dari pengalaman memotret penilaian saya sering kurang berimbang saat pertama kali melihat sesuatu. Kadang terlalu tergoda sehingga terlihat bagus, kadang terlalu memandang jelek
  • ketika saya membaca sebuah tulisan yang menarik atau terlalu buruk, akan menyisakan kesan, mirip cache, di otak saya . Setelah membaca sebuah tulisan yang menarik dan berkesan, tulisan berikutnya yang sebenarnya tidak jelek, bisa terasa lebih buruk karena kesan sebelumnya masih melekat di kepala dan hati

Keduanya rentan mempengaruhi penilaian saya. Jika saya membaca tulisan yang bagus, ada kemungkinan saya akan memandang “jelek” tulisan selanjutnya melebihi seharusnya. Begitu juga sebaliknya.

Akhirnya, saya membuat sebuah prosedur kecil saat menilai, seperti

  • Pada tahap pertama, ada dua ronde/putaran membaca yang harus dilakukan
  • Ronde pertama, saya hanya membaca dari satu tulisan ke tulisan lain dengan jeda 3-5 menit antar tulisan untuk membuang “cache” tulisan sebelumnya. Saya berperan murni sebagai pembaca saja
  • Ronde kedua, saya membaca dan memberikan penilaian, tetap dengan jeda antar tulisan 3-5 menit
  • Membaca di ronde kedua bukan hanya membaca, tetapi juga menemukan kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga proses membacanya lebih lama dari membaca di ronde pertama
  • Hasil penilaian dicatat dalam kertas kecil dan tidak dijumlahkan, baru setelah penilaian terhadap semua tulisan masuk, data dimasukkan ke dalam tabel di komputer dan dijumlahkan

Catatan : untuk ronde sendiri dibagi 3-4 sesi membaca dimana setiap sesi maksimum 5 tulisan agar tidak terlalu lelah yang bisa mempengaruhi penilaian

  • Tahap kedua, data yang ada di tabel disortir dan diurutkan untuk memilih 5 nilai teratas. Kalau ada 2 atau 3 tulisan yang memiliki nilai sama, semuanya tetap masuk tahap kedua
  • Pada tahap kedua, tulisan yang memiliki 5 nilai teratas akan dibaca kembali untuk melakukan evaluasi penilaian
  • Nilai dikoreksi, diperiksa, dan disortir lagi untuk menentukan tulisan yang berada di 3 peringkat teratas

Prosedur kecil di atas ditambah dengan aturan bagi diri sendiri, seperti

  1. tidak berkomentar di tulisan yang dilombakan terkait bagus tidaknya tulisan (kadang hanya sekedar berbasa basi saja)
  2. tidak membuka halaman lain di blog yang dilombakan, kecuali halaman “Tentang” untuk mendapatkan nama lengkap agar penilaian murni tulisan yang dilombakan
  3. tidak mau diajak ngobrol saat menilai (termasuk sama si Yayang)
  4. tidak membaca dengan teknik scanning atau skimming, saya membaca kata perkata

Ketika tabel penilaian dikirimkan ke penyelenggara event, Creameno, penjelasan singkat tentang proses dan prosedurnya dimasukkan ke dalam tabel. Tujuannya agar penyelenggara mengetahui cara dan proses penilaian yang saya lakukan.

Ribet yah?

Memang, saya akui, tetapi saya pikir tindakan rumit seperti ini akan membantu mendapatkan hasil penilaian yang bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, yang paling penting dari semua keribetan yang saya buat sendiri di atas adalah saya bisa tenang dan lega. Saya sudah melakukan semua yang terbaik yang bisa saya kerjakan dalam menjalankan tugas yang diberikan.

Dan, saya tidak “ragu” lagi tentang itu.

Terlepas dari apakah hasilnya mengecewakan atau tidak, setidaknya saya sudah melakukan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Begitulah kira-kira cara saya menjadi juri pada ajang CR Challenge #1 yang baru lewat.

♦♦♦

Penutup

Kurang dari satu jam setelah saya mengirimkan email berisi hasil penilaian, seorang pengendara Gojek berhenti di depan rumah. Saat dihampiri ia mengatakan ada kiriman PHD Family Set untuk saya.

Bingung karena saya tidak merasa memesan.

Ketika ditanyakan siapa pemesannya, ia mengatakan, “Dari Creameno, Pak! Sudah dibayar“.

Langsung kepala saya otomatis menggeleng-geleng . Ketika membuka email, rupanya ada email darinya bahwa ia mengirimkan satu paket pizza sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan saya.

Meskipun saya mengerti mengapa kiriman itu datang dan tetap merasa senang menerima perhatian dari seorang kawan, saya merasa hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Bukan hanya karena saya menerima tugas itu tanpa berharap apa-apa, tetapi juga sudah ikut merasakan kegembiraan, dan tentunya mendapatkan tantangan. Namun, yang paling utama, saya merasa justru mendapat keuntungan besar dari tugas ini.

Saya mendapatkan banyak pengetahuan yang banyak.

Prosedur dan cara penilaian yang saya buat sendiri akan sangat membantu dalam menemukan berbagai kelemahan yang ada dalam tulisan saya.

Selama ini memang saya selalu berusaha menilai ulang tulisan-tulisan yang pernah saya terbitkan, tetapi caranya masih agak serampangan dan tidak metodis. Pengalaman menjadi juri dalam ajang ini seperti mengajari saya untuk menilai dari beberapa aspek dan sudut yang berbeda.

Sesuatu yang sangat menguntungkan dan rasanya bisa membuat saya menjadi seorang blogger yang lebih baik lagi.

Sesuatu yang selalu saya harapkan bisa terjadi.

Jadi, kalau ada yang bertanya kesan-kesan menjadi anggota tim penilai tulisan di CR Challenge #1, jawaban saya cukup satu kalimat.

BANYAK SUKA, NOL DUKA.

30 thoughts on “Rasanya, Menjadi Juri Akan Membuat Saya Lebih Baik”

  1. Halo, Pak Anton.
    Untuk kali pertama, saya komen nih 😀 Selama ini silent reader melulu.

    Terima kasih yaa, udah menjadi juri di CR Challenge by creameno. Saya excited banget buat ikutan, karena hawa “hangat”-nya silaturahim online tuh berasa bangettt di ajang ini.

    Dan untuk kali pertama, saya senaaanggg banget dengan kontestasi ini. Siapapun yang menang, pastinya memenuhi kualifikasi, dan ikutan bangga bahagia. selamaat buat kita semua 😀

    Reply
    • Hola Nurul… Hahahaha.. ga dilarang kok mau jadi silent reader juga. Sudah makasih banget mau baca.. hahahaha

      Iyah, bener, semuanya excited banget, termasuk saya. Senang banget….pertemananannya terasa banget.

      Tidak salah Nurul, saya juga senang banget bisa ikutan, meski dalam bentuk lain.

      Jadi, dikau ikutan lagi kan di challenge berikutnya? … haha..

      Reply
  2. Iya metode yang digunakan terlihat cukup adil bahkan bisa dibilang pas, bisa jadi panduan bagi siapapun yang ingin jadi juri dimanapun. Saya dukung Pak Anton bila ingin dijadikan juri lagi 🤣

    Reply
    • Dukung dukung.. pasti berat loh, soalnya saya banyak WFH jadi makan wae.. berat badan tambah terus..

      Makasih mas Jaey, saya rasa semua juri punya cara penilaian sendiri sendiri yang sama baiknya

      Reply
  3. Ahhh, Kak Anton memang cocok banget jadi juriiii CR Challenge kemarin! Detil sekali penilaian dan pemikirannya. Bahkan juri dalam perlombaan lainnya belum tentu pemikirannya sedetil ini 😂. Memang Kak Anton nggak pernah setengah-setengah dalam bekerja ya, keren 🤟🏻

    Reply
  4. Wuah. Objektif sekali pak menilainya. Alkisah dulu waktu kuliah saya pernah jadi juri-juri-an untuk lomba menulis (untuk komunitas fiksi, dan non-profit tentu sadja). Standar penilaiannya hampir mirip dengan tabel yang diberikan Mas Anton di atas, tapi ada catatan pengurangan poin dan penambahan poin untuk bagian apa saja.

    Namun satu hal yang salah saya lakukan, yaitu mengatur waktu baca agar tetap objektif. Cara Mas Anton di atas keren, mengetesnya satu per satu dan berkali-kali dengan jeda waktu yang adil. Kalau saya dulu, dihabisin sekali jalan karena mikir “biar cepet beres dah”, tapi sadar sekali kalau itu sangat berpengaruh pada kualitas menjuri. Satu karya bisa berpengaruh pada penilaian karya yang lain, kesan kita juga bisa berubah.

    Jadi juri bukan keahlian tiap orang, dan kayaknya saya enggak deh. Soalnya abis itu berasa banget pusingnya huahahah mungkin karena metodenya salah juga. Tapi salut banget dengan Mas Anton yang justru menjadikan momen menjuri ini sebagai ajang untuk menilai tulisan sendiri juga.

    Selamat makan pizza! (Eh, udah abis ya?)

    Reply
    • Hahahaha… pinginnya obyektif, tetapi pasti akan tetap subyektif.. wakakakakakaka

      Menurutku sih nggak salah Meg. Bagaimanapun situasi dan kondisi juga menentukan. Mungkin saat itu karena keterbatasan waktu atau gimana Mega ambil jalan yang itu. Penjurian, belajar dari sini sih saya pikir juga akan menyesuaikan dengan sikon. Kebetulan saja saya pikir waktu agak banyak jadi saya coba tambahkan beberapa yang bisa membuat hasil bisa dipertanggungjawabkan.

      Kalau soal pusing, ya tetap pusiaaang.. wakakakak.. karena tetap saja bukan hal yang mudah untuk menilai hasil karya tulis seperti itu. Apalagi baru pertama..

      Heem.. iyalah saya pikir tidak fair kalau sekedar bisa menilai orang lain tetapi tidak bisa menilai diri sendiri. Jadi lah saya coba terhadap tulisan sendiri dan hasilnya .. eh.. wakakaka tulisan saya jelek ternyata..

      Udah abis pizzanya.. hahaha senang banget kita bertiga di rumah

      Reply
  5. Mas Anton lulusan sastra kalau tidak salah ingat, cocoklah jadi juri lomba tulis menulis. Sudah cocok jadi dosen penguji itu mas :))

    Bahkan gojeknya saja bilang dari “Creameno” ya…hahaha

    Reply
  6. emang pusing pak ya jadi juri hehe
    saya cuma beberapa kali itu pun lomba anak anak pas ngajar dulu
    seobyektif kita dan semampu kita mendekati poin penilaian kok kadang ada rasa bersalah dan engga pas
    apalagi kalau penilaian kita jauh banget sama juri yang lain haha
    tapi ya gimana CMIIW

    makanya saya lebih suka jadi penggembira saja hihi

    Reply
    • Memang ga semudah yang dikira.. Bener banget tuh, selalu hadir pertanyaan apa nilainya sudah pas belum yah.. hahaha..

      Untungnya, saya kemaren ga tau siapa juri lainnya, jadi ga mikir banyak.. hahahahaha

      Ikutan jadi penggembira ah… bagian hore hore kayaknya memang paling menyenangkan yah..

      Reply
  7. Gils gils gils!!
    Kak Eno sungguh handal mencari sekutu buat jadi tim penilai! Mantaaapp!!!

    Aku sih bakal subjektif buat bilang ini, tapi memang Mas Anton yang pantes sih jadi juri. Tuh liat aja, cara nilainya aja ribet beud, heu~
    Aku mah ikutan aja challenge nya biar jadi penghiburmu mas, kali aja 1-2 paragrafku membuatmu jengkel 🤪

    Eits.. siapa bilang Mas Anton g punya pengalaman jadi juri? Nah itu, pas bikin gipeway dengan sejuta emoticon, siapa yang menilai oy? Si kribo? Si yayang? Kagak mungkin! Manapula tukang siomay depan rumah disuruh menilai, ah Mas Anton ngadi-ngadi 😆

    Reply
    • Kurang menghibur Pit, bengalnya kurang.. wakakakakaka… Kurang kayak’e Pit tuk bikin aku jengkel mah.. dosisnya kudu ditambah..

      Ehh bener juga yah.. wakakak ga kepikir itu sejenis lomba. wakakaka Kurasa itu tukang sayur deh Pit yang milih

      Reply
  8. Engkong & Mbak Fanny Jadi Juri?? 😳😳

    Oohh itu saya sudah tahu sejak awal mbak Kareen mengumumkan para pemenang lomba diblognya.😊😊

    Dan jawaban saya sama kok seperti para komentator lainnya…Jadi apakah kong Anton & Mbak Fanny pantas jadi Juri? Sangat pantas kalau menurut saya. Dan mbak Kareen pun menunjuk orang yang tepat untuk menjadi Juri, Untuk menilai sayembara yang selalu ia buat diblognya.

    Kenapa kong Anton & Mbak Fanny pantas sebagai Juri.?

    Sederhana saja jawaban saya.

    1. Kong Anton…Punya wawasan baca & tulis yang boleh dikatakan cukup mumpun, Selain itu beliau juga pernah menjadi sekertaris Rt dilingkungannya…Memang tidak ada hubungannya tetapi mengurus warga dilingkungan itu tidak mudah, Perlu kesabaran dan keadilan dan dengan begitu mungkin kong Anton punya wawasan yang kian bertambah dalam menilai warga2 pada lingkungannya apa lagi cuma jadi Juri blog setidaknya enak tidak enak pastinya beliau punya pandangan lebih dan pastinya paham akan adanya letak keadilan.

    2. Mbak Fanny pun Demikian beliau punya wawasan luas tentang lingkungan dan jiwa membacanya pun sangat tinggi. Semuanya selalu ia torehkan pada sebuah blog yang ia miliki.

    Jadi keduanya saya bilang mau jadi Juri betulan kek…Juri2an sekalipun kalau mau ditekuni keduanya bisa diandalkan terutama kong Anton.

    Karena diluaran sana banyak Juri2 hebat namun mereka tetap manusia juga, Dan tentunya punya kekurangan serta kelebihan, Nah begitupun kong Anton & Mbak Fanny.😊😊 Jadi untuk keduanya bagi saya sangat pantas jika untuk jadi seorang Juri.👍👍

    Eeehh gw juga pernah dulu sewaktu di MWB jadi Juri lomba karoke, Yaa karena suka musik jadi mauan aja disuruh jadi Juri benar apa nggaknya tahuuu deehh!!..🤣 🤣 🤣

    Lagian siapa pula tong yang nanya luh….Mau jadi apa juga EGP..🤣 🤣 🤣

    Reply
    • Ya iyalah Tong.. gue juga baru tahu Fanny jadi juri lewat pengumuman.. wakakak sama kita..

      Kayak’e dikau juga pantas jadi juri. Komentar lu di atas menunjukkan elu juga orangnya banyak perhitungan dan pertimbangan.. wakakak pantas lah jadi juri, tapi khusus lomba kecantikan kayaknya. Soalnya kalau liat instagram elu kan elu sedang coba menjadi “cantik” yah.. wakakaka

      Mbak Fanny itu jelas pantas banget lah… juga gue pikir dua sohibul Eno pasti ga sembarangan.

      Eh.. elu jadi juri lomba karaoke, yang elu nilai apanya Tong, suaranya atau bodynya? Kasih tau dong tong

      Reply
  9. uda mbatin pak anton jadi yuri…soalnya jarang banget aku ngematin si bapak komen di post post kawula muda (maksudna peserta yang bada ikutan) hihi..tau tau di kolom komen ada pak anton, mba fanny, dan lainnya komen yang aku yda oredijsikan oasti ini nganu nih…nah kan bener nganu ngejuriin…si mbul gitu loh wkwkkw

    proses penilaiannya sungguh sangat terstruktur sisitimatis dan masif #bahasa opo iki yo mbul…maksudnya dipikirkan betul dengan matang…mencerminkan oak anton orangnya sangat bertanggung jawab dan amanah jika dipasrahi tugas.. next time nek aku ikutan paling nilaiku 10 ya oal..10 dari 100 muahhahahahahh

    kemaren aku telat baca inponya sih jadi kelewat deh mau ikutan hiks hiks hahahha…

    tapi aku jadi salfoks ama phd nya dong huhu..

    Reply
    • Waduh si Mbul ternyata bisa meramal masa depan.. tolong dikasih tau dong bonus keluar ga nih.. wakakakak

      Hahaha.. kebiasaan sih Mbul karena kalau dikasih tugas kan saya dikasih kepercayaan, jadi ya eman-eman kalau kepercayaan yang diberikan disia siakan..

      Nggak Mbul, saya pikir seorang blogger yang sudah mengikuti lomba, berarti ia berniat serius dan saya sih ga bakalan kasih 10 dari 100. Kan dah saya jelaskan di tulisan.. ahahhaha.. saya sangat hargai kok keberanian dan kemauan. Lagi juga saya ga yakin Mbul cuma dapet 10 doang mengingat kemampuannya.

      Next time ikut yah.. Tenang saja, saya ga akan jadi juri wakakakakaka

      Bungkus doang.. wakakakak isinya dah abis

      Reply
  10. Mantullll 🙌🏼 nggak heran memang Mba Eno memilih duo maut Mas Anton dan Mba Fanny sebagai juri CR Challenge #1 yang lalu 😀

    Jadi juri memang nggak mudah ya, Mas. Bias harus dikesampingkan dan penilaian harus adil-seadilnya. Jangankan penilaian event sebesar ini, milih pemenang giveaway aja rasanya kepengen semua dimenangin tapi ya gak gitu ceritanya 😆

    Nggak kebayang riweuh-nya Mas Anton dan Mba Fanny harus membaca 25 tulisan sekaligus dan memberikan nilai seobjektif mungkin. Saya baru baca beberapa tulisan yang diikutsertakan lomba dan menurut saya semuanya baguss. Cuma memang tulisan sang juara bagusnya ‘berbeda’ sih ya *sotoy ah* wkwkwk 😝

    Reply
    • Hahahaha.. Yang mantul itu Eno. Dia sudah bikin sistem yang memastikan penilaian seadil mungkin. Sejak awal dia sudah membentuk itu cuma belakangan sepertinya makin terarah dan tajam sekali.

      Iyah, memang tetaplah kita manusia dan punya “rasa”. Makanya memang buat saya sih ga gampang banget menyisihkan perasaan seperti itu saat menilai.

      Menyenangkan kok Jane. Saya juga ga menyangka bahwa bisa enjoy dan menikmati prosesnya. Malah ikut bergembira banget.

      Hahahaha… berarti Jane bakat jadi juri tuh.. maybe next challenge Jane yang akan didapuk jadi juri loh

      Reply
  11. Halo Pak Anton, terima kasih atas tenaga, waktu, dan pikiran yang sudah diberikan untuk menilai (salah satunya) tulisanku di CR Challenge #1. Jujur nggak nyangka bisa ada di sepuluh teratas hehehehe.

    Setelah baca tulisan ini jadi makin respect ke Pak Anton, menurut aku ini transparan banget. Aku kayak…waw nggak main-main risetnya (ya iya!). Udah sih Pak nggak tau mau ngomong apa lagi hehe, sekali lagi terima kasih.

    Reply
    • Hola Endah.. nobody knew sampe pengumuman keluar hahahaha.. Kamu mendapat nilai bagus karena memang kamu bagus.Terima kasihnya seharusnya ke Eno karena dia yang sejak awal ingin memastikan bahwa penilaian dilakukan seadil mungkin. Contohnya saja ada 5 juri jadi memang sejak awal sudah diusahakan seobyektif mungkin.

      Saya pikir, juri-juri yang lain, termasuk Eno sendiri, Mbak Fanny, dan teman-teman Eno yang paling pantas mendapatkan respek . Eno memastikan sistemnya dan juri yang lain dengan metode masing-masing memastikan penilaiannya berlangsung adil bagi semua peserta.

      Next time, ikut lagi yah.. nanti juri yang berbeda yang akan memberi penilaian. Bagus loh untuk menilai kemampuan diri sendiri.. hahahaha

      Reply
  12. Sedikit mirip caraku menilai sama Ama kamu mas :D. Tapi kriterianya ada yg berbeda.

    Awal diminta, aku malah bilang iya hahahaha. Ntahlaaah, mungkin Krn aku suka baca kali yaa, jd kalo disuruh menilai tulisan teman2, yang notebene aku harus membaca, satu persatu, itu justru kegiatan yg aku suka banget.. makanya aku ga terpikir untuk menolak :D.

    Masalah menilainya, dari awal udah kebayang pakai kriteria seperti apa. Aku menempatkan diri sebagai pembaca biasa. Apa tulisan itu bisa menarik minatku, apa aku bisa ngerti ama isi tulisannya, ga terlalu bertele2, sesuai tema ato ga. Tema meminta 2 skill, tapi yg ditulis 1, sayang jadinya. Nilai harus berkurang :). Tapi sebaliknya, kalo malah ditulis lebih dari 2, buatku itu extra effort :).

    Kemarin itu aku ngebayangin juga saat masih jadi team leader di kantor. Tiap tahun pasti aku hrs menentukan anakku yg mana yg akan aku ksh nilai terbaik untuk performancenya. Dan itu semua ada pilar2 kriteria yg harus mereka penuhi, dengan nilai2 yang udah ditetapin pusat. Siapa yg performancenya mendekati semua kriteria nya, itu yg akan dapet outstanding performance :D. Itu aku terapin ke penilaian lomba CRLand ini.

    Reply
    • Kupikir memang mayoritas juri akan melakukan cara yang sama. Beda kriteria juga sudah diduga kok karena seperti kusebut adanya perbedaan selera, cara pandang, dan sebagainya.

      Tapi justru itu yang aku pikir diperlukan karena penilaian semuanya menjadi berimbang dan justru membuatnya semakin adil.

      Nah kan caranya mirip lagi karena saya juga sedikit kembali mengingat masa dulu saat dimana saya harus menilai rekan-rekan di tim kerja.

      Tulis dong Fan cara penilaianmu karena kupikir hal itu akan sangat bermanfaat bagi rekan-rekan yang nantinya bertugas sebagai penilai di challenge-challenge berikutnya atau siapa tahu di berbagai lomba lainnya. Dengan begitu kan mereka bisa mengembangkan kriteria penilaiannya sendiri-sendiri.

      Begitu tahu Fanny yang menilai, kupikir sih hasilnya akan sangat fair..hahaha seriously.

      Reply
  13. Wahhhh kerenn banget Pak Anton.. sedetail itu.. mancapp… tapi makasih buat masukannya kemarin.. it means a lot for me pak.. heheh 😅😅

    Ternyata dibalik penjurian ada banyak aspek yg dilibatkan yh pak.. 😆 tapi seru tau pak… makasih banyak sebelumnya pak… jangan nyerah yah kalau semisal dimintai pwetolongan sama Mba Eno.. wkwkwk 😆😆

    Nntikan saya dan kami di Challenge2 berikutnya.. hihi

    Reply
    • Hola Bayu.. wkakaka.. keren apanya.. Saya dalam hal ini memang juri pemula, jadi masih banyak banget butuh belajar. Iyah saya pikir kalau kita harus menilai, tidak bisa asal asalan. Mbak Fanny pun punya cara yang kurang lebih mirip.

      Iya memang seru tau, baik ikut challengenya atau jadi jurinya. Saya juga menikmati dan belajar banyak banget dari CR pertama.

      Makasih kembali Bayu, itulah guna punya teman.. walau yang nyebelin kayak saya….wakakak

      Siaap.. saya memang selalu menantikan saat itu datang karena berarti banyak tulisan yang menarik dari kawan kawan

      Reply

Leave a Reply to Jane Reggievia Cancel reply