Ukuran Font Tidak Sama, Tergantung Jenisnya

Selamat Pagi Kawan MM!

Semoga semua selalu dalam keadaan sehat wal’afiat dan bersemangat untuk berkarya hari ini. Kebetulan saya sendiri masih dalam masa WFH sampai “entah kapan”, jadi punya waktu untuk menerbitkan blogpost di pagi hari sebelum bekerja.

Sedikit berbagi saja tentang masalah ukuran font.

Mungkin, Kawan tidak menyadari hal ini saat mengganti jenis font, pergantian tersebut pada dasarnya bukan hanya mengganti jenisnya saja tetapi juga ukuran font-nya. Misalkan, font yang sebelumnya dipakai Roboto dan kemudian diganti menjadi Verdana, tanpa mengubah ukurannya. Banyak pastinya dari kita berpikir ukurannya tetap sama. Padahal, tidak begitu juga.

Coba perhatikan beberapa font yang ada di bawah ini. Ukurannya semua sama.

Roboto
Work Sans
PT Sans
Verdana

Kesemuanya memakai ukuran 16, tetapi bisa terlihat bahwa ukuran PT Sans terlihat paling kecil. Hal itu bisa terlihat pada bagaimana kata dalam sebuah kalimat digeser ke baris berikutnya karena ruang sudah habis.

Sekali lagi, semua font ini disetting menggunakan ukuran yang sama, line-height yang sama, alias sama semua settingnya. Bedanya hanya pada jenis huruf saja.

Kenapa hal ini perlu diperhatikan? Kalau mau saja sih, tidak ada yang memaksa. Tapi, perbedaan ini akan lumayan terasa di perangkat mobile karena ruang yang terbatas, pemakaian jenis huruf yang berbeda bisa menentukan apakah ruang baca “terkesan” luas atau sempit.

Huruf Verdana akan cenderung membuat kalimat terkesan pendek-pendek di ponsel atau smartphone dibandingkan PT Sans.

Pemilihan jenis font juga bisa menentukan apakah sebuah paragraf terlihat menumpuk atau tidak, lebih gemuk atau tidak. Contohnya, PT Sans untuk paragraf yang sama hanya terdiri dari 3 baris, tetapi kalau memakai Verdana menjadi 4.baris.

Pada akhirnya, saya pikir akan berpengaruh, selain pada urusan “kesan”, adalah nyaman atau tidaknya. Huruf yang menimbulkan kesan “besar” memang enak dibaca, tetapi kadang merepotkan karena harus scroll lebih sering, setiap barisnya pendek-pendek. Sebaliknya, yang berkesan “kecil” akan mengurangi seseorang melakukan scroll.

Kenapa bisa begini? Yah, karena sering kita tidak menyadari bahwa semua huruf memiliki hal-hal yang berbeda, seperti

  • lebar : setiap huruf berbeda dalam hal lebarnya (ketebalan garisnya). Kalau cuma satu memang terlihat kecil dan bisa diabaikan, tetapi ketika ada ribuan huruf (karakter), maka yang perbedaan lebar yang sangat kecil itu terakumulasi jadi sesuatu yang lumayan dan menentukan. Yang memiliki lekuk cenderung memakan ruang sepersekian mili lebih banyak
  • tinggi : tinggi setiap huruf juga berbeda, tidak sama persis. Hasilnya meski setting line height sama, hasilnya tetap berbeda juga

Untungnya saya memakai WordPress dan Theme GeneratePress yang gampang diatur. Untuk mengecek tampilan setelah pergantian huruf hanya butuh satu dua klik saja. Tidak terbayang kalau harus mengganti font di Blogspot. Bahkan saya bisa membuat ukuran font di desktop dan di perangkat mobile berbeda.

Maaf bukan promosi, tapi memang kenyataannya memudahkan sekali mengganti jenis font atau ukuran di WP.

Untuk Blog MM, saya memutuskan menggunakan PT Sans. Bukan karena yang paling kecil dan langsing, tetapi karena di kedua perangkat bisa memenuhi unsur

  • terbaca dengan mudah (pada ukuran 16) pada berbagai perangkat
  • ruang terasa luas
  • tidak terlalu “gemuk” dan makan tempat
  • tidak banyak lekukan (karena sebenarnya lumayan melelahkan mata bacanya)

Nah, jenis font apa yang Kawan pergunakan? Berapa ukurannya?

16 thoughts on “Ukuran Font Tidak Sama, Tergantung Jenisnya”

  1. Hihihi udah dari kemarin sadar bahwa font di blog ini berubah, jadi lebih gemes 🤣
    Di blog Si Anton juga berubah ya, Kak hahaha. Keduanya jadi lebih enak dibaca dan benar kata Kakak, less scrolling.
    Kalau di blogger, cukup ribet kalau ingin ganti font karena harus bolak-balik apply-lihat blog untuk menyesuaikan tampilan sesuai yang diinginkan 🤣
    Di blogku sendiri, kalau nggak salah nama font yang aku pilih namanya Noto Sans. Dan aku sadar, berbeda font dan meski ukurannya sama, tapi hasilnya beda-beda. Ini yang membuatku memilih Noto Sans sebagai font karena lucu dan agak menghemat tempat hahaha.

    Reply
    • Hahah udah ada yang nyadar rupanya… Wekkks.. bukan niat gemes hahah.. cuma kayaknya pas ajah wat blog bertipe personal. Iyah, di sana juga saya pakai PT Sans..

      Nah kan kalau di Blogger emang ribet, belum harus buka coding.. 😛 #dasar orang males yah..

      Ohh sodaraan yah pake yang noto… hahahaha tapi bener bukan karena lucu dan gemes hahaha.. saya baru tau ada kriteria seperti itu saat memilih font..

      Reply
  2. Yang sekarang font-nya lebih simple mas, nggak terlalu makan tempat 😍 hehehehe, dan font yang saya pakai namanya Open Sans 😆

    Kayaknya agak mirip sama font-nya mas, sebelas dua belas. Semisal nggak saya check barusan font apa yang saya gunakan di blog saya, saya akan mengira blog saya pakai PT Sans juga hahahahahaha 😂

    Mungkinkah font yang belakangnya sans saudaraan semua? 😁

    Reply
    • Iyah, saya rasa juga begitu. Bagian tidak makan tempat itu poin utamanya karena setelah melihat postingan sendiri di ponsel, kok kayaknya maka tempat banget. Jadilah saya coba coba

      Kalau ga salah metode pemberian nama font itu sans itu “kelas”, jadi huruf-huruf yang memakai nama sans ada dalam keluarga yang sama (punya ciri khas sama). Nah nama depannya itu “creator” atau nama yang diberikan penciptanya , jadi kalau PT sans misalkan, font kelas sansserif yang dikeluarkan oleh Paratype (ada PT Mono PT serif PT sans)

      Reply
  3. Wah ini niih, kadang merasa gini juga. Memang kelihatan di web enak-enak aja, tapi kalau baca di mobile jadi kayak makan tempat. Ternyata sepenting itu yaa memang memperhatikan font tuh 🙈

    Belakangan aku malah memperhatikan paragraf. Jadi kalau lihat di preview versi mobile kayak kepanjangan, langsung dipecah lagi haha. Mungkin nanti bakal ngutak-atik font lagi deh, biar lebih enak dibacanya.

    Btw font di MM sekarang juga enak Mas Anton, kerasa lebih ramping tapi ga padat gitu lho hehe

    Reply
    • Penting ga penting sih, soalnya tetap saja akan selalu ada yang merasa suka dan nggak suka. Ada yang suka gede-gede, ada yang suka imut-imut. Jadi, yah masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Saya sih hanya memperhitungkan sisi tampilan di mobile yang rasanya kok jadi padet banget, makanya saya merubah font.

      Kalau paragraf, saya membatasi hanya 2-3 kalimat saja karena kalau lebih cenderung menumpuk. Kadang malah 1-2 kalimat saja kalau agak panjang. Semua untuk menghindari paragraf gemuk.

      Asyikk makasih loh Eya…

      Reply
  4. Membaca komentar Kak Lia saya malah nggak sadar lo kalau font di blog MM berubah. Tapi sebenernya agak terasa karena biasanya kalau baca saya nggak perlu nyipit-nyipitin mata, sekarang sampai harus zoom in manual dari Chrome hehehehe.

    Sebagai pengguna Blogger saya jadi tertohok nih, huhu, apalagi kalau template-nya bukan template bawaan alias masang sendiri. Kebayang deh kalau mau ganti font kudu otak-atik HTML dulu. Sungguh sebuah perjuangan menjadi blogger di blog berbasis blogspot, haha!

    Dulunya Mas Anton juga sempat ngerasain nggak gonta-ganti font sendiri dengan berkali-kali klik? 😀

    Reply
    • O yah.. Eva baca lewat komputer atau mobile, nanti coba saya sesuaikan lagi kalau terlalu kecil. Kayaknya lewat komputer yah. Padahal ga diubah itu ukurannya.

      Nah, saya dulu ya ngalamin juga. Maniak Menulis kan pernah ngekos di blogger, makanya bisa bilang dengan yakin kalau di Blogspot itu ribet dan pusing kalau mau gonta ganti huruf (karena saya pake bukan template bawaan). Makanya saya bisa bilag WordPress enak.. wakakakaka

      Reply
  5. Font disini berubah ya?

    Kok sama, Saya juga habis besarin judul post supaya keliatan lebih massive.

    Kalau saya dalam merubah font blog harus tirakatan dulu minimal 3 hari sampai datang ilham untuk mengganti font seperti apa.

    Dalam memilih font tipsnya adalah yang paling pertama dan penting yaitu keterbacaan. Kemudian keseimbangan. Balance is essential in life.

    Ini beneran ganti font blog nya???

    Reply
    • Wadaa.. ilmunya berarti sudah tingkat tinggi tuh harus tirakat dulu.. Ajarin dong.

      Gantiiii… font di sini baru saja diganti dan sedang mencari keseimbangan baru. Karena memang setuju banget bahwa yang penting adalah keterbacaan dan tidak menyusahkan pembaca. Yang lain menyusul. Soal keterbacaan sebenarnya sudah tidak masalah karena ukuran 16 sudah cukup bisa dibaca di layar manapun, sekarang saya sedang mengulik masalah ruang dan artinya butuh keseimbangan baru… hahahah

      Reply
  6. Duh, hal-hal ‘remeh’ kayak gini nih, Mas Anton, yang bikin saya gemesss pengen pindah ke WP 😆 soalnya tuh pernah saya berkutat hampir satu jam lebih cuma karena benerin font, yang mana di preview nampak berbeda dengan aslinya, baik di desktop maupun mobile 🤦‍♀️ Sekarang saya masih setia dengan Open Sans. Terus baru sadar, Mba Eno juga menggunakan font yang sama, tapi kok agak beda yaa sepertinya, apa perasaanku saja 😂

    Reply
    • Pindaahhhhh… wakakakak #racun… Tapi emang bener ribet kalau ganti font di blogspot mah… dah ngalamin sendiri.

      Sama kok Jane, sudah saya bandingkan. Bedanya mungkin pada “weight” atau ketebalannya. Saya duga Eno pakai yang lebih rendah daripada yang Jane pakai. Bedanya sekitar 100 jadi kesannya agak beda. Coba cek deh sama Eno dia pakai yang berapa dan Jane pakai yang berapa..

      Kalau ternyata sama, berarti memang hanya perasaan Jane saja.. wakakakak

      Reply

Leave a Reply to Eva | Berkas Narasi Cancel reply