Dalam 5 Hal Ini, Blogger Sama Dengan Penyiar Radio

Selamat Pagi Kawan MM!

Sampai hari ini, berarti hampir 5 bulan terakhir, sapaan selalu menjadi pembuka tulisan di blog MM.

Landasan pemikirannya memang untuk memperlembut kesan kaku yang selama ini diusung blog ini. Meskipun saya tidak bisa mengukur efektivitasnya, tetapi kalau membandingkan tulisan lama tanpa sapaan dan yang memakai, ada sedikit kesan lebih “open” atau “terbuka” . Tidak 100% kaku dan ngajak berantem.

Nah, kenapa tiba-tiba berubah memakai sapaan? Idenya lahir secara tidak sengaja. Saat pergi bersama dua orang kesayangan di rumah, kita semua lupa membawa USB berisi lagu-lagu. Padahal, kami terbiasa mendengarkan musik di dalam mobil. Jadilah, saat itu kami harus mendengar radio saja.

Tentu saja, radio selalu memiliki seseorang yang berceloteh sepanjang penyiaran.

Saat itulah, saya terpikir kalau seorang blogger dan penyiar radio itu memiliki banyak kemiripan. Bedanya yang satu dalam bentuk teks, yang satu dalam bentuk audio.

Kesamaannya?

  • penyiar radio pada dasarnya tidak tahu apakah ada pendengar celotehannya : tidak mungkin ia memastikan bahwa ada yang mengikuti gelombang radionya secara pasti. Ia hanya bisa menunggu feedback untuk tahu apakah ada yang mendengarkannya. Bukankah blogger begitu juga? Ia menulis tapi sebenarnya tidak pernah tahu apakah akan ada yang membaca atau tidak, iya kan?
  • Berbicara (menulis) untuk diri sendiri : memang kalau penyiar radio punya script dasar dan topik yang sudah ditetapkan, tetapi karena pada dasarnya ia tidak berhadapan langsung dengan pendengar, ia sebenarnya berbicara untuk dirinya sendiri. Bisa dibilang berbeda dengan blogger ? Susah karena pada dasarnya, walau diklaim menulis untuk pembaca, blogger menulis sebenarnya untuk diri sendiri karena tulisan tersebut tidak dijamin akan ada yang baca
  • selalu ada yang mendengarkan (membaca) : bahkan di zaman seperti ini, radio yang sudah dianggap ketinggalan zaman, tetap memiliki pendengar (termasuk saya yang kebetulan lupa membawa usb berisi file musik). Bukan kah itu juga dialami para blogger? Katanya sudah ketinggalan zaman dibandingkan Vlogger atau Instagrammer atau lainnya, tetap saja masih banyak yang membaca blog
  • pemilihan topik : selain siaran berita, semua penyiar biasanya akan memilih topik topik ringan dan “relate” dengan keseharian. Lagi-lagi sama kan dengan apa yang dilakukan blogger? Pemilihan topik ringan seperti ini juga masih dilakukan banyak blogger meski sekarang sudah banyak yang mencoba masuk ke topik yang beraattt
  • menampilkan citra yang kerap berbeda dengan aslinya : banyak yang merasa “tertipu” mendengar suara penyiar radio. Suara mereka yang rata-rata bagus membuat pendengarnya membayangkan cowok tampan atau cewek cantik lah yang bicara. Padahal belum tentu demikian. Kira-kira sama lah dengan apa yang dikerjakan blogger yang gemar menampilkan imaji keren, pro, hebat, pintar, pandai, dan seterusnya

Tambahkan lagi deh dengan adanya iklan sebagai selingan (walau tidak semua blog memasang iklan).

Nah, dari sanalah ide memakai sapaan di awal tulisan muncul. Saya membayangkan diri sebagai penyiar radio yang sedang berceloteh di depan mic siaran. Mau ada yang baca atau tidak, yang penting ngoceh dulu, sambil tetap “yakin” bahwa akan tetap ada yang membaca.

Dan, seperti biasa dalam sebuah siaran radio, penyiar radio akan memulai satu sesi siaran dengan menyapa pendengarnya, “Selamat siang, selamat sore, selamat pagi” atau berbagai sapaan lainnya. Tergantung target pasarnya, sapaan yang dipakai akan berbeda-beda dan tidak selalu resmi.

Padahal, sebenarnya dia sedang berbicara dengan kaca atau tembok karena biasanya di dalam ruang penyiar tidak boleh ada orang lain (selain kalau ada wawancara).

Jadi, itulah asal muasal kalimat sapaan di awal tulisan blog MM.

(baidewai, pernah melihat penyiar radio in action?)

10 thoughts on “Dalam 5 Hal Ini, Blogger Sama Dengan Penyiar Radio”

  1. Pernaaah hehehe, di Korea bisa lihat siaran radio in action tertentu, kadang mereka open soalnya 😁 Seru ternyata bisa lihat penyiar siaran hehehehe. By the way, saya sampai sekarang masih suka dengar radio lhoooo 😆

    Saya pribadi merasa semenjak mas Anton menggunakan kata sapaan, mas Anton jadi nggak terlihat kaku dan lebih menyenangkan 😂 Semisal dulu imagenya keras, sekarang sudah agak melunak. Dan lebih mudah didekati atau dikomentari blognya oleh teman-teman 😜 hehehe.

    Ibarat kata, mas Anton yang dulu itu seperti kue bantet yang keras, nah yang sekarang seperti kue matang sempurna. Maaf pakai perbandingan kue, soalnya lagi makan kue cokelat hahahahaha *dijitak* 🙈🎂

    Reply
    • O ya.. Beneran masih dengerin radio. Jarang-jarang yang seperti ini. Kalau saya sih biasanya di mobil saja, tapi kaau di rumah, TV saja jarang ditonton kalau nggak sama si Yayang.

      Terus gimana tuh saat penyiar radio Korea in action.. cerita dong…

      Hahaha… berarti berhasil yah penggunaan sapaan ini. Tapi, memang saya berniat mengurangi image keras hahaha…. jadi “berhasil berhasil” #kayak si Dora the Explorer

      Bagi kue coklatnyaaaaa……….

      Reply
  2. Dan kadang juga ada pengomentar yang salam, Halo Pak Anton.. hihi..

    Kalau di Blog mungkin kita tidak tau siapa yang membaca, tapi kita tau berapa orang me-klik halaman, paling tidak anggap saja yang meklik itu membaca. Blogku 0 visitor tapi postingnya tetap ada yg klik tak ada yg Nol.. mgkn org nyasar yang jelas bukan aku sendiri yg ngeklik, ya berarti tetap ada saja yg membaca walau sepi.

    Manusia berubah tiap detiknya, hari ini pemarah besok mungkin pendiam, berubah2. Kita tidak bisa mencap org dgn satu anu saja satu apa ya, hihi.. ya intinya jgn sampai perasaan merasa seperti ini seperti itu membuat kita merasa anu.. merasa down, tetap semangat, kita bisa berubah tanpa kita sadari. Yg jelas berubah jadi tua haha..

    Reply
    • Yuppppp…. memang yang ada di radio dan ga ada di blog itu adalah kirim-kirim salam.. wakakakaka kalau bloggernya disalamin ada…

      Betul Bang.. malah banyak robot yang suka ngintip juga yah.. wakakakaka..

      Wuuihhh bijak banget si abang, tapi bener banget manusia berubah setiap harinya. Patut dicatat nih dan dibuat kutipan khusus… hahahaha

      Reply
  3. Lumayan sering 😅

    Garis besarnya memang sama, ada personalitas disana. Biasanya orang yg bisa siaran luwes banget saat bicara sebagai blogger. Kebetulan kenal blogger yg mantan penyiar radio. Renyah setiap baca ceritanya. Penyiar memang harus pandai improvisasi untuk membuka percakapan dlm kondisi apapun. So hal receh pun bisa jadi topik.

    Eh kecuali penyiar berita ya.😅

    Banyak juga blogger merangkap punya podcast.

    Reply
    • Betul, memang tidak akan heran kalau seorang penyiar radio bisa jadi seorang blogger yang baik karena inti dasarnya tidak berbeda jauh.

      Di dalamnya, seperti Phebie sebut memang improvisasi, krativitas dan sejenisnya. Betul sekali hal receh apapun mereka bisa membawakannya menjadi menarik. Bukankah mayoritas blogger pun begitu.

      Nah, kalau penyiar berita memang agak berbeda karena mereka membawakan data dan ruang untuk improvisasinya lebih sempit.

      Sayang sekali, kebanyakan blogger yang meamakai podcast yang saya dengar kerap belum bisa memberikan “jiwa” pada podcast mereka. Tidak sedikit yang sebenarnya hanya membacakan apa yang sudah mereka tulis. Seperti melihat dua orang yang berbeda antara tulisan dan pada podcast mereka..

      Ada saran blogger dengan podcast yang “menarik”?

      Reply
      • Bisa jadi mereka terdengar spt membaca blog mereka sendiri, mungkin memang target audiens mereka adalah orang-orang yang modelnya auditory. Alias lebih suka dengar daripada baca.

        Saya nggak banyak dengerin podcast karena lebih prefer baca (atau nonton).
        Yang saya kadang dengar kalau lifestyle itu mbak Noni Khairani. Dia suka bikin kolabs podcast sesama blogger jadi variatif.
        Untuk blogger LN The Minimalist

      • Bisa jadi.. karena tidak tahu alasan mengapa mereka membuat podcast tersebut. Hanya, kalau belajar dari banyak podcast yang pernah saya dengar (kebetulan dari luar negeri, mereka masih bisa menyisipkan beberapa unsur sehingga terkesan bukan sekedar “membaca”.

        Interesting.. nanti saya cari yang Mbak Noni, walau seperti Phebie, saya juga lebih suka baca

Leave a Comment