Membuat Tulisan Kolaborasi Blogger Ternyata Penuh Tantangan

Selamat Malam Kawan MM!

Ngebul. Itu kata yang saya pakai pada tulisan sebelum ini, yaitu “Tentang Masa Depan“. Kata itu saya sandingkan dengan overheat, kepanasan dalam blogpost tersebut. Konten itu merupakan wujud usaha kolaborasi blogger antara Blog MM dengan Creameno dan Words of the Dreamer.

Mungkin, ada yang beranggapan kalau itu sekedar pemanis pada pembukaan sebuah tulisan. Sayangnya, tidak demikian kenyataannya. Kata itu merepresentasikan situasi riil yang saya alami saat mengerjakan artikel tersebut.

Ketika menerima ajakan dari Lia, si Peri Pemimpi dari Words of The Dreamer, tidak terbayangkan situasinya akan seperti itu. Tidak pernah terpikir bahwa ternyata banyak sekali tantangannya. Sama sekali tidak semudah yang dibayangkan.

Bayangkan saja, undangan itu sudah diterima sejak hampir tiga minggu sebelum tanggal terbit, tetapi tulisan itu baru selesai menjelang tengah malam sebelum deadline.

Sebelum itu saya berulangkali mencoba menulis, tetapi semua mentok pada paragraf 3-5 saja paragraf pembuka saja. Karena tidak puas, berulang kali tulisan saya delete. Padahal, sehari-hari saya mampu membuat beberapa tulisan yang secara total hampir mencapai 4000 kata.

Makanya, saya gambarkan asap seperti keluar menggambarkan betapa ruwetnya ternyata menghasilkan tulisan untuk kolaborasi blogger seperti itu.

Kenapa ruwet-ruwet sih? Bukannya gampang saja bikin sebuah tulisan dan hanya perlu tambah link ke tulisan yang lain?

Ya, begitulah orang tua. Kadang sesuatu yang sederhana dibuat jadi ruwet. Bisa jadi biar kelihatan penting dan susah. Jadi kalau bisa memecahkan seperti orang yang hebat.

Tapi, yang sebenarnya, saya punya sedikit pandangan tentang bagaimana kolaborasi blogger dalam bentuk tulisan berkait seperti itu harus dilakukan.

Teorinya memang sederhana dan sudah banyak dibahas oleh kaum blogger di luar negeri. Caranya, buat tulisan (bertema sama), terbitkan pada waktu bersamaan, dan beri link untuk mempromosikan tulisan kolaborator.

Sederhana sekali.

Sayangnya, sebagai orang ndableg, saya melihat ada beberapa hal yang tidak tercakup dalam teori-teori tadi *yang bisa jadi karena saya terlalu banyak mikir juga*, seperti di bawah ini.

Tantangan

Kolaborasi adalah kerja tim

Namanya kolaborasi, kerjasama adalah sebuah kerja tim. Tidak ada kolaborasi yang dilakukan seorang diri.

Padahal, sebagai blogger saya terbiasa dengan pola “lone ranger” atau dalam olahraga bukutangkis, pemain single. Sementara kolaborasi bisa diibaratkan permainan “ganda“.

Tentu saja berbeda cara bermainnya. Sebagai pemain single, saya bisa seenak udelnya saja menulis sejak awal sampai akhir. Tidak perlu memikirkan orang lain dan bebas menggunakan ide, gaya, atau karakter apapun yang mau saya tampilkan.

Berbeda dengan pemain ganda. Mereka harus saling menyesuaikan satu sama lain dan untuk itu harus bisa memahami gaya, karakter, cara bermain, posisi satu dengan yang lain.

Begitu juga dalam kolaborasi blogger yang baru pertama saya lakukan itu, meski bagi banyak orang cukup menulis dan tambah link, kok ya saya kurang sreg dengan cara itu. Kalau begitu apa bedanya dengan sekedar bertukar link saja. Tidak perlu kerjasama dengan menetapkan tema.

Jadi, saya memaknai kolaborasi blogger yang lalu dalam artian benar-benar kerjasama dalam sebuah tim. Meskipun tulisannya nanti diterbitkan di blog masing-masing, saya harus menjadi pemain ganda yang harus bekerja sama dengan Eno (Creameno) dan Lia (Words of The Dreamer).

Langkah awal yang baik sudah dilakukan oleh Lia dengan memberi satu ide utama, yaitu terkait dengan “masa depan ” dan bahkan batasan tentang target usia tulisan. Kemudian disusulkan dengan topik yang akan dibahas masing-masing, Eno akan membawakan topik terkait “Relationship (hubungan)” dan Lia dengan “Keuangan”. Kudos untuk Lia dalam hal ini.

Namun, semua tidak otomatis menjadi mudah.

Perbedaan cara pandang

Abaikan sebuah fakta bahwa manusia akan selalu berbeda, tetapi lihat saja rentang usia para kolaborator.

  • Lia : rentang usia 20-30 tahun
  • Eno : rentang usia 30-40 tahun
  • Saya : 50 tahun

Ada 3 generasi di dalam kolaborasi ini yang mirip dengan kakek, anak, dan cucu.

Lia dengan kemudaannya akan memandang masa depan dengan ceria dan excitement. Eno dengan kalem sedang menempuh dan menikmati perjalanan ke masa depan. Dan, saya sedang terdiam di “masa depan” dengan sebuah kesadaran bahwa jalan yang ditempuh sudah tahu akan “mengarah” kemana.

Akankah cara pandangnya sama? Tentu tidak. Itulah yang saya nyatakan dalam kalimat-kalimat pembuka terkait 2 M X 1 M. Terkesan suram dan pesimis, tetapi sebenarnya bukan. Itu adalah fakta adanya sebuah kesadaran yang muncul tentang “masa depan” yang pasti akan terjadi.

Pandangan ini umum dimiliki oleh banyak orang “tua” dan bisa diwakilkan oleh komentar Eya, dari Two Capuccinos A Day dalam komentarnya.

kolaborasi blogger tidak mudah

Bagaimana supaya tiga cara pandang tersebut bisa saling sinkron dan melengkapi?

Gaya menulis yang berbeda

Mayoritas Kawan MM yang sering bermain ke tiga blog yang terlibat pasti sudah hapal sekali gaya menulisnya.

  • Words of the Dreamer (Lia) : ceria, lincah, banyak bercanda dan bikin dunia penuh tawa
  • Creameno (Eno) : kalem, lembut, tapi tetap lincah dan ceria
  • Blog MM (Saya) : keras kepala, ndableg, mau menang sendiri, berangasan

Padahal, ketiga tulisan ini akan terhubung satu dengan yang lain. Pembaca sangat mungkin berpindah ke tulisan lain setelah membaca satu tulisan.

Peralihan dari tulisan Lia ke Creameno tidak akan terasa mengingat gaya menulisnya “mirip” dan saling mendekati. Tidak bedanya dengan kolaborasi JaneXLia. Pembaca tidak akan merasakan terlalu banyak perbedaan selain topik yang dibawakan.

Nah, bayangkan ketika masuk ke blog MM dengan gaya seenak udelnya, tidak pedulian, dan cenderung keras. Dari lembut dan ceria tiba-tiba berubah menjadi keras dan sangar. Ada “goncangan” yang lumayan juga kalau itu terjadi.

Kalau sambil bercanda kolaborasinya bisa diibaratkan,

  • Lia : burung kutilang
  • Eno : burung lovebird
  • Saya : kampret/codot

Bisa lebih buruk lagi kalau dari Eno atau Lia ke blog MM dulu sebelum ke yang terakhir. Bumpy. Pembaca bisa berhenti di blog MM dan malas ke yang lain (bukan sesuatu yang diharapkan)

Saya harus memilih gaya yang paling tidak “mendekati” kedua gaya yang lain, minimal bukan kampret/codot lah.

Karakter yang berbeda

Dari hasil baca-baca dua blog yang lain, ketiga kolaborator juga memiliki karakter yang berbeda terkait masa depan.

  • Lia : rapi dalam merencanakan masa depan
  • Eno : sangat rapi dan teliti dalam merencanakan masa depannya
  • Saya : jalani hari ini karena masa depan penuh ketidakpastian

Bisa bayangkan hasil tulisannya? Akan ada kemungkinan “pertentangan” antara satu tulisan dengan tulisan yang terlibat. Sesuatu yang harus dihindari dalam sebuah kolaborasi.

Takut mengecewakan

Biasanya saya bebas menulis karena bahkan saya tidak berpikir tentang pembaca. Mau ada respon atau tidak, saya tidak ambil pusing. Menulis ya menulis.

Cuma kali ini berbeda. Saya bukan pemain single.

Saya tetap tidak berpikir pembaca, tetapi saya terpaksa berpikir tentang dua kolaborator lain. Saya tidak mau mengecewakan anggota tim yang lain.

Hasilnya, saya tidak lagi bebas.

Saling melengkapi

Kolaborasi adalah tentang saling melengkapi. Bukan tentang berjalan sendiri-sendiri dengan ide masing-masing. Ketiga tulisan yang harus dikeluarkan sebisa mungkin meng-cover berbagai sisi, tentunya dari sudut pandang yang tidak bertentangan satu dengan yang lain.

Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang selalu dibahas terkait masa depan, yaitu

  • Pasangan
  • Uang
  • Anak
  • Gaya Hidup

Eno bertugas membahas pasangan dan Lia soal uang/keuangan. Mana yang bisa melengkapi dua topik itu?

Anak? Gaya hidup? Keduanya sangat subyektif sekali dan tidak semua orang pilihannya sama. Tidak bisa dipakai untuk melengkapi dua topik utama.

Jadi, topik apa yang bisa melengkapi tentang masa depan (dari pengalaman yang saya dapatkan)? Untuk itulah saya tidak pernah memberitahukan topik apa yang akan saya bahas kepada dua kolaborator lain. Bukan karena pelit, tetapi lebih karena saya belum bisa memutuskan.

♦♦♦♦

Puyeng. Pandangan tentang kolaborasi blogger seperti itulah yang membuat ngebul kepala. Memang lebih mudah dengan cara tulis mah tulis saja, tambah link, dan promosikan tulisan kolaborator lain. Selesai.

Tapi, saya tahu diri, pasti saya akan merasa kesal kalau hanya melakukan “seadanya” saja. Jadi, saya terima semua kepuyengan itu.

Bahkan walau puyengnya bertambah karena saya harus menambahkan dengan “tidak boleh” kehilangan ciri khas blog MM. Hal yang juga harus tetap dipertahankan dalam sebuah kolaborasi karena sebuah kerjasama tidak boleh menghilangkan karakter yang ada dari mereka yang terlibat.

Belum lagi sisi mana dari topik hubungan dan keuangan yang akan dibahas belum diketahui.

Jadilah kebingungan itu seperti tidak punya pemecahan. Setelah dipikir lagi, itulah yang membuat semua draft tidak pernah selesai bahkan memasuki tahap pembahasan.

Menyerah? Tidak la yauw. Saya hanya menunda saja karena saya perlu tahu juga apa yang disampaikan rekan-rekan kolaborator dalam tulisannya.

Saya hanya menunggu saat ketika saling bertukar draft tiba. Untungnya, Eno dan Lia orang yang sangat tepat waktu, bahkan rajin sekali. Satu hari sebelum batas bertukar draft ditentukan, mereka sudah mengirimkan draft masig-masing.

Saya bisa membaca apa yang mereka sampaikan.

Dari sanalah, saya kemudian membuat draft tulisan sesuai dengan ide saya. Akhirnya, saya bisa menyerahkan draft beberapa menit sebelum waktu lewat.

Tulisan yang kemudian saya koreksi lagi karena berdasarkan pengalaman dalam mengikuti Paid Guest Post Creameno #02, saya memiliki kelemahan dalam sisi pengeditan. Jadi, tulisan itu saya koreksi dan perbaiki sampai menjelang tanggal terbit.

Saya tidak mau mengecewakan rekan satu tim dan hasil akhirnya adalah yang mungkin kawan sudah baca.

♦♦♦♦

Untuk Semua

Itu pandangan dari sisi saya saat berkolaborasi kemaren. Berat dan tidak semudah yang diduga karena banyak tantangan yang tidak terlihat.

Mungkin, ada yang beranggapan saya berpikir terlalu ruwet dan saya akui, memang bisa jadi seperti itulah kenyataannya. Saya terlalu berpikir rumit.

Tetapi, kalau saya telaah lagi, sangat mungkin, walau tidak terlontarkan dari kolaborator yang lain, mereka pun menghadapi tantangan dan kesulitan masing-masing dalam melakukan kerjasama ini.

Lia : Keuangan

Rasanya pasti tidak mudah menuliskan tentang rencana keuangan di masa depan di hadapan 2 orang “senior” nya yang sudah menjalani “masa depan” keuangan versi masing-masing.

Bagaimana dia bisa menjabarkan idenya tentang rancangan keuangan untuk persiapan masa depan ketika ia baru akan memulai langkah? Dan, di hadapan 2 orang yang lebih berpengalaman.

Mudah? Kayaknya sih jauh dari kata itu.

Eno : Relationship

Lagi-lagi, saya menjadi tantangan tersendiri dalam membahas masalah relationship atau hubungan. Pengalaman berkeluarga selama 20 tahun adalah “prestasi” yang sulit dibantah berkaitan dengan hubungan bersama pasangan.

Topik apa yang harus diusungnya? Bagaimana bisa berbagi dan menyampaikan pesan tanpa terasa menggurui karena tentunya tidak enak di depan saya yang senior dalam hal ini?

Saya pikir, mereka pun menghadapi beberapa tantangan yang serupa, hanya beda saja jenisnya. Bagaimanapun, kolaborasi memang akan menghadirkan hambatan dan tantangan pada semua orang yang terlibat.

Kalau menilai dari tulisan Eno dan Lia, saya menangkap ada pergeseran cara menulis dari yang biasa. Saya pikir ini imbas dari tantangan yang mereka alami juga. (Walaupun, mungkin sekali penilaian saya salah)

♦♦♦♦

Hasil Akhir

Dalam sebuah kerjasama, sudah seharusnya ada sedikit evaluasi dan tulisan ini adalah penilaian dari sudut pandang saya. Sangat mungkin berbeda dengan dua kolaborator lain.

Bagus kah hasilnya? Buruk kah?

Komentar dari mas Rahul Syarif dari Rahul Syarif dan Ampas Kopi, bisa menggambarkan pandangan saya, yaitu

hasil akhir kolaborasi blogger

Kolaborasinya berjalan dengan baik. Hasilnya “lengkap” dan tidak ada friksi. Pandangan masing-masing tersampaikan dengan baik. Bahasan juga tidak tumpang tindih.

Tapi, kalau pertanyaannya apakah tulisan-tulisan kami bermanfaat dan baik, nah, yang satu ini bukan wewenang saya menilai. Kawan pembaca lah yang harus menilai karena itu adalah hak dari kawan sebagai orang yang membaca, bukan hak kami untuk menilai diri sendiri.

—–

Tidak ringan. Bikin kepala ngebul karena kepanasan. Tapi, kalau ditanya apakah saya “kapok”, jawabannya ada dari pencetus kolaborasi kami, Lia.

hasil akhir kolaborasi blogger 2

Yup. Fun banget.

Apalagi kolaborasi ini seperti menarik diri saya keluar dari zona nyaman sebagai “ronin“, samurai gelandangan yang bebas lepas. Saya harus menyesuaikan diri dan bekerja sama sebagai tim.

Jadi, kalau ditanya apakah nanti mau ikut kolaborasi blogger lagi? Jawabannya tidak akan sama dengan pertanyaan apakah saya mau ikut lomba blog lagi. Kalau itu saya jawab maybe yes, maybe no. Lihat situasi.

Tetapi, kalau diajak lagi berkolab, saya jawab my pleasure, dengan senang hati,. Saya suka berkembang dan rasanya kolaborasi kecil-kecilan seperti ini sangat bermanfaat sekali untuk membantu perkembangan diri seorang blogger. Bukan hanya sekedar bertukar link dan saling mempromosikan, tetapi juga mengajarkan saya untuk menyesuaikan diri dan bekerja sebagai tim.

Tentu, selama temanya yang saya bisa jangkau, dan bukan berkaitan dengan produk kecantikan, bagaimana merawat wajah, memutihkan kulit. Kalau topik-topik seperti itu terus terang, angkat tangan dari awal.

Saya terbuka dalam hal ini.

Masalahnya, siapa yang mau mengajak?

Ada yang mau?

12 thoughts on “Membuat Tulisan Kolaborasi Blogger Ternyata Penuh Tantangan”

  1. Tadinya saya juga berpikir kolaborasi antara blogger itu yaitu membuat satu post bersama-sama misalnya si A membuat paragraf pertamanya sampai setengah lalu yang setengahnya lagi dan sampai paragraf akhir dilanjutkan sama si B dan hasilnya diterbitkan di satu blog ternyata tidak seperti itu.

    Reply
    • Tidak mas.. bentuk kolaborasi blogger itu banyak macamnya, dan menerbitkan tulisan dengan tema yang sama seperti ini termasuk salah satunya. Hahahahaha…

      Pasti bakalan lebih runyam kalau setengah setengah gitu mah.. wadidaw.. berattzzzz

      Reply
  2. Waaah bagus bangettt tulisannya mas, intinya baguuus bisa jadi pertimbangan buat colab-colab ke depan. Jujur, senang banget ada ajakan colab dari Lia dan kebetulan temanya cocok jadi dengan senang hati diterima hehehehehe 😆

    Nggak sangka, bisa kerjasama satu team dengan mas Anton dan Lia, plus bisa merasakan keseruan interaksi di email colab dengan bahasan yang membuat tertawa hahahahaha 😂 Dari persoalan receh takut nggak bisa bangun pagi, sampai persoalan ini itu bisa dibahas, itu mengingatkan saya akan working vibe 🙈

    I mean, feeling-nya betulan seperti lagi kerja sama team, karena kadang saya kalau sedang project juga suka ada email colab yang isinya beberapa orang dan pusing sama-sama plus happy sama-sama, dan saling bantu kasih jawaban jika ada pertanyaan 😁

    Saya pribadi belajar banyak dari colab kemarin, karena saya pun meski sudah kerjakan tulisannya dari awal, tapi revisinya lumayan lama tuh mas sampai akhirnya kirim draft hahahaha. Dan iya, saya sempat bingung pengembangan tulisannya bagaimana karena salah satu partner colab saya jauh lebih tua dari saya usianya which is sudah makan asam garam lebih banyak 😂

    Intinya, saya senang, semoga ke depannya semakin banyak yang undang mas Anton untuk colab! Ayo aminkan teman-teman 😆 Meski mas Anton kalau komentar suka terkesan galak dan menyeramkan just like orang tua hahaha, tapi kalau urusan colab, betul-betul feels like same age, mas Anton bisa posisikan diri seperti teammates saya dan Lia. I thank you for that 😁

    Reply
    • Sama Eno saya juga excited banget dan senang bekerja sama seperti itu dengan Lia dan Eno. Seru. Ajakan si peri kecil itu memang seperti membawa suasana baru dalam kehidupan saya sebagai blogger. Hahahaha… sampe ngebul tapi menyenangkan diajak seperti itu.

      Hahahaha.. iyah.. bisa ketawa ketiwi, sama seperti suasana kalau ngerjain sesuatu bareng tim. Barengan pusing, bareng ngakak…

      Sempet saya mikir, “Apa cuma saya saja yang agak bingung ngadepin situasi kayak gini yah?” Tapi pas baca draftnya saya nyengir juga. Rupanya semua ngalamin hal yang sama. Tapi seriously saya memang ngerasa diajak keluar zona nyaman dan ngeliat sesuatu yang baru.. Saya enjoy dengan kerjasama kemaren, terlepas dari semua hasilnya.

      Hahaha.. kan kalau di panggung harus jaim Eno. Tapi kalau di belakang panggung mah ya saya beda juga.. wakakaka.. Kebetulan teman kerjasamanya juga memang bisa saling mengerti tanpa banyak bicara sih, jadi saya merasa nyaman dan seperti kerjasama dengan dua “adik” Thank you juga tuk Eno dan Lia ngajak saya… Mudah-mudahan ga kapok yah..:-D

      Reply
  3. Ola Kak Anton~ aku udah baca dari saat tulisan ini tayang tapi baru komentar sekarang 😂😂

    Maaf, aku ngakak lagi 🤣🤣 kenapa Kakak jadi Kampret/Codot? Jauh banget padahal kan bisa burung Kakaktua atau burung Beo gitu? Atau Elang kek 😂

    Kak Anton seperti bisa membaca pemikiran aku 🤣. Meskipun dari awal tema keluar, aku udah tahu ingin bahas apa tapi di tengah jalan aku jadi nggak pede mengingat Kak Anton dan Kak Eno udah lebih dewasa, tapi kok aku malah gegayaan bahas keuangan padahal baru kemarin belajarnya 😂 tapi kali ini aku berhasil menyingkirkan perasaan itu karena kalau nggak disingkirkan, bisa batal collabnya 🤣🤣

    Dan ternyata ini alasan kenapa Kak Anton nggak pernah komentar saat ditanya topik tulisannya apa 🤣🤣. Tahu gitu kami kirimkan h-1 aja biar Kak Anton makin ngebul karena harus SKS alias Sistem Kebut Semalam hahahahaha Lia jahat 😈

    Terima kasih banyak ya, Kak 🙏🏻 tulisan Kakak benar-benar berhasil menjadi pelengkap untuk tulisanku dan Kak Eno. Tulisan kita bertiga semacam melengkapi satu sama lain dan aku tahu itu nggak mudah. Collab dengan lebih banyak orang, lebih nggak mudah wkwkwk. Terima kasih banyak udah mau diajak ngebul 🙏🏻

    Aku juga sangat senang saat berkomunikasi dengan Kakak-kakak di email collab~ seru banget! Benar kata Kak Eno, lewat email tsb jadi kerasa susah senang bersama, bahkan aku jadi ngerasa lebih dekat dengan Kakak-kakak 🤣

    I’m so happy dengan proses collab ini 😍. Sekali lagi terima kasih Kak Anton dan Kak Eno 🙏🏻

    Reply
    • Ola juga Liaa….

      Yah memang tujuan si kampret/codot masuk sini kan biar yang baca agak nyengir dikir. Kalo masukin buruk kakaktua doang ga seru…..

      Namanya kan juga punya mata batin jadi tau dongg #sombong dikit.. wakakakak.. boong deh. Cuma perhitungan saja Lia karena saya pikir masing-masing akan menemukan tantangan tersendiri, dan rupanya bener pas baca. Hahaha.. biar nggak bilang, rupanya sama-sama ngadepin hambatan juga dari sisi itu.

      Hehehehe… iyah… soalnya kalau saya bilang, perhitungan saya ada kemungkinan Lia yang nggak enakan akan bilang batalin saja kolabs-nya *untung dia ga tau*, padahal, tantangan seperti itu pan normal dan memang harus dihadapi.. wakakakaka…It’s fun Li..

      Makacih cama-cama Kakak Peri.. wakakaka.. saya senang kok soalnya bener-bener ngerasa melakukan sesuatu yang berbeda. Emang banyak kebingungan, tapi ya fun lah…

      Iyah.. jadi bisa ngakak bareng hahahahahah.. bisa lihat sisi lain masing-masing dengan email-emailin. Bener banget Li..padahal mah sama-sama ruwet yah…

      Terima kasih juga wat Lia yang sudah mengajak saya yah….saya juga senang kok

      Reply
  4. Kalau gw mungkin lebih ngebul dari ente kali kong jika disuruh menulis berkolaborasi..😳😳 Nggak kebayang kalau tulisan butut gw digabung ke Si A & B …🤣 🤣 Apakah masih enak tuh tulisan dibaca..🤣 🤣

    Yaa intinya nyerah dah…Mending nulis dengan gaya diri sendiri meski terkadang butut juga hasilnya..🤣🤣

    Reply
    • Gue rasa nggak juga sih Tong. Kalau gue pikir malah elu bakalan klop mau kolaborasi sama sape ajeh karena gaya lu yang ngemong dan fleksibel. kayak Mas Agus juga. Cuma gaya depannya doang sebenarnya.

      Gimana kalau dicoba Tong.. pilih rekan yang menurut lu cocok…Gue juga ga mikir bakalan bisa, eh tapi kenyataannya bisa juga

      Reply
  5. Oh. Terjawab sudah misteri pertentangan ditulisan kemarin. Ternyata berjuang keras untuk menyesuaikan arus dengan mereka ya mas, pas di bagian akhir kelihatan sudah mengambil kendali sih *analoginya*

    Reply
    • O ya begitu ya terasanya Pheb… Hemm.. memang saya berusaha menyesuaikan dan menghindari terjadinya friksi dalam pandangan. Puyeng, tapi menyenangkan loh. Mungkin itu keliatan ya Pheb.. hahahaha

      Reply

Leave a Comment