Kalkulasi Resiko Dalam Blogging

Selamat Malam Kawan MM!

Segala sesuatu ada resikonya, begitu pemikiran saya. Setujukah Kawan MM dalam hal ini?

Apapun yang kita lakukan akan menghadirkan sebuah konsekuensi dalam berbagai bentuk. Makan nasi sepiring kenyang, makan dua piring resikonya kekenyangan.

Hal itupun berlaku dalam dunia blogging.

Beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk melakukan migrasi dari Blogspot ke WordPress Self Hosted. Sejak sebelum pengerjaannya, sebenarnya disana ada berbagai kalkulasi, termasuk resiko yang akan dialami.

Beberapa hal yang saya perhitungkan adalah

  • penambahan biaya
  • gangguan terhadap pembaca karena pasti butuh waktu untuk mengerjakan migrasi
  • penurunan trafik pengunjung dari mesin pencari

Penambahan biaya sendiri termasuk minor karena pemasukan mencukupi sekali untuk menyewa satu lagi “hosting”. Jadi, resikonya sangat “kecil” untuk saya dan tidak menjadi masalah.

Gangguan terhadap pembaca sendiri minimal dan hanya terganggu oleh masa propagasi DNS saja saat peralihan. Maksimum 24 jam website tidak tayang, meski pada pelaksanaannya di bawah itu dan bahkan tidak terasa.

Nah, yang paling memusingkan adalah tentang penurunan trafik dari mesin pencari. Penurunan trafik, sama artinya dengan penurunan penghasilan iklan.

Setelah mempelajari berbagai teknik yang disarankan oleh pakar, saya menemukan bahwa cara terbaik adalah dengan mengabaikan semua saran tersebut.

Meski secara teori “katanya” bisa menyebabkan peralihan dari custom domain di Blogspot ke WP tanpa trafik dari mesin pencari berkurang, saya menemukan hal itu sulit dilakukan.

Perbedaan struktur Blogspot dan WP terlalu jauh. Sekeras apapun usahanya dan coba diutak atik bagaimanapun, para pengunjung dari mesin pencari tidak akan menemukan url yang sama.

URL Blogspot memiliki akhiran “html” di ujungnya.

URL WordPress memiliki akhiran “/” di ujungnya.

Saya sudah mencoba mengutak-atik keduanya dan menemui jalan buntu. Artikel yang terindeks di mesin pencari (yang masih memakai url Blogspot) akan menemui laman 404 alias tidak ditemukan.

Hasil tes pada salah satu blog pertama yang dipindahkan, ya begitu. Mau pakai plugin apapun, hasilnya tetap “laman tidak ditemukan”.

Pada akhirnya saya dihadapkan pada pilihan

  • kalau migrasi, otomatis trafik akan ngedrop jauh sekali (karena kebanyakan blog saya mendapatkan pembaca dari mesin pencari)
  • tidak jadi migrasi dan tetap mendapatkan trafik dari mesin pencari seperti semula

Tetapi, saya ingin “berkembang” dan “maju”. Terus memakai blogspot akan membuat saya bergerak dalam ruang sempit terus menerus. Terbatas sekali.

Sesuatu yang tidak saya inginkan. Apalagi kalau melihat target dan tujuan yang sudah ditetapkan. Blogspot akan menyulitkan saya bergerak dan berkreasi.

Pilihannya tidak menyenangkan.

Hanya saja, situasi muram pandemi pada akhirnya membantu saya menentukan pilihan.

Selama pandemi, trafik blog-blog berkurang jauh (mungkin karena terkait tema), begitu juga pemasukan iklan karena berkurangnya pengiklan dan semua orang menahan diri untuk berbelanja.

Penurunan sudah terjadi bahkan tanpa migrasi sekalipun.

Terlebih lagi, situasi ini saya akan prediksi baru akan berangsur pulih sekitar 6 bulan sampai 1 tahun ke depan. Itupun bukan kepastian karena situasi global yang masih suram dimana-mana.

Jadi, kenapa saya tidak manfaatkan waktu untuk bermigrasi ria? Memang pasti akan terasa sekali penurunan trafik dari mesin pencari karena banyak artikel yang punya posisi di SERP akan menghilang.

Tapi, saya punya waktu antara 6 sampai 1 tahun ke depan untuk “membangun ulang” blog-blog itu dan pada saat bersamaan, saya akan memiliki ruang berkreasi yang lebih luas lagi.

Dengan begitu, ketika situasi kembali normal di masa depan, blog-blog itu sudah akan siap untuk kembali berlari dan beroperasi. Apalagi sebenarnya tidak seratus persen kembali ke titik nol karena backlink yang sudah lumayan banyak akan membantu sekali, walau ada sebagian yang menghilang.

Saya juga bisa melakukan tindakan koreksi untuk membantu pulihnya kembali blog-blog setelah migrasi.

Jadi, saya memutuskan untuk bermigrasi ria.

Saya kehilangan trafik banyak, YA.

So be it.

Hal itu lebih baik daripada diam di tempat dan tidak bergerak kemana-mana. Lebih baik saya mundur 5 langkah agar bisa bergerak maju daripada diam dan hanya menunggu.

Kalkulasi saya mengatakan, kehilangan trafik sekarang tidak terlalu buruk dibandingkan tidak bisa berkembang dan belum siap ketika situasi kembali normal.

Jadi, saya terima resikonya.

Kalkulasi yang bodoh? Bisa jadi. Bisa juga sebuah kalkulasi yang benar. Hanya waktu yang bisa menunjukkan hal itu. Tapi, bagaimanapun, dalam hal apapun, resiko terkadang harus diambil selama kita menyadari dan mengetahui apa yang harus dilakukan.

Iya kan?

Nah, blog MM dengan tampilannya sekarang ini adalah hasil dari keputusan “bodoh” tadi.

Kalau tetap di Blogspot, tampilannya akan sama dengan ribuan pemakai template Linkmagz lainnya. Sulit untuk mengutak atik dan menyesuaikan dengan ide, saya harus tergantung pada pembuat templatenya saja.

Kalau memakai WP, saya bisa berkreasi dengan bebas dan leluasa.

Soal trafik, bukankah saya sudah pernah bercerita bahwa blog ini justru mengalami peningkatan pageviews setelah migrasi? Bukankah sudah ada beberapa Kawan yang mengatakan menyukai tampilan dan juga kecepatan loading blog ini? Bukankah Alexa rankingnya terus membaik dari hari ke hari? Bounce rate juga turun.

Bukankah itu pertanda baik? User experience membaik? Saya menjadi lebih kreatif?

Mungkin bagi orang lain, saya bodoh, tetapi saya merasa justru keputusan saya mengambil tindakan migrasi sebagai tepat sekali.

Setidaknya, saya mendapat pengetahuan dan menjadi sedikit lebih pandai dari sebelum migrasi.

Dan, buat saya itu sangat berharga.

6 thoughts on “Kalkulasi Resiko Dalam Blogging”

  1. Menurut saya nggak bodoh kok mas hehehehehe keputusan yang mas lakukan pastinya sudah melewati proses pemikiran panjang dan matang. Justru menurut saya UX MM paling enak itu sekarang dibanding dulu saat masih di blogspot 😍

    Reply
    • Makasih Eno.. saya juga ga merasa bodoh kok.. resiko memang harus diambil dan dijalani ..

      Habis saya juga bosen banget lihat template blogger yang ga berkembang sama sekali.. hihihi..sekarang pan saya bisa bebas utak atik

      Reply
  2. Pura-pura nggak baca aaahh, mengenai keuntungannya wakakakakaka.
    Belom mau migrasi saya Pak, masih pelit ngeluarin duit wakakakakak.

    Eh btw, astagaa banget nget!
    Saya udah lama juga dong make WP even gretongan, tapi saya baru aja ngeh, kalau WP kagak ada html hahahaha.

    Astagaaa, saya ngapain aja ya, sampai hal demikian baru ngeh 😀

    Reply
  3. Oh ya Bapak, sekalian mau nanya nih.
    Mengapa ya, blog saya yang beauty itu, nggak bisa ditaruh di widget blog lainnya.
    Bahkan di bagian blog yang saya ikuti, kalau saya masukin alamatnya, langsung auto jadi alamat blog utama, apa pengaruh emailnya sama atau gimana ya?

    Reply

Leave a Comment