Renungan Dari Yoga Akbar : Prinsip Vs Duit, Pilih Mana?

Selamat Sore Kawan MM!

Semua orang butuh duit. Bohong besar kalau tidak butuh karena di zaman sekarang untuk mencukupi kebutuhan hidup, segala sesuatu harus dibayar dengan uang, duit, hepeng, dalam bentuk apapun.

Iya kan?

Tetapi bagaimana kalau ternyata kebutuhan itu dihadapkan pada satu hal penting lain, yaitu prinsip hidup? Kira-kira harus pilih yang mana.

Misalkan, kita sedang butuh uang untuk membeli susu anak dan kebetulan sedang tongpes, kemudian datang tawaran kerjasama untuk blog kita, sebutlah dengan harga yang murah sekali. Padahal, kita tahu bahwa kalau hal itu diterima, maka harga pasaran akan menurun terus yang tidak sesuai dengan prinsip monetisasi yang kita buat.

Atau, di kondisi terdesak seperti di atas tadi, kemudian ada tawaran content placement dari situs yang kurang sesuai dengan hati nurani.

Akankah kita mau menerima tawaran seperti itu?

Situasinya bukan tidak mungkin kita, sebagai blogger, akan hadapi di suatu waktu.

Tulisan Yoga Akbar dengan judul “Jatuh Bangun Seorang Penulis Medioker Dalam Mempertahankan Prinsipnya” rasanya pas sekali” pantas sekali menjadi sebuah bahan renungan.

Disampaikan dengan gaya bahasa lugas dan tegas, agak sentimentil ciri khas penulisnya.

Soal harga tawaran kerjasama sendiri pernah menjadi perhatian saya dalam “Jangan Jual Murah Blogmu“.

Tulisan yang sempat dikomplen sesama blogger karena menganggap saya tidak memperhitungkan bahwa kebutuhan setiap blogger berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

Sesuatu yang bisa saya pahami dan mengerti, tetapi tetap saja saya akan menyarankan, dalam situasi apapun untuk tidak berusaha mendapatkan harga terbaik dalam setiap kerjasama. Bukan hanya karena “melihat uang” saja.

Banyak efek kalau setiap “tawaran sangat murah diterima”, seperti rusaknya harga pasar dan akhirnya menyulitkan bukan hanya diri sendiri tetapi juga blogger lain.

Anyway, silakan baca pandangan Yoga Akbar dalam hal ini sebagai bahan pertimbangan di saat situasi seperti itu hadir.

Yuk Berbagi....

12 thoughts on “Renungan Dari Yoga Akbar : Prinsip Vs Duit, Pilih Mana?”

  1. Bingung juga memang pak menerima tawaran murah untuk membuat konten. Selain merusak harga pasar juga takutnya blogger lain kena imbasnya. Tapi jika tawaran tidak diterima maka bagaimana dapat duit karena sekarang persaingan ketat.

    Tapi kalo untuk kebaikan bersama sebaiknya tidak diterima sih. Seperti tetangga sebelah yang menjaga rate card blognya agar tidak diremehkan oleh yang ngasih job.

    • Memang betul mas Agus.. Akan selalu jadi dilema, tetapi kalau kita hanya berpikir soal uang dan kebutuhan, maka hasilnya ya pada akhirnya bisa merugikan diri sendiri dan yang lain.

      Tidak salah apa yang dilakukan, tetapi kita bisa mengkompromikan hal itu dan berusaha bukan sekedar mendapatkan uang saja.

      Nggak mudah memang, tetapi harus diupayakan karena kalau terus berlanjut hasilnya ya blogger akan banyak diremehkan pengajak kerjasama

  2. Salah seorang blogger senior pernah berkata. “Do not sell your soul for money.” Disini konteksnya tentang tulisan. Bagi blogger tulisan adalah jiwa.

    Perkataan yang selalu teringat sampai sekarang.

    • Hahahah.. berat Pheb kalau yang itu mah… Hahaha di jaman kebutuhan serba mahal yang seperti itu akan menjadi barang langka.

      Mungkin karena itu lah saya memilih menggunakan iklan dan tidak berburu content placement atau sponsored post karena memang sangat tidak nyaman menulis untuk “uang”, Jadi kompromi antara idealisme dan kebutuhan itu dalam bentuk iklan saja.

      Tidak besar tetapi tidak mengganggu dan mempengaruhi saat nulis

      • Oh saya sih nangkepnya monetisasi nggak apa2 mas, asal jujur dan tetap jadi diri sendiri alias tidak berlawanan dengan nurani. Yang dipertaruhkan integritas bloggernya sendiri soalnya…

        Ikut nimbrung reply mbak Eno soal blogger dihargai berapa, kalau di luar ada low-mid-high payment untuk blogger sesuai pengalaman. Disini karena persaingan banyak mau saja dibayar low walau itu impactnya merusak pasaran. Ini juga sering terjadi di bidang lain yg berhubungan dengan kreativitas. Selama belum ada regulasi entah bagaimana caranya mencegah permainan harga…

      • Haha.. Saya nangkep salah satu poinya juga begitu Phebie, monetisasi tidak masalah, tetapi apakah harus mengorbankan prinsip atau tidak. Contohnya kan saya sebutkan situasi butuh uang buat susu kemudian ada tawaran kerjasama dari situas “kurang pas” dengan prinsip kita.

        Disana ada dilema pilihan antara prinsip atau duit? Sesuatu yang harus diputuskan oleh sang blogger apakah mereka mau mengorbankan prinsip dalam situasi demikian.

        Soal harga sendiri sebenarnya tersirat juga dalam ungkapan 150 ribu rupiah untuk kerjasama (dan beberapa bagian lain). Padahal, itu juga bisa menjadi sisi pandang dan hal yang prinsip bagi seorang blogger.

        Untuk soal harga, betul banget..karena memang tidak ada standarisasi

        (catatan : komentar balasan ini mendapat tambahan satu poin (masalah harga) dari komentar sebelumnya yang diterbitkan 5 menit yang lalu)

  3. Sekarang standar menulis post berbayar itu berapa mas memangnya? Saya tuh nggak pernah tau standar harga pasaran penulis post berbayar. Jadi selama ini kalau ada tawaran, saya ikuti standar saya yang akhirnya menyebabkan saya jadi menolak penawaran yang ada dan ada pula yang setelah saya kasih info harga saya, eh email saya nggak dibalas 🙈

    Saya sangat ingin tau dan penasaran standar harga yang ada berapa, tapi browsing sana sini nggak pernah dapat angka yang pas. Jadi saya asumsikan kalau setiap bloggers pasti punya standar personal 😆

    Saya pernah bahas di blog saya, besar harapan basic price untuk bloggers itu minimal 1.000.000 karena menurut saya itu harga yang wajar berbanding lurus dengan efforts yang diberikan oleh teman-teman penulis hehehe, semoga ke depannya bisa tercapai ya, mas 😍 saya pun mulai menerapkannya di blog saya sendiri ketika saya harus bayar paid writer, saya akan siapkan budget minimal. Semoga pelan-pelan harga jasa penulisan bisa naik dan mencukupkan bagi para penulisnya 😆 amiiiiin.

    • Pertanyaan yang susah Eno..Tergantung banyak hal, salah satunya DA dan PA, bahkan Alexa Ranking kerap jadi ukuran. Ukurannya dinilai dari situ.

      Cuma kalau belajar dari banyaknya marketplace untuk kepenulisan dan juga untuk content placement, harganya jauh dari yang mba sebutkan. Nilainya kadang bikin ngenes. Yang sudah punya nama memang tentunya berkali-kali lipat, cuma kalau yang standar sih jauh sekali di bawah itu.

      Untuk content placement sih, kisarannya (tergantung DA dan PA tadi) antara 50 ribu-300 ribu. Itupun yang 300 ribu kalau DA dan PA nya sudah lumayan tinggi, kalau belum, yah di bawah itu.

      Pinginnya begitu sih Mbak jadi blogger tidak diremehkan atau dipandang rendah. Posisinya jadi berimbang antara blogger dan pemberi kerjasama. Cuma, butuh kemauan para blogger juga untuk “berjuang” dan menahan diri untuk tidak sekedar menerima job dengan harga murah karena pada akhirnya akan merepotkan diri sendiri.

      Hahaha.. langkah Mbak Eno bagus di tengah situasi sekarang karena mengangkat semangat blogger yang lain untuk berani meninggikan harga jasa mereka.

      Butuh waktu, tetapi kalau semua mau berkontribusi, pada akhirnya akan bisa setidaknya harga tidak terlalu kejam seperti sekarang.

      Saya ikut berdoa ya mbak..

      Aaaaamiiiinn

      • Wah, aku tak menyangka kalau harga rata-rata untuk sebuah tulisan dengan kisaran seperti itu. Ada ya yang 50ribu? Aku kira bahkan minimalnya 150ribu kak. Jauh banget dari rate card Instagram ya, ternyata apa yang kak Rey pernah bilang di salah satu tulisannya itu benar ya.

        Seandainya semua penawar pekerjaan sebaik hati kak Eno, mungkin kehidupan dunia blogging saat ini bisa lebih ramai lagi 😀 pasti asik sekaliii.
        Dan banyak orang akan mulai menulis, dan mungkin Google Adsense nggak terlalu laku hahaha.

      • Betul sekali. Yang Rey katakan itu tidak salah.Ketidakseimbangan antara jumlah pemberi job dengan blogger menimbulkan persaingan ketat dan menyebabkan banyak yang banting harga.

        Kondisi yang menguntungkan untuk pemberi job, tetapi pada sisi kaum blogger merugikan karena menurunkan semangat juga (untuk yang berorientasi pada monetisasi).

        Kalau semua kayak Eno, imbasnya saya pikir bagus banget karena mendorong Adsense juga menaikkan tarif kalau mau dipasang. Mereka sebagai “perantara” meski secara tidak langsung akan terimbas dan bisa jadi mereka akan menetapkan harga minimum atau bidder mereka akan terdorong menaikkan harga juga.

        Kalau saja situasi seperti itu, blogging bisa bangkit lebih cepat.. Hahahahaha.. Teorinya begitu..

  4. Aku udh baca tulisan yoga yg itu. Kenal tulisan2 yoga udah lama bangettttt, kayaknya dia salah satu penulis lama yg sampe skr masih aku ikutin :).

    Yoga itu kesannya memang ga PD an sepertinya, tapi tulisan2 dia walopun cendrung dark, sedih, ntah kenapa ttp pengen dibaca :D. Kurasa itu malah jd ciri khas yoga. Dan cerita dia di tulisan itu, bikin aku salut sih, Krn berani menolak tawaran yg memang ga sesuai dengan nurani ato passionnya. Semoga dengan begitu, rezeki yg lebih besar bakal datang ya Yog :).

    Dan buatku yoga itu panutan dalam menulis :D. Setidaknya stiap kali baca tulisan2 dia, adaaaa aja kosa kata baru yg aku dpt. Dia mah pilihan katanya kayaaaa … Dan knowledgenya ttg cara menulis juga udh bagus. Kdg2 tulisanku dikasih tau kalo memamlng pilihan katanya ga sesuai :). Makanya komen yoga itu termasuk yg paling aku tunggu tiap kali publish tulisan baru 🙂

    • Dia bagus banget Fan.. Memang tonenya berbeda banget. Ada keresahan di dalamnya sampe kesannya dark, tetapi kalau kubaca semua sih, justru dia menekankan sisi idealisnya dia saat menulis. Kesannya buatku agak sentimentil, tetapi enak dibaca.

      Iyah betul banget, kosa katanya banyak dan aliran tulisannya bagus banget. Aku sendiri termasuk menikmati tulisannya walau nggak selalu ninggalin jejak.

      Tulisanmu juga bagus kok, cuma dengan gaya yang berbeda.

Comments are closed.