Mendaur Ulang Ide Menulis Kalau Stok Bahan Habis

Selamat Siang Kawan MM?

Sudah berapa post yang Anda keluarkan hari ini? Kalau di blog MM, ini yang kedua untuk hari ini dan mungkin bukan yang terakhir. Targetnya sih, saya ingin setidaknya 3 atau 4 tulisan (kalau bisa lebih) dalam sehari, setidaknya sampai akhir bulan September.

Entah, apakah bisa seperti itu atau tidak, tetapi sejauh ini, target itu masih bisa terpenuhi?

Mungkin.. Mungkin ya, banyak yang heran bagaimana saya bisa begitu? Darimana ide-ide untuk menulis hadir? Kok bisa tidak kehabisan bahan tulisan? Padahal, banyak rekan yang kalau melihat komentarnya dimana-mana sering mentok karena kehabisan ide untuk dijadikan tulisan.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari apa yang saya lakukan. Sama saja dengan yang lain, saya juga terkadang sudah kehabisan “sesuatu” untuk ditulis. Hanya saja, di saat seperti itu, saya memiliki solusi sendiri untuk memecahkannya.

Di saat seperti itu, saya akan mendaur ulang ide.

Istilahnya keren, tetapi sebenarnya sederhana. Saya menggunakan ulang ide yang sudah pernah ditulis, sambil menunggu ide baru muncul.

Saya tidak menafikan untuk menulis kembali berbagai hal yang sebelumnya sudah pernah dibahas blog ini. Coba saja lihat di bagian arsip banyak yang dituliskan beberapa hari belakangan, bukanlah sesuatu yang baru.

Kalau saya hanya terpaku mencari ide-ide baru saja, hasilnya saya akan semakin kebingungan dan menghabiskan banyak waktu sekedar untuk menemukan sesuatu yang belum pernah ditulis.

Kecepatan menerbitkan tulisan tidak akan secepat sekarang. Target, ya tidak akan tercapai.

Jadi, untuk mengatasinya, saya tidak mengharamkan daur ulang ide.

Yang saya lakukan juga sederhana, saat sebuah ide datang, saya akan memanfaatkan kotak pencarian di dashboard untuk menemukan tulisan-tulisan sebelumnya terkait ide tersebut.

Baca ulang untuk melihat sudut pandang yang diambil, judul yang dipakai, dan setelah itu mulai menulis.

Kalau memang masih ada sudut pandang yang bisa diterjemahkan menjadi tulisan baru, saya akan memakainya. Kalau tidak ada, saya melakukan penulisan ulang dengan gaya dan bahasa yang berbeda.

Pada prinsipnya, saya melakukan penulisan ulang dari tulisan saya sendiri, tapi bukan sama. Kadang yang tadinya di awal saya tempatkan di akhir, yang tengah jadi di depan, dan seterusnya.

Tentunya, judulnya juga dibuat berbeda dengan pemakaian sinonim atau persamaan kata.

Hasil tulisannya akan lolos Copyscape (pernah ngetes) karena memang bukan sekedar menjiplak dan mengganti kata saja.

Cara ini saya pelajari dari banyak blogger terkenal dunia, salah satunya Darren Rowse, blogger Australia yang mengelola dua blog terkenal, Problogger dan Digital Photography School. Ia kerap mengulangi apa yang pernah ditulisnya bertahun lalu menjadi sebuah posting baru.

Karena itulah blognya yang berkisar tentang blogging, Problogger, bisa memiliki lebih dari 8000 tulisan.

Dan, gaya seperti itu sepertinya cocok untuk saya yang mengejar “jumlah”.

Tapi, rupanya salah satu kawan MM bermata jeli dan teliti. Mas Rivai Hidayat, bosnya masvay.com melihat bahwa saya sering mengulang tentang satu hal. Begini katanya.

Mendaur Ulang Ide Menulis Kalau Stok Bahan Habis

Nah, memang betul sekali. Saya kerap mengulang ide yang sama. Berapa kalinya, tidak tahu persis.

Yang jelas, dengan cara itu, dan juga “memecah ide”, saya bisa menulis dalam jumlah banyak setiap hari.

Tanpa itu, saya bakalan mentok dan termenung di depan komputer tanpa tahu harus menulis apa.

Yuk Berbagi....

16 thoughts on “Mendaur Ulang Ide Menulis Kalau Stok Bahan Habis”

  1. Saya sebelumnya mengoptimasi web melalui PBN yang produksi kontennya dilakukan secara manual (no spinner atau tool sejenis). Jadi bisa sekalian melatih diri untuk menulis terus. Hingga pada akhirnya, saya menantang diri sendiri untuk menulis tentang topik (keyword) yang sama secara berulang-ulang baik dengan sudut pandang yang tetap sama dengan yang sudah ada maupun yang berbeda. Yang penting, hasilnya tetap orignal dan bukan hasil plagiat.

    Kualitas menulis saya memang masih harus dikembangkan terus, namun dengan melakukan metode daur ulang ide seperti itu, kadang saya keheranan sendiri karena tidak menyangka sebelumnya bahwa menulis 1 hal yang sama bisa menghasilkan hingga belasan atau puluhan artikel.

    Metode daur ulang ide seperti yang Pak Anton jelaskan juga bisa sangat mendukung artikel utama (URL) yang ingin di-rangking di mesin pencari karena akan ada tambahan internal link ke postingan tersebut dan yang lainnya. Hal ini juga saya perhatikan dilakukan oleh fatstacksblog,com yang kadang judul tulisannya bikin penasaran tapi isinya kadang gak jauh beda dengan postingan sebelumnya, tapi entah kenapa tetap saja menarik untuk dibaca.

    Hal lain yang juga saya yakini, re-post ide seperti ini juga bisa menambah peluang postingan lama dengan ide yang sama untuk diketahui pembaca apalagi jika pengunjung blog semakin bertambah karena biasanya akan dimunculkan di beranda.

    “Eh, ada postingan barunya pak Anton nih” gumam saya dalam hati. Padahal, isinya bisa jadi gak jauh beda juga dengan yang udah ada meskipun seringkali juga ada sudut pandang, analogi dan juga ide baru disana. Tapi terus terang, “Postingan Terbaru” baik yang ditampilkan di widget sidebar maupun di feed beranda itu selalu memiliki “sisi magisnya” tersendiri untuk saya atau pembaca lainnya klik ketika berkunjung baik di blog ini maupun lainnya.

    Dan bahkan hasil akhir dari membaca postingan baru dengan ide yang sama dengan sebelumnya tersebut adalah “Ah, ini kayaknya sudah pernah dibahas di artikel bla..bla..bla,” tetap saja saya merasa bahwa saya tidak sedang membuang-buang waktu secara percuma dalam membacanya.

    *maaf curhatnya kepanjangan*

    Reply
    • Saya rasa ini mah bukan curhat mas Hamsul, ini mah pengetahuan yang bagus sekali.

      Betul mas, menulis satu ide menjadi beberapa tulisan itu sebenanrya bagus buat SEO. Cuma, memang saya karena sudah memutuskan tidak fokus kesana, jadi tidak membuat berlandaskan hal itu. Saya lebih suka terus menulis saja.

      Soal efek psikologis kepada pembaca, mungkin ada. Setidaknya yang paling ingin diperlihatkan bahwa saya akan memberikan sesuatu yang “baru”, meski kadang kemasannya saja yang berbeda, tetapi setidaknya “baru”.

      Makasih banyak mas Hamsul atas kunjungan, dan tentunya pandangannya yang mencerahkan.

      Tetap semangat mas..dan staysafe yah

      #disini mau sepanjang apapun silakan

      Reply
  2. Ide bagus pak Anton, mendaur ulang ide yang sama memang bisa membuat mudah artikel baru karena ide sebelumnya sudah ada, tinggal dibikin penyegaran yang baru saja, apalagi kalo ide itu tentang seo, misalnya cara mendatangkan visitor blog, bisa dibuat empat lima artikel yang sama.

    Cuma kalo aku memang tidak mengejar target harus sehari berapa artikel, selain tidak banyak ide juga karena waktunya kurang, bisa bisa hape disita istri kalo pegang hape terus tiap saat.😂

    Darren Rowse artikelnya sampai 8000, itu berapa tahun ya? Misalnya sehari 3 artikel berarti setahun sekitar 1000, berarti sudah 8 tahunan ya, atau jangan-jangan sehari 5 artikel, berarti sekitar 4 tahun, luar biasa ya. Aku mah ngga sanggup, biar Dilan eh pak Anton saja.😄

    Reply
    • Makanya beliin istri lu hape Gus biar nggak berebutan gitu.

      Kayaknya sekarang sih sudah 9000-an soalnya itu angka udah lama gue ketahui dan pas berkunjung ke blognya, isinya udah lebih dari itu. Ditambah sama podcast juga..

      Kalau baca tulisannya, tahun-tahun pertama sampai 5 sehari dan panjang. Nah, setelah terkenal dia dapat banyak penulis tamu..tapi masih juga nulis sendiri. Kayaknya nggak sebanyak awalnya, tapi tetep saja setidaknya sehari satu sekarang-sekarang ini.

      Suruh Dilan bantuin gue Gus.. gue aja berat banget dah.. hahah

      Reply
      • Boleh pak, nanti kalo nemu duit sekoper nanti aku beliin hape buat bini.😁

        Salah satu cara agar banyak artikel memang mengundang penulis lain untuk menulis di blog kita ya pak, jadi ada dua tiga admin dalam satu blog. Bisa juga dengan orang lain ngirim artikel lalu di publish.

        Ok pak, Dilan saja. Maksudnya Dilanjutkan nulis artikelnya.😀

      • Beliin gue juga yah Gus..:-P

        Betul sekali, cuma masalahnya mencari penulis yang “sesuai” itu berat juga. Saya sudah mencoba dan hasilnya kerap tidak memuaskan. Jadilah saya memutuskan untuk “mendidik”, tapi butuh waktu.

        Selama tim penulis saya belum siap, terpaksalah saya menulis sendiri

  3. Wehehehe saya nggak kepikiran sebelumnya kalau tulisan kita bisa didaur ulang. Seru ugha kalau dipikir-pikir mas, jadi mau daur ulang tulisan lama 😂 ngomong-ngomong mas Anton sudah rilis berapa ribu post di blog MM, mas?

    Reply
    • Hahahaha.. iyah, dulu saya berpikir sama Mbak Eno, cuma ide baru saja. Cuma setelah mempelajari, sebenarnya tidak ada batasan harus selalu ide baru…Jadilah sejak itu saya manfaatkan.

      Belum seribu mbak.. baru 740 an saja.. hahahaha.. makanya mau ditambah terus…MM bukan yang tertinggi mbak dalam jumlah, yang tertinggi itu masih LB. MM posisi ke 4 saja..hahahahahaha…

      Reply
      • 740 artikel, seketika aku lemas bacanya 😵
        Kapan aku bisa mencapai angka segitu wkwk
        Tapi benar juga ya, mendaur ulang ide. Aku kok nggak kepikiran sebelumnya 😂
        Lagi-lagi, aku harus berterima kasih sama kak Anton karena selalu mengingatkan dan membagikan ilmu-ilmu baru 🤩

      • Kenapa lemes Lia.. diare yah.. minum oralit dong..:-D

        Nggak usah diukur dengan angka. Masing-masing punya cara yang berbeda. Itu gaya saya dan lumayan lama juga baru bisa sampai angka segitu

        Itu ilmu kepepet Li.. wakakakak

  4. Sepertinya, cara ini bakal aku pake lama2 mas. Daur ulang tulisan lama, apalagi yg belum sempet rame :D.

    Blog dengan Niche tertentu, apalagi aku hanya menulis ttg traveling dan kuliner, di saat begini terasa bangeeet mandegnya. Aku ga bisa jalan2, yg artinya ide mati. Tulisan2 yg skr ini aku garap, itukan semua perjalanan lama :D. Yg ku korek2 dari foto, apaa lagiii nih yg belum ditulis. 😀 .

    Bersyukur selain traveling aku jg bahas kuliner. Jd kalo udh mentok, biasanya aku beli deh cemilan yg mungkin sdg hype ato menarik ato peminatnya banyak, yg bisa aku promosiin gratis di blog, dengan reviewku :D.

    Kekurangannya 1, aku jd banyak jajan demi bisa ngerasain produknya dan foto2, lalu tulis di blog :D. Tp Gpp lah, itung2 aja membantu UMKM hahahahah. Ntr kalo kuliner udah bosen bahas apaan, sepertinya tulisan lama bakal aku daur ulang :p

    Reply
    • Memang kerasa Fan.. Saya sendiri yang Lovely Bogor juga sangat terhambat. Sudah sejak pandemi mulai, saya tidak bisa berburu cerita di lapangan lagi.

      Walau sebenarnya masih tetap diperbolehkan keluar, saya pilih tidak karena Bogor sejauh ini masih zona merah. Pernah sekali cuma beli lampu dan meja belajar, tahunya ada pegawai storenya kena. Hasilnya, isolasi 2 minggu deh kitanya.

      Jadi saya pun terpaksa menahan diri.

      Beberapa tulisan terakhir kebanyakan yang diambil sebelum pandemi, atau pas keluar belanja makanan. Cuma sekedar untuk memberi sinyal kalau blog itu masih berjalan. Tetap yang terpenting jaga kesehatan Fan.

      Kebanyakan tulisan terakhir memanfaatkan foto-foto lama, jadi memang saat begini daur ulang ide bermanfaat banget

      Reply
  5. Mantap lah.., ulin kadieu teh resep, loba ilmu ngeblog jeung nulis.. haha

    Dan pada dasarnya. tidak ada yang baru di dunia ini, lha wong umur dunia ini sudah tua banget. Apa yang disebut dengan inovasi pada hari ini pun, ya sebenarnya memodifikasi ide-ide yang dulu pernah ada sebelumnya…

    Tapi ya tetep saja, nulis blog sehari 4 kali dan rutin ya jelas sesuatu yang wow, meskipun daur ulang pun ya tetep wow…

    Tetep semangat lah pokoknya…, Glory Glory Man United!!!
    😀

    Reply
    • Hahaha…”musuh” datang….. wakakak Met datang Mas Grup Pecinta Man United.

      Kayanya MU tahun ini susah masuk 4 besar nih.. wakakaka #kabur

      Bener banget mas.. Inovasi sekarang juga sebenarnya adalah modifikasi dan pengembangan dari ide-ide yang sudah ada.
      Jadi kenapa kita tidak bisa.. iya kan?

      btw YNWA ya mas

      Reply
  6. Bahasanya repurpose content yaa hahaha

    Belakangan saya juga menerapkan metode ini, Mas Anton. Ternyata ada beberapa tulisan lama saya yang sepertinya sayang kalau dibiarkan ‘tenggelam’ begitu saja. Akhirnya saya coba mengolah kembali, contohnya yang baru-baru ini tulisan makanan favorit di Guangzhou dan tentang pilihan hidup. Ke depannya saya tertarik untuk menggali terus ide-ide lama yang kira-kira bisa diterjemahkan ke konteks yang lebih relevan di masa kini 😀

    Reply
    • Bener Jane.. Kadang kita terikat karena merasa harus menelurkan sesuatu yang “baru” terus, yang terkini. Padahal nggak selalu begitu.

      Kupikir malah menghambat kalau batasannya begitu, jadi biarkan diri sendiri bebas dan berkreasi.

      Hayo Jane, repurpose cerita cerita lama di Guangzhou, pastinya banyak yang menanti kisah lama Jane.. Kupercaya pasti banyak yang menunggu, termasuk saya.. hahahaha

      Reply

Leave a Comment