Renungan Dari Mba Rini Uzegan : Komentar Ngajak Berantem

Selamat Sore Kawan!

Renungan (untuk saya) sore ini, hasil dari komentar mbak Rini, dari blog Uzegan.

Perlukah

  1. Saya merubah cara berkomentar dan berinteraksi dengan blogger lain?
  2. Bagaimana kalau ada blogger lain yang tidak suka dan menganggap saya sebagai musuh? Atau tidak mau berteman?

Pengamatan yang jeli, kepekaan, dan kemampuan prediksi yang bagus sekali. dari blogger “hampir se-senior” saya dalam hal usia, tapi lebih senior dalam hal blogging (#smile Mbak Rini). Pengetahuan yang bagus tentang kebiasaan dalam masyarakat. Potongan komentar itu memang tepat sekali.

Nah, hasil renungan saya adalah

  • Be yourself atau Staying true to yourself seharusnya dihilangkan saja, kalau saya (dan orang lain seperti saya di luar sana) harus mengenakan topeng dan bergaya seperti orang lain hanya karena orang lain tidak nyaman dengan gaya kami
  • Saya tidak pernah menganggap dan berniat mencari musuh, tetapi saya tidak bisa mencegah orang menganggap saya sebagai musuh. Itu hak mereka yang tidak boleh saya rampas
  • Bagaimana kalau pemilik blognya tersinggung? Lagi-lagi, saya tidak bisa memaksa orang tidak tersinggung. Cuma kalau ada yang begitu, kenapa kolom komentarnya dibuka yah? Padahal, sudah pasti bukan cuma komentar senada dan menyetujui saja yang akan masuk. Tidak kah ia bersiap untuk itu?
  • Bagaimana kalau kawan blogger yang lain lari menjauh dan tidak mau jadi teman? Saya tidak bisa memaksa orang untuk menjadi teman saya. Ia yang harus memutuskan. Itu hak pribadi mereka
  • Bagaimana kalau “pesan” yang disampaikan dalam komentar itu tidak tersampaikan karena sudah kadung sebel sama saya? Yah, masa harus dipaksa, kalau begitu sih berarti saya tidak menghargai perbedaan pendapat

Jadi, saya putuskan untuk tetap “stay true to yourself” saja. Tidak merubah apapun dengan gaya saya, selain menyesuaikan dengan kondisi dan situasi saja.

Juga, karena saya yakin pada kedewasaan kawan-kawan blogger dalam hal ini.

Selamat sore Kawan MM! Selamat menikmati hari Minggu yang tinggal beberapa jam.

Yuk Berbagi....

10 thoughts on “Renungan Dari Mba Rini Uzegan : Komentar Ngajak Berantem”

  1. Aku jadi ingat sama kata-kata “kata-kata itu netral, asumsi kita yang membuatnya positif atau negatif”. Jadi, kalau ada yang tersinggung dengan sebuah komentar, berarti asumsi orang tersebut yang menjadi faktor utama penyebab ketersinggungannya ๐Ÿ˜…

  2. Jgn berubah mas Anton :). Tetep seperti yang sekarang. Aku suka baca komen2 mu di blog temen2 lain. Mungkin ada yg bernada ‘sedikit kertas’ , tapi kalo si pembaca mau mencari lebih dalam ato tidak baperan, ada poin2 yg bersifat feedback sebenernya. Yg seharusnya kalo dia mau berpikir terbuka, itu bisa jadi masukan buat dia mengubah apa yg kurang :).

    Aku terbuka utk komen2 seperti itu. Yg aku ga bisa trima, kalo komennya memakai kata2 makian dan kasar . Beberapa kali aku prnh dapat komen berbau makian, hanya Krn si komentator ga setuju dengan review2 yg aku tulis di blog. Mostly sih komentar utk review hotel ato makanan ya. Mungkin dia owner dari hotel ato kuliner yg aku coba :p. Padahal kalo membuat review dan ternyata ada negatif poinnya, aku ga prnh menyampaikan secara kasar.

    Jadi aku jg ga bisa trima kalo ada yg berkomentar pakai kata2 makian. Itu auto aku tendang ke spam :p. Percuma balas2an komen dgn org begitu soalnya :).

    Tapi komenmu ga gitu kok. Itu mah masiiiih sangat sopan untuk dibaca :).

    • Nggak bisa berubah itu masalahnya.. wkwkwk karena saya pikir semua masih berada dalam koridor.

      Wowww.. bisa kebayang sih kalau ada protes dari owner dst di dunia mbak Fanny. Memang itu beratnya bikin review, kalau ada bagian negatifnya, yang direview komplen, kalau tidak diungkapkan, kayak membohongi pembaca dan mengarahkan.. sing sabar ya Mbak Fan..

      Kalau kata kasar, saya anti mbak Fan untuk mempergunakannya saat berkomentar. Keras ya, kasar sih nggak berani. (alm) Ibuku bisa dateng tiba-tiba jitak aku karena dia selalu bilang, jangan pake kata kasar biar saat marah sekalipun..

  3. Setuju sama kesimpulannya Mas Anton, karena mayoritas temen-temen blogger biasanya bisa memaklumi dan mengerti tujuannya, apalagi mengambil manfaatnya, kan emang udah dewasa semua ๐Ÿ˜

    โ€œhampir se-seniorโ€? Mas Anton emang rendah hati. Hihihi..

    Tapi kalo lebih senior dalam hal blogging, Ney Mas, memulainya mungkin duluan tapi selisih jam terbangnya mah jauh sangat, jadi tetep aja saya masih berasa newbie. Yang ini masuk kategori rendah hati ato rendah diri ini yah ?? ๐Ÿ˜

    • Hahahahahahaha… Mba Rini nggak akan bisa nyusul kesenioran saya dalam hal usia..

      Kayaknya sama mbak sama saya, saya mau terus jadi newbie. Karena saya pikir baik untuk saya. Itu masuk pilihan hidup mbak. ๐Ÿ˜€

  4. Kalau baca komentar mas Anton di blog saya nadanya terbiasa ya. Atau karena topik2 saya kurang provokatif? :))

    Selama masih batas wajar sah2 bebas beropini. Tapi saya akui satu komentar dgn nada berbeda diantara yg seragam memang akan kelihatan mencolok dan unik…

    • Pertama karena saya tidak menguasai masalah psikologi.. hahahaha.. Kalau saya mau provokatif, saya harus yakin dulu bahwa apa yang mau ditentang. Akan kelihatan konyol kalau saya menentang dan provokatif tanpa dasar yang jelas.

      Dan itu sulit dilakukan kalau saya tidak memiliki cukup pengetahuan.. hahahaha.. makanya saya belajar dulu Phebie dan coba memahami dulu…

      Bagaimanapun, untuk menjadi provokatif butuh pengetahuan juga…tapi, semakin lama saya bermain di sebuah blog, semakin banyak pengetahuan, dan di suatu waktu, pasti akan ada saatnya saya akan beropini dalam posisi menentang..

Comments are closed.