Menulis Posting Panjang : Melelahkan Dan Membosankan

Menulis Posting Panjang : Melelahkan Dan Membosankan

Menjadi penulis buku? Nggak deh. Terus terang membayangkan hal itu terjadi saja sudah bikin kepala pening tujuh keliling.

Terbayang sudah harus membuat tulisan panjang (sekali).

Sebuah hal yang membosankan, terlebih harus mengikuti berbagai aturan yang ditetapkan oleh penerbitnya.

Gaya bahasa penulisan pun sudah pasti sulit untuk bisa sebebas yang dipakai dalam postingan. Panjang dan berada di bawah tekanan, rasanya saya tidak akan bisa tahan melakukannya.

Itulah alasan mengapa saya lebih suka menjadi seorang blogger saja. Meskipun sudah terpengaruh niatan mendapatkan uang, tetapi setidaknya, unsur kebebasan tidak punah seluruhnya. Dengan begitu, karakter spontan, ndableg, serta ngeyel selama ini tidak terbuang percuma.

 

Eman-eman (sayang), karakter yang sudah terbentuk puluhan tahun dihilangkan.

Walaupun begitu, sebagai orang yang juga menyukai tantangan, ada rasa keingintahuan sekaligus merasakan juga menulis sesuatu yang terencana dan, tentunya, super panjang. Selama ini, kalau di Maniak Menulis, panjang tulisan tidak pernah melebihi angka 3000-an kata.

Beberapa waktu yang lalu, tulisan berjudul “Satu Kata Kunci Promosi Blog Dengan Blogwalking : AGRESIF !” hanya tembus 3,322 kata saja.

Itupun sudah dengan perjuangan yang bikin bete. Sebabnya ternyata menulis posting panjang itu

  • Makan waktu : tidak bisa selesai dalam waktu 1-2 jam, sedangkan waktu saya terbatas. Kalau dipakai membuat satu tulisan, blog lain tidak terurus
  • Ngalor ngidul tidak jelas kalau tanpa rencana, padahal saya suka yang berdasarkan spontanitas. Butuh rencana untuk memastikan tidak terlalu melebar dan fokus pada intinya

  • Butuh pendalaman materi juga supaya tidak ngawur
  • Butuh adanya sistem koreksi juga karena semakin panjang tulisan, semakin besar kemungkinan kesalahan terjadi, seperti alur antar paragraf yang tidak nyambung

Pokoknya, menulis panjang itu bertentangan sekali dengan arah dan tujuan saya sebagai blogger.

Jadilah, saya memutuskan ingin mencoba “jalan para samurai” tersebut. Jalannya internet marketer, blogger tutorial, dan penulis buku. Jalan yang selama ini saya hindari.

Kebetulan juga, pengurus baru di lingkungan rumah meminta kembali saya mencoba mengajak warga mau ikut ngeblog lagi.

Setelah dipikir ulang, jika hanya dilakukan secara verbal, omong-omong saja, pasti semua lupa tutorial yang diajarkan.

Akhirnya, saya membuat satu blog baru lagi, berbasis WordPress supaya setting dan pengaturan lebih mudah dilakukan. Isinya sebatas tentang blogging saja. Tidak campur aduk seperti Maniak Menulis.

Sifat tulisannya tutorial untuk kaum ibu-ibu rumah tangga yang pengetahuannya soal ini sangat terbatas.

Mau tidak mau, terpaksa lah semua ditulis secara panjang lebar, detail.

Jumlah minimum kata dalam satu tulisan, tidak ada yang kurang dari 2200 kata. Sejauh ini baru 4 tulisan dengan yang terpanjang 13 ribu kata.

Iya 13,832 kata tepatnya. Tidak percaya, silakan dihitung sendiri.

Entah, apa ibu-ibu akan tahan membacanya. Yang penting, nanti kalau saat kelas blog dibuka kembali ada yang bertanya, saya setidaknya bisa bilang, “silakan lihat di blog ini saja”. Lebih sederhana, dan yakin tidak ada alasan “lupa”.

Mereka akan bisa mencarinya cukup dengan sekedar mengklik link yang disediakan.

Dari sanalah, saya menyadari berbagai tantangan yang hadir saat menulis artikel super panjang, mirip seperti yang dialami penulis buku.

Ada beberapa hal yang saya rasakan paling berat, yaitu

  • Membuat rencana isi : sejak awal saya harus memikirkan “kerangka” agar penjelasan runtut dan terarah. Tidak muter-muter dan ngalor ngidul.
  • Menjaga alur dan hubungan antar paragraf : bukan hal yang mudah ternyata karena terkadang dorongan untuk memasukkan semua informasi hadir dan membuat tulisan terlalu melebar
  • Manajemen waktu : sehari biasanya hanya tersisa 3-4 jam saja, sudah termasuk waktu istirahat. Hal ini berarti saya harus berpikir bagaimana memanfaatkan waktu yang tersedia sesuai dengan jadwal (rencana kelas blog). Hasilnya blog yang lain kelaparan tidak dapat update tulisan
  • Menemukan bahasa yang mudah dicerna, tidak pakai istilah rumit supaya bisa dipahami calon pembaca dari kalangan ibu-ibu
  • Mengatur tampilan juga menjadi satu masalah tersendiri karena panjang tulisannya. Pemisahan harus ada supaya pembaca tidak simpang siur
  • Menemukan cara supaya pembaca tidak perlu harus sekaligus membacanya dan mereka bisa menemukan bagian per-bagian, di saat mereka ada waktu luang untuk membacanya
  • Mencoba dengan segala daya upaya supaya tidak “terlalu” membosankan. Tulisan tutorial itu membosankan, begitu juga tulisan super panjang. Penulisnya saja bosan menulisnya, apalagi pembaca.

Itulah yang saya temui saat menulis artikel super panjang tadi.

Secara total, saya menghabiskan waktu 48 jam yang dicicil dalam 11 hari. Semua waktu ngeblog habis untuk mengerjakan satu tulisan saja yang buat saya menyebalkan banget.

Setelah tulisan terbit, yang tersisa adalah rasa capek dan bosan yang masih menggunung.

Perasaan yang sama yang hadir dalam dua tulisan super panjang sebelumnya (20 ribu kata dan 9500 kata). Perasaan yang memperkukuh tekad, tidak mau mencoba menulis buku. Saya lebih suka menulis tidak panjang tidak pendek.

Mudah-mudahan saja posting super panjang tadi bisa dimanfaatkan ibu-ibu untuk belajar ngeblog dan bisa memotivasi mereka. Makanya, topik yang dipakai untuk si super panjang berkaitan dengan kata blog + uang. Sesuatu yang pasti sangat disukai orang.

Sekaligus menjelaskan pertanyaan sebelum ini, tentang bagaimana blog bisa menghasilkan uang.

Kalau tidak, ya tidak apa-apa sih, namanya juga usaha. Yang terpenting kan adalah sudah melakukan yang terbaik dan saya rasa sudah berbuat yang bisa saya lakukan.

Memang berat melakukannya, tetapi setidaknya saya mendapat pengalaman berharga. Saya sudah menembus batasan dari blogger “artikel kelas pendek dan menengah” menjadi “blogger artikel super panjang”.

Setelah tiga kali melakukan itu, saya rasanya semakin mengerti dan paham beberapa teknik untuk menulis posting sejenis di masa datang. Pengetahuan yang rasanya suatu waktu akan bisa dimanfaatkan di masa mendatang.

(Lagipula, kalau rencana kelas blog berjalan lagi, pasti akan banyak lagi tulisan super panjang yang harus dibuat lagi)

Sebagai seorang blogger, bukan penulis buku tentunya. Pikiran itu malah tambah tenggelam di dasar hati dan semakin tidak mau muncul di kepala.

Ada yang mau coba membaca tulisan itu? Silakan kunjungi “Cara Menghasilkan Uang Dari Blog : Nggak Bisa Cepet!

Terakhir, boleh tanya? Berapa kata posting terpanjang di blog Anda? Boleh tahu? Boleh tahu juga rasanya? Apakah merasa kelelahan dan bosan seperti saya juga?

Yuk Berbagi....

37 thoughts on “Menulis Posting Panjang : Melelahkan Dan Membosankan”

  1. Wah, gak rugi artikelnya panjang, sangat bermanfaat dan mengandung berbagai ilmu penting terkait dunia blog, tetap semangat.

    Semakin lelah, semakin bermanfaat.

    Reply
  2. Pantas aja si bapak lagi kelihatan jarang beredar, ternyata sedang disibukkan oleh kegiatan yang cukup menguras energi yaitu meramu tutorial menulis untuk kalangan ibu-ibu

    Semoga nanti kelas menulisnya ramai ya Pak
    Dan ibu-ibu yang pada dasarnya udah ada panggilan djiwa untuk menulis (sebagai hobi) makin terasah semangatnya pas ngelihat ulasan bapak..#Uhuk #terbaik memang…
    #Panoetanqu lah Pak Anton klo untuk urusan blogging 😀

    Ow yaaaa, menilik tentang tema postingan kali ini, seketika itu juga, dalam hati aku langsung berasa kek kesentlep biji kedondong, soale termakjleb-makjleb gitu dah kayak lagi ditabok bulak-balik, hahahai…itu loh point nulis panjang yang terkesan menyebalkan dan membosankan. Sejujurnya aku mengakui iya. Bangeddddd.

    Pas aku berada dalam proses ini (nulis panjang), memang iya sih, hal-hal demikian yang aku rasakan. Hawanya tuh pengen ngomel aje, berasanya kok ga selese-selese aku ngetiknya hahahhaha, lelah juga jari ini yang kemudian kayak menjelma bagaikan pisang ambon semua saking pegalnya jari-jari.

    Tapi sejujurnya, emang udah nyadar duluan sih ketika ada niat mau publish tulisan panjang (yang terdiri dari beribu-ribu karakter), aku sih uda berspekulasi duluan bahwa pasti nanti akan ada pengunjung blog (biasanya nih yang dari kalangan sendiri–maksudnya pengunjung kalangan blogger yang menerapkan blogwalking karena suatu tujuan), bahwa dia akan merasa wah sial nih ketemu tulisan panjang, terus abis itu skanning dan skimming lah yang jadi jalan ninjanya ya karena itu tadi, uda lelah bin mabok duluan begitu ngliat betapa panjang paragrafnya hahhahahaa. Apalagi kalau ngeliat korelasi antar paragrafnya kadang kurang pas dan banyak ngalor ngidulnya (kayak tulisanku hahahhaha), pasti langsung pengen merem aja…hahaha

    Eh tapi, kadang keberadaan suatu foto (yang kebetulan stoknya bejibun) juga bisa jadi penyebab utama aku terpaksa nulis panjang deng. Mau dibikin part-part alias tulisan bersambung kok ya susah. Kadang udah kalah duluan ama keinginan buat langsung publish sekalian, daripada lupa akan momentnya kalau dipotong-potong jadi tulisan bersambung, tapi itu kalau aku sih 😀

    Reply
    • Iyah terpaksa banyak mlipir dari kegiatan rutin. Maklum, Ketua RT baru meminta dan nggak enak kalau saya nggak kerjakan dan punya rencana. Mau bikin berupa ebook atau diketik, pasti hilang.. seperti semua surat edaran sebelumnya.

      Jadi, saya kudu nyari cara yang bisa dipergunakan dengan cepat.

      Semoga saja ya Mbul ada ibu-ibu yang berminat menjadi blogger.

      Kalau soal masalahmu dengan tulisan panjang, sakbenere, sama banget dengan yang saya rasakan. Bueeteee bin bosseeenn..

      Cuma kan saya orang ndableg, jadi saya terus paksakan dan kemudian saya anggap sebagai tantangan. Jadi, masalah kebosanan itu harus dipecahkan..

      Belum bisa sih, masih ada hambatan mental juga, cuma saya akan terus berusaha.. sampai bisa.. hahahaha

      Jangan rendah diri Mbul.. saya mah terus terang terhibur sekali dengan gayamu menulis dan bercerita. Apalagi ada babi oink oink.. seru.. Khas gaya ibu-ibu, cuma lebih ceria … Makanya kan saya sering ngintip dan maen kesana.. jenguk si Blangsak

      Reply
    • Wakakkaka, samaaa pak,

      Tapi setuju pak, kadang tulisan panjang yang informatif itu juga terasa bermanfaatnya pada saat pangsa pasar pembacanya itu tepat sasaran, jadi bukan hanya diperuntukkan untuk kalangan sendiri dalam hal ini teman blogger yang biasa mampir sekedar buat saling sapa yang notabene punya kecenderungan menyukai artikel pendek bin santai, supaya gampang dikomentari hahahhaha, tapi juga gimana kita menyasar pangsa pasar pembaca lainnya untuk cakupan yang lebih luas lagi di luar blogger alias pembaca umum, xixixi

      Reply
    • Betul Mbul.. kalangan blogger mah pasti sudah bosen bacain yang kayak ginian karena mereka sudah hapal sebagian besar.

      Cuma kalau ibu-ibu awam, yang minim pengetahuan dalam bidang ini, mereka sangat mungkin tetap akan membacanya karena mereka butuh itu.

      Reply
  3. Menjadi penulis buku? Mau.

    Sayangnya belum ada buku yang berhasil saya tulis karena ngga tahan menulis panjang dengan berbagai aturan tersebut.

    Saya bahkan pernah nemu buku di iPusnas yang berjudul : Jangan Ngaku Blogger Kalo Ngga Bisa Nulis Buku.

    Hiks, apakah saya blogger?

    Selama ini saya ngga pernah memperhatikan jumlah kata yang telah saya ketik. Karena mengetiknya bukan di ms word yang langsung terlihat jumlah katanya.

    Maka jawaban untuk pertanyaan terakhir, saya tidak tahu

    Reply
    • Kayaknya sih bukan Nisa… kamu bukan blogger … wkwkwkwkw.. saya pikir apalah artinya sebuah sebutan. Mau disebut blogger kek, mau disebut geladangan internet kek, yang penting saya suka menulis.. hahahaha..

      Kalau yang nulis buku itu ada disini, saya mau kemplang.. emang sape dia berani bilang gitu.. wkwkwkwkwkw

      Hem… saya juga jarang, biasanya yang penting "selesai". Cuma kadang iseng pake wordcounter . kalau di WordPress memang selalu ada penghitung angka dan kita bisa melihat artikel kita sudah berapa kata…

      Reply
  4. wah, justru sejak kenal MM, saya gak pernah dipusingkan lagi dengan jumlah kata dalam postingan. sekarang spontanitas aja, menulis apa yang terlintas di pikiran aja.

    Reply
    • Bagus mas… saya sendiri ga pusing soal kata.. cuma ngecek pingin tahu saja berapa banyak kata yang sudah saya buat.. Bukan target.

      Saya nggak menargetkan jumlah kata

      Reply
  5. Aku sama seperti kak Adin di atas, aku kalau nulis spontanitas aja, apa yang ada di kepala, dituangkan semua tapi aku malah berusaha agar hasil tulisannya nggak terlalu panjang soalnya aku takut yang baca malah pada bosan kalau baca tulisanku yang panjang bin nggak nyambung antar paragrafnya 😂

    Hebat lho kak Anton bisa nulis sepanjang itu! 20rb kata? Wow!
    Bahkan post ini aja panjang menurutku lho! Hihihi.
    Tulisan terpanjang yang aku pernah buat selama hidupku hanyalah skripsiku saja, dan aku nggak tahu itu berapa ribu kata, kalau halamannya sih tipis, cuma 50 halaman, tapi nulisnya aja udah setengah mati, pusing sampai nggak tahu mau nulis apaan lagi 🤣
    Gimana itu yang jadi penulis buku 200,400,1000 halaman ya? Helehhh. Hebat tenan.

    Reply
    • Hem,kalau pas nulis sih saya nggak ngitung katanya.. Biasanya kalau tulisan terasa panjang, baru deh pingin tahu berapa banyak sih kata yang sudah diketik.. wkwkwk iseng saja..

      Betul memang bosen itu tantangannya.. cuma kalau orangnya memang sedang mencari informasi, dia pilih baca terus. Jadi, pangsa pasarnya memang berbeda.. begitu istilah kerennya.

      Nggak hebat juga… lha ya saya sendiri ngerasa bosen banget.. wkwkwkwk

      Skripsi saya sih lebih.. hampir 80-an halaman..

      Nah, itu yang saya ingin tahu rasanya menulis 200-400 dan ribuan halaman… Hahahaha.. tapi masih mentok di masalah bosen itu. Cuma kalau nggak terus nyoba saya akan begitu begitu saja.. makanya terus dicoba.. wkwkwkw

      Reply
  6. Mas Anton lagi sibuk rupanya ~ hehehehe, by the way mas Anton kalau hitung jumlah kata biasanya pakai apa? Copy tulisan ke Ms. Word kah? Saya pribadi nggak pernah hitung, dan merasa kalau tulisan saya jarang ada yang panjang :)) atau saya-nya yang nggak sadar tulisan saya itu panjang (?) hahahaha.

    By the way, komplek mas Anton aktif juga ternyata, sampai ada kegiatan mengajak ibu-ibu untuk menjadi bloggers which is merupakan salah satu kegiatan positif di era sekarang ~ sepertinya sangat jarang, bahkan bisa dibilang nggak pernah dengar ada program belajar jadi bloggers di komplek perumahan lainnya (apa area saya doang yang terlalu individual yah) hihihi.

    Well, semoga efforts mas Anton membuahkan hasil dengan banyaknya ibu-ibu yang memberikan interest untuk mulai blogging dan semoga program kelas mas Anton berjalan lancar. Siapa tau nanti ada ibu-ibu yang sudah buat blog, minta dishare di sini ya mas url-linknya :3 kebetulan link-link bloggers yang mas Anton sering share belakang ini sering saya intip dan saya ikuti beberapa 😀

    Menjawab pertanyaan paling akhir dari mas Anton, saya nggak tau berapa jumlah katanya to be honest nggak hitung, however kalau ditanya bagaimana rasanya, hmmm.. saat menulis panjang rasanya berattt memikirkan setelah itu harus translate ke bahasa lainnya :)))) dan kadang ragu takut pembaca bosan ~ tapi tetap saya publish pada akhirnya hehehehe.

    Reply
    • Mbak Eno kemana saja..

      Menyibukkan diri saja. Soalnya, saya pikir lingkungan dimana kita tinggal perlu perbaikan dan terus melangkah maju. Makanya, kita coba aktif menggerakkan semua warga untuk ikut kegiatan yang lebih produktif dibandingkan sekedar nongkrong atau arisan saja.

      Kalau di WordPress, saya nggak repot karena editornya secara otomatis menghitung kata yang kita ketik. Jadi, kalau memang perlu tahu jumlah kata, saya tinggal nengok ke bawah (di Classic Editor) atau tekan satu tombol dan angkanya keluar.

      Kalau di Blogspot, saya pakai wordcounter(dot)net saja. Tinggal copy paste dan hasil langsung keluar.

      Jarang sih saya menghitung kata, kecuali memang kebetulan merasa nulis agak panjang, keingintahuan timbul juga berapa kata yang sudah diketik. Kebanyakan juga tidak peduli sama urusan jumlah kata.

      Makasih doanya ya Mbak Eno, siapa tahu bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang.

      Kebayang beratnya harus menulis panjang dan harus menerjemahkan dalam 3 bahasa. Bakalan pusing tujuh keliling.

      Saya pikir, sebaiknya menulis sesuai dengan apa yang kita mau saja. Pengalaman menulis super panjang juga mengajarkan kalau itu bisa jadi tekanan tersendiri. Saya tetap lebih suka menulis sesuai kemauan saja

      Reply
  7. kalo saya sebenernya gak bosen sama tulisan panjang, Mas. Ngeditnya itu yang kadang lama-lama jadi muak sendiri, karena berhari-hari dibaca berulang-ulang kata-kata yang sama, sampe eneg sendiri jadinya 😂😅.

    Kreatuf banget idenya itu Mas, Baru sekarang saya denger ada yang berinisiatif mengajak ibu-ibu komplek belajar jadi blogger. Sebuah kemajuan yang sangat berarti ini mas, selangkah lebih maju dari lingkungan lain.

    Reply
    • Hahahaha.. ember.. nulisnya saja buat saya mah sudah bikin muak, apalagi tambah ngeditnya.. kleyengan kepala.

      Sayang kalau sumber daya di lingkungan nggak dimanfaatkan karena banyak ibu-ibu yang punya kemampuan. Siapa tahu saja mereka bisa berbagi

      Reply
  8. Tulisan di blog saya pendek semua, 1000 kata itu sudah paling banyak, biasanya 300 sampe 600an kata saja, haha… Postingan terakhir 600an kata
    Ya, mungkin karena saya yang memang pemalas, atau mungkin saya gampang orgasmenya.. jadi dengan durasi pendek sudah merasa orgasme. Kalo orgasme sudah dicapai kan males ngelanjutin lagi,
    eh..

    Reply
    • Serem amat pakai istilahnya.. hahahahah

      Tapi kalau memang sudah puas dengan tulisan itu, kenapa tidak? Ya sudahi saja. Lebih baik begitu karena tujuan kesenangan sudah tercapai.

      Iya nggak?

      Reply
  9. tulisan paling panjang punyaku dikisaran 1500an hampir 2000, itupun karena ikut lomba hahaha
    dan nulis sepanjang itu nggak mungkin saya selesaikan dalam waktu sehari, karena masih ngantor, belum tentu kadang pulang kantor udah males duluan mau ngelanjutin nulisnya
    tapi kalau untuk keinginan pengen punya buku sendiri masih tetep, ngebayanginnya tebelnya memang agak gimana gtu hahaha, bisa bisa berbulan-bulan.

    Reply
    • Iyah menulis panjang memang makan waktu panjang juga. Kadang terganggu dengan mood juga.

      Cuma, ya itulah saya suka tantangan yg seperti ini, dengan begitu jadi kayak punya tujuan.

      Nah, bagus itu Ainun punya cita-cita bikin buku sendiri. Hayuk usahakan nanti saya mau jadi pembeli dan pembacanya..

      Reply
  10. Bapaaakkk, saya suka loh tulisannya yang agresif-agresif itu, biar kata sepanjang kereta api, dan saya nggak ngeh itu sampai 3000 kata.

    Menulis ribuan kata itu nggak susah sih buat saya ASAAALLL CURHAT hahahaha.
    Ya tinggal ngetik aja, nulis apa yang di otak, apalagi perempuan kan ye, saya bertiga doang dengan anak di rumah, nggak pernah curcol, salah satu cara mengeluarkan ribuan kata yang sejatinya sering dilakukan wanita ya melalui tulisan.

    tapi ya gitu memang, ngalooorrr ngidulll nggak jelas, hanya pembaca yang sering baca kisah saya aja yang tahan membacanya, terlebih, saya jarang banget bikin kerangka, kecuali tulisan berbayar, kagak cukup waktunya bapakkk… menulis tiap hari pakai kerangka, hadeh, bisa-bisa anak-anak terlantar 😀

    Alhasil, nggak heran tulisan saya kek ditiup angin, melebaaarr ke mana-mana, abisnya nggak ada kerangka, apa yang ada di otak ya itu yang ditulis dan dikembangkan 😀

    Beteweee, saya setuju dengan pak Anton, saya juga nggak sabaran kalau diminta jadi penulis buku.

    Jujur, sampai saat ini, udah berkali-kali saya menolak ajakan bikin buku, baik buku solo maupun antologi, paling banyak nih antologi, biar cetaknya di penerbit indie daann penulis disuruh beli bukunya.

    Saya males banget sebenarnya nulis kayak gitu, saya seolah membuat buku untuk narsis 😀

    Dan alasan lainnya, sama kayak Pak Anton, saya nggak suka menulis didikte.
    Kudu pakai EYD, PUEBI yang kaku banget.

    Saya maunya menulis seperti saya bicara, kadang campur bahasa gaje gitu 😀

    Akhirnya sampai saat ini, saya cuman punya 2 buku antologi, itupun satunya saya ikutan dengan sangat terpaksa karena yang ajak teman, dan iyes, saya si iyes woman ini kadang sulit menolak.

    Bukan cuman itu, beberapa tawaran content writer di beberapa website produk tertentu juga pernah saya dapatkan, tapi ya gitu, saya berpikir, meskipun saya dapat duit, tapi kalau saya dipaksa tiap hari harus nulis, dengan tulisan yang bukan saya banget, mending saya dedikasikan waktu saya untuk menulis sesukanya di blog saya, meninggalkan jejak hidup dan menorehkan ciri khas saya.

    Meskipun juga masih ingin sih punya buku, tapi buku solo, dan nggak pake penerbit indie hahahaha.
    Eh pakai penerbit indie juga nggak apa sih, cuman bukan sekarang waktunya.
    Udah ah, takutnya nggak bisa di enter nih, kelewat panjang 😀

    Reply
    • Bagus tuh ada buku antologi, saya mah boro-boro.. wkwkwkwkwk

      Maklum Rey, memang saya juga nggak suka pakai kerangka sebenarnya. Cuma belajar dari pengalaman, malah tidak terstruktur kalau setidaknya tanpa sedikit gambaran kasar tulisan mau seperti apa.

      Makanya kalau masih 3000-an sih saya tetap nggak pake kerangka, baru lah kalau niatnya memang "panjang", saya coba bikin "kerangka" kasar saja supaya lebih terarah dan tidak melebar kesana kemari. Apalagi kalau sifatnya tutorial.

      Kalau sifatnya opini sih, saya nggak make. Langsung saja tulis dan bebasin diri. Hahaha.. Kalau opini pake kerangka, malah akhirnya nggak bisa nulis.

      Maklum bu.. namanya IRT, pasti ada saja yang mengganggu. Terusin saja Rey menulis dengan caramu sendiri.. yang penting dikau enjoy dan tetap menulis

      Reply
  11. Saya sekarang paling enggak antara 900-1500 kata pak.
    Maunya sih panjang tapi lihat para pembaca Indonesia yang ga suka baca jadi yang penting poin-poin yang saya sampaikan sudah tersampaiakan.

    Kalau buku memang bisa agak panjang sampai 2000-3000 kata.
    Lebih dari itu saya udah enggak kuat karena saya orangnya gampang bosan haha
    Jadi mesti saya pecah menjadi beberapa bagian.

    Editor saya juga pernah menyarankan paling tidak satu bab tulisan sekitar 2000-3000 kata. Tapi biasanya saya sekitar 2500an.

    Kalau lomba di Kompasiana biasanya dibatasi maksimal 1500 kata jadi enggak bisa panjang-panjang. Kalau di tempat lain bebas sih biasanya minimal 500 kata.
    Cuma sekarang nulis cuma 500 kata rasanya kurang nendang pak hihi

    Reply
    • Nah ternyata yang sudah kawakan kayak mas bro saja mengakui kalau menulis panjang itu bisa ngebosenin.. wkwkwkw.. ada temennya lagi sayah…

      OOhhh.. baru tahu batasan 1500 di Kompasiana.. waduh.. saya bakalan susah tuh soalnya kalau lagi mood, tau-tau lewat jah sampe 2000…

      Hem… tergantung si mas bro.. kadang saya merasa cukup dengan 300 juga, kadang merasa nggak cukup..

      Yah namanya juga manusia ya mas.. angot2an

      Reply
  12. Kalau tulisan isinya tutorial emang lebih baik panjang Pak, soalnya kalau tulisannya sedikit saya bacanya pasti ngomel. "Duh… tutorialnya kurang komplit, gak tuntas amat sih pembahasannya."

    karena emang lagi butuh tulisan yang jelas. walapun panjang pasti saya baca sampai abis.. bahkan sampai komentar-komentarnya.

    menulis BUKU?

    masih terus saya niatin sampai sekalang, walapun masih nulis antologi dan itu baru sekitaran 10(sombong amat). Nulis panjang dan penuh aturan emang bikin males. di antologi aja saya selalu maksain diri buat nulis sesuai dengan KBBI.

    Makanya saya ngeblog buat nulis sak udele dewe. dan membebaskan racun-racun di kepala.

    semoga secepatnya saya punya buku SOLO.

    hehehehe.. maaf pak saya masih niat menulis BUKU. apapun sulitnya itu.

    Reply
    • Nah, begitu dong.. seneng mendengar niatnya tetap menulis buku. Kenapa harus minta maaf? Tujuan kita berbeda dan itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan.

      Malah gembira tahu mas Masandi masih semangat seperti itu.

      Keren tuh sudah 10-an.. saya mah nggak akan sanggup dah

      Reply
  13. Saya mah sama, lebih suka jadi blogger. Karna kalo jadi blogger bisa nulis semaunya. Gak harus baku. Apalagi nulis yang pake kerangka, hadehhh. Mau nulis aja ribet. Makanya blog saya isinya ngalor ngidul. Curhat lebih tepatnya. Mau ada yang baca kek, enggak kek, bodo amat. Yang penting seneng masih bisa nulis.

    Reply
  14. Numpang ngadem kong bentar sekalian mau numpang koment. Meski bacanya sudah kapan tahu..🤣 🤣 🤣

    Tulisan paaannnjjjaaanggg dan berbobot, Sama kita kong gw juga ogah, 🤣 🤣 Meski terkadang saya pribadi salut sama pengarang novel atau orang yang terbiasa menulis panjang.😊

    Pernah ngalamin dapat tawaran nulis Novel, Tetapi harus begini, Begitu, Punya bini nggak ada yang utuh.🤣 🤣 🤣 Haahaaaa…Saya jawab Ogaahh!.

    Karena saya suka nulis diblog hanya untuk kesenangan saja, Nulis paannjjaanggg suka, Kalau lagi emut bagus. Tetapi yaa itu untuk kesenangan saya pribadi saja. Orang mau baca, Mau enggak bodoh amat.

    Karena menulis tanpa paksaan, Dan tidak mengejar sesuatu akan punya kesan menarik bagi saya. Kalau orang lain atau bloger2 handal terserah mereka dan hak mereka juga jika ingin berharap sesuatu. Yaa syah2 saja.😊

    Reply
    • Padahal, cerpen lu yang terakhir soal si Franca sama Rika itu panjang juga tong.. seru bacanya…

      Cuma memang gaya tiap orang pan beda tong. Gue mah paling bete kalau sudah dibatasin kayak gitu, makanya pengen jadi blogger, biar bisa bebas. Kalau bikin buku.. gue bisa pingsan di tengah jalan dah.. mutung..

      Jadi, ini engkong dan si entong punya gaya sama yah.. tos dulu atuh!

      Reply
  15. Uwaaahhhh, panjang juga yaaa bisa 13 rb-an kata mas :D. Aku sepertinya sadar diri ga cocok jadi penulis buku :D. Aku suka baca, bangetttt. Tapi menulis , lain lagi ceritanya :p. Kayaknya ga cukup kesabaran dan waktu juga utk ngelakuin itu.

    Kalo blog aku masih mau. Karena ga butuh tulisan terlalu panjang untuk menuliskan pengalaman2 traveling. Kalopun ternyata panjang, aku biasanya membagi beberapa part, supaya pembaca ga bosen, dan aku sendiri ga runsing nulisnya hahahahah.

    Kalo tulisan mana yg terpanjang pernah aku tulis, ntahlah. Slama ini ga pernah cek juga udah berapa kata :D. Tp mungkin utk tulisan nextnya, aku bakal coba cari tau brapa kata dari tulisan itu 🙂

    Reply
    • Wakakakaka.. saya juga nggak cocok Mbak. Eta mah cuma iseng saja menantang diri sendiri.. Kalau niat mah kagak…

      Saya juga sukanya yang "suka-suka saja" .. terserah yang penting isi kepala sudah jadi tulisan..

      Iseng saja mbak.. kadang pingin tahu juga berapa banyak kata yang sudah dikeluarkan

      Reply
  16. Huaaa..
    Aku merasakan sekali.
    Walaupun aku nggak punya pengalaman ke penerbit. Tapi sepanjang ikut komunitas blog dan pernah dapat beberapa kerjasama, rasanya kayak berubah bukan jadi diriku.

    Dulu ada teman satu komunitas yang nanya.
    "Kamu bikin kerangka menulis nggak pas nulis blog?"
    Dan seperti yang Mas Anton jabarkan, aku nulis itu spontan. Paling baru revisi kalau-kalau pas dibaca ada yang nggak sreg atau kalimatnya ruwet.

    Terus sekarang mengikuti jalan ninjaku, nulis mah nulis aja, karena ini hobi dan niatnya buat release stress. Wes mumet karo gaweanku dewe, butuh represing.

    Reply
    • Wakakakaka.. iya Mbak Pipit.. kalo terus-terusan kayak gitu mah mumet sirahku.. jadi nggak beda sama kerjaan yang penuh dengan tekanan dan prosedur…

      Aku juga suka nulis secara spontan dan nggak pake kerangka. Cuma kalau panjang, biasane jadi ngalor ngidul kalau ga ada panduan kecil.

      Memang kalau terbiasa spontan jadi kayak bukan diri sendiri, saya juga ngerasa sama..

      Reply
  17. Halo Mas Anton, atau panggil Kak? hehehe
    Salam kenal 🙂

    Baru kali ini BW ke sini. Melihat judulnya menarik sekali ya membahas panjang tulisan. Aku sendiri menulis di blog itu lebih ke spontan sih, makanya jarang nge-post, karena kebanyakan mager 😛 jadi tulisanku biasanya pendek-pendek. Gak pernah menghitung sih, tapi kalau dikira-kira mungkin sekitar 600 kata saja. Kalau sekiranya ceritanya bakal agak panjang biasanya aku bagi menjadi 2 atau 3 judul. BIar yang baca gak bosan. Dan biar punya series ala-ala (^0^)

    Tapi aku pernah lho menemukan artikel blog yang panjang tapi super enak membacanya. Mungkin itu yang namanya bakat alami ya. Sepanjang apapun artikelnya, kalau nulisnya enak dan runut, yang membaca juga betah. Dan kabar kurang baiknya, itulah salah satu bakat yang belum kumiliki hahaha. Jadi ya kumaksimalkan dulu apa yang kupunya. Punya cerita menarik ya kutuangkan dalam blog. Mau panjang atau pendek, suka-suka kita lah, kan kita pemiliknya 😀

    Reply
    • Wakks… terserah mau panggil pake yang mana. Mau pake mbah juga boleh saja mbak Kartika..

      Mau panjang, mau pendek, itu juga masalah preferensi sebenarnya mbak. Masing-masing orang punya gaya dan nggak selayaknya diperdebatkan

      Iyah.. banyak yang tulisan panjang tapi enak dibaca, tergantung penulisnya juga Mbak..

      Hahaha.. saya juga ga punya bakat itu mbak, makanya belajar dulu..sesekali saya itung kata dalam artikel sekedar pingin tahu sudah berkembang sejauh apa diri saya ini

      Makasih tuk pandangannya mbak..

      Reply

Leave a Comment